Biografi KH. Siroj Payaman (KH Anwari Sirajd)

 
Biografi KH. Siroj Payaman (KH Anwari Sirajd)

Daftar Isi Profil KH. Siroj Payaman (KH. Anwari Sirajd)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Karomah

Kelahiran

KH. Muhammad Siradj atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Siroj Payaman atau KH. Anwari Sirajd lahir pada tahun 1878 M di desa Payaman Magelang.

Silsilah nasab dari jalur ibu, nasab KH. Muhammad Siradj sampai pada Joko Tingkir.

Wafat

KH. Muhammad Siradj wafat pada Kamis Pahing 15 Safar 1379 H atau 20 Agustus 1959 M. Jenazah beliau dimakamkan di belakang Masjid Agung Payaman.

Pendidikan

KH. Muhammad Siradj menjalani pendidikannya di Kota Mekkah bersama Mbah Dahlar, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang dan KH. Hasyim Asy’ari pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Mendirikan Pesantren

Pada tahun 1947, KH. Muhammad Siradj mendirikan Pondok Pesantren Kidul di Dusun Karang Geneng, Payaman. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya pada tahun 1957, Pondok Pesantren Kidul dipindah ke samping Masjid Agung Payaman. Pemindahan tersebut dimaksudkan agar lebih dekat dengan rumah beliau. 

Karomah

KH. Muhammad Siradj merupakan salah satu sosok Kiai yang memiliki banyak karomah, diantaranya, saat berjuang melawan kolonial Belanda, beliau adalah kiai yang kebal terhadap senjata. Selain itu, beliau juga diberikan karomah dapat mencegah bencana letusan dan erupsi Gunung Merapi.

Berkat karomahnya menghalau erupsi, beliau diberikan gelar kehormatan Romo Agung oleh Belanda,

“Belanda berikan Gelar Romo Agung dulu saat Merapi meletus. Belanda ingin halau lahar, minta doa ke Mbah Siraj, doanya kabul tidak terjang Kota Magelang. Sehingga kejadian itu dikaitkan dengan rutinitas pembacaan Kitab Bukhori Sokhi yang dikenal dengan pengajian Sema’an Bukhoren membaca kitab Bukhori yang setiap Ramadan satu bulan penuh digelar di Masjid Agung, alun-alun Kota Magelang sampai sekarang,” kata KH. Mafatikhul Huda, salah seorang cicit Almarhum KH. Anwari Sirajd.

Menurutnya, keampuhan ilmu karomah yang dimiliki beliau terbukti saat terjadi agresi militer Belanda pertama. Saat itu Masjid Agung Payaman diserang Belanda pada tahun 1948 dengan membabi buta. Belanda selalu mencari sosok KH. Sirajd yang dikenal sebagai pimpinan para santri pejuang.

Pencarian dilakukan mulai masjid sampai di beberapa kampung di Payaman, Magelang. Namun, hanya pohon-pohon sekitar yang terbakar karena KH. Sirajd dan santri yang sempat bersembunyi di bawah masjid berhasil melarikan diri ke Desa Canden yang jaraknya 10 kilometer dari Masjid Agung Payaman, Magelang.

Kemudian, sebelum Serangan Umum pada 1 Maret 1949, para santri dibekali oleh bambu runcing sebelum melakukan penyerangan ke Ambarawa. KH. Subkhi pendiri Ponpes Bambu Runcing, Parakan, Temanggung yang saat itu masih menjadi santri Mbah Sirajd diperintahkan mencari bambu sebanyak-banyaknya dan diruncingkan untuk menjadi senjata melawan Belanda dalam Serangan Umum 1 Maret.

“Saat itu Mbah Sirajd memberikan bambu-bambu itu dengan doa-doa dan membawa kemenangan meski tentara Belanda memiliki senjata lengkap dan otomatis,” kata dia.

KH. Subkhi kemudian memberi nama pondok pesantren yang didirikannya dengan nama Ponpes Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah yang masih berdiri kokoh dan eksis sampai sekarang. Kini, di Ambarawa berdiri kokoh sebuah monumen sebagai simbol agresi militer dengan nama Museum Palagan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Pada masa penjajahan, hanya KH. Siraj yang diberikan kebebasan oleh Belanda untuk berdakwah ke berbagai daerah. Hal itu karena Belanda merasa segan dengan Karomah dan kesaktian yang dimiliki KH. Siraj.

“Romo KH. Siraj orang yang membawa Payaman ini dari jahiliyah menjadi madaniah. Dan setelah Belanda kalah, maka mulai digelarlah tradisi syawalan, atau dikenal bodo kupat, sejak 1950-an.” tutur Imam Masjid Agung Payaman yang juga sesepuh sekaligus cucu dari KH. Siraj, Muhammad Tibyan (57).