Biografi KH. Abdul Mannan Syukur

 
Biografi KH. Abdul Mannan Syukur

Daftar Isi Profil KH. Abdul Mannan Syukur

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Abdul Mannan Syukur atau yang biasa disapa dengan Romo Kiai Mannan adalah seorang ulama kharismatik yang lahir tanggal 24 April 1925 di Desa Kraden, Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo. Beliau merupakan putra enam dari tujuh bersaudara dari pasangan KH. Abdul Syukur dan Nyai Hj. Mas’adah.

Dari faktor keturunan (genelaogis) ibu, Kiai Mannan adalah generasi ke 9 dari Ki Ageng Hasan Besari, seorang ulama di keturunan priyayi yang mendirikan pesantren di Tegal Sari, Ponorogo. Konon, pesantren ini yang menjadi cikal bakal lahirnya pesantren-pesantren di pulau Jawa.

Sedangkan dari ayah, Kiai Mannan merupakan keturunan ke 11 dari Sunan Bayat, salah satu tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Demak. Adapun eyang dari sang ibu adalah seorang ahli al-Qur’an dan ahli sharaf yang kesepuluh putra putrinya menjadi Kiai dan memiliki pesantren.

Wafat

Kesehatan Kiai Mannan yang memburuk, dimulai sejak wafatnya sang istri, ibu Nyai Hj. Ummi Hasanah pada hari Senin Legi, tanggal 18 Sya’ban 1427 atau bertepatan 11 September 2006. Setelah sang istri wafat, penyakit ambeien yang diderita Kiai Mannan menjadi sering kambuh. Riwayat penyakit Kiai Mannan yang lain yaitu sakit gula darah (diabetes) memaksa Kiai Mannan untuk dirawat di Rumah Sakit Islam Malang.

Namun Allah berkendak lain dalam menyikapi penyakit Kiai Mannan. Beliau wafat pada malam Sabtu Legi, 20 Shafar 1428 H atau 9 Maret 2007 sekitar pukul 22.10 WIB dalam usia 82 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di sebelah makam istrinya di samping mushalla putra kompleks Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Huda Singosari Malang.

Keluarga

Kiai Abdul Mannan Syukur menikah pada umur 29 dengan perempuan bernama Umi Hasanah, seorang ḥafiẓah yang direkomendasikan oleh guru Kiai Abdul Mannan di Ngawi. Kiai Mannan mempunyai 5 orang anak. Sebagai orang tua, Kiai Mannan adalah tipe orang tua yang mendidik anak dengan pengarahan.

Pendidikan

KH. Abdul Mannan Syukur mulai belajar agama di bawah asuhan sang Ibu. Institusi keluargalah yang mengajari Kiai Mannan mulai dari baca al-Qur'an, akidah dan muamalah. Mengikuti arahan dari orang tuanya, Kiai Mannan berangkat menuntut ilmu pada umur 11 tahun. Tempat pertama yang Kiai Mannan datangi untuk menuntut ilmu adalah di Beran Ngawi.

Di sana Kiai Mannan berguru kepada KH. Abdul Mu’thi yang masih ada hubungan kerabat dengan keluarga Kiai Mannan. Di pesantren Kiai Abdul Mu’thi ini, Kiai Mannan mempalajari ilmu-ilmu pesantren seperti ilmu fikih, nahwu dan lain-lain.

Selain pendidikan non-formal, Kiai Mannan juga menjalani sekolah formal mulai dari SR (sekolah Rakyat) hingga PGNU (Pendidikan Guru Nahdatul Ulama) pada tahun 1935-1943.

Setelah tamat pendidikan formal pada tahun 1944, Kiai Mannan berkeinginan untuk memperdalam ilmu agamanya, atas restu KH. Abdul Mu’thi, Kiai Mannan berangkat nyantri ke Jombang, tepatnya ke Pondok Pesantren Tebuireng dan Pesantren Tambakberas. Pada saat nyantri di Jombang, Kiai Mannan menjadi aktivis pemuda Anshor dan Gerakan Pemuda Indonesia.

Kiai Abdul Mannan muda juga sempat nyantri di ndalem KH. Abdul Fattah Tambakberas. Setelah 6 tahun nyantri di Jombang, Kiai Mannan meneruskan langkahnya ke Banyuwangi, tepatnya Pondok Pesantren Tugung Desa Sempu Kecamatan Stail Banyuwangi untuk nyantri kepada Kiai Abbas selama 2 tahun.

Setelah itu Kiai Mannan sempat nyantri di Banyuwangi dan langsung melanjutkan langkah kakinya ke Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta yang pada waktu itu diasuh oleh KH. Abdul Qodir Munawwir dan KH. Ali Maksum.

Kiai Abdul Mannan muda telah menghabiskan waktunya selama 4 tahun mulai dari tahun 1952-1956 untuk memperdalam ilmu al-Qur’an di Pesantren Al Munawwir. Kehidupan di pesantren Krapyak telah banyak mempengaruhi pola pemikiran Kiai Abdul Mannan.

Di sana Kiai Mannan mulai tekun menghafal al-Qur’an. Pada saat itu usia beliau sudah mencapai 27 tahun. Meskipun usia menentukan kualitas ingatan manusia, namun faktor ini dapat dikalahkah dengan usaha yang keras, seperti Abdul Mannan yang mampu menghafal al-Qur’an selama 20 bulan dengan rincian juz 1-27 selama 8 bulan dan 3 juz terakhir diselesaikan selama 1 tahun.

Ketika beliau ditanya kuncinya cepat menghafal al-Qur’an, jawabannya adalah, “yo sregep nderes, tirakat lan tirakate seng temenan”. Kiai Abdul Mannan, juga memperdalam ilmu Qiro’ah sab’ah dan tabarukkan kepada KH. Arwani Amin dan KH. Hisyam.

Mendirikan Pesantren

Setelah selesai belajar ke beberapa Pesantren, akhirnya Kiai Mannan pulang ke kampung halamannya. Ketika di rumah Kiai Mannan merintis dakwahnya di Malang mulai dari bawah dan benar-benar merasakan pahit manisnya berjuang menumbuhkan jiwa dan karakter Islami di lingkungannya.

Perjalanan dakwahnya tersebut akhirnya menghasilkan, beliau mendapatkan banyak pengikut dan murid-murid yang ingin belajar kepadanya.

Berkat keberhasilannya tersebut, beliau mendirikan Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Huda Singosari Malang.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Dalam kehidupan berorganisasi, Kiai Mannan aktif dalam Rois Syuriah NU MWC NU Singosari dan Rois Syuriah NU cabang Kabupaten Malang.