Biografi KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin

 
Biografi KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin

Daftar Isi Profil KH. Ihya’ Ulumiddin

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Merintis Pesantren
  4. Perjuangan beliau
  5. Mencetak Kader
  6. Karya-karya Beliau

Kelahiran

KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin adalah anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan keluarga Kyai Suhari dengan Ibu Banu Haya. Beliau lahir pada 10 Agustus 1952 di sebuah desa kecil di Kabupaten Lamongan. Lebih tepatnya di desa Parengan Maduran, Lamongan, Jawa Timur. KH.  Muhammad Ihya’ Ulumiddin lahir dan dibesarkan di keluarga yang sederhana yang dikenal fanatik islam. Dari kecil beliau sudah di didik dalam lingkungan yang agamis dari kedua orang tuanya. Semangat belajarnya tergolong tinggi terutama ilmu-ilmu agama, sebab sejak beliau masih anak-anak termasuk orang yang cinta ilmu pengetahuan, semangat belajarnya tak pernah padam sebagaimana ulama-ulama besar Nusantara.

Baca juga :  STAI Ma`had Aly Al-Hikam Malang

Pendidikan

 KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di pesantren Langitan dalam asuhan KH. Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahannya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di langitan kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di  YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen al Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah. Dari Habib Husen inilah KH M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah.

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di tanah haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya Sayyid Muhammad al Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya Sayyid Muhammad al Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia, tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah.

Baca juga :  SMK Nurul Haromain Pujon Malang

Perjuangan

“Setinggi apapun ilmu yang engkau capai, tetapi jika telah memasuki dunia dakwah maka kamu harus memulainya lagi dari paling bawah”, ini adalah ungkapan yang sering disampaikan Abi, sapaan akrab KH. Ihya’ Ulumiddin. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ketika mulai merintis dakwah di rumah mertua di Keputran Kejambon Surabaya Jawa Timur. Saat itu, Abi mengetik dan memfotocopikan sendiri terjamah kitab fiqih paling dasar Sullam Safinah untuk kemudian diajarkan kepada para ibu di sekitar rumah.

Jika dalam pepatah dikatakan sebaik-baik apapun bangkai ditutupi, toh baunya tercium juga. Sebaik apapun ditutupi, kejahatan pasti terbongkar. Sebaliknya juga demikian, kebaikan tidak perlu dipasarkan, diberitakan dan ditonjolkan karena manusia pasti tidak akan mampu menutup mata dari kebaikan. Becik ketitik olo ketoro, baik pasti terlihat, buruk pasti tersingkap. Allah SWT dalam firman-Nya juga memerintahkan; “Dan Katakanlah: “Beramalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”QS At Taubah:105. “…tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”QS al fath:29.

Demikianlah, meski hanya bermula dari dakwah di gang sempit di sebuah mushalla 3×4 dan selama dua tahun penuh hanya ada seorang santri bernama Ridhwan Yasin yang kini menjadi da’i penceramah dengan jam terbang sangat padat, nama Ustadz Ihya’ mulai dikenal oleh kalangan mahasiswa. Perlahan-lahan pada era 80-an itulah Ustadz Ihya’ kemudian menjadi salah seorang pioneer dakwah di kampus-kampus negeri di surabaya dan malang. Pada awal-awal kemunculan HTI, Beliau diangkat menjadi salah seorang guru pembina bersama Ustadz Abdurrahman al Baghdadi, perintis HTI.

Dakwah di kampus inilah cikal bakal yang kemudian melatarbelakangi berdirinya Yayasan al Haromain yang sekarang berpusat di Ketintang Barat Gang II. Para mahasiswa-mahasiswi, ikhwan akhowat yang dulu pernah mengaji kepada Abi dan sekarang telah tersebar di banyak kota dan bahkan negara sampai kini masih banyak pula yang terikat dan terhubung dengan Abi, dengan dakwah JDA (Jamaah Dakwah al Haromain). Keterikatan dan hubungan terasa semakin dekat ketika kajian-kajian Abi yang berpusat di pesantren Nurul Haromain dan Ketintang bisa diakses secara live lewat sebuah TV internet al Muttaqin. TV yang berpusat di Malaysia. Intensitas dakwah yang begitu padat dan hubungan yang akrab dengan kalangan kampus ini merupakan satu hal yang membedakan Abi Ihya’ dengan Ustadz dan para kiai lain ketika itu yang rata-rata menjadikan pesantren sebagai basis utama untuk merintis dakwah.

Merintis Pesantren

Selain melakukan pembinaan di kalangan mahasiswa, Abi Ihya’ juga masih aktif mengajar di beberapa pesantren di wilayah jawa timur dan sebagian komunitas masyarakat di madura. Hal demikian membuat Abi waktu itu banyak menjalani kehidupan dalam perjalanan. Setelah sekitar delapan tahun berpindah dari satu titik ke titik lain, Abi sempat mengadu kepada Sang Guru, Abuya Al Maliki; “Sampai kapan saya harus begini?” maka Abuya memberikan jawaban; “Itu semua adalah sesuatu yang memang harus dijalani, periode kamu mengenalkan dakwah (Dauratut Ta’riif) sehingga waktu sepuluh tahun lamanya” . Dan memang setelah sepuluh tahun dijalani, Abuya kemudian memerintahkan agar Abi menjadi pengasuh pesantren yang barusan selesai dibangun di desa Ngroto Pujon Malang yang pembangunannya sudah dimulai sejak tahun 1986.

Sejak tahun 1991 Abi Ihya’ pun memulai dakwah dengan suasana baru. Selain masih terus membina mahasiswa dan para jamaah di Surabaya, beliau pun menjadi pengasuh Pesantren Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain sehingga harus membagi waktu pulang pergi antara Surabaya dan Malang. Hingga kini setiap Senin sampai Kamis beliau berada di Pujon dan Jum’at sampai Ahad berada di Surabaya. Kebiasaan yang barangkali dirasakan bagi banyak orang cukup melelahkan, apalagi kondisi jalan yang semakin hari semakin padat oleh kendaraan yang sama sekali tidak dikontrol dan dibatasi jumlah populasi untuk disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas jalan. Ditambah lagi dengan bencana Lapindo yang sampai kini belum terselesaikan masalah transportasi yang diakibatkannya.

Porong – Gempol masih sering macet. Akan tetapi seperti disabdakan Nabi Saw bahwa jika ingin mensyukuri nikmat dunia maka kita harus melihat kepada orang yang berada di bawah kita. Begitulah Abi yang seringkali mengatakan bahwa beliau cuma sekali seminggu PP Surabaya Malang, sementara para sopir atau banyak lagi orang yang setiap hari PP  Surabaya Malang, atau bahkan dalam sehari lebih dari satu kali. Ya, meski bukan aktivitas yang ringan tetapi seperti dalam hikmah, jika seringkali bersentuhan maka semakin tidak terasa. Betapa berat dan melelahkan sebuah pekerjaan, akan tetapi jika sudah biasa maka tidak terasa.

Meski memiliki jadwal kegiatan yang sangat padat, beliau menjalaninya dengan ringan, gembira, dan penuh semangat, seakan-akan tanpa ada beban yang bersandar dipundaknya. Beliau mempunyai kiat khusus, setiap kelelahan yang menghampiri, beliau membandingkan dirinya dengan kesibukan  para kyai sepuh, seperti KH. Maimun Zubair pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, yang di usianya yang sudah  senja masih aktif berdakwah keliling dari satu kota ke lainnya. Tokoh lain yang sering dijadikan sumber perbandingan tak lain adalah guru tercintanya Abuya Al Maliki, waktu 24 jam hidupnya untuk mengurus santri. Dalam berbagai kesempatan Abi Ihya’ juga mengungkapkan bahwa manusia paling sibuk adalah Rasululloh SAW.

Baca juga :

Mencetak Kader

“Saya ingin mendirikan sebuah pesantren” Inilah salah satu jawaban ketika anda, para pembaca berkesempatan datang di pesantren Nurul Haromain Pujon dan bertanya kepada salah seorang santri putera di sana; “Apa cita-cita anda?” Jika latar belakang santri tersebut adalah putera seorang kiai maka itu adalah lumrah. Akan tetapi jika santri tersebut adalah anak petani maka ini sungguh harus diketahui dan diakui sebagai sesuatu yang luar biasa, hasil dari sebuah tarbiyah dakwah, bukan sekedar ta’lim.

Perlu diketahui bahwa meski telah belajar di pondok pesantren sekian lama, sangat jarang seorang santri anak petani yang bercita-cita tinggi menjadi seorang kiai, mendirikan dan merintis sebuah pesantren. Akan tetapi Abi Ihya’ Ulumiddin telah membuktikan diri sebagai seorang pendidik yang berhasil merubah tradisi pesimis seorang santri. Betapapun kebanyakan adalah anak-anak petani desa, mayoritas santri-santri beliau di pesantren Nurul Haromain memiliki cita-cita tinggi dan mulia sebagai seorang juru dakwah dengan salah satu cara mendirikan pesantren untuk yatim dhuafa’, pesantren untuk umum atau minimal Lembaga Pendidikan Islam sebagai salah satu solusi pendidikan umat Islam masa kini atau majlis ta’lim.

Sampai hari ini, para santri Nurul Haromain yang dianggap dan diperlakukan oleh Abi sebagai anak sendiri tetap menjadi ujung tombak perkembangan dakwah JDA/PERSYADHA yang telah memiliki cabang di Batam dan  hendak membuka cabang di Samarinda. Kita berharap tradisi ini tetap eksis dan terus berkembang di kemudian hari.

Apa rahasia ini semua? Sebagai seorang yang figur yang dikenal low profile dan suka merendah, Abi hanya bilang ini semua adalah berkah guru, berkah Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki. Meski demikian perlu kiranya kita membuat analisa. Dalam sebuah teori pendidikan dikatakan cara berfikir dan berperilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh ayah dan gurunya. Jika kebanyakan santri Nurul Haromain memiliki tekad menjadi seorang perintis, maka ini sangat sesuai dengan jiwa sang guru Abi Ihya’ Ulumiddin yang sejak awal menapakkan kaki di medan dakwah memiliki tekad berdiri di atas kaki sendiri.

Sejak datang dari Makkah beliau bertekad untuk merintis dakwah yang di kemudian hari membesarkan namanya dengan berjuang sendiri dari nol. Tekad bulat ini terindikasi dari sikap beliau kala itu yang secara baik-baik menolak diambil menantu seorang kiai pemilik pesantren besar. Tekad dan sikap seperti inilah yang selalu ditanamkan oleh beliau kepada para santrinya.

Imam Ibnul Jauzi, salah seorang ulama yang menjadi salah satu korban kebiadaban tentara Jengiz Khan ketika membumi hanguskan Baghdad, menulis dalam kitabnya Talbis Iblis, sebuah pengamatan bahwa sedikit sekali terkumpul dalam diri seseorang dua keahlian; ahli fiqih dan ahli hadits. Di sana beliau mencontohkan seorang ahli hadits bernama Ibnu Shaid yang ketika seorang wanita datang bertanya bagaimana hukumnya jika seekor ayam jatuh dalam sumur; apakah airnya mutanajjis atau masih tetap suci? Maka Ibnu Shaid kebingungan dan justru balik bertanya; “Mengapa sampai ada ayam jatuh ke dalam sumur?” “Karena sumurnya tidak tertutup” jawab si wanita.

Akhirnya seorang ahli fiqih yang kebetulan sedang berada di situ memberikan jawaban: “Jika air berubah maka sumur itu mutanajjis dan jika tidak berarti masih tetap bisa dipakai untuk minum dan bersuci”. Sebaliknya jika seseorang hanya mempelajari fiqih tanpa mengetahui dari manakah sebuah hukum ditelurkan dan bagaimana proses Istinbathnya maka salah satu dampak dari hal ini adalah sikap fanatik, ogah menerima pendapat lain dan cenderung menyalahkan sikap dan pemahaman berbeda dari orang lain.

Karena khawatir disebut terlalu menyanjung jika mengatakan Abi Ihya’ seorang ahli fiqih dan ahli hadits, maka di sini kami hanya perlu menyampaikan bahwa Abi Ihya’ telah berusaha menyatukan dua disiplin ilmu dalam materi pelajaran di pesantren Nurul Haromain. Secara formal kitab fiqih memang tidak dikaji, akan tetapi dengan mengkaji Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud dan Sunan Turmudzi, para santri belajar fiqih secara langsung dengan mengetahui sumber dan metode pengambilan hukum.

Sebagai contoh misalnya; karena mengikuti kajian kitab hadits maka para santri mengenal dalil larangan melihat wanita lain dan dalil kehalalan penglihatan pertama dari hadits tentang bagaimana dalam musim haji wada’ Rasulullah Saw memutar kepala Fadhl bin Abbas ra yang terbengong melihat wajah seorang wanita yang datang bertanya kepada Rasulullah Saw. Juga sabda beliau kepada Ali; “Bagimu pandangan pertama…”.

Tradisi keilmuan seperti ini membuat para santri lebih terbuka dan luas cakrawala berfikir sehingga ketika ditugaskan berdakwah hati merasa enjoy bergaul dengan semua orang islam, tanpa ada perasaan risih berhadapan dengan orang lain dengan aneka macam madzhab karakter, aliran madzhab dan latar belakang.

Dengan mempelajari hadits secara tahqiq maka bukan sekedar mengetahui bagaimana para imam fiqih empat madzhab menelorkan hukum, akan tetapi juga secara langsung mengetahui prinsip dan sikap Rasulullah Saw dalam merespon realitas yang berkembang. Mempelajari hadits berarti menyebut dan mengingat Rasulullah Saw dan seperti dikatakan para ahli suluk bahwa menyebut dan mengingat Rasulullah Saw bisa menambah keimanan. Jadi kajian hadits secara langsung adalah upaya memperkuat Aqidah sebagai modal utama berdakwah dan berjuang di jalan Allah.

Untuk memperkuat Aqidah ini maka langkah Abi dalam tabiyah kepada para santri adalah mewajibkan shalat malam dan memperbanyak dzikir. Setiap malam jam 02: 30 para santri dibangunkan untuk bersama-sama shalat tahajjud dan bermunajat kepada Allah. Membangun tradisi shalat malam di wilayah pujon yang dingin diakui sendiri oleh Abi sebagai sesuatu yang saat itu cukup berat. Akan tetapi pertolongan Allah datang sesuai kesiapan seorang hamba. Tekad untuk mencetak kader dakwah menjadikan aktivitas yang pahit berubah menjadi manis dan kini pun buah manis itu bisa dilihat dan dirasakan. Meski Abi tidak sedang berada di pujon, para santri Nurul Haromain tetap aktif melakukan shalat malam.

Baca juga :  Pesantren Nurul Haromain Malang

Karya-karya

Di sela-sela kesibukan mengajar dan berdakwah, Abi merupakan figur inovatif yang kaya kreasi. Tata ruang Pondok Pesantren Nurul Haromain misalnya, sering beliau ubah agar tidak terlihat membosankan. Tidak hanya itu, Abi juga terbilang sangat kreatif dan rajin dalm bidang tulis menulis. Karya-karyanya kebanyakan mengajarkan hal-hal yang praktis, sehingga mudah dipahami oleh semua kalangan. Karya-karya beliau yang sudah diterbitkan antara lain adalah:

1.Kaifa Tushalli
2.Tawajjuhat
3.Risalah Zakat
4.Risalah Puasa
5.Risalah Wudlu
6.Qunut Antara Pro dan Kontra
7.Risalah Jenazah
8.Risalah Dakwah
9.Imam dan Ma’mum dsb

Abi dalam menulis telah dimulai sejak masih memperdalam ilmu di Rushaifah Makkah. Saat itu ditengah kesibukan belajarnya, beliau berhasil menulis syarah (penjelasan) bait-bait nazham Aqidatul Awam, rangkaian panjang qashidah berisi tentang tuntunan ilmu tauhid, yang beliau beri judul Jala’ul Afham. Di luar dugaan, buku itu diterima oleh banyak orang, sehingga akhirnya dicetak dan beredar di Makkah. Selain banyak dikaji oleh kalangan  pesantren di Indonesia, buku tersebut juga menjadi salah satu rujukan materi ilmu tauhid di Hadhramaut Yaman. Di samping karena berkah sang guru  Abuya Al Maliki, popularitas kitab karya Abi itu seperti juga karena keikhlasan penulisnya.

Beliau memberi izin kepada siapapun yang ingin mencetak  dan mengedarkan buku tersebut, tanpa ada perjanjian apapun. Suatu saat pernah, salah satu penerbit besar datang menemui beliau meminta izin untuk menerbitkan buku itu secara besar-besaran, akan tetapi ditolak oleh beliau. Sebab, ternyata penerbit tersebut mengajukan syarat, tidak boleh ada  penerbit lain yang menerbitkan buku itu.

 

Yuk Ngaji Qur’an yang dilengkapi terjemah dan penjelasan di Laduni

KUNJUNGI JUGA