Biografi Tuan Guru KH. Ahmad Bakeri

 
Biografi Tuan Guru KH. Ahmad Bakeri

Daftar Isi Profil Tuan Guru KH. Ahmad Bakeri

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Guru-Guru
  6. Mendirikan Pondok Pesantren

Kelahiran

KH. Ahmad Bakeri, atau yang lebih akrab disapa Guru Bakeri, adalah seorang ulama besar Kalimantan Selatan, Pimpinan Pondok Pesantren al-Mursyidul Amin Gambut Kabupaten Banjar dan seorang da’i kondang yang dikenal tidak hanya lingkup Kalimantan Selatan, namun juga regional Kalimantan, bahkan luar Pulau Kalimantan. Beliau juga dikenal sebagai tokoh organisasi seperti NU dan PKB.

Beliau lahir pada tanggal 20 Agustus 1958 di desa Manarap Bitin, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Beliau merupakan anak keempat dari enam bersaudara, dari pasangan H. Imanuddin dan Hj. Sapura.

Nama Ahmad Bakeri, merupakan nama yang diberikan atau dipilihkan oleh seorang ulama besar di kampungnya bernama Tuan Guru H. Makmur.

Wafat

KH. Ahmad Bakeri wafat pada hari Jumat 1 Februari 2013 atau bertepatan dengan tanggal 20 Rabi’ul Awal 1434 H sekitar pukul 21.30 wita di Rumah Sakit Umum Ulin Banjarmasin dalam usia 54 tahun 5 bulan. Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya di pemakaman yang berada di Komplek Pondok Pesantren al-Mursyidul Amin Gambut, Kabupaten Banjar. Puluhan ribu orang menshalatkan dan menghadiri pemakamannya.

Keluarga

Pada tahun 1985, diusianya yang ke-26 tahun, KH. Ahmad Bakeri mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Hj. Siti Rukayah, putri seorang guru agama bernama H. Husin Abdullah.

Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 5 orang anak, yaitu H. M. Rasyid Ridha, Hj. Siti Zhafirah, Muhammad Samman, Hasan Al Munawwar dan Muhammad Syauqan Rabbani.

Pendidikan

Tahun 1967 ketika berusia sekitar 7 tahun, KH. Ahmad Bakeri masuk sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Shalatiyah di desa Bitin. Sebuah sekolah agama swasta satu-satunya yang ada di desa itu, dan menamatkan sekolah tingkat Tsanawiyah di sekolah yang sama tahun 1976. Keteguhan, kedisiplinan, kerajinan, dan keuletannya dalam menuntut ilmu, menjadikan Ahmad Bakeri selalu menjadi juara kelas.

Di sini ia berguru kepada beberapa ulama setempat seperti KH. Muhammad Ramli, KH. Muhammad Arsyad, KH. Mansunia, Tuan Guru H. Amir Haji, Tuan Guru H. Darsi, dan lain-lain. Selain berguru secara formal di sekolah, ia ikut hadir di Majelis Ta’lim Guru KH. Asmuni Danau Panggang (Guru Danau) serta belajar ilmu nahwu dan sharaf kepada Tuan Guru H. Zainuddin.

Tahun 1977, Ahmad Bakeri merantau ke Martapura untuk melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Darussalam. Selama belajar di Pondok Pesantren Darussalam, ia banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan ilmu-ilmu agama yang baru, terutama yang bersumber dari kitab-kitab tradisi pesantren, kitab kuning, atau biasa juga dikenal sebagai kitab gundul.

Beberapa kitab kuning yang menjadi makanan sehari-harinya waktu masih di Kelas Satu Aliyah Pondok Pesantren Darussalam di bawah asuhan KH. Syukri Unus antara lain:

Murâqi al- ‘Ubudiyyah (akhlak), Tuhfatual-Murîd (tauhid), dan kitab lainnya terkait hadits, tarikh, tafsir, fiqh, bahasa Arab, mantiq dan lainnya. Pada tahun 1980, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren tersebut.

Selain mengikuti pendidikan formal di Pondok Pesantren Darussalam, Ahmad Bakeri pada setiap kesempatan, terutama pada sore hari, juga rajin “ngaji duduk” (sistem halaqah) pada ulama-ulama di kampung, apalagi Martapura memang dikenal sebagai gudangnya para ulama di Kalimantan Selatan.

“Kegemaran atau kesenanganku yang telah tertanam sejak di Madrasah Ibtidaiyah sampai Tsanawiyah untuk bertanya terhadap sesuatu masalah yang belum atau tidak aku pahami, senantiasa mewarnai pendidikanku pula di tingkat Aliyah Darussalam Martapura ini. Dengan berbekal sifat inilah, aku banyak mendapatkan informasi-informasi tambahan mengenai suatu masalah, terutama banyak menyangkut masalah khilafiyah antar mazhab, di samping menggali dan memperdalami berbagai cabang ilmu pengetahuan dengan menelaah kitab-kitab klasik yang berpaham “Ahlus Sunnah wal Jama’ah” kepada guru-guru yang memang di kota Martapura, mayoritas mengikuti mazhab Imam asy-Syafi’i,” ujar KH. Ahmad Bakeri.

Guru-Guru

Selama bertahun-tahun di Martapura, Ahmad Bakeri banyak memiliki waktu untuk berkenalan lebih dekat dan berguru secara khusus kepada ulama-ulama terkemuka, antara lain KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul), KH. Ruyani (Guru Yani), KH. Syukeri Unus (Guru Syukeri), KH. Ahmad Jarkasyi (Guru Jarkasyi) dan KH. Ahmad Amin.

Mendirikan Pondok Pesantren

Tidak lama setelah menyelesaikan mondok di Darussalam, beliau mempersunting gadis Gambut. Dan di tempat inilah beliau kemudian mendirikan Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin.

Dalam aktifitas keagamaan, di samping mengelola pondok beliau juga memangku jabatan sebagai Ketua badan Pengelola Masjid Raya “Sabilal Muhtadin” Banjarmasin. Mengisi pengajian di masjid tersebut, juga mengasuh ruang Tanya jawab agama di Surat Kabar “Banjarmasin Post” dan tabloid “Serambi Ummah”. Kumpulan Tanya jawab tersebut telah diterbitkan  dalam sebuah kitab yang diberi judul "Ibanatul Ahkam".