Biografi KH. Abdullah Abbas

 
Biografi KH. Abdullah Abbas

Daftar Isi Profil KH. Abdullah Abbas

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Jasa Perjuangan KH. Abdullah Abbas
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Teladan
  8. Kiprah

Kelahiran

KH. Abdullah Abbas atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Dullah lahir pada tahun 1922 di Buntet, Cirebon. Beliau merupakan anak pertama dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Abbas Abdul Jamil dari istrinya yang kedua Nyai Hajjah I’anah.

Saudara-saudara beliau diantaranya, Nyai. Hj. Sukaenah, Nyai. Hj. Maimunah, dan KH. Nahduddin Royandi.

Wafat

KH. Abdullah Abbas wafat pada 10 Agustus 2007, di usia 85 tahun. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Tentara (RST) Ciremai pada hari Jumat 10 Agustus 2007 pada pukul 04.30 WIB.

Setelah salat Jumat, jenazah beliau disalatkan oleh sekitar 3.000 santri di Masjid Besar Pesantren Buntet yang dipimpin KH. Abdul Hamid Annas.

Ribuan pelayat itu mengantarkan Almarhum ke tempat peristirahatan terakhir di Pemakaman Keluarga Buntet Pesantren atau TPU Gajang Ngambung di Desa Buntet, Astana Japura, Kabupaten Cirebon sekitar 800 meter dari rumah duka. Jenazah beliau dikuburkan sekitar pukul 15.25 WIB.

Keluarga

KH. Abdullah Abbas melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai. Hj. Aisah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai, seorang putri yaitu Nyai. Hj. Qoriah yang kemudian dipersunting oleh KH. Mufassir dari Pandeglang Banten.

Pada tahun 1965, Nyai. Hj. Aisah meninggal dunia. Tak lama kemudian KH. Abdullah Abbas menikah kembali dengan Nyai. Hj. Zaenab, Putri Qori terkenal KH. Jawahir Dahlan. Buah dari perkawinan dengan Nyai. Hj. Zaenab, beliau dikaruniai sepuluh anak, yaitu Ani Yuliani, Ayip Abbas, Asiah, Ismatul Maula, Layla Masyitoh, Muhammad Mustahdi, Muhammad, Yusuf, Neneng Mar’atussholiha, dan Abdul Jamil.

Pendidikan

KH. Abdullah Abbas sejak kecil memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada ayahnya, KH. Abbas. Setelah selesai belajar kepada ayahnya, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pesantren Pemalang yang diasuh oleh KH. Makmur.

Selepas dari belajar di Pemalang Jawa Tengah, beliau melanjutkan menimba ilmu di Pondok Pesantren al-Hidayat yang diasuh oleh KH. Ma’shum di Lasem Jawa Tengah. Setelah selesai, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, yang diasuh oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari.

Setelah selesai belajar di Tebuireng, kemudian beliau melanjutkan kembali belajar di Pondok Pesantren Lirboyo yang diasuh oleh KH. Abdul Karim Manaf.

Jasa Perjuangan KH. Abdullah Abbas

Selain membantu ayahnya KH. Abbas Abdul Jamil dalam mengembangkan Pondok Pesantren Buntet, KH. Abdullah Abbas juga ikut berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa ini dengan sungguh-sungguh. Ia terlibat aktif dalam perjuangan di masa revolusi fisik sebagai komandan Hizbullah di wilayah Cirebon.

Pada zaman revolusi fisik di awal kemerdekaan, Abdullah Abbas pernah menjadi pasukan Hisbullah, dan aktif di TNI. Tapi, pada 1950, saat berpangkat letnan muda, ia keluar dari TNI dan memilih menjadi pendidik di madrasah aliah negeri di Cirebon, daerah kelahirannya, sampai 1980. Pengalamannya di dunia pendidikan membuat ayah 11 anak itu enteng saja memimpin Pesantren Buntet yang memiliki 300 ustad.

Perjuangan dan kiprah KH. Abdullah Abbas dalam pentas nasional tak ayal telah menempatkan dirinya dalam deretan tokoh yang memiliki pengaruh besar. Khususnya di era kepemimpinan Presiden KH. Abdurrahman Wahid sebagai salah seorang kai khos.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada tahun 1984, ketika situasi politik telah membelokkan arah NU, KH. Abdullah Abbas bersama KH. Syafi’i dari Plumbon dan Gus Dur, melakukan gerakan perlunya NU kembali ke Khittah tahun 1926. Gerakan ini tentunya mendapat tantangan yang sangat hebat dari berbagai kalangan.

Walau mendapat tantangan yang cukup berat, namun karena cintanya kepada warga NU, KH. Abdullah Abbas terus berjuang dengan bersafari dari satu daerah ke daerah yang lain untuk melakukan kampanye perlunya NU kembali ke Khittah tahun 1926. KH. Abdullah Abbas memang sejak muda aktif di NU. Bermula dari GP Anshor. Beliau pernah menjadi Ketua Rois Syuriah NU Jawa Barat.

Bertemunya KH. Abdullah Abbas dengan Gus Dur, seakan menemukan kembali persaudaraan yang sempat renggang. KH. Abbas ayah Kiai Abdullah Abbas sangat akrab dengan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, Kakek Gus Dur. Maka pertemanan antara keduanya membuat KH. Abdullah Abbas mampu mengembangkan berbagai ide dan gagasan. Dinobatkannya KH. Abdullah Abbas sebagai Kiai Khos pada masa Gus Dur, telah membuat KH. Abdullah Abbas menjadi rujukan berbagai kalangan.

Pengabdian sepanjang masanya juga telah memposisikannya dalam berbagai macam jabatan puncak pada organisasi sosial keagamaan seperti di PWNU, PBNU hingga Idarah ‘Aliyah Jam'iyah Ahlu Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Namun kesederhanaan KH. Abdullah Abbas demikian panggilan hormat masyarakat sekitar tidak berubah. Sosok ulama yang sangat tawadlu dan sederhana. Keikhlasan merupakan filosofi hidup yang selalu beliau pegang teguh. Diam, sabar dan ikhtiar merupakan garis juang KH. Abdullah Abbas.

Sebagai sesepuh pesantren dan sesepuh masyarakat Jawa Barat, KH. Abdullah Abbas tidak pernah sepi dari tamu di kediamannya. Mulai dari para santri, murid tarekat, hingga para umaro silih berganti mendatangi beliau. Tokoh sentral dalam suksesi kepemimpinan KH. Abdurahman Wahid ke Istana Negara ini, pada pemilu 2004 juga dijadikan rujukan oleh hampir semua kandidat Capres dan Cawapres Republik Indonesia.

Teladan

Sebagai ulama dan tokoh masyarakat, kedalaman ilmu dan satunya kata dengan perbuatan yang dilengkapi dengan sikap khosyyah kepada Allah SWT, telah menjadikan KH. Abdullah Abbas sebagai seorang ulama sekaligus pemimpin yang memiliki ciri khas tersendiri. Adapun beberapa keteladanan beliau yang patut untuk diteladani, antara lain sebagai berikut :

  • Zuhud dan sederhana. Beliau dikenal sebagai seorang ulama yang lurus dan selalu tampil dalam kesederhanaan. Mulai dari pakaian, tempat tinggal dan fasilitas lainnya, terbilang sangat sederhana. Kesehariannya hanya mengenakan pakaian sarung, baju koko, dan kopyah yang kesemuanya berwarna putih.
  • KH. Abdullah Abbas juga merupakan sosok kiai yang teguh dalam memegang prinsip, Ikhlas dalam beramal dan berjuang. Pandangan hidup KH. Abdullah Abbas memang terfokus pada perjuangan menegakkan kebenaran dengan tulus ikhlas karena Allah SWT. Ini dibuktikan ketika seusai perjuangan fisik melawan penjajah, beliau dipanggil Bung Karno untuk diberikan penghargaan berupa jabatan. Namun, secara halus beliau menolak dan justru memilih kembali kepesantren.
  • Rendah hati dan seorang humanis. KH. Abdullah Abbas adalah seorang tokoh yang sangat menghargai manusia dengan apa adanya. Ia tidak membeda-bedakan manusia baik dari segi ras, agama dan keturunan maupun kekayaan. Dihadapan Kiai Abbas semua manusia sama. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tamu dari berbagai kalangan yang datang ke rumah Kiai Abbbas, semuanya diterima dengan baik seperti saat menyambut Dr. Ferdy Sulaeman, STh, Ketua wadah Komunikasi dan Pelayananan Umat Beragama Jakarta Timur, ketika mengadakan Live In Pemuda Pemudi Lintas Agama pada tanggal 5 sampai 8 bulan Januari tahun 2006 di Pondok Buntet Pesantren.
  • Disiplin waktu dan istiqamah. Hal ini ditunjukkan dalam kehadirannya dalam setiap undangan, KH. Abdullah Abbas selalu datang lebih awal atau tepat waktu. Bahkan di lingkungan pesantren sendiri, sebagaimana pengakuan santri yang sering bangun untuk shalat malam, mereka mesti bertemu Kiai sedang mengelilingi pondok. Ini dilakukan setiap hari mulai tengah malam.
  • Suka silaturrahim dan ziarah ke makam sunan/wali. Sudah menjadi bagian hidup Kiai, setiap hari melakukan silaturrahim, terutama pada sanak famili, kenalan dan teman dekat. Selain silaturrahim, KH. Abdullah Abbas juga sering melakukan ziarah ke makam-makam wali songo. Ini dilakukan biasanya sebelum atau sesudah mengadakan acara imtihan atau maulid Nabi Muhammad SAW di pondok pesantren.
  • Menghormati tamu. KH. Abdullah Abbas, sebagaimana juga KH. Abbas ayahnya, selalu menghormati tamu-tamunya tanpa pandang bulu. Siapa pun yang hadir di rumahnya, pasti mendapat penghormatan yang sama. Maka wajar bila rumah KH. Abdullah Abbas sering kedatangan tamu, baik pejabat seperti Presiden, Gubernur, Bupati, dan pejabat lainnya, pernah juga beberapa Bintang Film dan rakyat kecil.
  • Dekat dengan kaum Dhua'fa, Kecintaan KH. Abdullah Abbas terhadp wong cilik, sangat dirasakan dalam pola kehidupan sehari-harinya. KH. Abdullah Abbas selalu ngemong rakyat cilik.
  • Dalam pengajian kitab Kuning, KH. Abdullah Abbas cenderung mengajarkan kitab-kitab yang sederhana dan simpel, seperti Kitab Safinah Annajah, Sulam Annajah, Sulam Attaufiq, Uquduljain dan kitab-kitab yang relatif tipis. Hal itu karena ia mengikuti pola pendidikan KH. Muqoyyim (salah satu sesepuh Buntet Pesantren) yang populis, “Ajarkan Kitab Safinah (dengan bahasa yang sederhana) dengan wawasan Ihya Ulumuddin (penjelasan yang komprehensif).” Maka tak aneh, setiap kali ngaji pasaran (pengajian khusus bulan Ramadhan), walaupun kitab yang dibaca sangat sederhana dan tipis, tapi yang ngaji banyak juga banyak juga orang dewasa.

Selain cara pendidikan yang mengarah pada penyampaian yang sederhana tapi luas, Kiai Dullah juga secara priodik memberikan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin yang berada di Buntet Pesantren.

Kiprah

KH. Abdullah Abbas adalah seorang ulama besar di Jawa Barat Pengasuh Pondok Pesantren Buntet di Desa Mertapada Kulon, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat, pernah menjabat Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dikenal sebagai satu di antara lima ulama kharismatik Jawa Barat. Empat ulama kharismatik Jawa Barat yakni KH. Ilyas Ruhiyat (sesepuh Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya), KH. Anwar Musaddad (sesepuh Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah Garut), Drs. KH. Totoh Abdul Fatah Ghazali, S.H (sesepuh Pondok Pesantren Al-Jawami Cileunyi Bandung), serta KH. Irfan Hielmy (sesepuh Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis).