Biografi Guru Marzuki bin Mirshod

 
Biografi Guru Marzuki bin Mirshod

Berdirinya organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) di tanah Betawi memang unik. Kisah yang saya dengar dari KH Saifuddin Amsir bahwa Guru Marzuki bin Mirshod Cipinang Muara yang diminta untuk mendirikan NU di Jakarta di tanah Betawi tidak serta-merta menerima permintaan tersebut.

Ia memberikan syarat, jika para perempuan dan santri perempuan di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, yang dipimpin Hadhratussyaikh KH Hasyim Asy`ari tidak menutup auratnya secara benar, sesuai syariat, ia menolak pendirian dan kehadiran NU di tanah Betawi.

Ia kemudian mengutus orang kepercayaannya ke Tebu Ireng untuk melihatnya secara langsung. Dari hasil pengamatan orang kepercayaannya ini ia mendapatkan informasi bahwa para perempuan dan santri perempuan di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, menutup auratnya dengan benar, sesuai syariat. Atas informasi ini, Guru Marzuki bin Mirshod Cipinang Muara menerima pendirian NU di tanah Betawi dan ia menjadi pendiri dari NU Jakarta.

Permintaan pendirian NU kepada Guru Marzuki bin Mirshod Cipinang Muara di tanah Betawi langsung dari Hadhratussyaikh KH Hasyim Asy`ari. Permintaan kepadanya tentu tidak sembarangan, mempertimbangkan juga pengaruh dan ketokohannya sebagai salah seorang ulama terkemuka di Betawi pada masa itu.

Guru Marzuki bin Mirshod Cipinang Muara yang merupakan alumnus Makkah dijuluki sebagai "Gurunya Ulama Betawi." Ia memiliki pondok pesantren yang terkenal di tanah Betawi pada masa itu. Pendidikan yang berkualitas menjadikan para orang tua di Betawi menjadikan pondok pesantrennya sebagai pilihan utama agar anak-anaknya kelak dapat menjadi ulama terkemuka. 

Riwayat dan Keluarga

As-syekh Ahmad Marzuqi bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Khotib Sa’ad bin Abdurrohman bin Sulthon yang diberikan gelar dengan “Laksmana Malayang” dari salah seorang sulthon tanah melayu yang berasal dari negeri Fatani Thailand Selatan.

Al-Marhumah Hajjah Fathimah binti Al-Haj Syihabuddin Maghrobi Al-Madura, berasal dari Madura dari keturunan Ishaq yang makamnya di kota Gresik Jawa Timur. Al-Marhum Haji Syihabuddin adalah salah seorang khotib di masjidf Al-Jami’ul Anwar Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Jakarta Timur.

As-Syekh Ahmad Marzuqi dilahirkan pada malam Ahad waktu Isya tanggal 16 Romadhon 1293 H di Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Batavia (Jakarta Timur). Usia 9 tahun ayahanda Al-Marhum berpulang ke Rohmatulloh dan diasuh oleh ibunda tercinta yang sholehah dan taqwa dalam suatu kehidupan rumah tangga yang sangat sederhana.

Usia 12 tahun beliau diserahkan kepada sorang ‘alim al-ustadz al-hajj Anwar Rohimahulloh untuk mendapat pendidikan dan pengajaran Al-qur’an dan berbagai disiplin ilmu agama Islam lainnya untuk bekal kehidupannya dimasa yang akan datang. Selanjutnya setelah berusia 16 tahun, untuk memperluas ilmu agamanya, maka ibundanya menyerahkan lagi kepada seorang ‘alaim ulama al-‘allamah al-wali al-‘arifbillah dari silsilah dzurriyah khoyrul bariyyah SAW Sayyid “Utsman bin Muhammad Banahsan Rohimahullohu ta’ala.

Menuntut Ilmu ke Mekkah

Karena sayyid ‘Utsman Rohimahullohu ta’ala melihat kegeniusannya serta ingatan yang tajam dalam menghafal, yang dimiliki oleh KH Ahmad Marzuqi sehingga beliau menjadi lain dari murid lainnya, maka beliau dikirim ke Makkatul Mukarromah atas seizing ibundanya untuk berkhidmat menuntut ilmu pada para ‘ulama dan udaba’ yang besar di Mekkah. Kesempatan menuntut ilmu tersebut benar-benar dipergunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga, dalam waktu hanya 7 tahun saja beliau telah mencapai segala apa yang dicita-citakannya, yakni menguasai ilmu agama untuk selanjutnya di’amalkan, diajarkan serta dikembangkan.

 Guru-Guru Beliau

Salah satu factor keberhasilan beliau selain ketekunan, adalah guru-guru beliau ridhwanullohu ta’ala ‘alayhim yang diberkahi, diantaranya adalah :

  1. As-Syaikh “Usman Serawak
  2. As-Syaikh Muhammad ‘Ali Al-Maliki
  3. As-Syaikh Muhammad Amin Sayid Ahmad Ridwan
  4. As-Syaikh Hasbulloh Al-Mishro
  5. As-Syaikh ‘Umar Sumbawa
  6. As-Syaikh Muhammad ‘Umar Syatho
  7. As-Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Makkah)
  8. Dan ulama-ulama lainnya RHM.

 Kembali ke Batavia (Jakarta)

Setelah selama 7 tahun beliau mukim di Makkah, kemudian datang sepucuk surat dari Sayyid ‘Utsman yang meminta agar Syaikh Ahmad Marzuqi dapat kembali ke Jakarta, maka pada tahun 1332 H atas pertimbangan dan persetujuan guru-gurunya di Mekkah beliau kembali pulang ke Jakarta dengan tugas menggantikan Sayyid ‘Utsman (guru beliau) dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada murid-muridnya. Tugas yang diamanatkan ini dilaksanakan sebaik-baiknya

Murid-murid Beliau

Murid-murid yang didiknya kemudian banyak yang menjadi ulama Betawi terkemuka. Dalam satu keterangan ada sekitar 41 ulama Betawi terkemuka bahkan lebih. Di antaranya adalah Mu`allim Thabrani Paseban (kakek dari KH Maulana Kamal Yusuf), KH Abdullah Syafi`i (pendiri perguruan Asy-Syafi’iyyah), KH Thohir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyyah), KH Noer Alie (pahlawan nasional, pendiri perguruan At-Taqwa, Bekasi), KH Achmad Mursyidi (pendiri perguruan Al-Falah), KH Hasbiyallah (pendiri perguruan Al-Wathoniyah), KH Ahmad Zayadi Muhajir (pendiri perguruan Az-Ziyadah), Guru Asmat (Cakung), KH Mahmud (pendiri Yayasan Perguruan Islam Almamur/Yapima, Bekasi), KH Muchtar Thabrani (pendiri YPI Annuur, Bekasi), KH Chalid Damat (pendiri perguruan Al-Khalidiyah), dan KH Ali Syibromalisi (pendiri perguruan Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan, Jakarta).

Karya-karya Beliau

Adapun kitab-kitab yang dikarangnya ada 13 buah, yang dapat dilihat sekarang hanya 8 buah, berisi tentang fiqih, akhlak, akidah, yaitu:

  1. Zahrulbasaatin fibayaaniddalaail wal baroohin.
  2. Tamrinulazhan al-`ajmiyah fii ma’rifati tirof minal alfadzil‘arobiyah.
  3.  Miftahulfauzilabadi fi’ilmil fiqhil Muhammadiyi.
  4. Tuhfaturrohman fibayaniakhlaqi bani akhirzaman.
  5. Sabiluttaqlid.
  6. Sirojul Mubtadi.
  7. Fadhlurrahman.
  8. Arrisaalah balaghah al-Betawi asiirudzunuub wa ahqaral isaawi wal `ibaad.

Berpulang

Pada pagi hari jum’at yang amat sejuk, jam 06.15 WIB tanggal 25 Rajab 1352 H dengan husnul khotimah penuh kebahagiaan syaikh Ahmad Marzuqi rohimahullohu ta’ala kembali berpulang ke pangkuan Allah SWT. Jenazahnya dikebumikan sesudah sholat Ashar yang dihadiri oleh para ‘ulama dari berbagai lapisan masyarakat, yang jumlahnya amat banyak sehingga belum terjadi saat-saat sebelumnya. Acara sholat jenazahnya di imami oleh Sayyid ‘Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi (Habib ‘Ali Kwitang). Suatu tanda kebaikannya adalah malam jum’atnya turun hujan yang teramat deras dan siangnya mendung tiada hujan.   

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber