Biografi KH. Ardani (Abuya Ardani)

 
Biografi KH. Ardani (Abuya Ardani)

Daftar Isi Profil KH. Ardani (Abuya Ardani)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Guru-Guru
  6. Mendirikan Pesantren
  7. Murid-Murid
  8. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Ardani atau yang kerap di sapa dengan panggilan Abuya Ardani lahir pada tahun 1894 di Rajeg, Kampung Gunung. Beliau merupakan seorang anak tunggal dari pasangan KH. Idan dan Nyi Tiyeum.

Ayahnya KH. Ardani berasal dari Mengger, Cikaromoy. Sedangkan ibunya, Nyi Tiyeum, berasal dari Trumbu, Banten.

KH. Ardani memiliki tubuh tegap dan badan tinggi. Selain itu, ia memiliki kulit yang berwarna sawo matang, memiliki hidung yang mancung seperti keturunan Arab dan memiliki mata yang tajam.

Sejak kecil, KH. Ardani sudah menjadi yatim piatu, karena kedua orang tuanya wafat. Kemudian KH. Ardani di asuh oleh Ki Daim.

Wafat

KH. Ardani wafat pada usia 63 tahun atau tepatnya pada bulan Mei tahun 1957.

Keluarga

Pada usia yang masih 15 tahun, KH. Ardani  melepas masa lajangnya dengan menikahi Zainab. Buah dari pernikahannya, mereka dikarunia tujuh orang anak, yang terdiri dari enam anak laki-laki dan satu anak perempuan.

Menginjak usia ke ± 40 tahun, KH. Ardani menikah kembali dengan Umamah yang berasal dari Kampung Panggang, Desa Selapajang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang – Banten. Pada pernikahannya yang kedua ini, KH. Ardani dikaruniai tujuh orang anak.

Pendidikan

Pada usianya masih 7 tahun, KH. Ardani memulai pendidikannya dengan belajar agama, ilmu nahwu kepada Ki Ardani (Tegal Kunir). Beliau mengeyaman pendidikan bersama Ki Ardani (Tegal Kunir) hanya membutuhkan waktu 5 tahun. Akhirnya, KH. Ardani pun kembali pulang kepada Ki Daim.

Kemudian, Ki Daim menyerahkan KH. Ardani kepada Kiai Salmin. Dengan Kiai Salmin, KH. Ardani belajar mengenai Ilmu Fiqih. Tidak lama belajar dengannya, Kiai Salmin menyuruh KH. Ardani untuk belajar dengan seorang ulama yang berasal dari Rumpaksina, yakni Ki Musa (Rumpaksina).

Atas perintah dari Kiai Salmin, KH. Ardani pun pergi ke daerah Rumpaksina untuk menemui Ki Musa. Setelah bertemu dengan Ki Musa, Ki Musa pun menerima kedatangan dari KH. Ardani dengan sangat baik dan memberikan kasih sayang yang berlimpah kepada KH. Ardani.

Hal itu dikarenakan, Ki Musa (Rumpaksina) telah mengetahui bahwa kelak KH. Ardani akan menjadi seorang ulama besar. Setelah KH. Ardani menimba ilmu dari berbagai guru. Maka, di tempat Ki Musa (Rumpaksina), KH. Ardani mempelajari Ilmu Ngelal (yakni untuk mengetahui asal kalimat), Ilmu Asal (yakni untuk mengetahui dari perlengkapan kalimat), Ilmu Alfiyah (yakni untuk menggali asal-usul kalimat dan mengetahui i‟robul kalimat), dan menggali Ilmu Fiqih.

Setelah dirasa KH. Ardani telah menguasai ilmu tersebut, Ki Musa (Rumpaksina) memberikan restu kepada KH. Ardani untuk meninggalkan pesantrennya dan pergi menimba ilmu di guru yang lain. KH. Ardani pun pergi menuju Kampung Bakom, di sana KH. Ardani mempelajari Ilmu Alat seperti Ilmu Mantiq, Ilmu Sullam Al-Taufiq, Ilmu Jauharmaknun,  Ilmu Badi, Ilmu Bayan, Ilmu Ushul Fiqh, Ilmu Studi Banding Hadits, Ilmu Falak, ilmu Gerhana Bulan dan Matahari, mempelajari Ilmu Jam Al-Jawami, mempelajari Ilmu Tifan dari sanad-sanad ulama dan ucapan yang akan dijadikan sandaran hukum dinamakan Ilmu Hadis.

Setelah beberapa tahun KH. Ardani belajar dengan ulama di Kampung Bakom, KH. Ardani pun pergi menuju seorang ulama terkenal yakni Mama Ajengan Syathibi. Mama Ajengan Syathibi merupakan seorang ulama yang berada di daerah Cianjur Selatan. Dengan khidmah dan penuh ketawaduan,  KH. Ardani menyerahkan  dirinya untuk menimba ilmu kepada Mama Ajengan Syathibi. Hal itu dikarenakan beliau masih merasa terdapat kekosongan dalam hatinya. Pada proses mencari ilmu ini, KH. Ardani mendapatkan sebuah kehormatan dengan diberikan kepadanya sebuah gelar oleh Mama Ajengan Syathibi.

Gelar yang diberikan ialah Asadul Rubbat yang artinya sebagai harimau dari siswa-siswa pelajar. Mama Ajengan Syathibi memberikan gelar kepada KH. Ardani dikarenakan KH. Ardani selalu mengikuti dan mentauladani dalam dialek kata- kata gurunya dan mengutamakan kekhidmahannya serta bermacam-macam ilmu yang telah KH. Ardani kuasai.

Setelah Mama Ajengan Syathibi ikhlas dan penuh kegembiraan, Mama Ajengan Syathibi menyematkan sorbannya sambil mengucapkan doa dengan cucuran air mata dan diberikan petunjuk kepadanya untuk mendatangi seorang dan diberikan petunjuk kepadanya untuk mendatangi seorang ulama yang luar biasa yaitu Mama Bakri Sempur. Dalam obrolannya,  dua orang tersebut  membuka tabir dari keaslian orang  Banten.

Hal itu dikarenakan KH. Ardani dan Mama Bakri Sempur merupakan orang Banten. Maka pergilah KH. Ardani untuk menunaikan perintah dari Mama Ajengan Syathibi, yaitu menuntut ilmu kepada Mama Bakri Sempur.

Guru-Guru

KH. Ardani merupakan seorang laki-laki yang haus akan ilmu, maka tidak heran bahwa KH. Ardani memiliki banyak guru yang telah beliau temui, di antaranya ialah: Ki Ardani (Tegal Kunir), Kiai Salmin (Kampung Gunung), Ki Musa (Rumpaksina), seorang ulama di Kampung Bakom, KH. Ahmad Syathibi / Mama Syathibi, KH. Tubagus Ahmad Bakri/Mama Bakri, Ki Nawawi (Mandaya) dan Abuya Shiddiq.

Mendirikan Pesantren

KH. Ardani diperintah oleh Mama Bakri Sempur untuk mendidirikan pesantren di tengah-tengah masyarakat yang masih awam. KH. Ardani pun pulang ke kampung halamannya dan bertemu dengan Ki Daim, namun pertemuan itu tidaklah lama. KH. Ardani pun langsung pergi kembali untuk menuntut ilmu.

Meski KH. Ardani sudah diizinkan untuk mendirikan pesantren, namun KH. Ardani masih merasa belum siap. KH. Ardani masih merasa kekosongan dan haus akan ilmu pengetahuan. Maka pergilah KH. Ardani menemui seorang ulama Banten, yakni Ki Nawawi (Mandaya). Dengan Ki Nawawi (Mandaya) beliau mempelajari Ilmu Tarekat (suatu jalan untuk mengenal diri kepada Allah SWT., yakni ilmu makrifat). Setelah mempelajari ilmu ini, KH. Ardani merasa bahwa selama ini dia benar-benar kekurangan.

Akhirnya KH. Ardani mempelajari ilmu pengenalan diri kepada Allah, ilmu rahasia yang akan dibukakan hakekat kewujudan makna manusia dan ilmu untuk dibukakan pilar-pilar kegaiban.

Setelah itu, KH. Ardani pun dipersilahkan untuk pulang. Namun, tidak seketika pulang, melainkan KH. Ardani mendatangi seorang ulama besar bernama Abuya Siddiq (Cangkudu, Baros). Setelah KH. Ardani menetap di pesantren Abuya Siddiq, dipanggillah KH. Ardani oleh Abuya Siddiq, dan Abuya Siddiq berkata “Hei, Ardani, engkau pulanglah ke kampung halamanmu”.

Akhrinya, di banjiri dengan doa, diwarnai dengan keikhlasan, dikendarai degan ridho, maka KH. Ardani pulang ke kampung halamanya, ke tempat Ibu Tiyeum yakni di Kampung Sasak. Tak lama setelah itu, Ki Daim, seorang paman, ayah, orangtua dari KH. Ardani turut serta meninggalkannya dan menghadap sang pencipta.

Kemudian, pada usia KH. Ardani yang ke-20 tahun, KH. Ardani merasa terketuk hatinya untuk berdakwah dengan lebih serius. Sebelum itu, KH. Ardani memang sudah berdakwah dengan cara mengisi pengajian dari satu kampung ke kampung lainnya.

Namun, kali ini KH. Ardani tertarik untuk mendirikan sebuah pondok pesantren yang mengajarkan ilmu agama Islam dari dasar kepada para generasi muda saat itu. Pondok pesantren Al-Falahiyah yang berdiri pada tahun 1915.

Pondok pesantren ini bersifat tradisional, di mana pesantren ini dilengkapi dengan rumah kiai, kobong atau pondok, dan majelis. Pondok Pesantren Al-Falahiyah berdiri bersebelahan dengan rumah KH. Ardani. Sama halnya dengan pondok pesantren lainnya, Al-Falahiyah pun memiliki sebuah kobong sebagai tempat bernaung para santri.

Sistem pengajaran yang diterapkan di pesantrean ini ialah Sorogan dan Bandongan. Sorogan adalah santri mengkaji kitab secara langsung berhadap-hadapan dengan kiai. Sedangkan bandongan, dalam sistem ini kelompok santri berkumpul lesehan di sebuah aula yang telah disediakan, lalu santri mendengarkan kiai membaca kitab, menterjemahkan (dengan bahasa Jawa atau bahasa daerahnya), menerangkan, sering kali mengulas dengan keterangan dan sumber-sumber dari kitab lain.

Pada tahun 1940, Pesantren Al-Falahiyah yang awalnya berdiri di Rajeg terpaksa di pindahkan ke Kampung Panggang, Kecamatan Cisoka Kabupaten Tangerang Banten. Hal itu dikarenakan Hj. Zainab, istri dari KH. Ardani telah berpulang ke rahmatullah dan KH. Ardani sendiri telah menikah kembali dengan seorang wanita yang berasal dari Kampung Panggang, Kecamatan Cisoka Kabupaten Tangerang  Banten yang bernama Umamah.

Selain itu, KH. Ardani merasa prihatin terhadap sebagian masyarakat desa dikarenakan perbuatan kemaksiatan, kejahatan dan kemusyrikan. Maka, KH. Ardani terdorong untuk berdakwah di Kampung Panggang. Pernikahannya dengan Ibu Umamah dikaruniai tujuh orang anak, salah seorang anaknya bernama Subandi. Kelak, Subandi lah yang akan meneruskan Pesantren Al-Falahiyah yang berada di Kampung Panggang, Kecamatan Cisoka Kabupaten Tangerang.

Murid-Murid

  1. KH. Ahmad Romli
  2. KH. Uwrsul Qorni
  3. KH. Subandi
  4. KH. Gombrwi
  5. KH. Mahmuddin

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pengalaman KH. Ardani mewakili ulama se-Banten untuk menghadiri Muktamar Nadhatul Ulama di Solo pada tahun 1935 dan beliau memenangkan argumen dengan ulama-ulama lainnya. Diantara hasil keputusan muktamar ini adalah pernyataan menyokong berdirinya “Madrasah Mamba‟ul Ulum” yang didirikan oleh Keraton Kasunanan Surakarta, sebagai salah satu usaha untuk mencetak kader ulama.