Biografi KH. Imam Shonhaji

 
Biografi KH. Imam Shonhaji

Daftar Isi Profil KH. Imam Shonhaji

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh Pesantren
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Atang atau yang lebih akrab disapa KH. Imam Shonhaji dilahirkan di Subang pada tanggal 18 April 1942. Beliau merupakan anak ketiga dari pasangan H. Muhyiddin dan Hj Nuraenah.

Wafat

KH. Imam Shonhaji meninggal dunia pada Desember 2009. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga besar Pondok Pesantren Sukamiskin, Bandung.

Keluarga

KH. Imam Shonhaji melepas masa lajangnya dengan Hj. Raden Maemunah Haedar, putri Pengasuh Ponpes Sukamiskin KH. Raden Haedar Dimyati. Perkawinannya dikaruniai 11 orang anak (6 laki-laki dan 5 perempuan).

Pendidikan

KH. Imam Shonhaji memulai pendidikannya dengan belajar di Sekolah Rakyat (SR), setelah selesai beliau meneruskan ke Madrasah Ibtidaiyah di Babakan Ciwaringin Cirebon. Kemudian melanjutkan pendidikannya lagi ke MTs dan MA Ponpes Lirboyo di Kediri, Jawa Timur.

Setelah menuntut ilmu di Jawa Timur selesai, beliau merantau ke Bandung sambil belajar ngaji di Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung.

Menjadi Pengasuh Pesantren

KH. Imam Sonhaji merupakan pemimpin keempat yang meneruskan kepemimpinan dari KH. R. Haedar Dimyati. Pada tahun 1965 KH. Imam Shonhaji mulai menginjakan kaki di Sukamiskin sebagai santri, sampai pada akhirnya KH. Imam Shonhaji menikah dengan anak pertama KH. R. Haedar Dimyati yaitu Hj. Memunah Haedar.

Setelah diangkat sebagai menantu pada atahun 1966, KH. R. Haedar Dimyati telah melihat sifat kepemimpinan dari KH. Imam Shonhaji. Berbeda dengan pemilihan atau penunjukan pemimpin sebelumya, dalam sebuah pesantren kepemimpinan yang diterapkan ialah gaya kepemimpinan secara turun-temurun, namun tidak ketika KH. Imam Shonhaji datang ke Pesantren Sukamiskin dan diangkat sebagai menantu.

Beliau diberikan amanat untuk memimpin pesantren menggantikan mertuanya yang telah meninggal yaitu KH. Raden Haedar Dimyati. Hal tersebut menjadi menarik ketika sistem yang biasanya orang yang menjadi pemimpin ialah berasal dari satu keturunan, namun ketika KH. Raden Haedar Dimyati meninggal ia memilih menantunya untuk meneruskan kepemimpinan pesantren yaitu KH. Imam Shonhaji.

KH. Imam Shonhaji merupakan salah satu tokoh yang memiliki banyak kontribusi terhadap perkembangan Pesantren Sukamiskin. Pesantren Sukamiskin mengalami perubahan dalam hal pembelajaran. Perubahan di sini bukan berarti merubah sistem pembelajaran sebelumnya tetapi adanya penambahan seperti adanya kreasi seni dari para santri setiap minggunya yang diberi nama pertamsilan. Kemudian didirikannya sekolah madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah tahun 1988.

Sosok seorang kiai dalam pesantren tentunya sangat berpengaruh terhadap kelangsungan pesantren tersebut. Hal tersebut disebabkan karena seorang kiai mempunyai pengaruh yang sangat penting baik dalam segi aktifitasnya, pembelajarannya atau pun sikap yang tertanam dalam pribadi santrinya.

KH. Imam Shonhaji merupakan sosok pemimpin yang kharismatik sehingga para santri yang belajar di Pesantren Sukamiskin sangat menghormati KH. Imam Shonhaji sebagai seorang pemimpin.Tidak hanya santri, keluarga dan masyarakat pun menghormati KH. Imam Shonhaji ketika menjadi seorang pemimpin baik di pesantren ataupun diorganisasi yang lain.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Peranan KH. Imam Shonhaji di Nahdlatul Ulama (NU) beliau diangkat menjadi Rois Syuriah di NU. Beliau mengisi bidang keagamaan yaitu dakwah dan pengajian di sekitar lingkungan rumah, sedangkan dalam bidang sosial kegiatan yang dilaksanakan ialah adanya “santri raksa moral, santri raksa desa, santri nyaah ka kolot, santri raksa usaha, santri raksa pangan”.

Selain itu, beliau juga menjadi dewan syuro di Partai Kebangkitan Bangsa dan ketua FKPP Kota Bandung.