Biografi KH. Abdul Hadi Zahid

 
Biografi KH. Abdul Hadi Zahid

Daftar Isi Profil KH. Abdul Hadi Zahid

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh

Kelahiran

KH. Abdul Hadi Zahid lahir pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1309 H, di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan. Beliau merupakan putra pertama dari pasangan KH. Zahid dengan Nyai ‘Alimah.

Selain itu, beliau juga adalah menantu dari KH. Ahmad Khozin, dan merupakan pengasuh Pondok Pesantren Langitan generasi keempat.

Wafat

KH. Abdul Hadi Zahid wafat pada  9 Shofar 1391 H atau bertepatan dengan tanggal 5 April 1971 M.

Beliau adalah sosok kiai panutan para santri, warga yang pengemban amanat dengan mengasuh Pondok Pesantren Langitan selama, 50 tahun (1921-1971 M.).

Keluarga

KH. Abdul Hadi Zahid diambil menantu oleh KH. Muhammad Khozin, beliau dinikahkan dengan putrinya yang bernama Ning Juwairiyah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 11 anak, diantaranya :

  1. KH. Abdul Hadi
  2. Mutmainnah
  3. Tashrifah
  4. Zainab
  5. KH. Muhammad Rofii(ayahanda KH. Abdullah Faqih)
  6. Musfi’ah
  7. ‘Aisyah
  8. Musta’inah (meninggal usia muda)
  9. KH. Ahmad Marzuqi
  10. Hindun
  11. Maryam (meninggal ketika masih kecil)

Pendidikan

Sejak berusia sebelas tahun, KH. Abdul Hadi Zahid memulai pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Langitan hingga usia sembilan belas tahun, dan atas saran KH. Muhammad Khozin ia melanjutkan studi di Pesantren Kademangan Bangkalan Madura di bawah asuhan KH. Kholil selama tiga tahun.

Pada usia 23 tahun, ia belajar di Pesantren Jamsaren Solo yang di asuhan oleh KH. Idris. Setelah itu KH. Abdul Hadi Zahid kembali lagi nyantri di Pondok Pesantren Langitan hingga pada usia 25 tahun.

Menjadi Pengasuh

Pada usia yang relatif muda sekitar 30 tahun, KH. Abdul Hadi Zahid sudah menerima tugas berat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Langitan.

Namun meskipun begitu, di bawah asuhannya Pondok Pesantren Langitan saat itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Terbukti mulai periode ini (tahun 1949 M) mulai dikembangkan sistem pengajaran ilasikal yang dahulu belum dikenal, dengan cara mendirikan madrasah ibtida’iyah dan madrasah muallimin serta kegiatan ekstra kurikuler seperti bahsul masail lil waqiah, jamiyatul muballighin, jamiyatul qurro wal khuffadz dan lain-lain.

Di samping itu kegiatan rutinitas berupa pengajian kitab baik sistem sorogan maupun weton terus dilestarikan dan kembangkan, terlebih sholat berjamaah, karena beliau adalah seorang ulama yang bertipikal sangat disiplin waktu dan terkenal keistiqomahannya.

Sebagaimana yang diceritakan oleh KH. M. Ihya’ Ulumuddin (seorang alumni Pondok Pesantren Langitan dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Malang) bahwa, dia dan para santri yang lain yang bertugas jaga malam, ketika mendengar suara kriek dari pintu belakang rumah yang terbuat dari bambu karena KH. Abdul Hadi keluar untuk mengambil air wudlu kemudian sholat tahajud.