Biografi KH. Nur Hamim Adlan

 
Biografi KH. Nur Hamim Adlan

Daftar Isi Profil KH. Nur Hamim Adlan

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Guru-Guru
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Mursyid Thariqah
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Karier
  8. Karomah

Kelahiran

KH. Nur Hamim Adlan lahir pada tanggal 21 April 1957 M di Ponorogo. Beliau merupakan putra dari pasangan Kromo Kisman dengan Kasmirah.

Pendidikan

Setiap pagi, KH. Nur Hamim Adlan kecil memulai pendidikannya dengan belajar di Mu’allimin Durisawo, sedangkan kalau di sore hari, beliau mengaji di PP MMH Mayak Ponorogo.

Setelah mengaji di lingkungan rumahnya, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, setelah selesai dari Jombang, beliau kembali melanjutkan pendidikanya dengan belajar di Pondok Pesantren Kaliwungu, lalu pindah kembali Pesantren Pasuruan, kemudian pindah lagi ke Pondok Pesantren Lirboyo, hingga Ke Pondok Pesantren KH. Abdul Majid Blega Madura.

Guru-Guru

Diantara guru-guru KH. Nur Hamim Adlan adalah KH. Adlan Aly Cukir Jombang, KH. Syamsuri Baidhowi Tebuireng Jombang, KH. Asror Ridhwan Kaliwungu Kendal, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Dahnan Trenggalek, KH. Mahrus Aly Lirboyo, KH. Abdul Majid Blega Madura, KH. Hasyim Sholeh Mayak Ponorogo dan KH. Imam Muhadi Bagbogo Nganjuk.

Mendirikan Pesantren

Tanggal 24 Syawal 1411 H atau bertepatan pada 9 Mei 1991 M dengan resmi KH. Nur Hamim Adlan mendirikan Pondok Pesantren Nahrul Ulum Purbosuman Ponorogo.

Pondok Pesantren Nahrul Ulum saat ini memiliki 5 unit pendidikan, Tarbiyatul Mu’allimin Subulus Salam yang mengedepankan kitab-kitab salafiyah, Madrasah Diniyah Al-Anwar, TPQ Al-Anwar, TK Muslimat Sumber Sari dan MI Al-Ihsan.

Mursyid Thariqah

Pada tahun 2003, KH. Nur Hamim Adlan diangkat menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah oleh KH. Imam Muhadi Bagbogo Tanjung Anom Nganjuk.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Dalam peranannya di NU, KH. Nur Hamim Adlan pernah menjabat sebagai beberapa ketua, diantranya, menjabat sebagai Mudir Am Syu’biyah JATMAN Ponorogo, Ketua Syuriyah MWC NU Ponorogo, Ketua Umum MUI Ponorogo.

Karier

Sejak 1980, KH. Nur Hamim Adlan sudah mengajar sebagai mubaligh di Tuwawo Kenjeran Surabaya dan Kepala SD Budiyakin II Rangkah Tegalrejo Surabaya. Tahun 1985-1993 ia mengajar diPonpes Hudatul Muna Jenes Ponorogo, Ponpes Darul Huda Mayak Ponorogo, MTs Al-Rasyid Ponpes Hidayatul Mubtadi’in Klego Mrican Ponorogo dan Mu’allimat Ma’arif Ponorogo.

Karomah

Semasa mudanya, KH. Nur Hamim Adlan pernah dijuluki sebagai manusia kuat dan kebal. Karena dalam beberapa kasus, beliau pernah dipukul orang, tapi beliau tidak merasa kesakitan sama sekali.

Selain itu, pada saat panjat pinang dalam perayaan 17 Agustusan, beliau meminggul 10 orang sampai keatas dan tidak merasa berat sama sekali.

Sejak itulah masyarakat Kelurahan Purbosuman Ponorogo mulai simpati dan hormat padanya. Dan masyarakat sekitar mulai memanggilnya dengan sebutan Kiai.

Selain itu, sekitar tahun 1983, sewaktu KH. Nur Hamim Adlan masih mondok di Pesantren Tebuireng nampak keistimewaan pada dirinya. Disaksikan teman sebangku kuliahnya di Fakultas Syari’ah Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, bernama Lamro.

Pada suatu malam Lamro wiridan di dekat makam Hadhratus Syekh Hasyim Asy’ari. Tiba-tiba ia terkantuk lalu mendadak bangun karena mendengar suara dengan jelas di dalam kubur Mbah Hasyim Asy’ari. Suara itu jelas suaranya KH. Nur Hamim Adlan dan suara Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Sepertinya Mbah Hasyim Asy’ari sedang memberi wejangan dan pengajaran kepada KH. Nur Hamim Adlan.

Kemudian Lamro menemui Kiai Hamim temannya, lalu berkata, “Mim, kamu tidak ada manfaatnya di Tebuireng. Demi Allah bukan maksudku mengusirmu, tapi menurut perasaan saya bagi kamu ilmu di Tebuireng ini sudah habis. Insyaallah tidak ada santri Tebuireng yang sehebat kamu. Pulanglah! Akan saya tunggu dan saya saksikan kehebatan tersebut.”

Dan Pak Lamro yang nama lengkapnya Drs. H. Lamro Ashari, sejak tahun 1979 sampai sekarang belum pulang. Sudah berpegawai negeri dan membantu mengajar sekaligus Tim Keamanan inti SMA Wahid Hasyim Tebuireng Jombang serta salah satu pengurus Yayasan Hasyim Asy’ari. Kini kediamannya di Desa Seblak, sebelah barat Tebuireng.

Pada bulan Rajab  tahun 1998 M, pernah KH. Nur Hamim Adlan dipanggil Gus Kholiq almarhum agar datang ke Pondok Pesantren Tebuireng. Setelah sampai di sana Kiai Hamim kebingungan di mana makam KH. Abdul Kholiq Hasyim (Gus Kholiq).

Lalu ia bertemu dengan teman lamanya yang bernama Drs. Zainal Arifin yang sehari-hari bertugas sebagai Pengurus Perpustakaan Pesantren Tebuireng. Kiai Hamim berkata pada Bpk. Zainal Arifin, “Kang aku kok ditimbali Gus Kholiq, tuduhno sarehane!”

Jawab Bpk. Zainal, “Lho Kang, sampeyan kok ditimbali Gus Kholiq, opo arep diparingi ilmu kejadukan?” Memang konon kabarnya, pembantunya Gus Kholiq jika memijat badan beliau memakai tongkat besi dan ditumbuk-tumbukkan. Gus Kholiq beratnya mendekati dua kuintal.

Lalu Kiai Hamim berkata, “Menengo, sing penting saiki tuduhno maqome Gus Kholiq.”

Akhirnya Kiai Hamim diantar ke makam Gus Kholiq. Di situ Kiai Hamim diberi amanat oleh Gus Kholiq berupa Surat An-Nashr 1000 kali dan agar diamalkan setiap seminggu sekali di Tebuireng dekat makam KH. Hasyim Asy’ari.

Pada waktu Gus Kholiq memanggil itu, Jawa Timur sedang digoncang dengan isu Ninja (1 Oktober 1998). Dengan rajin Kiai Hamim seminggu sekali datang ke Tebuireng membaca amalan tersebut. Baru setelah Gus Dur menjadi Presiden, Gus Kholiq memberi isyarat agar amalan itu dihentikan.

Sumber: jatman.or.id