Biografi KH. Ahmad Muzakki Syah

 
Biografi KH. Ahmad Muzakki Syah

Riwayat dan Kelahiran

KH. Achmad Muzakki Syah, lahir di desa Kedawung kecamatan Patrang kabupaten Jember pada ahad manis tanggal 09 Agustus 1948 dari pasangan keluarga sakinah  KH. Achmad Syaha dengan Nyai Hj Siti Fatimatuzzahra binti KH Syadali.

Sebagai anak yang bertugas menjaga adiknya (bernama Moh. Mahsun), Muzakki kecil secara alamiyah telah terdidik menjadi seorang pemimpin, paling tidak dalam mengayomi, sabar, mengalah dan menyayangi adiknya yang lebih kecil, maka tidak heran bila dalam diri Muzakki telah tertanam karakter kepemimpinan yang kelak dapat menjadi modal dasar untuk memimpin umat.  

 
KH Achmad Syaha sendiri diakui banyak orang sebagai salah seorang ulama’ yang wara’, tawadlu’, allamah, dan zuhud dizamannya. Beliau pernah nyantri dan berguru pada waliyulloh KH Ali Wafa, di pondok pesantren “Al-Wafa” Tempurejo Jember selama 23 tahun.
Kendati KH Achmad Syaha termasuk tokoh “warrosihuna fil ilmi”, namun beliau memilih mengubur eksistensi dirinya di dalam bumi “khumul” (ketidak terkenalan), konon semua kebesarannya sengaja dirahasiakan demi kemuliaan putra-putranya dimasa yang akan datang.

Menurut keterangan KH Ainul Yaqin, ketika Nyai Hj. Siti  Fatimatuzzahra hamil 2 bulan (kelak, sang bayi dikasih nama Achmad Muzakki), KH Achmad Syaha tidak pernah telat menghatamkan Alqur’an seminggu sekali,  menghatamkan kitab Nur Burhan (kitab manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani) tiap subuh, dan khusus tiap malam jum’at beliau menyembelih ayam untuk dzikiran manaqib bersama para tetangganya, padahal saat itu ekonomi beliau sangat memprihatinkan.

Selang beberapa saat, KH Achmad Syaha bermimpi, dalam mimpinya, beliau seakan buang air kecil hendak berwudlu’ , tiba-tiba yang keluar bukan air kencing, melainkan seekor macan yang sangat besar, dan mimpi tersebut terus mengiang dalam ingatan kesehariannya.
 
Ketika Muzakki masih berumur satu tahun, konon Sang Abah dan Umminya sering bermimpi yang aneh-aneh, seperti di tuturkan  Drs. Cholili, M.PdI, dalam buku Mutiara di tengah samudra, suatu hari KH Achmad Syaha sekitar jam 02 00 dini hari berteriak-teriak (ngelindur) dalam terikannya beliau berucap..muzakki, muzakki.. turun,  turun..nanti kamu jatuh, ada apa kamu disitu ..? saking kerasnya teriakan itu, banyak tetangga yang terbangun dan mendatangi KH Achmad Syaha, setelah ditanya kenapa berteriak- teriak tengah malam, beliau menjawab saya melihat Muzakki bertengger di langit 4 dan tidak mau turun, katanya dia sedang membetulkan pintu gerbang para waliyulloh yang roboh.

Silsilah Beliau

Penulisan, silsilah kyai Muzakki disini dimaksudkan untuk melihat  bagaimana para luluhurnya memberikan nuansa lingkungan pada beliau sejak dalam kandungan, masa kanak kanak, masa remaja hingga pada masa dewasa, termasuk juga untuk melihat berbagai i’tibar positif yang dapat diteladani oleh generasi berikutnya.

Sekali lagi penulisan silsilah kyai muzakki ini hanya dimaksudkan untuk melihat deminsi dimensi seperti diatas, bahwa kemudian dalam penelusuran silsilah kyai Muzakki ditemukan memiliki titik ordinat dengan masyayih dan habaib yang terus bersambung pada Rasululloh saw, sesungguhnya hanyalah sebuah kebetulan belaka, yang pasti , kyai Muzakki terbukti nyata memiliki talenta spiritual yang dapat dijadikan acuan oleh banyak orang untuk berkaca diri.

Dari berbagai data yang ada ditemukan bahwa kyai Muzakki mempunyai silsilah yang bersambung hingga kepada Rasulullah Saw, rinciannya adalah sebagai berikut :

Achmad Muzakki syah adalah putra Ny. Juma’ati (Hj Fatimatuz zahra) binti KH Syadali, bin KH Moh. Arief bin K. Durrin bin K. Moh. Toyyib bin K. Abd. Latief bin KH Asy’ary bin KH Moh Adzro’i bin KH Yusuf bin Sayyid Abd rahman (Mbah Sambu) bin Sayyid Moh Hasyim, bin Sayyid Abd rahman Basyaiban bin Sayyid Abdulloh bin sayyid Umar bin sayyid Muhammad bin sayyid ahmad bin sayyid Abu bakar basyaiban bin sayyid Muhammad Asadullah bin sayyid Hasan At Turabi bin sayyid Ali bin sayyid Muhammad al faqih al Muqaddam bin sayyid Ali bin sayyid Muhammad sahibul marbat bin sayyid Ali qoli qasam bin sayyid Alwi bin sayyid Muhammad bin sayyid Alwi bin sayyid ubaidillah bin sayyid Ahmad al Muhajir bin sayyid Isa an Naqib bin sayyid Muhammad An Naqib bin sayyid Ali al Uraidi bin sayyid Ja’far Shodiq bin sayyid Muhammad al baqir bin sayyid Zainal abidin bin Husien asy syahid  putra sayyidah Fatimah az Zahra al batul binti baginda nabi besar Muhammad saw.


Ali bin Abi Tholib karramahullahu wajhah menyebutkan “pemuda yang handal adalah mereka yang berani mengatakan inilah aku, bukan yang mengatakan aku anak fulan cucu si fulan”.  Karena itu kepada anak cucunya, para santrinya dan para jamaahnya, kyai Muzakki sering memberikan tausiah bahwa “ kemulyaan seseorang itu bukan karena nasabnya, tetapi karena jerih payah usahanya sendiri”, maka jangan andalkan nasab dan silsilah tapi andalkanlah dirinya sendiri.

Namun demikian, bagaimanapun silsilah tetap memiliki makna penting bukan pada pengertiannya yang menunjuk pada “aku anak siapa”, melainkan pada esensi dari “aku” yang memancarkan sebuah peran dan manfaat dalam kehidupan nyata, maka istilah “buah itu tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”  atau “liyakun waladul asadi syiblan laa hirratan” (anak singa seharusnya singa bukan kucing) harus difahami sebagai motivasi yang dapat memacu dirinya untuk berprestasi lebih baik dari nenek moyang mereka sebelumnya.

Mengembara Menuntut Ilmu

Ketika usia Muzakki menginjak 7 tahun, ia didaftarkan di SDN kademangan. Begitu tamat SD, Muzakki di kirim ke Ponorogo untuk  nyantri di gontor, setelah setahun di Pesantren Gontor, Muzakki pulang dan langsung mendaftarkan diri di Madrasah Tsanawiyah 02 Jember, setelah tamat, Muzakki lagi-lagi ingin menimba ilmu di pesantren, kali ini yang dipilihnya adalah pesantren Darul Ulum peterongan Jombang.

Baru setahun berguru ke KH Musta’in Romli di paterongan, Muzakki pulang lagi ke Jember dan langsung mondok di pesantren Al-Fattah Jember berguru pada KH Dhofir Salam sambil sekolah di SP IAIN dan melanjutkan kuliah di IAIN  Sunan Ampel  Jember.

Di pondok pesantren, Muzakki remaja hanya bermaksud mengambil barokah, karenanya ia tidak pernah lama, waktunya yang banyak justru digunakan untuk berkelana kesana-kemari sowan ke para ulama sepuh, para wali, dan ahli-ahli keromah, ketika di Al-Fattah pun, dia bersama gurunya (KH Dhofir) justru setiap minggu  sowan ke waliyulloh KH Abd Hamid Pasuruan Jawa Timur. 

Setelah kurang lebih dua tahun keluar dari pesantren Al Fattah Jember, kyai Muzakki sebagai orang yang haus ilmu, merasa belum merasa puas dengan apa yang telah didapatkannya baik dari orang tuanya, para gurunya, maupun dari kelana spiritualnya pada tahap sebelumnya, dihatinya muncul keinginan untuk terus menuntut ilmu dan menambah pengalaman baru, tekad yang kuat tersebut terealisasi pada tahun 1971.

Seperti diketahui bahwa semasa bujang, kyai Muzakki sudah sering melakukan kelana spiritual, banyak waktunya yang dihabiskan untuk tabarrukan di beberapa pesantren, padepokan dan pesarean para masyayih dan auliya’ khususnya di Jawa Timur, dari beberapa data yang terkumpul, terdapat keterangan bahwa para masyayih,  auliya’ dan ahlil karomah (baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat) yang sempat didatangi kyai Muzakki antara lain :

1.      Untuk kawasan Jember dan sekitarnya adalah :

Kyai Moh. Siddiq, Kyai Halim Siddiq, Kyai Mahfudz Siddiq, Kyai Abdulloh Siddiq, Kyai Ahmad Siddiq, Kyai Dhafir Salam, Kyai Faruq Muhammad talangsari, Kyai Muhyiddin bin Sonhaji paga, Kyai Abd Aziz, Kyai Ali, Kyai Ahmad, Kyai Muqid, Kyai Mun’im, Kyai Busthomi, Nyai Maryam tempurejo, Kyai Hafidz nogosari, Kyai Chotip klompangan, Mbah Nur kemuning pakis, Kyai Senadin jerreng, Kyai Umar, Kyai Syukri sumber bringin, Kyai Sholeh suger, Kyai Misrai ledok ombo,  Habib Sholeh al Hamid tanggul, Kyai Hannan tanggul, Kyai  Abdulloh Yaqin melokorejo, Kyai Jauhari kencong, Kyai Zuhri, Kyai Tayyib dan Kyai Sonhaji banyu putih.

 
2.      Untuk kawasan Bondowoso, Situbondo dan Banyuangi antara lain :

Kyai Hosnan Bringin, Habib Muhdhar Al-Habsy, Habib Alwi Al Habsy, Kyai Ronggo, Kyai Asy’ari dan Kyai Togo, Maulana Ishaq  Pacarron, Kyai Syamsul Arifin dan Kyai As’ad Syamsul Arifin Sukorejo, Datuk Abd Rahman,  Kyai  Muhtar Syafaat  Blok Agung dan Kyai Ahmad Qusyairi Glimur. 

3.      Untuk kawasan Probolinggo, Pasuruan dan Jombang antara lain :

Kyai Hasan Seppo, Kyai Hasan Syaifur Rijal genggong, Nun Muhlas Bedaduh, Kyai Zaini Mun’im Paiton, Kyai Mino Probolinggo, KH Abd Hamid, Kyai Abu Ammar pasuruan, Kyai As’ad Bendungan, Kyai Mustofa Lekok, Kyai Abd Jalil,  Kyai Holil dan Kyai Nawawi Sidogiri, Kyai Mustain Romli Paterongan dan Kyai Hasyim Asy’ary  Jombang.  Juga sumua wali songo di Pulau Jawa.

Di tahun 1971 berawal dari pertemuannya dengan KH Masyhurat (seorang ulama’ fenomenal dari Madura) keinginan kyai Muzakki untuk terus menuntut ilmu dan menambah pengalaman baru kembali berkobar,  maka setelah mendapat restu dan ridlo dari berbagai pihak, terutama istri dan kedua orang tuanya, kendati harus meninggalkan istri yang baru satu tahun dinikahinya dan putra sulungnya yang masih berumur tujuh bulan, demi kecintaannya kepada Allah dan demi masa depan yang lebih gemilang, berangkatlah kyai Muzakki mengikuti KH Masyhurat  melakukan kelana  spiritual untuk yang kesekian kalinya.

Kali ini atas saran guru-gurunya, beliau bertolak menuju pulau yang paling agamis dan memiliki “bujuk” paling banyak di Indonesia, pulau Madura namanya, konon para ulama besar dan waliyulloh yang bertebaran malang-melintang di pelbagai wilayah di tanah air pasca wali songo adalah berasal atau lebih tepatnya jebolan dari pulau ini.

Seperti petualangan spiritual sebelumnya, yang dilakukan kyai Muzakki di pulau ini adalah hanyalah “sowan untuk tabarrukan” di beberapa ulama’ dan pesarean para masyayih dan auliya’. Beberapa nama yang sempat dihirup barokahnya oleh kyai Muzakki di pulau ini antara lain :
Syaikhona Cholil bin abd latif bangkalan, Bujuk Maulana, Bujuk Muhammad, Bujuk Bagandan sido bulangan pakong, Bujuk Candana kuanyar bangkalan, Bujuk katandur, Bujuk Lattong, Bujuk Tompeng, Bujuk Kasambi sumenep, Kyai Abu Syamsuddin batu ampar, Kyai Abd Majid bata-bata, Kyai Baidlowi, Kyai Abd Hamid, Kyai Bakir  banyu anyar, Kyai Ilyas  guluk-guluk, Kyai Abdul Alam prajjan, Ulama’ ulama’ kembang kuning dan panyeppen Pamekasan, Kyai Jazuli tattangoh, Bujuk Rabah Sampang, Bujuk Tongket pamekasan, Kyai Imam, Kyai Ahmad Dahlan karay, Agung Usman lenteng barat, Sayyid Yusuf talangoh dan Bindara  Saot sumenep.

 
Setelah malang melintang menelusuri berbagai lorong kampung ilmu dan menyerap berbagai barokah dari para pendekar hikmah di hamparan dan sudut-sudut bumi Madura, puncaknya sampailah kyai Muzakki pada salah seorang maha guru dibidang spiritual dan hikmah, yang tak lain adalah guru dari Abahnya sendiri, yakni Sulthan Abdur Rahman (Rijalul Ghaib) cucu bindara Saut yang menghilang sejak bayi.

Diakui sendiri oleh kyai Muzakki bahwa tempaan dari Sulthan Abdur Rahman yang kelak paling banyak mewarnai peta nurani, struktur kognisi dan langgam spiritual dirinya, bahkan dibawah asuhan beliau, kyai Muzakki untuk pertama kalinya mendapatkan banyak pengalaman bathin dan syahadah spiritual nan dahsyat yang tak ada kata representatif untuk menggambarkannya, maka boleh dikata selain orang tuanya sendiri dan tanpa bermaksud mengecilkan peran guru gurunya yang lain--Sulthan Abdur Rahman lah yang paling berpengaruh, berjasa dan signifikan mengantarkan dirinya pada maqom dan eksistensinya seperti sekarang ini.

Membentuk Majelis dzikir manaqib Syeh Abd Qodir  Jailani

Seperti disinggung sebelumnya, bahwa sejak kyai Muzakki masih dalam kandungan, KH Achmad Syaha, Abahnya telah mengistiqomahkan amalan manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, RA setiap ba’da shalat subuh. Maka sejarah amalan manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-jailani, RA yang diamalkan oleh kyai Muzakki sesungguhnya berasal dari Abahnya sendiri, yakni, KH Ach Syaha.

Disamping itu, mantapnya kyai Muzakki menjadikan amalan dzikir manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA sebagai sarana dakwah juga karena anjuran KH Abd Hamid Pasuruan ketika beliau bersama KH Dhofir sowan ke KH Abd Hamid di pasuruan.

Sebetulnya kyai Muzakki bukanlah satu-satunya pengamal  dzikir manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA di Indonesia, sebelumnya bahkan hingga kini sudah sangat banyak orang yang mengamalkan amalan yang sama, tetapi lain lubuk lain kepala, maka lain pula isinya. Seperti diketahui, para pengamal dzikir manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA sebelumnya biasa menyebut ya sayyidi.. ya sayyidi..ya Syech Abd Qodir.. aghisni 3x sebelum mereka menyampaikan berbagai permohonannya kepada Allah swt.

Pada dzikir manaqib kyai Muzakki ucapan seperti diatas tidak pernah digunakan, sebab bagi kyai Muzakki, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA hanyalah sebuah wasilah bukan pemegang otoritas pengabul doa, yang punya kewenangan mengabulkan doa hanyalah Allah swt, karena itu memohon atau berdoa harus kepada Allah semata  bukan kepada selainNya.

 Maka sebagai hasil syamratul fikrbeliau sekaligus merupakan karakteristik yang membedakan dzikir beliau dengan yang lain adalah pada ucapan “bilbarakah walkaramah syeh Abdul Qodir waliyulloh bi syafaat Nabi Muhammad bi idznillah waridallohi, ya Allah 3x.. innaka ‘ala kulli syaiin qodir.. taqdi haajatina…alfatihah. Perbedaan dua ucapan diatas walau terkesan sederhana dan sangat teknis, tetapi sungguh mempunyai implikasi yang luar biasa dalam tataran keimanan dan aqidah seseorang.

Dzikir manaqib syekh Abdul Qodir Jailani yang dikembangkan kyai Muzakki bukanlah tarekat, melainkan lebih berbentuk amalan dzikir atau majelis dzikir. Menurut pengakuan KH. Achmad Muzakki Syah, kendati dirinya sangat respek terhadap semua tarekat yang ada di tanah air tetapi dirinya tidak mengikuti tarekat-tarekat itu.

Beliau mengaku hanya mengikuti  tarekat Rasululloh, “La toriqoh illa bi thoriqotu Muhammad Rasulillah saw”. Tarekat Rasululloh dalam pandangan kyai Muzakki adalah segala sesuatu yang dicontohkan baginda Rasulillah saw, baik menyangkut akhlak, keyaqinan, cara beribadah, maupun menyangkut karakteristik, sifat-sifat dan prinsip hidup yang diterapkan beliau dalam kehidupan sehari hari.

Dzikir manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA adalah bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah yang berpedoman kepada Al-qur’an dan Al-hadist dalam melaksanakan tuntunan Rasulullah saw, meliputi bidang iman, Islam dan ikhsan, sehingga, dengan itu seseorang akan dapat berbuat baik kepada Allah sebagai kholiqahnya dan kepada Rosulullah sebagai tauladan kehidupannya, serta kepada sesama manusia sebagai sesama mahluk Allah swt.

Sedangkan pengamalan dzikir manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA di Pesantren Al-Qodiri adalah berbentuk mujahadah atau aktifitas  dzikir  dan istighasah yang dilakukan secara kolektif dengan membaca sejumlah kalimah toyyibah dan doa-doa untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan mencari ridloNya melalui perantara (tawassul) orang orang suci kekasih Allah swt  yang dalam hal ini  Sulthon auliya’ Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA .

Praktek dzikir manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA di Pesantren Al-Qodiri Jember diatas adalah relevan dengan rumusan para ahli, misalnya  Mustofa (2001: 43), yang menyebutkan bahwa dzikir manaqib  Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA merupakan pendidikan kerohanian yang dilakukan oleh orang-orang yang menempuh jalan sufi untuk mencapai suatu maqom kerohanian tertentu melalui perantara Sulthon auliya’ Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA .

Melalui kegiatan dzikir manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA yang dipimpinnya, KH Ach. Muzakki Syah kemudian mengembangkan model pendidikan multikultural kepada para jamaahnya. Saat ditanya tentang model pendidikan yang diterapkan pada para jamaah dzikir manaqib di Pesantren Al-Qodiri Jember, beliau mengatakan : “Aktivitas pendidikan non formal yang selama ini kami lakukan di majelis dzikir manaqib ini selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi para jamaah, mengingat  para jamaah disini bersifat hederogen  baik  suku, bahasa, budaya, klamin, usia dan tingkat pemahaman keagamaan mereka, maka model pendidikan yang kami kembangkan adalah model pendidikan multikultural”.

Menurut pengakuan KH Muzakki Syah, penerapan model pendidikan multikultural yang dikembangkannya melalui dzikir manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA di pesantren Al-Qodiri Jember adalah mengacu pada prinsip-prinsip dasar pendidikan multikultural itu sendiri, antara lain :

  • Pertama,  memandang manusia sebagai totalitas yang memiliki kompleksitas dimensi yang harus diakomodir dan dikembangkan secara keseluruhan, sebab inti dari pendidikan multikultural adalah pengakuan akan pluralitas, heteregonitas dan keragaman manusia, baik ideologi,  status ekonomi, paradigma, pola pikir, etnis, ras, budaya, nilai-nilai tradisi dan sebagainya.
  • Kedua,  pendidikan multikultural mengakui kebenaran relatif dan menghindari klaim hitam putih.
  • Ketiga, pendidikan multikultural menjunjung tinggi prinsip saling menguatkan dan saling melengkapi.
  • Keempat, pendidikan multikultural mengakomodir semua kebutuhan masyarakat, yaitu tidak membedakan kebutuhan yang bersifat intelektual, spiritual, material, emosional, etika, estetika, sosial, ekonomi dan transidental dari semua masyarakat.
  • Kelima, pendidikan multikultural menghendaki kemudahan layanan pendidikan sehingga dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
  • Keenam, seluruh proses pendidikan diorientasikan bagi terciptanya kebebasan dan perdamaian sesama manusia.
  • Ketujuh, pendidikan  multikultural berdiri secara mutlak diatas landasan pluralitas, inklusivitas, demokrasi dan humanitas.
  • Kedelapan, pendidikan multikultural mesti menyediakan ruang yang seluas luasnya bagi kesetaraan masyarakat sasaran pendidikan disemua lapisan melampaui sekat geografis, etnis, budaya, ideologis, usia, status sosial dan gender.


Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa implementasi model pendidikan multikultural yang dikembangkan KH. Achmad Muzakki Syah melalui dzikir manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, RA di pesantren Al-Qodiri Jember adalah bertolak dari sejumlah paradigma, antara lain : Pertama, para jamaah diposisikan sebagai subyek dan bukan obyek. Kedua, penghormatan terhadap kemajemukan para jamaah dalam segala aspeknya. Ketiga, pengembangan potensi para jamaah tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik.

Mendirikan Pesantren

KH. Ahmad Muzaki Syah mendirikan pesantren  Al-Qodiri Jember 16 Mei 1976 M (lokasi lama) dan lokasi baru (tahun 1987) untuk sebuah Pondok Pesantren yang bertujuan menjadi sebuah lembaga yang dibangun atas dasar komitmen yang kokoh sebagai sentral pencerahan aqidah, penguatan syari'ah dan pemantapan akhlaqul karimah. Pada tahun yang sama pula, Pondok Pesantren Al-Qodiri resmi berbadan Hukum dengan dibentuknya Yayasan Pondok Pesantren Al-Qodiri.

Sejarah Pesantren Al-Qodiri ini bermula dari pulangnya Kiai Muzakki dari bertapa di gua Payudan Madura tahun 1973, Kiai Muzakki Syah kembali lagi ke Gebang Poreng bertemu keluarga dan sanak familinya. Bagi istri dan putranya yang saat itu sudah berumur tiga tahun, kedatangan Kiai Muzakki disambut dengan kegembiraan dan keharuan yang tiada tara. betapa tidak, sejak kepergiaannya di tahun 1971, putranya yang kala itu masih berumur setahun, kini sudah menjadi anak mungil dan lucu.

Hampir dua bulan Kiai Muzakki mengamati perkembangan kondisi sosial keagamaan masyarakat Gebang Poreng. Baginya keberadaan Gebang Poreng waktu itu masih tidak berbeda dengan dua tahun sebelumnya, masih sepi suara adzan, masih jarang yang mendirikan sholat, yang marak justru pencurian, perampokan, judi dan berbagai bentuk mungkarat lainnya, yang ada waktu itu hanya sebuah mushalla kecil di pojok dusun yang konon mengajarkan agama sejati [agama eling] di bawah pimpinan bapak Astumi. Gebang Poreng masih tetap seperti dulu, belum ada listrik, gelap segelap hati masyarakatnya.

Realitas ummat yang memprihatinkan tersebut, mendorong Kiai Muzakki mendirikan sebuah musholla walau amat sederhana dan terbuat dari gedek, dalam pandangan kiai Muzakki, sesungguhnya yang essensial dari sebuah mushalla atau masjid bukan bangunan fisiknya, melainkan efektifitas fungsinya sebagai pusat peribadatan dan da'wah, pusat aktifitas agama, pusat pembinaan ummat, pusat pengokoh ukhuwah islamiyah, sarana perjuangan, pusat syi'ar, ta'lim, ta'dzib dan tarbiyah, pusat pertemuan dan pusat kegiatan sosial.

Sebagai upaya memakmurkan musholla yang telah didirikannya itu, kyai Muzakki mulai istiqomah memimpin sholat maktubah secara berjama'ah dengan anggota keluarganya, sanak famili dan tetangga dekatnya, dan bersama mereka pula, setiap ba'da maghrib Kyai Muzakki mengajar anak-anak kecil membaca al-Qur'an, setiap ba'da isya' membaca dzikir manaqib syaikh Abdul Qodir Jailani, dan setiap ba'da subuh membaca tafsir surat yasin.

Semakin hari, masyarakat yang berjamaah di musholla tersebut terus bertambah, bahkan ada dua orang santri yang menetap di musholla itu sebagai muadzzin yang kemudian dibuatkan gubuk oleh Kyai Muzakki sebagai tempat menginap mereka, menurut keterangan KH. Ridlwan, sejak berdirinya musholla itu, nuansa keagamaan di Gebang Poreng sedikit demi sedikit mulai menggeliat, gema adzan dan dzikir puji-pujian mulai membahana di setiap waktu menjelang sholat maktubah. 

Sekitar tahun 1976 berawal dari pertemuannya dengan Ust. Abdullah Jailani sahabat karibnya yang terkenal pandai baca kitab kuning ketika masih nyantri di Al-Fatah dulu, keinginan Kyai Muzakki untuk mendirikan pondok pesantren semakin mantap, diajaklah temannya itu untuk tinggal bersamanya di Gebang guna bersama-sama membina dan membesarkan pesantren yang hendak dibangunnya itu. Selang beberapa hari setelah Ust. Abdullah Jailani menyetujui ajakan Kyai Muzakki, maka pada tanggal 19 Robi'us Tsani 1397 H. bertepatan dengan tanggal 16 Mei 1976 didirikanlah bangunan pesantren di atas tanah seluas 5000 M. yang kemudian diberi nama "Pondok Pesantren Al-Qodiri" Jember.

Pemberian nama al-Qodiri menurut Ust. Abdullah Jaelani didasarkan pada beberapa hal, pertama disandarkan pada asma Allah "al-Qaadir" yang berarti dzat yang maha kuasa di atas segala-galanya. Penyandaran kepada asma Allah tersebut dimaksudkan agar kuasa Allah terpusat di lembaga ini sehingga seluruh tamu yang datang, para santri, jama'ah, atau siapapun yang datang, ke al-Qodiri dikabulkan semua hajatnya, sebab Allah maha kuasa atas segala sesuatu termasuk mengabulkan hajat-hajat mereka.

Kedua, nama Al-Qodiri disandarkan pada nama besar Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, sebab sejak Kiai Muzakki masih dalam kandungan, abahnya (Kiai Syaha) telah mengistiqomahkan dzikir manaqib Syaikh Abdul Qodir  Jailani untuknya, juga Kiai Muzakki sejak usia kelas 2 Sd sudah mengamalkan dzikir manaqib yang sama, penyandaran kepada nama Syaikh Abdul Qodir Jailani, dimaksudkan agar lembaga ini kelak mendapat siraman karomah sebesar karomahnya Syaikh Abdul Qodir Jailani.

Ketiga, penamaan tersebut didasarkan pada hasil intikharah dan petunjuk ghaib yang diterima jauh sebelumnya oleh KH. Achmad Muzakki Syah sendiri. Menurut cerita H. Nurul Yaqin, suatu sore di tahun 1974, ketika habis ngimami sholat asyar, Kiai Muzakki memanggil salah seorang jama'ahnya yang bernama Pusakah (asal Tempurejo) untuk memijatnya, sambil dipijat beliau bilang pada Pusakah "toraeh yah, sengkok pagik maddiggah pesantren se bakal ekennenggih ebuan santri lake' bini' dari mandimman, bi' senkok pesantren jariyah enyamaannah al-Qodiri (perhatikan ya, saya nanti akan mendirikan pesantren yang akan dihuni ribuan santri putra-putri yang berasal dari berbagai tempat, pesantren itu akan saya beri nama "al-Qodiri")

Lembaga pendidikan yang ada diawal berdirinya pesantren, hanyalah madrasah Diniyah Ibtida'iyah, namun seiring berjalannya waktu, hari berganti hari, tahun berganti tahun, Pesantren Al-Qodiri semakin memperlihatkan kemajuan pendidikannya. Pada akhirnya kini ia berkembang menjadi sebuah Yayasan Pondok Pesantren yang menaungi beberapa lembaga pendidikan.