Apakah Allah Sedang Marah? Ini Faedah dari Maulana Syekh Ali Jum’ah

 
Apakah Allah Sedang Marah? Ini Faedah dari Maulana Syekh Ali Jum’ah

LADUNI.ID, Jakarta - Ketika terjadi hal seperti kesusahan, kekhawatiran, malapetaka, musibah, krisis; banyak orang yang menyangka bahwa Allah telah marah kepadanya, tetapi ini sebenarnya sifat dunia yang diciptakan Allah SWT.

Allah Menciptakan segala sesuatu dan Mentakdirkan sifatnya masing-masing, misalnya:

A. Dia Menciptakan api dan menjadikan bisa membakar;

  • - sehingga umat manusia mencari kehangatan dari nyala api itu,
  • - ketika diletakkan daging ke dalamnya, daging pun terpanggang.
  • - membuatnya jadi energi dan panas.

B. Allah SWT Menciptakan matahari yang menerangi; dari penerangan ini terjadilah siang hari,

C. Dia menciptakan laut, dan menciptakan air di dalamnya, dan air ini menyebabkan basah. Jadi, jika seseorang yang melemparkan dirinya ke laut menjadi basah, maka dia tidak perlu kaget dan mengatakan: "Kenapa Allah Mentaqdirkan diriku basah? Apakah ini kemarahan dari-Nya? Memangnya apa yang telah aku lakukan?" Kemudian mulailah dia:

  • 1- berkeluh kesah.
  • 2- dalam kebingungan dan keraguan.
  • 3- tidak mempercayai diri sendiri, maupun Tuhan.

Untuk menghilangkan kebingungan ini, perlu diketahui bahwa asal usul dunia ini adalah ketidaknyamanan. Jadi tidak perlu terkejut, karena dunia memang hal yang rendahan, inilah karakteristiknya, karena penderitaan adalah bagian dari realitasnya.

Dari dunia muncul berbagai kesusahan, musibah, masalah, bencana, kekhawatiran, krisis, bencana, penyakit dan sebagainya.

Apakah pantas kita mendeskripsikan dunia dengan sifat-sifat yang jelek itu?

Dunia memang begitu, makanya tidak perlu kaget ketika muncul berbagai kesusahan. Fakta ini membuatmu memiliki keseimbangan untuk berinteraksi dan mengukur hubunganmu dengan dunia, maka ketika musibah datang, kamu mengetahui hakikat dunia ini memang begitulah.

Apa guna perasaan ini?

Membantu agar bersabar, karena kesabaran itu pahit, kesabaran itu sulit, kesabaran itu mengobati dan menahan nafsu.

Jadi bagaimana cara memperoleh kesabaran?

Kamu memperoleh kesabaran dengan kesiapan diri, memahami bahwa ini hal normal biasa.

Jika kamu memahami bahwa penderitaan ini adalah sesuatu yang hanya menimpa padamu saja, hal yang unik dan mempertanyakan bagaimana hal ini bisa terjadi; maka kamu akan kebingungan, bahkan cemas.

Makanya ketika Nabi ﷺ melihat seorang perempuan yang putranya meninggal, menangis, menampar wajahnya, dan sebagainya; Rasulullah pun berkata padanya: "Bertakwalah pada Allah dan bersabarlah". Si perempuan pun berkata: "Menjauhlah dariku, kamu tidak pernah menderita apa yang aku derita". Perempuan itu tidak mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah Rasulullah ﷺ karena dia begitu sedih, tenggelam dalam kesedihan dan kepanikan.

Orang-orang pun memberitahukan bahwa ini tadi Rasulullah, si perempuan itu pun lari mengejar Beliau, kemudian berkata: "Saya tidak mengenal Anda".

Rasulullah pun berkata kepadanya: "Kesabaran adalah saat kejutan pertama (awal terjadi musibah)".

Bagaimana kesabaran ada pada kejutan pertama?

Dengan pengetahuan sebelumnya, melalui pendidikan, dengan pemahaman, untuk merealisasikan hikmah ini: "jangan kaget dengan terjadinya berbagai kesusahan selama kamu berada di tempat ini (dunia)".

Kalimat indah ini kita hafal: ""jangan kaget dengan terjadinya berbagai kesusahan selama kamu berada di tempat ini (dunia)", Maka ketika datang musibah atau bencana padaku, kamu menemukanku mengingat fakta ini yang membantuku untuk bersabar dan tidak khawatir.

Apa yang terjadi setelah bersabar? Apa hasilnya?

Kepasrahan dan keridhaan pada yang ditaqdirkan Allah. Dan Nabi ﷺ mengatakan: "Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih, sesungguhnya kami bersedih karena perpisahan denganmu, wahai Ibrahim, dan kami tidak mengatakan apapun yang membuat Allah marah".

Itu karena Beliau ﷺ sebelumnya dididik dan punya pemahaman kuat dalam jiwa.

Jadi jika kita bisa menghayati kata hikmah di atas; maka itu sangat membantu kita untuk menciptakan jiwa yang berakhlak dengan akhlak Nabi pilihan, semoga Allah Memberkati Beliau dan Memberi Beliau kedamaian.

(Faedah dari Maulana Syekh Ali Jum`ah hafizhahullah)