Biografi KH. Faqih Zawawi

 
Biografi KH. Faqih Zawawi

Daftar Isi Profil KH. Faqih Zawawi

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Mengasuh di Pesantren Nurul Jadid
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Teladan

Kelahiran

KH. Faqih Zawawi adalah putra kedua dari pasangan KH. Zawawi Mun’im dengan Ny. Nasihah. Beliau lahir pada 1 Februari 1945 di Pamekasan Madura.

Selain itu, KH. Faqih juga merupakan keponakan dari KH. Zaini Mun’im pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Keluarga

KH. Faqih Zawawi melepas masa lajangnya dengan menikah Nyai Hj Fatimah. Dari pernikahan tersebut, KH. Faqih dikaruniai tiga putra dan satu putri, yaitu: Moh. Mahfudz Faqih, Almarhumah Fatatik, Hafiluddin Faqih dan Lilik Faizah Faqih.

Pendidikan

Sejak kecil KH. Faqih Zawawi memulai pendidikanya dengan kedua orang tuanya, beliau belajar ilmu agama, seperti membaca al-Qur’an, fiqh dan lain sebagainya.

Setalah itu, beliu menempuh jalur formal, dari madrasah ibtidaiyah sampai madrasah aliyah di Pondok Pesatren Darul Ulum, Jombang. Setelah lulus madrasah aliyah, kemudian beliau kuliah di Fakultas Syariah Sunan Ampel Surabaya, hingga meraih gelar sarjana muda.

Setelah wisuda, karena masih haus ilmu, beliau kuliah kembali di Universitas Darul Ulum Jombang. Nah, saat di bangku kuliah, beliau sudah mulai aktif di organisasi. Salah satunya adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Mengasuh di Pesantren Nurul Jadi

Kiprah beliau di Pesantren Nurul Jadid mempunyai peran yang penting. Kiai Faqih turut membantu dalam hal pengembangan lembaga-lembaga yang ada di bawah naungan Pondok Pesantren bersama para pengasuh dan pengurus pesantren. Pengabdiannya di Pesantren Nurul Jadid berawal ketika beliau diangkat menjadi kepala biro pendidikan dan kebudayaan. Setelah itu, beliau diangkat menjadi koordinator PP. Nurul Jadid pada tahun 1984. Setelah itu, beliau dipercaya untuk menjadi pengawas PP. Nurul Jadid tahun 2000, menggantikan KH. Hasan Abdul Wafi.

Selain menjadi pengurus pesantren, kiai Faqih juga diberi amanat menjadi Dekan Fakultas Dakwah IAI Nurul Jadid. Setelah itu, beliau juga dipercaya menjadi pembantu rektor II IAI Nurul Jadid. Tak hanya itu, selanjutnya beliau dipercaya untuk menjabat sebagai pembantu rektor I IAI Nurul Jadid. Sebagai pemimpin, beliau banyak melakukan terobosan-terobosan. Salah satunya dengan menghidupkan rapat kordinasi ditingkat rektorat, baik kordinasi internal maupun eksternal.

Beliau adalah salah satu tokoh yang ikut mempersiapkan proses peralihan status IAI Nurul Jadid, yang mulanya berstatus Sekolah Tinggi. Bersama pimpinan yang lain, beliau turut berperan mendirikan Fakultas Tarbiyah. Sehingga lengkaplah tiga Fakultas: Fakultas Dakwah, Syariah dan Tarbiyah Selain di perguruan tinggi, beliau juga dipercaya untuk memimpin Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ). Beliau adalah kepala sekolah yang dikenal tegas, hingga para guru dan siswa MANJ sangat hormat dan tertib saat jam aktif berlangsung.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Berbekal pengalaman di organisasi ketika masih di bangku kuliah, yakni PMII Beliau pun melanjutkan pengabdiannya di Nahdatul Ulama; organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. KH Faqih mulai mengisi keseharianya dengan perjuangan di pesantren, masyarakat dan NU. Sebagai pengurus NU, beliau proaktif mengikuti kegiatan masyarakat yang diadakan oleh pengurus cabang NU Kraksaan. Dari keaktifan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, beliau pun dipercaya dan diberi tanggung jawab menjadi wakil ketua NU Cabang Kraksaan.

Selanjutnya, karena peran dan tanggung jawabnya tak diragukan lagi, beliau pun diangkat menjadi Ketua Tanfidziyah PC NU kraksaan. Setelah masa bakti beliau berakhir, tak berselang lama, beliau kemudian diangkat menjadi Ro’is syuriah PC NU kraksaan priode 2000-2005. Kiai Faqih adalah sosok yang menjadi tauladan bagi warga nahdiyin, baik dalam berorganisasi maupun masyarakat. Karena beliau merupakan seorang yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Disamping itu, beliau juga sosok yang sangat disiplin. Hal ini tercermin dari keaktifan beliau dan selalu tepat waktu jika ada kegiatan NU. Beliau juga sangat antusias dalam melakukan pendampingan pada masyarakat.

Ketika semangat dan ruhul jihad pengurus NU Kraksaan menurun, Kiai Faqih mampu membangkitkannya. Beliau tak henti menggenjot semangat pengurus, agar kegiatan NU terus aktif memberdayakan masyarakat. Beliau terus mengawal dan mendampingi para pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) dan pengurus Cabang NU Kraksaan. Dengan semangatnya beliau mampu mengumpulkan dan mengakomodir semua anggota MWC NU se-Kraksaan. Karena itu, pada masa Kiai Faqih, PC NU Kraksaan mengalami kemajuan yang signifikan.

Teladan

KH. Faqih Zawawi merupakan sosok ulama yang sangat ramah dan selalu memberikan suri tauladan yang baik bagi semua orang, terutama bagi warga nahdliyin dan para santri. Beliau merupakan sosok yang cakap dalam berorganisasi serta tak kenal lelah dalam memperjuangkan, mengembangkan NU, dan pesantren.

Beliau selalu mengajarkan pada semua pengurus NU agar tidak mudah menyerah. Meski banyak rintangan dan kesibukan lain, NU harus terus di perjuangkan bersama untuk memberdayakan masyarakat. Beliau sosok yang sangat tegas dan konsisten dalam memegang prinsip. Beliau sangat hati-hati dan penuh pertimbangan yang matang dalam mengambil sebuah keputusan.

Disamping itu, beliau juga dikenal sangat tawaddu’ baik secara pribadi maupun secara organisasi. Kiai Faqih selalu menghargai pendapat semua pengurus dan masyarakat. Bagi beliau, pendapat orang lain harus didengarkan tanpa melihat latar belakang orang yang mengusulkan pendapat tersebut. Dengan catatan, pendapat harus baik dan memberikan manfaat bagi agama, negara dan masyarakat. Karena sikap akomodatif tersebut para pengurus dan masyarakat pun merasa lebih leluasa untuk bependapat di hadapan beliau.

Beliau bisa disebut orang sangat teguh dalam menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini dibuktikan dengan kepemimpinan beliau saat menjadi pembantu rektor IAI Nurul Jadid. Beliau selalu mengawasi anggotanya dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, bahkan beliau sering melakukan sidak pada anggotanya.

Di sisi lain, beliau juga bisa dikatakan orang yang sangat merakyat. Karena beliau tidak menampakkan “trah darah birunya” kepada bawahannya. Beliau lebih senang dianggap mitra oleh bawahannya. Lantaran sifat beliau yang terbuka dan egaliter tersebut, roda organisasi berjalan kompak dalam mencapai tujuan bersama.

 

Sumber: https://www.nuruljadid.net/