Biografi KH. Akrom Chasani

 
Biografi KH. Akrom Chasani

Daftar Isi Profil KH. Akrom Chasani

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Mendirikan Sekolah
  6. Aktif di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Kunjungan ke Rusia

Kelahiran

KH. Akrom Chasani atau yang kerap disapa dengan panggilan Sebayat merupakan putra bungsu dari KH. Abdul Khafidz.

Ketika usianya baru enam tahun, KH. Akrom Chasani ditinggal oleh ayahnya, beliau menjadi yatim. Sepeninggal ayahnya, kemudian beliau diasuh oleh kakak-kakaknya.

Wafat

KH. Akrom Chasani wafat pada 21 Januari 1974 karena sakit. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman depan Masjid Jami Al Husain Jenggot. Selain itu, beliau meninggal dunia sebelum Pondok Pesantren Syafi’i Akrom dibangun.

Pendidikan

KH. Akrom Chasani muda memulai pendidikannya dengan belajar kepada KH. Amir di Kelurahan Simbang Kulon.

Setelah selesai belajar dengan KH. Amir, beliau melanjutkan mondok di Pondok Pesantren Kaliwungu, Kendal. Namun terkendala ekonomi, beliau hanya mondok di Pondok Pesantren Kaliwungu sekitar satu tahun. Setelah itu, ia terus memperdalam ilmu agama secara otodidak.

Mendirikan Pesantren

Setelah selesai belajar di pesantren, KH. Akrom Chasani kembali ke kampung halamannya. Ketika di rumah beliau sangat gelisah dan memikirkan bagaimana cara mengembangkan ilmu yang sudah di dapat, akhirnya pada suatu hari beliau mempunyai ide untuk mendirikan pondok pesantren, kemudian ide itu disampaikan kepada KH. Muhammad Ilyas yang merupakan sahabat karibnya. Selain kepada KH. Muhammad Ilyas, KH. Akrom Chasani juga menyampaikan ide itu kepada sahabat karibnya yang lain, KH. Syafi’i yang saat itu masih menjabat sebagai ketua Koperasi Pembatikan Buaran.

Ide tersebut direspon baik oleh KH. Muhammad Ilyas maupun KH. Syafi’i. Bak gayung bersambut, KH. Syafi’i kemudian menyampaikan ide itu dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Pembatikan Buaran pada tahun 1964. Pada RAT itu, anggota Koperasi Pembatikan Buaran secara aklamasi menyetujui mewakafkan tanah-tanah milik Koperasi Pembatikan Buaran untuk pendirian pondok pesantren tersebut.

Rencana pendirian pondok pesantren itu ditindaklanjuti dengan membentuk pengurus. Kemudian dibuatlah kartu infaq untuk keperluan pembangunan pondok pesantren tersebut. Sementara KH. Akrom Chasani menyosialisasikan rencana pembangunan pondok pesantren melalui majelis taklim-majelis taklim asuhannya yang tersebar di berbagai daerah.

Sahabat-sahabatnya sudah berencana menitipkan anak didiknya untuk mondok di pondok pesantren yang akan dibangunnya. Di antaranya KH. Syadzili, Cirebon yang berniat menitipkan 15 anak didiknya ke pondok pesantren tersebut. Selain itu KH. Bisri Musthofa, Rembang juga berencana menitipkan 10 anak didiknya  untuk meguru di pondok pesantren yang akan dibangunnya.

Rencana pembangunan pondok pesantren itu pun sampai ke Bupati Pekalongan. Bahkan, Bupati Pekalongan menyumbang dana untuk pembangunan pondok pesantren itu.

Namun, proses pembangunan pondok pesantren tidak berjalan mulus dan harus tertatih-tatih. Meskipun sudah mendapat persetujuan dari anggota Koperasi Pembatikan Buaran, proses wakaf tanah milik Koperasi Pembatikan Buaran baru mendapat legal formal hitam di atas putih bermaterai dan ditandatangani oleh pengurus Koperasi Pembatikan Buaran pada tahun 1973. Pengurusnya antara lain: KH. Syafi’i (Ketua) dan Achmad Djazari (sekretaris), dan diterima H. Abunawar atas nama Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Buaran.

Setelah itu, material untuk pembangunan pondok pesantren mulai dibeli dan didatangkan ke lokasi. Rencananya, tanah-tanah wakaf sebagian untuk pondok, sebagian lainnya untuk penghidupan pondok. Bahkan, KH. Akrom Chasani sudah mempunyai gambaran kehidupannya kelak saat pondok pesantren tersebut terwujud.

Suatu hari, saat berkumpul bersama keluarganya, KH. Akrom Chasani menyampaikan rencananya untuk tinggal di pondok pesantren setelah pondok selesai dibangun. Ia meminta kepada ketiga istrinya untuk bergiliran datang ke pondok menjenguknya. Namun, sebelum pondok dibangun, KH. Akrom Chasani dipanggil Sang Kuasa karena sakit. Tepatnya pada 21 Januari 1974.

Setelah KH. Akrom Chasani meninggal, pembangunan pondok pesantren tertunda. Material yang sudah ada dipinjam pengurus Koperasi Perbatikan Buaran untuk mengembangkan pabrik Pring Gading dengan pertimbangan  kemanfaatan. Material itu kemudian dikembalikan dengan dibelikan tanah.

Pada tahun 1986, tanah yang sudah diwakafkan untuk Yayasan Pondok Pesantren Buaran seluas 3,6 hektare dijual kepada pengembang yang berencana membangun perumahan di wilayah tersebut. Keputusan menjual tanah wakaf tersebut diputuskan dalam RAT Koperasi Perbatikan Buaran tahun 1986.

Di kemudian hari, tanah wakaf yang dijual kepada pengembang itu kemudian ditukar guling dengan tanah Koperasi Perbatikan Buaran yang lain. Tahun 1987, dimulailah pembangunan Pondok Pesantren Buaran. Pada tahun 1990 Pondok Pesantren Buaran selesai dibangun. KH. Akrom Sofwan adalah salah satu pengasuhnya. Awalnya pondok pesantren tersebut dinamakan Pondok Pesantren Buaran. Hal itu merujuk pada tanah wakaf tersebut.

Namun untuk mengenang jasa KH. Akrom Chasani sebagai pencetus ide pembangunan pondok pesantren dan KH. Syafi’i yang mencetuskan gagasan tanah wakaf untuk pembangunan pondok pesantren tersebut, pondok pesantren akhirnya dinamakan Pondok Pesantren Syafi’i Akrom.

Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Syafi’i Akrom terus berkembang. Pada tahun 2004, Pondok Pesantren Syafi’i Akrom terpilih sebagai lokasi program sekolah di lingkungan pondok pesantren dari Kementerian Agama RI. Di lingkungan Pondok Pesantren Syafi’i Akrom kemudian dibangun SMK Syafi’i Akrom dan diresmikan oleh Menteri Agama Sa’id Agil Husain Al Munawar.

Para santri di Pondok Pesantren Syafi’i Akrom selain mengkaji dan menghidupkan Ilmu Agama Islam, juga dapat mengenyam pendidikan formal di SMK Syafi'i Akrom. Selain itu, sejak tahun 2012 berdiri pondok pesantren untuk putri. Saat berdirinya pondok tersebut pertama kali, hanya untuk laki-laki.

Untuk mengenang jasa KH. Akrom Chasani sebagai tokoh pendidikan dan tokoh NU, setiap tahun pengurus NU Kabupaten Pekalongan menyelenggarakan haul di makam KH. Akrom Chasani di Masjid Jami Al Husain Jenggot.

Namun, beberapa tahun terakhir, pengurus NU Kota Pekalongan sudah tidak pernah menyelenggarakan haul di makam KH. Akrom Chasani. Haul diselenggarakan oleh keluarga.

Mendirikan Sekolah

KH. Choozin Akrom bersama dengan KH. Chasbullah, KH. Abdul Chayi, KH. Akmad Duri, KH. Mawardi, dan KH. Dja’far mendirikan madrasah karena anak-anak muda saat itu hampir semuanya tidak bisa membaca dan menulis al-Qur’an. Madrasah untuk putri dinamakannya Madrasah Al Banat, sedangkan madrasah untuk putra dinamakannya Madrasah Dido (akronim dari gedi tapi bodho). Nama itu dipilih sebagai cerminan kondisi anak didiknya yang sudah besar (dewasa) tetapi masih bodoh dalam hal membaca dan menulis al-Qur’an.

Pada awalnya, siswa Madrasah Al Banat 30 orang, sedangkan Madrasah Dido memiliki siswa 26 orang. Namun, dalam perjalanannya, jumlah siswa madrasah Al Banat dan Dido bertambah banyak. Akhiarnya, lokasi awal tidak cukup lagi menampung jumlah siswa. Madrasah Al Banat dan Madrasah Dido pun dipindah ke Kelurahan Jenggot, di tanah wakaf milik KH. Akrom Chasani.

KH. Akrom Chasani memang dikenal sangat peduli pada pendidikan. Ia tulus memberikan apa yang ia punya untuk kemajuan pendidikan. Lokasi madrasah tersebut dinilai kurang strategis sehingga madrasah dipindah ke lokasi yang saat ini digunakan sebagai Madrasah Ibtidaiyah (MI) Jenggot 01. Sementara lokasi Madrasah Al Banat dan Madrasah Dido saat ini dijadikan sebagai Mushala Akrom Chasani.

Aktif di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada tahun 1946, KH. Akrom Chasani pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Buaran, Kabupetan Pekalongan. Di sisi lain, pada era Kemerdekaan RI, ia diangkat menjadi pegawai di Jawatan Urusan Agama (JUA) Kabupaten Pekalongan sebagai kasi pendidikan. Seiring perjalanan waktu, pada tahun 1950, pada Konferensi Cabang NU Kabupaten Pekalongan, ia terpilih menjadi Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Pekalongan bergandengan dengan K.H. Syafi’i sebagai syuriahnya.

Pada waktu yang sama, KH. Akrom Chasani juga diangkat sebagai kepala JUA Kabupaten Pekalongan. Saat ia menjabat sebagai Kepala JUA Kabupaten Pekalongan. JUA kemudian bertransformasi menjadi Kantor Urusan Agama (KUA). Meskipun afiliasi politik KH. Akrom Chasani dan K.H. Syafi’i berbeda tetapi keduanya tetap lekat sebagai sahabat. KH. Akrom Chasani berada di Partai NU dan menjadi ketua Partai NU Kabupaten Pekalongan. Sementara KH. Syafi’i berada di Partai Masyumi, dan menjabat sebagai ketua Partai Masyumi Kabupaten Pekalongan.

Kedua karib ini seakan berbagi tugas. KH. Syafi’i berjuang di bidang ekonomi kesejahteraan umat dengan menjadi Ketua Koperasi Pembatikan Buaran (KPB). Sedangkan KH. Akrom Chasani berjuang di bidang birokrasi dan dakwah dengan menjadi Kepala KUA Kabupaten Pekalongan yang wilayahnya meliputi Batang, Kota besar Pekalongan, dan Kabupaten Pekalongan

Kunjungan ke Rusia

Pada Agustus 1956, KH. Akrom Chasani bersama sembilan ulama dari berbagai daerah di Indonesia ikut rombongan Menteri Agama Indonesia yaitu KH. Muhammad Ilyas berkunjung ke Rusia. Kunjungan itu untuk memenuhi undangan mufti (pemberi fatwa untuk memutuskan masalah yang berhubungan dengan hukum Islam) di Asia Tengah Wilayah Rusia. Selain itu untuk berziarah di tempat-tempat bersejarah di Rusia dan melihat perkembangan muslim di sana.

Saat berkunjung di Rusia, hatinya miris ketika melihat realitas muslim di sana yang selalu dikawal oleh Tentara Merah Uni Soviet. Masjid-masjid dijaga ketat oleh Tentara Merah. Hanya orang yang sudah tua dan lanjut usia yang diperkenankan masuk ke masjid. Adapun kalangan muda dan remaja tidak diperbolehkan masuk ke masjid.

Kalangan muda dan remaja justru diarahkan ke tempat-tempat yang mempertunjukkan berbagai macam hiburan. Ironisnya, tempat-tempat hiburan itu berada di depan masjid. Selain itu, hatinya juga menangis saat melihat banyak masjid yang sudah dialihfungsikan menjadi kandang ternak babi. Dalam benaknya terbayang, kelak umat muslim akan terkikis habis dengan sistematis kalau kondisi seperti itutidak dihentikan.

Remaja yang menjadi harapan, sebagai generasi penerus justru terus digiring oleh penguasa dan dijerumuskan ke lubang kemaksiatan. Melihat realitas  itulah, ketika kembali dari Rusia, terbetik ide dan gagasan besar untuk mendirikan pondok pesantren. Ia ingin mendirikan pondok pesantren sebagai wadah pendidikan dari tingkat dasar hingga tinggi. Tujuannya, untuk menyelamatkan generasi muda Islam di Indonesia, khususnya di Pekalongan dan sekitarnya serta membentengi generasi muda dari kemaksiatan.