Biografi KH. Mohammad Ma'roef RA (Mbah Ma'roef Kedunglo)

 
Biografi KH. Mohammad Ma'roef RA (Mbah Ma'roef Kedunglo)

Daftar Isi Profil KH. Mohammad Ma'roef RA (Mbah Ma'roef Kedunglo)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Guru-Guru
  6. Mendirikan Pesantren
  7. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  8. Teladan
  9. Pergi Haji
  10. Melawan Penjajah
  11. Karomah

Kelahiran

KH. Mohammad Ma'roef RA atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Ma'roef lahir pada tahun 1852, di dusun Klampok Arum Desa Badal Ngadiluwih Kabupaten Kediri. Beliau merupakan putra dari KH. Abdul Madjid (Mbah Yai Madjid), seorang pendiri Pondok Klampok Arum selatan Masjid Badal.

KH. Mohammad Ma'roef RA. Merupakan putra kesembilan dari sepuluh bersaudara.

  1. Nyai Bul Kijah,
  2. KH. Muhajir,
  3. Kiai Ikrom,
  4. Kiai Rohmat,
  5. Kiai Abdul Alim,
  6. Kiai Jamal,
  7. Nyai Muntaqin,
  8. Kiai Abdullah,
  9. KH. Mohammad Ma'roef
  10. Nyai Suratun.

Sejak kecil, KH. Mohammad Ma'roef RA sudah menjadi seorang Piatu, beliau ditinggalkan oleh ibunya. Sebagai gantinya, beliau mendapat kasih sayang dari ayahnya (Mbah Yai Madjid) dan saudara-saudaranya. Akan tetapi tidak lama berselang, ayahnya juga menyusul ibunya kehadirat Allah. Setelah itu Mbah Ma’roef diasuh oleh Mbah Yai Bul Kijah, mbak ayunya yang sulung.

Wafat

Pada hari-hari terakhir menjelang wafatnya beliau (Mbah Ma'roef) yang memiliki doa - doa ampuh untuk segala macam urusan beliau tulis keseluruhannya di papan tulis. Kemudian beliau menyuruh santrinya untuk menulis doa-doa yang disukai. Dengan senang hati para santri segera menulis doa-doa tersebut lalu disowankan kepada gurunya.

Doa-doa pilihan yang sudah ditulis di kertas itu oleh Mbah Ma’roef hanya ditiup saja. Beliau juga sering berwasiat kepada tamunya yang sowan dan minta petunjuk. Agar mengamalkan shalawat saja. Lebih jelasnya beliau mengatakan kalau di Kedunglo nanti akan lahir shalawat yang baik.

Wasiat serupa juga diwasiatkan kepada Mbah Khomsah familinya saat minta restu akan mengikuti baiat thariqah yang dihadiri oleh Kiai Romli dari Nganjuk. Beliau dawuh, “Sah, jangan ikut baiat thariqah. Thariqah itu berat. Untuk orang yang punya uang ndak kuat. Sepeninggalku nanti, disini (Kedunglo) akan ada shalawat yang baik, tunggulah kamu akan menjumpai shalawat itu.” Terbukti, tujuh tahun setelah Mbah Ma’roef wafat shalawat yang dinantikan yakni Shalawat Wahidiyah lahir. Maka seluruh keluarga Mbah Khomsah langsung mengamalkan Shalawat Wahidiyah.

Pada detik-detik menjelang wafatnya, Mbah Ma’roef yang sudah berusia 103 tahun dan tidak kuat naik ke masjid, tidak biasanya beliau menyuruh murid-muridnya yang dari Mojo (Mbah Makhsun, Mbah Ruba’i, Mbah Mahfud dan Mbah Mukhsin) agar mengajar anak-anak kecil pakai papan tulis. Padahal jangankan mengajar mau sekolah saja empat sekawan tersebut oleh Mbah Ma’roef tidak diperkenankan.

Dalam kepayahannya karena sakit, beliau masih memikirkan pembangunan pondoknya dengan menyuruh Mbah Makhsun dan Mbah Siyabudin mencari uang untuk membangun pondok. Mbah Makhsun dan Mbah Siyabudin ke Surabaya, Gresik dan Malang melaksanakan perintah Mbah Ma’roef. Ketika masih di Surabaya, Mbah Makhsun mimpi ditemui Mbah Ma’roef yang menyuruhnya pulang karena dimasakkan kepala Kambing.

Kelihatan sekali kalau sang pendiri pondok Kedunglo sangat dermawan. Meski ajal akan menjemput, beliau masih juga berpikir untuk shodaqoh. Maka dengan tangan lemas lemah lunglai beliau membuka-buka kasur dan bantal mencari uangnya. Mbah Nyahi Romlah sang putri melihat kelakuan aneh ayahnya sampai menegur, “Pak, sakit-sakit kok mencari uang buat apa?”. “Wo. Kamu ini bagaimana, ya buat shadaqah.”

Akhirnya, pada hari Rabu Wage ba’da Maghrib di bulan Muharrom tahun 1375 H / 1955 M KH. Mohammad Ma'roef Pendiri Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadharah Wafat atau menghadap kehadirat Allah SWT dengan tenang. Dan pada hari Kamis beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Kedunglo sebagaimana permintaan beliau sendiri.

Keluarga

Setelah Genap setahun nyantri pada Kiai Sholeh Langitan Tuban, beliau pulang ke rumahnya. Namun tidak lama kemudian ketika beliau (Mbah Ma'roef) memasuki usia 30 tahun Kiai Shaleh Banjar Mlati mengangkat Mbah Ma’roef menjadi menantunya dan dipersunting dengan putri sulungnya yaitu Nyai Hasanah.

Hanya Sekitar dua tahun saja Mbah Ma’roef menemani istrinya, karena setelah putra pertama lahir, beliau pergi ke Bangkalan untuk menimba ilmu pada Kiai Kholil yang masyhur sebagai auliya keramat, kepergian beliau dibiayai oleh Kyai Shaleh mertuanya yang terkenal kaya raya.

Menurut riwayat, beliau mempunyai banyak istri, ada yang mengatakan beliau mempunyai istri 22 orang, bahkan ada yang mengatakan lebih dari itu. Kebiasaan beliau menikah ini konon karena beliau kerap bepergian dalam waktu yang lama dan ingin menebar bibit yang baik. Karena itu hampir setiap daerah yang beliau singgahi, beliau melangsungkan ijab qobul dengan gadis setempat.

Ada pula yang mengatakan kalau pernikahan beliau melebihi ketentuan syariat hanya ijab saja, karena orang tua si gadis ingin mengalap berkah pada Mbah Ma’roef. Namun dari sekian istri-istri beliau yang diketahui berjumlah lima orang dan yang dikaruniai putra hanya tiga orang saja. Para istri dan putra-putri beliau adalah :

Istri pertama, Nyai Hasanah binti Shaleh dari Banjar Mlati. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai sembilan anak yaitu:

  1. Nyai Musthoinah,
  2. KH. Moh. Yasin,
  3. Nyai Aminah,
  4. Nyai Siti Saroh,
  5. Siti Asiyah,
  6. Nyai Romlah,
  7. KH. Abdul Madjid,
  8. Kiai Ahmad Malik,
  9. Qomaruzzaman (wafat ketika masih kecil).

Istri kedua, Nyai Maunah dari Klampok Arum Badal mempunyai seorang putri bernama Fatimah.

Istri ketiga, Nyai Masyrifah dari Sanggrahan mempunyai dua anak, yakni: Moh. Zainuddin (wafat ketika masih kecil) dan Maimunah.

Istri keempat, tidak diketahui namanya

Istri kelima, tidak diketahui namanya

Namun diketahui istri-istri yang tidak diketahui namanya berasal dari Prambon Nganjuk dan Gampeng Kediri. Riwayat lain mengatakan beliau juga mempunyai istri dan keturunan di Bangkalan Madura.

Pendidikan

Mbah Ma’roef memulai pendidikannya dengan belajar mengaji al-Qur’an kepada Mbak Ayunya. Itupun Mbak Ayunya sering mengeluh karena Mbah Ma’roef kecil susah untuk diajari seakan tidak ada yang nyantol di otak Mbah Ma’roef. Saking jengkelnya, akhirnya Mbak Ayunya menyuruh adiknya agar sering puasa Senin-Kamis. Saran tersebut dilaksanakan oleh Mbah Ma’roef.

Tidak lama setelah menjalankan puasa Senin-Kamis beliau bermimpi seekor ikan Mas meloncat masuk kedalam mulutnya. Sejak saat itu, beliau langsung bisa membaca Al-Qur’an sampai khatam. Beliau kemudian menemui mbak ayunya dan berkata “Mbak, aku sudah khatam al-Qur’an,” Mbah Nyai Bul Kijah kaget dan tidak percaya. “Kemarin saya ajari sulitnya minta ampun kok sekarang sudah khatam Qur’an,” Mbah Ma’roef kecil kemudian berkata; “Kalau ndak percaya, akan saya baca sampeyan yang nyimak,” Mbah Ma’roef lantas membaca Al-Qur’an hingga khatam.

Setelah belajar kepada Mbak Ayunya, beliau melanjutkannya dengan belajar dia Pondok Cepoko. Selama mondok di Cepoko keadaan beliau sangat memprihatinkan. Konon, beliau hanya makan seminggu sekali itupun makanan pemberian orang-orang sekitar pondok yang setiap malam Jum’at mengirim makanan ke pondok.

Pada hari-hari biasa, apabila beliau merasa lapar beliau hanya makan intip (nasi hangus) yang masih melekat di panci dan tidak dimakan oleh pemiliknya. Atau makan buah Pace yang pohonnya beliau tanam sendiri di lingkungan pondok. Pernah juga beliau mengajak kakaknya mengemis ke desa-desa untuk biaya mondok dan hidup selama di pondok. Beliau juga pernah menjadi buruh panjat kelapa dengan upah sebutir kelapa yang bagus. Bahkan oleh pemilik pohon kelapa beliau diberi tanah dan oleh Mbah Ma’roef tanah tersebut ditanami pohon kelapa.

Untuk menghilangkan rasa lapar karena jarang makan, beliau sampai menyumpahi perut dan mulutnya setiap hari Jum’at di dekat blumbang (kolam) buatan beliau sendiri. “Hai perut, jangan minta makanan jika belum hari Jum’at tiba. Mulut, jangan minta minum/makan jika belum hari jum’at tiba," setelah hari jumat beliaupun makan dan minum sepuasnya. Setelah makan beliau juga menyumpahi duburnya, “Dubur, jangan kenthut-kenthut jika belum hari Jum’at tiba.”

Kondisi yang cukup memprihatinkan selama nyantri membuat Mbah Ma’roef mempunyai kebiasaan puasa dan munajat kepada Allah SWT. Karena itulah Allah menganugrahkan beliau ilmu laduni di bidang ilmu Fiqih yang bermula dari mimpi beliau mengajar kitab Kuning di pondok. Setelah kejadian mimpi tersebut, beliau yang sudah mondok selama tujuh tahun dan baru kelas satu tsanawiyah tiba-tiba bisa membaca kitab kuning yang biasa diajarkan Kiai nya (Kiai Muh).

Beliaupun lantas sowan pada Kiai Muh gurunya, melaporkan bahwa beliau mendapat ilmu laduni dan bisa membaca kitab. Pada suatu ketika Kyai Muh mengumumkan kepada seluruh santrinya kalau besok beliau tidak dapat mengajar, sebagai gantinya yang mengajar adalah Mbah Ma’roef dari Kediri.

Mendengar pengumuman tersebut seluruh santri mengejek Mbah Ma’roef. Terutama santri senior yang memang tidak senang dan merasa iri dengan keberadaan Mbah Ma’roef di Cepoko. Sehingga muncul komentar-komentar bernada miring. “Mondok saja belum tamat, ndak bisa ngaji kok mau ngajari ngaji.” Keesokan harinya Mbah Ma’roef memukul kentongan pertanda pelajaran akan dimulai. Tapi karena para santri tahu kalau hari itu yang menggantikan gurunya adalah Mbah Ma’roef, maka hanya beberapa orang saja yang berkumpul di masjid.

Mbah ma’roef tidak peduli dengan ketidak hadiran para santri senior yang alim-alim, beliau tetap membuktikan kemampuannya mengajar kitab yang biasa diajarkan oleh Kyai Muh kepada santri-santrinya. Ternyata benar, Mbah Ma’roef bisa mengajar bahkan hafal isi kitab milik gurunya tersebut. Tentu saja peristiwa ini menggemparkan seisi pondok. Mbah Ma’roef yang merupakan santri miskin yang semula diremehkan dan dibenci teman-temannya seketika di sanjung dan dihormati. Bahkan katanya, Kyai Muh gurunya akhirnya berbalik berguru pada beliau. Sementara itu, para santri senior yang suka mengejek Mbah Ma’roef saat itu juga meninggalkan Pondok Cepoko.

Beliau (Mbah Ma'roef) tidak lama mondok di Cepoko, kemudian beliau melanjutkan mencari ilmu di Semarang pada Kiai Sholeh Darat. Genap dua tahun mondok di Ndarat, beliau pindah nyantri pada Kyai Sholeh Langitan Tuban. Dalam perjalanannya menuju pesantren yang beliau tempuh dengan jalan kaki tak jarang di tengah jalan beliau dihadang para perampok. Namun karena beliau punya ilmu penglimunan para begal itu tidak bisa melihat Mbah Ma’roef yang berlalu dihadapannya.

Guru-Guru

Setelah menyeberangi selat Madura dengan berenang, namun ada yang mengatakan Mbah Ma'roef tidak berenang melainkan langsung berjalan di atas selat Madura hingga tiba di daratan Madura. Setelah tiba di Madura beliau langsung menuju Demangan pondok KH. Kholil Bangkalan, dan beliau sendiri yang menerima Mbah Ma’roef.

Kiai Kholil berkata kepada Mbah Ma'roef “Hai, anak Jawa, tampaknya kamu lapar, ini saya beri makan harus dihabiskan.” Perintah Kiai Kholil sembari menyerahkan nasi satu nampan besar dengan lauk ikan bandeng sebesar betis orang dewasa. “Ya, Kiai,” jawab Mbah Ma’roef. Beliau pun mulai makan yang porsinya untuk beberapa orang dengan niat menyerap ilmunya Kiai Kholil. Selama Mbah Ma’roef makan, Kiai Kholil terus mengawasi calon muridnya dengan berdiri disamping Mbah Ma’roef dengan tongkat di tangannya yang siap beliau ayunkan apabila Mbah Ma’roef tidak menghabiskan makanan yang telah Kiai Kholil berikan.

Mbah Ma’roef yang telah terbiasa puasa dan berlapar-lapar tentu saja merasa tidak mampu menghabiskan nasi sebanyak itu. Namun karena beliau mempunyai doa yang membuat perut tidak merasa kenyang walau sudah kemasukan makanan berapapun banyaknya, yang beliau baca sebelum makan. Alhasil, nasi senampan pemberian Kiai Kholil dengan lahap dihabiskan tanpa sisa. Mengetahui hal itu, Kiai Kholil seketika berkata, “Ini orangnya yang akan menghabiskan ilmuku.”

KH. Mohammad Ma'roef RA Riyadhah di Makam Madura

Riyadhah sudah menjadi bagian hidup Mbah Ma’roef. Selama nyantri pada Kiai Khalil, kegandrungannya dalam hal riyadhah semakin menjadi-jadi. Selama nyantri di Bangkalan ini pula beliau mempunyai kebiasaan baru yaitu berziarah ke makam-makam keramat para auliya se-Madura. Di makam tersebut, beliau bukan sekedar ziarah biasa tetapi makamnya disowani dan ditirakati sehingga beliau bisa berdialog langsung dengan si penghuni makam.

Tujuan beliau riyadhah di makam-makam keramat tersebut tiada lain karena beliau ingin memiliki ilmu “Sak mlumahe bumi lan sak mengkurepe langit” yaitu ingin memiliki ilmu seluas bumi dan langit tanpa harus belajar. Artinya, beliau ingin mendapat ilmu laduni. Sudah demikian banyak makam keramat yang beliau datangi, namun kesemuanya memberikan jawaban kalau ingin alim harus belajar dulu.

Jawaban tersebut mengecewakan Mbah Ma'roef. “Lha wong ingin dapat ilmu tanpa harus belajar kok disuruh belajar.” Terakhir, beliau riyadhah di makam yang berada di Bujuk Sangkak. Sebagaimana yang sudah-sudah di sana beliau juga tirakat hingga bisa ditemui oleh penghuni makam. “Hai, anak muda mengapa kamu tirakat di sini?”. Mbah Ma’roef menjawab “Saya santri Bangkalan ingin jadi orang alim. Doakan saya agar diberi ilmu laduni.” Jawaban penghuni makam tersebut lain dari pada yang lain. “Bisa, kamu bisa mendapat ilmu laduni tapi tirakatmu masih kurang.” Mbah Ma’roef langsung menangis sedih dan putus asa. “Saya sudah tirakat seperti ini kok ya masih kurang.”

Dengan rasa putus asa beliau kembali ke pondok dan terus menangis. Kiai Khalil mengetahui apa yang dirasakan muridnya kemudian beliau bertanya kepada Mbah Ma’roef Kiai Khalil : “Ma’roef, sudah berminggu-minggu kamu tidak berada di pondok, pergi kemana saja kamu?”

Mbah Ma'roef : “Saya riyadhah di kuburan wali-wali, mereka semua tidak bisa memberi saya ilmu laduni. Terakhir saya riyadhah di Bujuk Sangkak, katanya saya bisa mendapatkan ilmu laduni, tapi riyadhah saya masih kurang. Riyadhah yang bagaimana lagi yang mesti saya lakoni, padahal semua riyadhah sudah saya jalankan.”

Kiai Kholil : “Ada satu makam lagi yang belum kamu datangi yakni makam Mbah Abu Syamsuddin di Batu Ampar. Beliau wali besar. Semalam saya bertemu Mbah abu Syamsuddin, beliau menyuruh saya menulis di kuburannya. Siapa yang bisa mengkhatamkan al-Qur’an sekali duduk, apapun keinginannya akan tercapai”.

Mendengar hal tersebut Mbah Ma'roef langsung berangkat ke Batu Ampar dan mengkhatamkan al-Qur’an dari Shubuh sampai Ashar sekali duduk. Selesai mengkhatamkan al-Qur’an seketika datang angin Lysus menerjang tubuh beliau. perasaan beliau, saat itu kepalanya dipegang dan ditumpahi nasi kuning hingga beliau muntah berak.

Sepulang riyadhah di makam Mbah Abu Syamsuddin, segala kitab yang ada di pondok Kiai Khalil beliau kuasai. Tercapailah sudah keinginan Mbah Ma’roef untuk memiliki ilmu seluas bumi dan langit tanpa harus belajar.

Mendirikan Pesantren

Suatu ketika beliau disuruh mertuanya mencari tanah untuk dijadikan pondok pesantren. Mbah Ma'roef tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, beliau lantas Tirakat sambil membaca Shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali. Akhirnya beliau mendapat alamat, bahwa tanah yang cocok untuk didirikan pondok adalah tanah yang berada di sebelah barat sungai Brantas di antara dua jembatan kembar. Alamat tersebut lalu dihaturkan kepada mertua Mbah Ma’roef.

Tetapi mertua dan semua orang kurang setuju dengan tanah pilihannya karena tanah yang dipilih Mbah Ma’roef dikenal sebagai tanah supit urang yaitu tanah yang bewujud perairan semacam danau atau rawa tidak berupa daratan. Namun Mbah Ma’roef tetap pada pendirianya memilih tanah tersebut dengan mengungkapkan beberapa alasan yaitu Pondok ini nanti akan memiliki beberapa keistimewaan, pertama dekat pasar, kedua dekat sungai, ketiga apabila ke timur sedikit kota.

Maka alasan tersebut diterima dan jadilah tanah tersebut dibeli. Setelah tanah tersebut dibeli, maka didirikan sebuah pondok pesantren pada tahun 1901 yang bertempat di sebelah utara (kini lokasi Miladiyah). Pondok tersebut diberi nama Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadharah. Nama Kedunglo berasal dari kondisi tanah yang waktu itu berupa kedung semacam danau dan disana terdapat pohon Lo yang besar.

Setelah KH. Mohammad Ma'roef mendirikan Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadharah maka berduyun-duyunlah para santri ingin menimba ilmu pada beliau Mbah Ma’roef . Namun karena beliau tidak suka memiliki banyak santri, maka sebagian santri beliau serahkan kepada Kyai Abdul KarimLirboyo yang saat itu baru mempunyai beberapa santri saja.

Ketika ditanya mengapa tidak suka mempunyai banyak santri? Beliau menjawab. “Aku emoh memelihara banyak santri. Disamping repot, kalau punya banyak santri, pondok ini jadi kotor. Karena itu saya mohon kepada Allah, agar santri saya tidak lebih dari 50 orang. Kalau lebih dari lima puluh, ada yang ndugal akhirnya pondok ini jadi rusuh". Memang benar setelah diteliti santri beliau tidak pernah lebih dari 40 orang. Kalau lebih dari empat puluh orang pasti ada yang pulang.

Di Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadharah disamping sebagai pengasuh, beliau adalah guru tunggal. Jadi beliau tidak mempunyai guru pembantu yang mengajar santri-santrinya. Karena santri-santrinya beliau tangani sendiri, tak heran kalau sepulang mondok di Kedunglo santri-santri beliau menjadi orang-orang alim dan ampuh. Berikut adalah sedikit dari santri beliau yang menjadi orang besar :

  1. Mbah Yai Dalhar Watucongol Magelang,
  2. Kiai Manab Lirboyo,
  3. Kiai Musyafak Kaliwungu Kendal,
  4. Kiai Dimyati Tremas,
  5. Kiai Bisri Mustofa Rembang,
  6. Mbah Yai Mubasyir Mundir,
  7. Kiai Marzuqi Solo

Karena beliau adalah seorang alim alamah dan menguasai berbagai macam disiplin ilmu, maka kitab-kitab yang diajarkan beliau adalah kitab-kitab yang tinggi. Bahkan cara beliau mengajar tidak sebagaimana guru-guru sekarang. Untuk mengajar Syarah Al-fiyah saja disamping menerangkan syarahnya beliau juga membahas arudnya (balaghohnya), maka satu pelajaran yang beliau bahas sudah termasuk atau meluas ke mata pelajaran yang lain.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada tahun 1926, Mbah Ma’roef mulai menerjunkan diri dalam organisasi kemasyarakatan karena diajak oleh sahabatnya yaitu KH. Hasyim Asyari yang pada waktu itu akan mendirikan Nahdhatul Ulama (NU). Maka setelah NU berdiri sebagaimana yang tertulis di Qonun Asasi (AD/ART) pendirian NU yang pertama, Mbah ma'roef duduk sebagai Mustasyar NU.

Selain Mbah Ma’roef ada pula nama Syekh Ghonaim Al-Misri seorang ulama dari Al-Azhar Mesir yang juga menjabat di Mustasyar. Sedangkan KH. Hasyim Asyari sendiri pada waktu itu menjabat sebagai Rais Akbar Syuriah NU. Melihat kedudukan Mbah Ma’roef di organisasi NU saat itu menunjukkan bahwa tingkat keilmuan beliau di atas rata-rata. Karena hanya beberapa ulama tertentu saja yang dapat menduduki jabatan tersebut.

Sebagai penasihat di NU, beliau sering menghadiri muktamar-muktamar NU yang diadakan didaerah-daerah. Dan pada acara tersebut, beliau yang sangat makbul do’anya, langsung didaulat untuk memimpin do’a. Biasanya, jika para ulama NU mengadakan Bahtsul Masail lalu menemui jalan buntu, mereka sowan pada Mbah Ma’roef RA untuk meminta petunjuk pada beliau. dalam hal ini beliau hanya mengatakan, “Masalah itu ada di kitab anu…”. Tanpa menjelaskan detail masalah.

Teladan

Konon Mbah Ma'roef RA terkenal memiliki temperamen yang keras, menurut Kiai Baidhawi, temperamen Mbah Ma'roef menurun kepada cucunya yaitu KH. Abdul Latif Madjid. Kalau Mbah Ma'roef sedang marah pada seseorang ya marah betul. Bahkan kalau beliau sedang marah dan sempat mengeluarkan kata-kata celaka, maka orang yang dimarahi akan celaka betul.

Temperamen yang keras barangkali disebabkan karena sejak kecil beliau sudah yatim piatu dan kurang kasih sayang dari orang tuanya. Apalagi untuk bertahan hidup beliau harus bekerja keras dibarengi tirakat. Sehingga dapat dipastikan beliau lebih banyak puasa dari pada tidak.

Mbah Ma’roef RA semasa hidupnya senang bersilahturahmi. Karena itulah beliau sering meninggalkan pondok pesantren Kedunglo untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya, Sifat-sifat yang lain, beliau adalah orang yang terbuka. Segala peristiwa yang terjadi pada beliau hampir semua diceritakan pada keluarga beliau dan murid-murid kesayangannya mengetahui perjalanan hidup gurunya dari yang sifatnya umum sampai yang pribadi.

Kepada para santrinya, beliau sangat perhatian. Karena itu seluruh santri-santri beliau, beliau sendiri yang mendidiknya hingga si santri menjadi orang. Kedekatan beliau dengan para santri tak ubahnya seperti seorang ayah kepada anaknya. Karena itu beliau sangat dihormati dan disayangi oleh para santrinya.

Mbah Ma’roef juga dikenal sangat dermawan. Dermawan dalam hal harta maupun doa -doa. dapat dipastikan semua orang yang meminta harta maupun doa kepada beliau tidak pernah ditolaknya. Pernah suatu ketika beliau memberi ongkos kepada orang yang ingin pergi haji. Padahal di waktu yang sama putra beliau Gus Madjid berada dalam kemiskinan.

Ketika ditanya, mengapa uang untuk ongkos naik haji itu tidak diberikan saja kepada putranya? Dengan penuh makna beliau menjawab. Madjid itu anak shaleh. Dia ditanggung langsung oleh Allah. Para tamu yang kelaparan, beliau beri makan hingga kenyang. Yang jelas, siapapun yang pernah hidup di zamannya dan meminta tolong pada beliau merasakan betapa beliau seorang yang sangat perhatian pada sesamanya.

Meski beliau mempunyai ilmu seluas bumi dan langit, serta terkenal doanya di ijabahi seketika dan beliau sendiri sangat sering mendemontrasikan kekeramatannya, namun beliau ternyata seorang yang sangat tawadhu dan menjaga anak keturunannya agar juga memiliki sifat tawadhu dalam arti tidak membangga-banggakan keturunannya. Beliau pernah berkata pada salah seorang santri kepercayaannya, “Aku ini punya catatan silsilah keluargaku, namun karena aku khawatir nanti anak turunku membanggakan nasabnya, maka catatan itu aku titipkan pada Kyai Abu Bakar (Bandar Kidul).”

Lalu bagaimana hubungan beliau dengan keluarganya? Beliau dalan hal mendidik putra-putrinya sangat keras dan disiplin. Karena itu beliau menangani sendiri pendidikan putra-putrinya. Beliau juga sangat menekankan kepada putra-putrinya untuk senantiasa membaca shalawat “Shallallahu ala muhammad”. Tak terkecuali putra beliau yang baru bisa bicara dan masih cendal juga diwajibkan membaca shalawat sebanyak 100 x. Bagi putranya yang sudah lancar bicara harus membaca shalawat sebanyak 1000 x, dan sejumlah 10.000 x bagi yang sudah baligh.

Karena mendapat bimbingan langsung dari Mbah Ma’roef, tak pelak putra-putri beliau tumbuh menjadi seorang yang cerdas, alim dan ampuh. Untuk mendekatkan hubungan batin antara ayah dan anak juga cucu, beliau sering mendongengi putra dan cucu-cucunya kisah-kisah teladan sebelum tidur. Beliau juga mengajari mereka doa - doa lain menjelang tidur.

Konon putra dan putri beliau tidak berani mendekat kalau tidak dipanggil ayahnya (Mbah Ma'roef). Mbah Ma’roef juga berpesan kepada Mbah Ruba'i santri kesayangannya apabila para putranya menginginkan sesuatu agar disampaikan melalui Mbah Ruba'i. Maka kalau putra beliau mau minta uang kepada beliau Mbah Ruba'i lah yang diminta tolong agar menyampaikan kepada ayahnya. Hanya satu putra beliau yang tidak pernah meminta tolong kepada Mbah Ruba’i untuk meminta sesuatu kepada ayahnya, yaitu KH. Abdul Madjid Ma'roef

Pergi Haji

Pada tahun 1918, Mbah Ma'roef menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya dengan mengajak Mbah Nyahi Hasanah RA (Istrinya) yang saat itu sedang mengandung putra ketujuh. Karena naik haji pada masa itu ditempuh dalam waktu setengah tahun lebih, maka kelahiran putra lelaki yang tampan dan sehat di tempat yang mulia dan mubarokah disambutnya dengan penuh rasa syukur dan bahagia.

Maka Mbah Ma'roef lantas memberikan nama bayi tersebut “Abdul Madjid”. (sedangkan menurut penuturan Mbah Nyahi Romlah Ma’roef. Mbah Yahi Madjid QS wa RA di lahirkan di Kedunglo. Dan diajak ke Makkah saat beliau baru berusia 1,5 tahun). Setiap memasuki jam dua belas malam, Mbah Ma’roef menggendong bayinya yang masih merah ke Baitullah dibawah Talang Mas. Di sana, beliau memanjatkan do’a agar bayi dalam gendongannya kelak menjadi orang besar yang shaleh hatinya.

Selama berada di Makkah, Abdul Madjid yang juga di khitan disana akan diadopsi oleh salah satu ulama Makkah. Akan tetapi Mbah Nyai Hasanah tidak mengizinkan sehingga Abdul Madjid tetap berada dalam asuhan kedua orang tuanya sendiri.

Melawan Penjajah

Sumbangsih Mbah Ma'roef kepada negara di zaman perjuangan mengusir penjajah amatlah besar. Hal ini beliau tunjukkan saat pertempuran 10 November 1945 di Surabaya meledak. Bersama Mayor Hizbullah Mahfud dan Kiai Hamzah (ayah Mbah Nyahi Shafiyah RA) beliau turut ke medan pertempuran walau berada di garis belakang sebagai tukang do’anya.

Berkat do’a Mbah Ma’roef, tak jarang bom yang meledak berubah menjadi butiran-butiran kacang hijau. Sebagaimana pula diriwayatkan oleh murid-muridnya yang juga turut berperang, para tentara dan santri yang ikut berjuang kebal dengan berbagai senjata setelah diasmai oleh Mbah Ma’roef.

Cara beliau mengisi kekebalan pasukan tergolong unik. Pertama setelah pasukan dibariskan, beliau menyuruh mereka agar minum air jeding di utara serambi Masjid. Selanjutnya beliau berdo’a yang diamini oleh pasukan pejuang. Di antara do’anya, “Allahumma salimna minal bom wal bunduq, wal bedil wal martil, wa uddada hayatina”. Doa beliau yang kedengarannya nyeleneh ternyata sangat manjur. Terbukti pada semua tentara yang sudah beliau isi kebal aneka senjata.

Konon Gus Nawawi dari Jombang ketika bertempur punggungnya terkena martil. Tapi beliau tidak apa-apa malah punggungnya ngecap martil. Kiai Hamzah besannya sendiri yang juga mengikuti pertempuran di Surabaya. Kabarnya kaki nya juga terkena bom tapi tidak apa-apa.

Kiai Bisri Mustofa Rembang, di zaman itu pernah di kejar-kejar penjajah Jepang. Beliau kemudian lari ke Kedunglo minta perlindungan kepada Mbah Ma'roef. Kemudian Mbah Ma'roef mengijazahi sebuah doa, setelah diamalkan beliau selamat dari incaran orang Jepang. Berkat jasa Kyai Kedunglo, beliaupun lalu mewasiatkan kepada anak cucunya agar terus mengamalkan doa pemberian Mbah Ma’roef, doa tersebut oleh Kiai Bisri Musthafa diabadikan dalam buku terjemah Burdah. Itulah Mbah Ma’roef, memanfaatkan keampuhan do’anya dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

Karomah

Berbicara mengenai kekeramatan Mbah Ma'roef seakan tidak ada habisnya. Orang-orang yang hidup sezaman dengan beliau dan pernah bergaul dengan beliau dipastikan pernah menyaksikan dan merasakan langsung kekeramatan beliau. dan siapapun tidak akan menyangkal bahwa kekeramatan beliau terletak pada keampuhan do’anya yang di-ijabahi dalam waktu sekejab, ucapannya “sabda pandhito ratu” dan firasatnya tak pernah meleset.

Hebatnya lagi meski Mbah Ma'roef sudah wafat tapi orang-orang sepeninggal beliau, yang mujahadah di makam beliau juga turut pula merasakan kekeramatan beliau. berikut ini adalah sebagian kecil kekeramatan Mbah Ma'roef:

Diriwayatkan oleh Ibu Nurul Ismah Madjid dari Pak Pardi dari Kiai Ridwan santri Mbah Ma’roef yang berasal dari Pagu Kediri.

Beliau bercerita, Suatu hari Mbah Ma’roef RA mengajak Kyai Ridwan ke Dhoho. Kebetulan saat itu sungai Brantas banjir hingga airnya meluap dan tidak ada rakit buat menyeberang. Hendak berjalan lewat utara terlalu jauh. Akhirnya Mbah Ma’roef berkata kepada santrinya :

“Yakh…terpaksa kita menyeberangi sungai. Ridwan berdirilah dibelakangku dan pegangi jubahku.” Kemudian keduanya berjalan diatas permukaan sungai hingga tiba di tepi sebelah timur. Ajaibnya meski kaki Mbah Ma’roef menyentuh air tapi sama sekali tidak basah. Sedangkan Kiai Ridwan hanya basah sampai mata kaki.

Dikisahkan oleh Mbah Yusuf santri Mbah Ma’roef dari Tawansari Tulung Agung / paman Mbah Nyahi Shofiyah RA.

Suatu hari datang seorang tamu mengantar surat untuk Mbah Ma’roef RA. Sepeninggal tamu tersebut, Mbah Ma'roef membalas surat tersebut dengan menyuruh salah satu santrinya agar menghanyutkan surat itu ke sungai berantas. Mendapat perintah aneh si santri berkata, “Lho kok dimasukkan ke sungai Kiai?” Mbah Ma'roef menjawab “Sudah kerjakan perintahku!” Meski tidak mengerti si murid itu melaksanakan juga perintah Mbah Ma’roef memasukkan surat ke dalam sungai. Anehnya, begitu surat tersebut ditaruh di atas air, surat itu berjalan diatas permukaan air. Lebih aneh lagi surat itu berjalan melawan arus sungai. Akhirnya surat tersebut tiba juga pada alamat yang dituju dalam keadaan utuh tidak basah apalagi rusak karena air.

Diriwayatkan dari Kiai Baidhawi.

Dulu semasa Mbah Ma’roef masih sugeng. Nabi Khidir sering datang ke Kedunglo menjumpai Mbah Ma’roef, dan kerap Nabi Khidir bermalam di panggung utara.

Diriwayatkan oleh Mbah Makhsun dari Mojo Kediri.

Mbah Makhsun adalah salah satu santri Mbah Ma’roef RA, namun setelah Mbah Ma’roef wafat beliau lalu nyantri ke pondok lain, ibunya bingung ditinggal dan mencari Mbah Makhsun dengan maksud mau disuruh pulang. Tetapi si ibu tidak tahu kemana perginya sang putra. Akhirnya si ibu mujahadah dimakam Mbah Ma’roef RA. "Mbah Ma’roef…..tolong, kembalikan putra saya." Ratap si ibu di depan makam.

Sementara si ibu sedang meratap di depan makam. Di pondok barunya, Mbah Makhsun menerima sepucuk surat dari Mbah Ma’roef Kediri yang isinya menyuruh Mbah Makhsun pulang. Sontak para pengurus pondok Mbah Makhsun keheranan, lalu surat tersebut dihaturkan kepada Kyainya. Barulah mereka tahu, kalau ternyata Mbah Makhsun pernah menjadi santri kesayangan Mbah Ma’roef ini bukanlah orang sembarangan.