Biografi KH. Marzuqi Dahlan

 
Biografi KH. Marzuqi Dahlan

Daftar Isi Profil KH. Marzuqi Dahlan

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Wasiat KH. Marzuqi Dahlan
  4. Keluarga
  5. Pendidikan
  6. Teladan
  7. Karomah Kewalian KH. Marzuqi Dahlan

Kelahiran

KH. Marzuqi Dahlan merupakan putra bungsu dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Dahlan dengan Nyai Artimah. Beliau lahir tahun 1906 M, di Desa Banjarmelati, sebuah desa di bantaran barat Sungai Brantas, Kota Kediri.

Wafat

Pada Tahun 1973 M KH. Marzuqi Dahlan dua tahun setelah menunaikan ibadah haji, kondisi beliau mulai terganggu, sebab usia beliau memang sudah sepuh. Namun meski demikian, semangat beliau untuk memimipin Pesanten Lirboyo tetap terjaga, hingga pada bulan syawal pada tahun 1975, beliau jatuh sakit dan harus dirawat di RS. Bayangkara, Kediri.

Dua minggu lamanya beliau dirawat. Karena tidak ada perubahan yang menggembirakan, akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa pulang KH. Marzuqi Dahlan ke kediaman beliau, hingga pada hari Senin Tanggal 18 Nopember 1975 M beliau dipanggil sang pencipta, dihadapan keluarga dan para santri yang sangat mencintainya.

Wasiat KH. Marzuqi Dahlan

Sebelum wafat, KH. Marzuqi Dahlan menyampaikan tiga nasihat dan beliau wasiatkan kepada keluarga, pengurus, dewan guru, dan seluruh santri untuk tetap dijunjung tinggi dan diugemi.

Tiga wasiat beliau ialah:

  1. Semua tata tertib dan peraturan pondok pesantren hendaknya ditegakkan dan dipatuhi dan jangan sekali-kali diubah.
  2. Semua santri harus tetap tekun belajar dan mempertinggi himmah karena demikian itu berarti sadar dan mau menghidupkan budaya belajar ala pondok pesantren.
  3. Beliau amat keberatan jika ada santri yang mengalami musibah atau cobaan hidup lantas mengubah keikhlasan niat menuntut ilmu, bimbang atau bahkan berbelok menjadi keduniawian.

Keluarga

KH. Marzuqi Dahlan menikah dengan Nyai Maryam binti KH. Abdul Karim Lirboyo pada tahun 1936 M. Meski telah menikah, semangat beliau dalam mengaji tidak pernah luntur, hal ini merupakan salah satu amanat yang disampaikan KH. Abdul Karim kepada beliau, sesaat usai akad nikah berlangsung, hingga himmah beliau untuk tetap mendidik santri terus terjaga dan sangat istiqomah.

Pada tahun 1961 M, Nyai Maryam berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan beliau untuk selama-lamannya. Namun untuk menghapus kedukaan yang berlarut-larut, keluarga menikahkan KH. Marzuqi Dahlan dengan Nyai Qomariyah yang tak lain adalah adik bungsu Nyai Maryam.

Pendidikan

Di bawah pengawasan langsung kakeknya (KH. Sholeh Banjarmelati), KH. Marzuqi Dahlan kecil memulai pendidikannya dengan belajar dasar-dasar Islam seperti aqidah, tajwid, fiqh ubudiyah, dan lain-lain.

Pernah satu waktu, sang ayah (KH. Dahlan) meminta agar KH. Marzuqi Dahlan kembali ke kampung halaman (Pondok Pesantren Jampes) guna menuntut ilmu langsung di bawah asuhan ayah kandung sendiri. Atas perintah ayahnya, akhirnya KH. Marzuqi Dahlan bersedia, namun beberapa saat kemudian KH. Marzuqi Dahlan kembali ke Banjarmelati.  

Ketika KH. Marzuqi Dahlan beranjak muda, beliau pindah menuntut ilmu di Lirboyo, di bawah asuhan KH. Abdul Karim yang merupakan paman KH. Marzuqi Dahlan. Di sinilah kemampuan berpikir KH. Marzuqi Dahlan semakin terasah, sehingga dalam waktu yang singkat beliau dapat menyerap berbagai ilmu keagamaan.

Usai dari di Lirboyo, KH. Marzuqi Dahlan meneruskan pengembaraan di berbagai pondok pesantren diantaranya Pondok Pesantren Tebuireng asuhan Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk, asuhan KH. Zainuddin, Pondok Pesantren Bendo Pare asuhan KH. Khozin, cukup lama beliau mondok di Pare hingga berusia 20-an tahun.

Selanjutnya beliau kembali ke kampung halaman untuk belajar langsung ke KH. Ihsan Jampes, sang kakak yang juga pengarang kitab Shirojut Tholibin. Sebuah kitab monumental dalam bidang tasawuf.

Teladan

Sosok KH. Marzuqi Dahlan adalah sosok sederhana dan sangat bersahaja, hal ini terbukti dari penampilan beliau sehari-hari yang jauh dari kesan mewah dan perlente. Padahal saat itu beliau sudah menjadi pengasuh PP Lirboyo.

Ketika bepergian dan atau berziarah ke makam-makam auila disekitar Kediri, KH. Marzuqi Dahlan lebih sering bersepeda. Bukan hanya kendaraan, kediaman beliaupun terbilang sangat sederhana, yakni berdindingkan anyaman bambu, hingga pada tahun 1942 M barulah kediaman beliau berganti dengan tembok.

Karomah Kewalian KH. Marzuqi Dahlan

Ada satu pengalaman menakjubkan saat KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) masih nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. Pada saat itu pengasuhnya adalah KH. Marzuqi Dahlan. Inilah penuturan beliau:

Waktu itu saya dan kawan-kawan sedang berkumpul merencanakan akan ngambil tebu. Sebab saya dengar sebentar lagi tebu akan ditebang. Untuk itu bersama kawan-kawan, saya berencana mencuri beberapa lonjor tebu. Kami waktu itu telah bersiap-siap untuk menjalankan aksi.

Kebetulan, lokasi kamar Mars yang saya tempati itu dekat dengan ndalemnya (kediaman) KH. Marzuqi Dahlan. Saya berjalan paling depan. Dan ketika saya lewat depan ndalem, tiba-tiba saya dipanggil oleh KH. Marzuqi Dahlan: “Gus, Gus, mriki”, kata beliau yang dengan siapa saja selalu memakai bahasa Jawa kromo, meskipun kepada santrinya yang masih anak kecil.

Saya pada waktu itu baru saja masih lulus SR (Sekolah Rakyat, setara SD). Ternyata beliau benar-benar memanggil saya: “Mriki-mriki, Gus!” (Kesini Gus).

Panggilan beliau tentu membuat saya kaget, sebab bebarengan sekali dengan kegiatan saya yang akan nyolong tebu bersama kawan-kawan. Saya lantas mendekat, lalu ditanya begini: “Gus, sampean doyan tebu?”

Kontan saja saya kaget bukan main. Saya keringetan pada waktu itu. Pertanyaan ini membuat saya terdiam dan takut. Saking takutnya, saya tidak bisa bergerak sama sekali. Sebab, sebelumnya saya tidak menyangka tiba-tiba beliau kok bertanya seperti itu. “Nanyanya kok pas sekali”, gumam saya dalam hati.

Beliau lalu menyuruh saya menunggu. Sebentar kemudian beliau keluar dari ndalemnya dengan memanggul seonggok lonjor tebu. Beliau bilang: “Niki sampean kula pilihaken sing apik-apik Gus.” (Ini untuk Anda saya pilihkan yang bagus-bagus Gus).

Setelah tebu itu diberikan kepada saya beliau berkata: “Niki dipun bagi kalih rencang-rencang lintune nggih?” (Ini dibagi pada teman-teman yang lain ya?)

Setelah menyaksikan peristiwa itu, akhirnya saya dan kawan-kawan tidak jadi mencuri tebu. “Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira siapa ya orang yang telah membocorkan rencana itu? Padahal saat itu beliau kan tidak tahu rencana saya dan kawan-kawan.”