Biografi KH. Ali Darokah

 
Biografi KH. Ali Darokah

Daftar Isi Profil KH. Ali Darokah

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Lurah di Pondok Pesantren Jamsaren
  4. Menjadi Ketua Umum MUI Surakarta
  5. Teladan

Kelahiran

KH. Ali Darokah lahir di lingkungan Pondok Pesantren Jamsaren, Surakarta. Beliau merupakan sosok Kiai yang masih punya hubungan darah dengan KH. Muqoyyad, seorang panglima perang yang membantu pangeran Diponegoro saat perang Jawa (1825-1830).

Pendidikan

KH. Ali Darokah memulai pendidikannya dengan belajar berbagai ilmu agama, seperti ilmu tajwid, qiro'ah, tafsir, hadis, fiqh, nahwu sorof, balaghoh, mantiq, tarikh, tasawuf, dan ilmu falaq kepada kakeknya bernama KH. Idris (Klaten).  

Berkat asuhan, didikan, dan binaan kakeknya inilah KH. Ali tumbuh besar sebagai pribadi yang cerdas dan religius. Setelah selesai belajar dengan kakeknya, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di madrasah Mambaul Ulum yang diasuh oleh pamannya KH. Ghozali.

Perjalanan pendidikan KH. Ali dihabiskan di madrasah Mambaul Ulum, sebelum akhirnya mengajar di berbagai perguruan tinggi di sekitar Solo. Mengajar sebagai dosen ilmu syariah di Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta.

Dalam kehidupan akademis sempat diamanahi posisi rektor di Universitas Islam Surakarta (UNIS) pada tahun 1990 hingga 1997. Aktivitas dalam bidang pendidikan Islam dijadikan tempat pengabdian dan ladang ibadah.

Lurah di Pondok Pesantren Jamsaren

Kemasyhuran Jamsaren sebagai pondok pesantren tertua di Jawa barangkali tidak terbantahkan. Pada tahun 1750, Pakunuwono IV mendirikan surau kecil, selanjutnya dinamakan Pondok Pesantren Jamsaren.

Peranan lembaga tradisional ini diharapkan sebagai tempat belajar ilmu agama oleh penduduk Surakarta. Selanjutnya, Pakubuwono IV mendatangkan tokoh agama, KH. Jamsari (Banyumas) dan KH. Hasan (Gabusan), sebelum vakum selama 50 tahun akibat kebrutalan (operasi) tentara Belanda.

Pasca peristiwa operasi itu, Pondok Pesantren Jamsaren dihidupkan kembali oleh KH. Idris dari Klaten. Dengan bantuan Pakubuwono X, pesantren diperluas dan dilengkapi bangunan madrasah yang dinamakan Mambaul Ulum Surakarta.

Santri yang datang tidak hanya dari Surakarta. Santri daerah lain mulai banyak berdatangan, ada yang dari Tegal, Semarang, Banten, Magelang, Salatiga, Jombang, dan Mojokerto. Para santri mendalami karya kitab-kitab klasik dengan metode sorogan dan blandongan.

Hingga pada tahun 1923 setelah wafatnya KH. Idris, Jamsaren diteruskan oleh anaknya bernama KH. Abu 'Amar. Pola mewariskan inilah yang menyebabkan KH. Ali Darokah tampil sebagai pengasuh pondok setelah ayahnya KH. Abu 'Amar wafat (1965).

Kiprahnya di berbagai tempat tidak membuat KH. Ali surut langkah. Transformasi pesantren dengan pemikiran keislaman yang kritis diajarkan pada santrinya. Pola struktural dibentuk di pesantren, terdiri dari lurah pondok, wali santri, staf pengajar, dan staf dakwah.

Pada periode KH. Ali, metode pengajaran dikembangkan menjadi sistem kelas. Seiring dengan perubahan zaman, penambahan materi ilmu umum diberikan pada santri. Hal ini diberikan agar santri tampil kritis, menguasai ilmu pengetahuan dan mampu menjawab tantangan zaman ke depan.

Menjadi Ketua Umum MUI Surakarta

Jejak-jejak kehidupan KH. Ali memiliki peran besar jika dikaitkan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Surakarta. Pasalnya, tampilnya sebagai ketua umum sejak 1985-1997, memberikan kontribusi menyelesaikan problematika sosial keagamaan, bahkan politik.

Terlihat bahwa KH. Ali membawa MUI tampil tidak hanya sebagai organisasi pemberi fatwa keagamaan. Pasca kepemimpinan KH. Mansur Suhardi dan KH. Sahlan Rosyidi (1962-1974), MUI Surakarta berjalan berkelindan berdialektika dengan problematika sosial umat Islam.

Prestis dari kepemimpinan KH. Ali di MUI, antara lain seperti menjadikan dakwah Islam berjalan sangat intensif, meluruskan kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan kehidupan masyarakat, dan berhasil menjadikan MUI sebagai pelopor harmonisasi antarumat beragama.

Tidak jarang MUI juga menjembatani beragam pandangan dan pemikiran yang muncul dari berbagai organisasi Islam. Banyaknya organisasi Islam di Surakarta, antara lain adalah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Al-Irsyad, MTA, SI, Diponegoro, PERSIS, HTI (sebelum dibubarkan), LDII, FPI, ICMI, dan Sarekat Ngruki.

Hingga pada akhirnya KH. Ali Darokah (1997) dikenang sebagai tokoh besar yang gigih dalam memperjuangkan Islam di kota Surakarta. Media perjuangannya melalui lembaga pendidikan, lembaga hukum, organisasi MUI, dan Pondok Pesantren Jamsaren.

Peranan KH. Ali sungguh luar biasa, baik pemikiran, kontribusi sosial keagamaan, politik, hukum, dan lembaga pendidikan sampai akhir hayatnya di kota kelahirannya di Surakarta.

Teladan

Sebagai generasi baru yang terlahir di tahun 1980, 1990, 2000, tidak salah belajar pada sosok KH. Ali pada semasa hidupnya. Hal yang perlu ditiru adalah sisi-sisi kegigihan, ketekunan, dan perjuangan pada umat.

Sosoknya yang cerdas, berwibawa, sekaligus luasnya keilmuan Islam yang dimiliki, menjadikan beliau disegani, dituakan, dihormati, dan disayangi oleh keluarga, teman-teman, dan masyarakat luas.

Perjuangan beliau semasa hidup hingga sekarang masih dikenang oleh keluarga, sahabat, rekan sejawat, dan masyarakat di Surakarta. Ketokohan KH. Ali bagaikan magnet bagi generasi sesudahnya untuk dijadikan referensi kehidupan.

Sekaligus, akhir-akhir ini banyak sejarawan, penulis yang masyhur, pemerhati biografi, menuliskan sosok KH. Ali dan kehidupan sosial keagamaan dalam sebuah penelitian.