Biografi KH. Taufiq (KH. Taufiqurrohman Subkhi)

 
Biografi KH. Taufiq (KH. Taufiqurrohman Subkhi)

KH. Taufiqurrohman Subkhi adalah salah satu ulama Kharismatik berasal dari Kabupaten Pekalongan. Beliau pengasuh pondok pesantren AtTaufiqy yang berlokasi di desa Rowokembu kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan. Pengajian rutin mingguannya selalu dihadiri oleh ribuan pengunjung yang berjajar dari gerbang pesantren sampai ke rumah-rumah penduduk. Namun demikian sosok Kiai ini telihat sangatlah sederhana. Wajahnya teduh menentramkan jiwa siapapun yang memandangnya.

Kiai Taufiq juga adalah seorang mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah. Bersama beberapa tokoh lain, beliau di bai’at tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah oleh Syaikh Nadzim al-Haqqani. Jika ada yang mau berbaiat, Syaikh Nadzim dan Syaikh Hisyam sering mengarahkan kepada kiai Taufiq.

Guru-guru Beliau

Kiai Taufiq berguru ke Syekh Masduqi Lasem. Syekh Masduqi sendiri murid dari Syekh Umar Hamdan Al-Mahrasi al-Makki, Syekh Abbas al-Maliki al-Makki, Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki Al-Makki, dan Syekh Al-Baqir. Kiai Taufiq memberikan penjelasan Bahwa dahulu Gus Dur pernah menulis di Majalah Tempo sekiar tahun 1980-an tentang karomah dan keilmuan Islam Nusantara Syekh Yasin Al-Fadany dan Syekh Maduqie, baik pemikiran, karya manuskrip, hingga pengabdian tak terhingga untuk umat.

Syekh Masduqi mendapat gelar Asy-Syekh dikarenakan termasuk salah satu Ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Waktu itu sebutan Syekh dimiliki oleh tiga orang Ulama, yaitu Syekh Masduqi Al-Lasimy, Syekh Mahfudz Termas (kakak kandung Syekh Dimyati) dan Syekh Yasin Al-Fadany.

Di antara murid-murid Syekh Masduqi yaitu KH Ishomuddin (Pati), KH Salim (Madura), KH Mahrus Ali (Liriboyo, Kediri), KH Zayadi (Probolinggo), KH Abdullah Faqih (Langitan), KH Miftahul Akhyar (Surabaya), KH Jazim Nur (Pasuruan), KH Nur Rohmat (Pati), KH Zuhdi Hariri (Pekalongan), KH Taufiq (Pekalongan), KH Abdul Ghoni (Cirebon), KH Nur Rohmat (Pati), KH Abdul Mu’thi (Magelang) KH Abdulloh Schal (Bangkalan, Madura), KH Mashduqi (Cirebon) KH Makhtum (Cirebon), dan KH Syaerozi (Cirebon). Mursyid Thariqah Kiai Taufiq pernah mondok ke Krapyak. Sempat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Walau berhasil lulus, Kiai Taufiq tidak pernah mengambil ijazahnya. Dia membantu Mbah Ali Maksum di pondok. 

Aktif Mursyid Thariqah 

Saat ini, Kiai Taufiq dikenal sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah. Syekh Nadzim Al-Haqqoni dan Syekh Hisyam Kabbani selalu mengarahkan ke Kiai Taufiq atas siapa saja yang meminta ijazah thariqah.

Pengasuh Pesantren

Terkait pendidikan di Pesantren At-Taufiqy, Kiai Taufiq konsisten dengan pendidikan salaf. Dia juga mendorong agar santri menguasai berbagai bidang keterampilan, selain selalu menjaga kebersihan dan kedisiplinan. Saat tiba kesempatan rombongan Anjangsana menilik pesantren, Kiai Taufiq menerangkan bahwa arsitektur bangunan pondok dikreasi dan dibangun sendiri oleh santri. Mereka memanfaatkan material tradisional yangikonstruksi secara menarik, unik, dan bersih.

 

Sumber: Dari Berbagai Narasumber