Biografi KH. Muslih Ilyas

 
Biografi KH. Muslih Ilyas

Daftar Isi Profil KH. Muslih Ilyas

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Pengasuh Komplek Q
  4. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  5. Teladan

Kelahiran

KH. Muslih Ilyas atau yang kerap disapa dengan panggilan Pak Muslih lahir pada 3 Januari 1958 di Kediri.

Pendidikan

KH. Muslih Ilyas memulai pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Lirboyo. Di sana beliau belajar selama 6 tahun. Setelah selesai, beliau melanjutkan dengan belajar di Pondok Krapyak yang diasuh oleh KH. Ali Maksum.

Selama di Krapyak Pak Muslih hidup dengan ikut menumpang sebagai tukang memasak (ikut ndalem). Selama beberapa bulan di Krapyak dengan hanya ikut mondok ia merasa waktunya banyak terbuang, mengingat pengajian hanya dilakukan sore, malam dan pagi hari. Sehingga ia memberanikan diri sowan kepada KH. Ali Maksum untuk sekolah lagi.

“Meh mlebu kelas piro? (Mau masuk kelas berapa?) tanya Kiai Ali.

“Kelas setunggal tsanawiyah,” jawab Pak Muslih kala itu. Kemudian Kiai Ali tidak menjawabnya.

Keesokannya ketika Pak Muslih bertemu lagi dengan Kiai Ali,

“Wes koe entuk sekolah maneh tapi ora keno mlebu kelas siji tsanawiyah” (Sudah kamu bisa sekolah lagi tapi tidak boleh masuk kelas satu tsanawiyah).

Setelah berkata seperti itu, Kiai Ali memberikan beberapa tumpukan kitab pada Pak Muslih dan menyuruhnya membaca sambil mengatakan dan menganjurkan Pak Muslih untuk masuk kelas satu atau kelas dua Aliyah (setingkat SMA). Pak Muslih kala itu merasa mudah duduk di kelas satu karena pelajaran yang dikaji memang pernah dipelajari sebelumnya, mengingat di Lirboyo beliau juga belajar sampai Aliyah.

Akhirnya Pak Muslih berhasil menamatkan Pendidikan SMA nya di Madrasah Aliyah Krapyak dan melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) setelah rehat sehabis lulus Aliyah dan dirasa banyak membuang-buang waktu jika hanya di Pondok. Akhirnya keputusan untuk kuliah diambil setelah memikirkan banyak pertimbangan. Diantara yang menjadi pertimbangan adalah biaya masuk kuliah yang waktu itu sebesar Rp. 35.000,-

Akhirnya diputuskan Pak Muslih untuk pulang ke rumahnya di Kediri. Beliau memberanikan diri meminta uang pada orang tuanya untuk mebayar kuliah, akan tetapi tidak semudah itu ia memutuskan untuk meminta uang, karena hidupnya memang sudah dibiayai oleh orang tuanya. Sebelumnya Pak Muslih mengatakan pada ibunya bahwa ia bermaksud meminta uang untuk kegiatan.

Tanpa dirasa naluri seorang ibu memang sangat kuat. Malamnya Pak Muslih langsung dipanggil menghadap ibunya, dengan kondisi seperti itu ia akhirnya mengakui dengan sebenarnya apa maksud keperluannya meminta uang sebanyak itu.

Akhirnya melihat tekad anaknya yang sudah kuat sang ibu memutuskan untuk merundingkan hal tersebut pada kakak-kakak Muslih Ilyas. Setelah dimusyawarahkan sekeluarga akhirnya semuanya ikut membantu membayar biaya pendaftaran masuk sebesar Rp. 35.000 tersebut.

Selama kuliah Pak Muslih Ilyas termasuk mahasiswa yang mandiri, tak ada kiriman uang saku dari orangtua, semua kebutuhan ia mencari sendiri. Untuk memenuhi kebutuhannya selama kuliah ia memilih untuk bekerja part time yang kala itu ia mendapatkan tawaran dari Kiai Ali As’ad untuk membantunya mengetik.

“Cobo ketikno Mukaddimah iki,” kata Kiai Ali As’ad

Tanpa berbekal kemampuan mengetik, Pak Muslih Ilyas mengiyakan tawaran tersebut, sampai ia kebingungan tanpa sepengetahuan Kiai Ali As’ad. Keesokannya ia ditanya Kiai Ali,

“Piye wes entuk piro?, ra entuk-entuk?,” tanya Kiai Ali As’ad

Seiring berjalannya waktu dengan kesungguhan dan kerajinan seorang Pak Muslih Ilyas, ia bisa mengetik secara lancar. Sampai muncul target berapa harus mengetik setiap harinya. Menjalani aktvitas seperti itu setiap harinya mengakibatkan ngajinya di pondok keteteran, akhirnya ia memikirkan hal tersebut.

Uang yang didapat dari mengetik ini memang mencukupi untuk biaya kuliahnya akan tetapi ia tak bisa ikut pengajian di Pondok, disisi lain timbul keresahan lain yang dipikirkannya, bagaimana ketika ia kembali lagi ke Pondok malah tak bisa kuliah. Pikiran itu menghantui hari-harinya selama di tempat Kiai Ali as’ad, sampai akhirnya ia putuskan untuk kembali ke Krapyak.

Rezeki memang bisa datang dari mana saja, Do’a seorang Muslih Ilyas untuk tetap bisa menyelesaian kuliah dan pondoknya diperlancar. Di pondok ia membantu memasarkan Kamus Almunawwir karangan KH. M Warson Munawwir (Pengasuh PP Al Munawwir Komplek Q), sehingga ia mendapatkan komisi dari hasil penjualannya.

Terhitung setiap penjualan satu kamus ia mendapatkan keuntungan sebesar 10.000 rupiah. Pak Muslih Ilyas memasarkan kamus Almunawwir di sebaian besar Pondok Pesantren di Jawa Timur, mulai dari Pasuruan, Jombang, Gontor, Tulung Agung sampai Trenggalek.

Dengan pendapatan itulah ia memenuhi kebutuhan kuliahnya, penghasilannya kini sisa jika hanya untuk biaya kuliahnya. Akhirnya dari uang itu ia membeli sepeda ontel. Meski dalam kesehariannya ia sering menggunakan sepeda motor milik Kiai Ali Maksum.

Awalnya ia hanya disuruh mengantar Kiai Ali sampai tempat dimana ia dijemput supirnya. Perlu diketahui bahwa Kiai Ali Maksum menjadi DPR di usia yang sangat muda sehingga beliau merasa malu ketika dijemput supirnya di Pondok, oleh Karena itu ia menyuruh Pak Muslih untuk mengantarkannya sampai di tempat dimana dia bertemu dengan supirnya. Karena keseringannya menjemput dan mengantar Kiai Ali dengan sepeda motor milik Kiai Ali maka ia membawanya sekalian berangkat ke kampus.

Sejak kecil Pak Muslih memang sudah belajar memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, ia tak mau membuang-buang banyak waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Oleh sebab itu ia selalu menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan dan aktivitas. Menurutnya, usia anak harus dipaksa, tidak bisa hanya mengandalkan kemauan, dengan begitu kebiasaan memaksimalkan waktu dengan sebaik mungkin akan tumbuh.

Pengasuh Komplek Q

KH. Muslih Ilyas adalah seorang Ustadz di Pesantren Al-Munawwir Komplek Q, beliau mengajar setiap sore dengan kitab yang dikajinya adalah Minhajul Muslim.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Muslih Ilyas mengawali karir di GP Ansor kota Yogyakarta setelah menamatkan dari bangku kuliahnya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN Suka). Menurut beliau Yogakarta adalah daerah yang strategis untuk membangun dan meningkatkan karir, mengingat daerahnya yang tak begitu luas, yang mana jumlah provinsi hanya terdiri dari 5 kabupaten dan menurut Pak Muslih bagi siapapun, yang terpenting adalah mau berbuat maka karirnya akan berkembang.

Ada kisah menarik ketika beliau diangkat sebagai sekretaris di GP Ansor. Waktu itu Sekretaris Ansor Drs. Mawardi diangkat menjadi dosen di daerah Kalimantan sehingga sekretaris I kosong, akhirnya beliau disurnh menjadi sekretaris I yang harusnya naik ke sekretaris II terlebih dahulu, beliau tak mau begitu saja menerima jabatan tersebut tanpa melalui mekanisme yang ditentukan. Akhirnya diadakanlah forum untuk memilih sekretaris I GP Ansor Yogyakarta.

Selain itu, Pak Muslih juga sempat aktif di dunia dakwah, terbukti dengan keikutsertaannya dalam Lembaga Dakwa NU (LDNU) dan lembaga dakwah Tunas Melati (Muhammadiyah), yang mana lembaga ini hanya mengorganisir dari beberapa tutor yang mendaftar, seperti tutor untuk mengaji Al-Qur’an sampai mata pelajaran di sekolah.

Kiprah di Politik

Selanjutnya KH. Muslih Ilyas mulai aktif di ranah politik dengan bergabung di partai Persatuan Pembangunan Bangsa (PPP) regional Yogyakarta. Menurutnya partai PPP memiliki beberapa jenis keistimewaan, seperti yang kita ketahui bahwa PPP adalah sebuah partai Islam. Anggota PPP terdiri dari berbagai ormas Islam, ada Muhammadiyah, NU, Syarikat Islam, Tarbiyah Islamiah dll. Sehingga dalam partai PPP persaingan tak hanya dari luar saja (eksternal) melainkan terdapat juga persaingan dari dalam para anggotanya yang terdiri dari berbagai ormas tersebut (intenal).

Di PPP Pak Muslih mengawali karir politiknya dengan menjabat sebagai Wakil Ketua Daerah Kota selama satu periode, sampai dua tahun di masa kepemerintahan Gus Dur, pak Muslih naik jabatan menjadi sekretaris 3 DPR Provinsi yaitu pada masa kepemimpinan Dr. Fauzi yang merupakan anak dari KH. AR. Fachruddin (Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah). Ahirnya sampai tiga kali pergantian kursi kepemimpinan di DPR Provinsi Yogyakarta, Pak Muslih tetap menjadi sekretarisnya.

Saat ini suami dari Ibu Nur Aliyah ini mempunyai misi untuk mencari penerus sekretaris di DPR dari kalangan NU, untuk mewujudkan hal tersebut Pak Muslih sudah menyiapkan beberapa surat rekomendasi dari beberapa tokoh. Menurutnya seperti itulah gambaran di dunia politik, dimana tawar-menawar tak bisa dihindari.

Banyak kisah menarik dari perjalanan hidup seorang Muslih Ilyas, pernah suatu ketika sebelum beliau naik jabatan di PPP, pada Lajnah penetapan calon, semua orang berebut untuk mengajukan dirinya, atau dalam istilah politiknya boleh dikatakan seperti perebutan kursi jabatan. Ketika semua orang berambisi masuk tim, yang mana tim terpilih nantinya akan langsung naik ke tingkat Lantab, beliau tetap diam saja tak mempedulikan kekisruhan yang terjadi hingga pada akhirnya dalam sidang pleno malah terpilih dan ditetapkan sebagai DPR dari fraksi PPP bersamaan dengan Ibu Ny. Hj. Ida Fatimah Zainal (Pengasuh PP. Almunawwir Komplek R) dari fraksi PKB.

Sebelum terjun di dunia politik Pak Muslih memang sudah dibekali oleh KH. Ali As’ad, yang mana beliau adalah seorang guru yag penuh dedikasi. Menariknya dari tiga kali berturut-turut menjadi DPR pak Muslih belum pernah berorasi di depan umum dan tidak sepeserpun memakai uang selain uang gaji yang berhak ia dapatkan.

Teladan

Pak Muslih masih sangat mengenang wejangan dari Kiai Ali As’ad :

“Le jangan pernah menyembunyikan identitasmu, dimana saja tampakan identitas sebenarnya. Jika kamu bisa disiplin maka orang lain akan menyesuaikanmu, bukan kamu yang menyesuaikan dengan orang lain”

Dengan kesungguhannya, Pak Muslih memang sangat mengamalkan wejangan-wejangan dari para Guru-gurunya. Terlebih ia selalu merasa tak punya keahlian tertentu yang bisa mendorong karirnya. Sebab itulah ia sangat mengandalkan disiplin, karena disiplin akan mendorong kepercayaan seseorang. Ketika kita sudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain maka akan memudahkan berbagai urusan. Pak Muslih mencontohkan, bagaimana ia sangat dipercaya ketika meminta rekomendasi dan tanda tangan orang-orang penting.

Selain itu, Pak Muslih menceritakan bagaimana seorang guru yang sudah ditunggu lama oleh murid-muridnya di kelas dan dengan seenaknya ia datang terlambat. Seperti itu akan berakibat wajar kenapa para murid juga akan menyepelekan disiplin waktu, karena tak lain tokoh yang menjadi panutannya juga tidak bersikap disiplin.

Pernah suatu ketika di hari Jum’at Pak Muslih mengadakan perjalanan dengan seorang tokoh Golkar bernama Pak Joss. Pak Joss adalah seorang Kristian yang taat, melihat Pak Muslih selalu menggunakan Peci ia menyuruh Pak Muslih sholat Jum’at terlebih dahulu.

“Pak Muslih silakan sholat Jum’at dulu,” kata Pak Joss.

“Jadi gini Pak Joss, kita sebagai umat Islam memang wajib untuk sholat Jum’at akan tetapi ketika dalam perjalanan jauh seperti ini kita diberi toleransi untuk tidak ikut sholat Jum’at,” jawab Pak Muslih waktu itu.

“Ohh.. tidak apa-apa Pak, Bapak sholat dulu saja nanti kita tunggu di restoran itu,” ungkap Pak Joss,

Begitulah buah dari kedisiplinan, orang lain tak terkecuali Pak Joss begitu percaya pada Pak Muslih bahwa dengan Pak Muslih sholat Jum’at tetap akan bisa sampai tempat tujuan di watu yang tepat.

Sumber:

Wawancara yang dilakukan oleh Nila Putri pada 18 Februari 2017.

Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah El-Muna Edisi 1 dan diterbitkan kembali oleh website almunawwirkomplekq.com dengan judul Ustadz Muslih Ilyas "Tampakkan Identitas".

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya