Biografi KH. Idris Jamsaren

 
Biografi KH. Idris Jamsaren

Daftar Isi Profil KH. Idris Jamsaren

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Guru-Guru
  5. Mursyid Thariqoh Syadziliyah
  6. Menjadi Pengasuh Pesantren
  7. Murid-Murid

Kelahiran

KH. Idris Jamsaren lahir pada tahun 1801 M. Beliau adalah putra KH. Maryani bin KH. Wirononggo II bin KH. Wirononggo I bin KH. Singo Hadiwijoyo bin KH. Tosari bin KH. Ya’kub bin KH. Ageng Kenongo.

Selain itu, KH. Idris lahir juga merupakan cucu Ulama besar dari Klaten yaitu KH. Imam Rozi pendiri Pondok Pesantren Singo Manjat dari desa Tempursari, Ngawen, Klaten.

Wafat

KH. Idris Jamsaren wafat pada usia 71 atau bertepatan pada tahun 1872. Jenazah beliau dimakamkan di Tempursari. Beliau meninggalkan Pondok Pesantren Singo Manjat, yang kemudian diteruskan oleh menantunya, KH. Zaid.

Baca juga: Safari Religi dan Berdoa di Makam KH. Idris Jamsaren Solo

Pendidikan

Sejak kecil KH. Idris Jamsaren belajar agama kepada ayahnya, KH. Maryani, kemudian ayahnya menitipkannya untuk belajar kepada KH. Rifai. Setelah selesai berguru kepada KH. Rifai, beliau melanjutkan pendidikanya dengan berguru kepada KH. Abdul Jalil Kalioso bersama dengan teman-temannya, diantaranya KH. Mojo (Penasihat Pangeran Diponegoro) dan KH. Imam Rozi. Dan kemudian beliau menghabiskan pendidikannya dengan belajar kepada ulama-ulama di Mekkah.

Guru-Guru

Selama belajar di Mekkah, beliau telah belajar kebanyak guru diantaranya:

  1. KH. Shaleh Darat
  2. seorang ulama yang ahli tafir yang belajar ke Mekah pada Syekh Ahmad Zaini Dahlan
  3. Seorang ulama besar ahli fikih dan mufti madzhab Syafi’i di Masjid al-Haram serta penulis banyak kitab fikih, yaitu Syekh Muhammad al-Muqri
  4. Syekh Muhammad Sulaiman Hasbullah
  5. Syekh Shalih az-Zawawi (mursyid Tarekat Naqsabandiyah)
  6. Syekh Ahmad Nawawi
  7. Syekh Zahid
  8. Syekh Umar asy-Syani
  9. Syekh Yusuf Masri
  10. Syekh Jamal, mufti madzhab Hanafi di Mekah

Mursyid Thariqoh Syadziliyah

KH. Idris Jamsaren adalah seorang mursyid Thariqoh Syadziliyah. Thariqoh Syadziliyah sendiri muncul di Pulau Jawa baru pada abad 19, ketika para santri Jawa yang sebelumnya belajar di Mekkah dan Madinah kembali pulang ke tanah air.

KH. Idris Jamsaren termasuk generasi awal pembawa Thariqoh Syadziliyah di tanah Jawa bersama Syekh Ahmad Nahrawi Muhtaram Al-Banyumasi ulama Haramain yang berasal dari Banyumas. Mereka berdua mendapatkan ijazah kemursyidanya dari Syekh Shalih seorang mufti Madzab Hanafi di Mekkah.

KH. Idris Jamsaren menurunkan ijazah kemursyidanya kepada keponakannya sendiri dan juga pengasuh pesantren Singo Manjat generasi keempat yaitu KH. R Abdul Mu’id Tempursari. Kemudian KH. Mu’id memberi ijazah pada KH. R Ma’ruf Mangunwiyoto yang bermukim di Kampung Jenengan Solo dan KH. Idris Kacangan Boyolali.

Sedangkan teman seperguruan KH. Idris, Syekh Ahmad Nahrawi Muhtaram Al-Banyumasi memberikan ijazah kemursyidanya kepada KH. Muhammad Dalhar, Watucongol, dan KH. Siroj Payaman, Magelang, KH. Ahmad Ngadirejo, Klaten, KH. Abdullah bin Abdul Muthalib, Kaliwungu, Kendal dan KH. Abdurrahman, Sumolangu, Kebumen.

Menjadi Pengasuh Pesantren

KH. Idris Jamsaren merupakan penerus kepengasuhan Pondok Pesantren tertua di Solo yakni Pondok pesantren Jamsaren yang didirikan pada tahun 1750 pada masa Paku Buwono IV. Pengasuh pertama adalah KH. Jamsari dari Banyumas, setelah beliau wafat kepengurusan Pondok digantikan oleh putranya  KH. Jamsari II. Karena banyak Kiai yang diburu dan ditangkap oleh Belanda maka Kiai Jamsari II melarikan diri, ada yang mengatakan beliau melarikan diri Kediri tepatnya di desa Jamsaren Kecamatan Pesantren.

Kemudian Pesantren Jamsaren mengalami kekosongan sekitar 50 tahun lamanya. Disaat seperti itu munculah KH. Idris yang berasal dari Klaten menghidupkan kembali situasi Pondok tepatnya pada tahun 1878. Pada masa KH. Idris, Pesantren Jamsaren mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Murid-Murid

KH. Idris Jamsaren merupakan keturunan ulama besar serta berguru pada ulama-ulama besar pula, maka tidak mengherankan apabila banyak para santri  yang berdatangan untuk nyantri pada beliau dan kebanyakan santrinya menjadi ulama-ulama besar. Adapun santri-santri yang pernah belajar pada belaiu adalah sebagai berikut:

  1. KH. Maksum Lasem pendiri Pesantren al-Hidayat, Rembang
  2. KH. R. Abdul Fatah pendiri Pesantren Mangunsari, Tulungagung
  3. KH. Mansyur pendiri Pesantren Al-Mansyur Klaten
  4. KH. R Dimyati pendiri Pesantren Termas, Pacitan
  5. KH. Arwani Amin pendiri Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus
  6. KH. Ahmad Abdul Hamid pengasuh Pesantren al-Hidayah Kendal
  7. KH. Abdul Hadi Zahid pengasuh Pesantren Langitan, Tuban
  8. KH. R. Abdul Mu’id pengasuh Pesantren Singo Manjat, Klaten
  9. KH. Abdul Syukur, kakek dari KH.Imam Muzani pendiri Pesantren Darussa’adah, kebumen
  10. KH. Abdullah Syathori pengasuh Pesantren Dar al-Tauhid al-Islami, Cirebon
  11. Prof. KH.R. Muhammad Adnan, pendiri PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri), kini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekaligus menjadi rektornya yang pertama.
  12. KH. Ahmad Rukyat pengasuh Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal
  13. KH. Idris Kacangan Boyolali, mursyid Thariqoh Syadziliyah
  14. KH. Yasin Jekulo pendiri Pesantren Mbareng, Kudus
  15. KH. Ahmad al-Hadi pendiri Pesantren pertama di Bali
  16. KH. Masykur, Menteri Agama pada Kabinet Amir Syarifuddin (1947), Kabinet Presidenssil Moh. Hatta (1948), Kabinet VII Negara RI, Kabinet Darurat dan Komisariat PDRI (1949), Kabinet Hatta (1949) dan Kabinet Peralihan RI
 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya