Biografi KH. Maftuh Said

 
Biografi KH. Maftuh Said

Daftar Isi Profil KH. Maftuh Said

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Kiprah

Kelahiran

KH. Maftuh Said lahir pada tahun 1950 di Tepi Bengawan Solo, tepatnya di Desa Ngaren, Bungah, Gresik. Beliau merupakan putra pertama dari 13 bersaudara dari pasangan KH. Said Muin dan Nyai Hj Mardliyah.

Wafat

KH. Maftuh Said wafat pada usia 67 tahun atau bertepatan sekitar pukul 22.30 WIB, Minggu 20 Agustus 2017. Jenazah beliau dimakamkan pada Senin 21 Agustus 2017 pukul 10.00 WIB, di pemakaman khusus keluarga besar Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah.

Beliau meninggal dunia di kediaman, di Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah, Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Keluarga

KH. Maftuh Said melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj. Marfuatun, putri KH. Mahfudz, dari Kepanjen Malang. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai satu putra dan dua putri. Anak-anak beliau, diantaranya Nurul Hafshah, Muhammad Agus Fahim dan Hanifah Sa’diyyah.

Pendidikan

KH. Maftuh Said memulai pendidikannya dengan belajar di Sekolah Rakyat (SR) di Bungah Gresik. Namun, hanya sampai kelas empat saja. Karena beliau lebih memilih untuk menyelesaikan al-Qur’an kepada sang ayahnya. Akhirnya beliau berhasil untuk menyelesaikannya pada usia 9 tahun.

Keluarga KH. Maftuh Said memang tergolong usratul huffadz, yaitu keluarga para penghafal Aquran. Ayah Kiai Maftuh, Kiai Said, memang sangat keras ketika mendidik putra-putrinya dalam menghafal Alquran. Hasilnya, 13 bersaudara Kiai Maftuh mampu menghafal Alquran 30 juz.

Julukan sang ayah sebagai asadul Quran atau harimaunya al-Qur’an juga menurun kepada Kiai Maftuh ketika mengajarkan hafalan al-Qur’an.

Metode tahfidzil Quran Kiai Said menginspirasi para pengasuh pondok se-Indonesia untuk memohon doa restu dan izin untuk membuka lembaga penghapal al-Qur’an di pelbagai tempat. Salah satunya adalah Pengasuh PP. Al-Amien, KH Mohammad Idris Djauhari, pengasuh Ma’had Tahfidz Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura.

Setelah selesai menghafalkan al-Qur’an, KH. Maftuh Said melanjutkan pendidikannya dengan  mondok di Ponpes Al Falah Ploso Kediri. Di pondok tersebut beliau tempuh selama 9 tahun.

Mendirikan Pesantren

Setelah menikah, pada awalnya KH. Maftuh Said ikut bersama mertuanya yaitu tinggal di Kepanjen. Cukup lama beliau hidup bersama mertuanya, akhirnya membuat KH. Maftuh Said ingin mandiri, pada pertengahan tahun 1980-an, bersama ketiga putra-putrinya, beliau pindah ke desa Sudimoro.

Mereka menempati sebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana. Di rumah itulah untuk pertama kali Kiai Maftuh mengikuti jejak ayahandanya untuk mendidik putra-putrinya menghafal al-Qur’an.

Seiring dengan berjalannya waktu, banyak masyarakat yang ingin menitipkan putra putrinya untuk dididik membaca dan menghafal al-Qur’an.

Nama Kiai Maftuh sebagai guru membaca dan menghafal Alquran kemudian tersebar bukan hanya di daerah Malang, tapi hampir seluruh pelosok Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan terus bertambahnya para santri dari seluruh penjuru Nusantara.

Dari pengakuan jujur beliau saat awal merintis, sebenarnya tidak ada niatan untuk mendirikan pondok pesantren yang sebesar dan semegah seperti saat ini. Dalam membangun fisik pesantren, Kiai Maftuh menerapkan sistem sesuai kebutuhan.

Saat dirasa bangunan sudah tidak memadai lagi untuk para santri, maka segeralah dibangun gedung baru yang jika ditanya dari mana dananya, dengan yakin dan mantap beliau menjawab "Dari Allah SWT."

Tahun 1983 adalah tahun bersejarah bagi KH. Maftuh Said. Sekira 34 tahun silam itu Kiai Maftuh merintis lembaga pendidikan Pondok Pesantren Al Munawwariyyah di Desa Sudimoro, Bululawang, Kabupaten Malang.

Nama pesantren itu dinishbatkan kepada sosok kiai besar dari Sedayu Gresik yakni KH. Munawwar Sedayu, guru dari Kiai Said Muin, ayah Kiai Maftuh. Pada tahun yang sama, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Malang itu juga menerima amanah kelahiran putra bungsunya yang bernama Muhammad Munawwar.

Perjuangan dalam merintis pesantren dan lembaga pendidikan Islam Al-Munawwariyyah cukup alot dan panjang. Berawal dari belasan santri yang mengaji Aquran hingga saat ini sukses mendirikan lima lembaga SD, SMP, SMA, SMK Madrasah Islamiyah, dan Tarbiyatul Qur’an Al-Munawwariyyah.

Alumni Al-Munawwariyyah kini sudah tersebar ke seantero Nusantara dan bahkan banyak yang kini melanjutkan studi di Timur Tengah.

"Kesuksesan pembangunan ini cuma berpedoman pada kurdi, kepanjangan dari sukur dadi (yang penting jadi, Red)," ujar Kiai Maftuh dalam berbagai kesempatan.

Kiprah

Kiprah KH. Maftuh Said selain menjadi pengasuh, beliau juga berkhidmah kepada NU, dan juga beliau dipilih untuk menjadi pimpinan Thoriqoh Tijaniyah, sekaligus menjadi tokoh masyarkat di Malang.