Biografi KH. Agus Sunyoto., M.Pd

 
Biografi KH. Agus Sunyoto., M.Pd
Sumber Gambar: Foto Ist

Daftar Isi Profil KH. Agus Sunyoto., M.Pd

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Karier
  6. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Agus Sunyoto., M.Pd lahir pada 21 Agustus 1959 di Surabaya.

Wafat

Beliau wafat pada hari Selasa, 27 April 2021,15 Ramadhan 1422 H.
Pukul : 07.25 WIB

Keluarga

KH. Agus Sunyoto., M.Pd melepas masa lajangnya dengan menikahi Nurbaidah Hanifah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai empat anak, diantaranya:

  1. Zulfikar Muhammad
  2. Fahrotun Nisa Hayuningrat
  3. Izzulfikri Muhammad
  4. Dedy Rahmat

Pendidikan

KH. Agus Sunyoto., M.Pd memulai pendidikannya dengan belajar SD, SMP dan SMAN IX di lingkungan rumahnya, di Surabaya. Keran bercita-cita ingin menjadi seniman, selepas lulus dari Surabaya melanjutkan ke IKIP Surabaya pada Fakultas Keguruan Sastra dan Seni jurusan Seni Rupa lulus 1985. Tahun 1986 melanjutkan pendidikan ke Fakultas Pasca Sarjana IKIP Malang jurusan Pendidikan Luar Sekolah lulus 1989.

Selain belajar pendidikan formal, beliau juga belajar di beberapa pondok pesantren. Pada awal-awal beliau belajar ilmu hikmah di Pesantren Nurul Haq Surabaya yang diasuh oleh KH. M. Ghufron Arif.

Baca juga: Mengapa Islam di Andalusia Bisa Hilang? Ini Penjelasan Agus Sunyoto

Setelah selesai belajar di Pesantren Nurul Haq, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar kepada KH. Ali Rochmat di Wedung, Demak, Jawa Tengah.

Pada tahun 1994 masuk Pesulukan Thariqah Agung (PETA), Kauman, Tulungagung di bawah asuhan KH. Abdul Jalil Mustaqiim dan KH. Abdul Ghofur Mustaqiim.

Kecemerlangan Agus Sunyoto di dunia sastra dalam hal sejarah semakin memeperlihatkan kesungguhannya. Hal tersebut dibuktikan setelah buku karangan beliau yang berjudul “Atlas Wali Songo” menjadi buku non fiksi terbaik 2014.

Karier

Pengalaman kerja diawali sebagai kolumnis sejak 1984. Tahun 1986- 1989 menjadi wartawan Jawa Pos. Setelah keluar dan menjadi wartawan free-lance, sering menulis novel dan artikel di Jawa Pos, Surabaya Pos, Surya, Republika, dan Merdeka. Sejak tahun 1990-an mulai aktif di LSM serta melakukan penelitian sosial dan sejarah. Hasil penelitian ditulis dalam bentuk laporan ilmiah atau dituangkan dalam bentuk novel.

Baca juga: Kiai Agus Sunyoto: Orang Kaya dan Politisi Tidak Boleh Bicara Agama

Saat ini Agus Sunyoto menjabat sebagai ketua lembaga seni budaya muslimin Indonesia Nahdatul Ulama (Lesbumi NU), kelihaian, ketelatenan serta ketajamannya dalam menguak sejarah kemudian meramunya menjadi cerita yang sangat menarik sebagaimana yang tertuang dalam bukunya perjalanan rohani “Suluk Abdul Jalil edisi 1-7, sastra Jendra Hayuningrat Pangruwatin Diyu, Rahuvana Tattwa dan Atlas Wali Songo” menjadi acuan kuat dalam menelusuri perjalanan rohani secara pribadi.

Baca juga: Kyai Agus Sunyoto: Bukti Faktual Bangsa Tertua di Dunia

Dalam penulisan buku tersebut tidaklah serta merta sekedar pengolahan kata-kata namun memerlukan tingkatan khusus, dalam bahasa Arab dikenal dengan maqam dalam hal mengola cerita sehingga penjiwaan ceritanya sangatlah nyata.

Karya-Karya

Kecintaannya terhadap dunia tulisan, membuat KH. Agus Sunyoto., M.Pd telah menghasilkan beberapa karya tulis diantaranya:

Sumo Bawuk (Jawa Pos, 1987), Sunan Ampel: Taktik dan Strategy Dakwah Islam di Jawa (LPLI Sunan Ampel, 1990),Penelitian Kualitatif dalam Ilmu Sosial dan Keagamaan (Kalimasahada, 1994), Banser Berjihad Melawan PKI (LKP GP Ansor Jatim, 1995), Darul Arqam: Gerakan Mesianik Melayu (Kalimasahada, 1996), Wisata Sejarah Kabupaten Malang (Lingkaran Studi Kebudayaan, 1999), Pesona Wisata Sejarah Kabupaten Malang (Pemkab Malang, 2001).

Dajjal (LKiS, 2006), Rahwana Tattwa (LKiS, 2006), Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syekh Siti Jenar (LKiS, 2003), Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar, (LKiS, 2004),  Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syekh Siti Jenar (LKiS, 2005), dan Dhaeng Sekara: Telik Saudi Tanah Pelik Majapahit.

Karya-karya fiksinya banyak dipublikasikan dalam bentuk cerita bersambung, antara lain di Jawa Pos:

Anak-Anak Tuhan (1985), Orang-orang Bawah Tanah (1985), Ki Ageng Badar Wonosobo (1986), Khatra (1987), Hizbul Khofi (1987), Khatraat (1987), Gembong Kertapati (1988), Vi Daevo Datom (1988), Angela (1989), Bait Al-Jauhar (1990), Angin Perubahan (1990).

Di harian sore Surabaya Post: Sastra Hajendra Pangruwat Diyu (1989), Kabban Habbakuk (1990), Misteri di Snelius (1992), Kabut Kematian Nattayya (1994), Daeng Sekara (1994-1995), Sang Sarjana (1996), Jimat (1997).

Di Radar Kediri: Babad Janggala- Panjalu dengan episode: (1) RahuwhanaTattwa, (2) Ratu Niwatakawaca, (3) Ajisaka dan Dewata Cahangkara, (4) Titisan Darah Baruna. Di harian Bangsa: Suluk Abdul Jalil (2002).

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya