Biografi KH. Iskandar Umar Abdul Latif

 
Biografi KH. Iskandar Umar Abdul Latif

Daftar Isi KH. Iskandar Umar Abdul Latif

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Menuntut Ilmu
  4. Menuntut Ilmu Di Mekkah
  5. Pernikahan
  6. Mendirikan Pesantren

Kelahiran

KH. Iskandar Umar Abdul Latif dilahirkan pada hari kamis 1 Romadhon atau 10 November 1956. Beliau adalah putra petani biasa, hampir tak ada yang istimewa kalau di lihat dari nasab beliau. Hanya saja kakek beliau yang terkenal kaya itu suka menolong dan dermawan. Beliau sendiri sedari kecil sudah mendapat pengajaran agama dan sempat menamatkan MI di desa itu.

Baca juga :  Pesantren Darul Falah Pusat

Wafat

Romo KH. Iskandar Umar Abdul Latif wafat pada hari Minggu tanggal 19 September 2010 dan dimakamkan di tempat pesantren Darul Falah pusat Sidoarjo..

Setamat dari MI, beliau masih sangat kecil, hingga ibunya berniat mengundurkan mondok hingga tamat SMP saja. Memang benar di sana beliau tidak bias menimba air dengan timba yang besar itu. Berbekal ketawakalan semua cobaan beliau hadapi tanpa rasa putus asa bahkan berpacu terus dalam menangkis beribu rintang yang menghadang.

Mulailah beliau menekuni ilmu pada KH. Marzuki (Almarhum) dan guru-guru lainnya. Tak di hiraukan lagi betapa jauh perbedaan hidup di pesantren bila di banding di rumah . Kalau waktunya makan, beliau paksakan walau rasanya ingin muntah, ikan asin yang dulunya melihat saja jadi pusing setelah di pesantren semua jadi tak asing. Di sana beliau termasuk santri yang tekun, salah satu bukti dalam waktu lima belas hari sudah berhasil menghafal imriti. Suatu ketika beliau di utus oleh gus Kholil Ya’kub mengaji Ihya’. Semula merasa takut dan sungkan sebab pengajian itu di peruntukkan untuk ustadz-ustadz tapi karena perintah guru, akhirnya beliau ikuti dengan ihlas.

Prinsip yang beliau pakai adalah “menjalankan sesuatu dengan ihlas, istiqomah dan tawadhu’ pada guru”. Seperti dalam sholat jama’ah terutama dalam masalah belajar kemana dan dimanapun berada kitab dan buku aktif sebagai teman duduknya. Di rumahpun prinsip itu diterapkan juga. Saking senangnya dengan kitab-kitab, suatu waktu ke Ampel membeli kitab besar-besar meskipun belum dapat membacanya. Karena kelebihan itulah beliau banyak di senangi teman-teman dan guru-gurunya, sehingga banyak teman yang suka bergaul dengan beliau namun beliau selektif memilihnya.

Setelah menginjak dewasa beliau terserang penyakit kudis yang tak kunjung kikis, beliau begitu tabah menghadapinya hingga tak beranjak dari tempat tinggalnya. Setelah tamat Tsanawiyah IV tahun beliau di angkat menjadi bendaharawan. Saat menghitung uang, sepertinya hilang 50.000,- lantas izin pulang untuk mintak ganti pada kakeknya, dirumah langsung di kasih uang sebesar itu. Setelah memperoleh uang beliau langsung bertolak ke pesantren lagi. Sesampai disana uang dihitung lagi ternyata sudah betul hanya terselip. Maka ketika itu pula beliau pulang lagi untuk mengembalikan uang dari kakek tersebut. Namun karena kejujurannya, kakek menolak bahkan menghadiahinya Rp. 30.000,-.

Setelah enam tahun menyelesaikan pendidikan di lirboyo dan di tambah ber khidmah pada pesantren selama 2 tahun, timbulah keinginan untuk menambah ilmu ke Timur Tengah. Beliau yakin, keinginan itu baik dan benar maka sebanyak apapun halangan beliau bersikokoh untuk menjalaninya.
Sebelumnya kakak beliau sudah mempersiapkan “Jodoh” dari keturunan Arab dan India dan akan mengajarinya berdagang dengan di bekali mobil sedan yang ketika itu masih jarang di miliki orang. Akan tetapi beliau tidak tahu menahu tentang wanita cantik dan tidak pula tergiur dengan sedan tersebut. Akhirnya berangkatlah beliau ke Arab Saudi

Di tempat Abuya semua fasilitas terpenuhi, tapi dengan syarat waktu sepenuhnya hanya untuk belajar. Sebelum beliau mengaji di abuya, banyak sekali liku-liku yang beliau jalani. Beliau terjebak oleh teman-teman asal Indonesia yang sudah lebih dulu mukim disana, yakni beliau diajak bekerja seperti tukang cor. Memang sangat sangat besar gajinya bekerja seperti itu tapi sepertinya tiada barokahnya sedikitpun.

Setelah resmi jadi santri Abuya beliau begitu tekun dan istiqomahnya sehingga suatu saat beliau di uji keikhlasannya yakni di utus oleh Abuya untuk membagikan roti pada fakir miskin. Sepintas tugas seperti itu ringan jika dilakukan di Indonesia sebab dimana-mana orang miskin selalu ada. Namun di sana yang ada hanyalah rumah mewah dan gadung-gedung menjulang tinggi sehingga sulitlah mencari orang fakir.

Sekali lagi karena beliau berniat berkhidmah, maka hal itu di jalaninya dengan hati ihlas walaupun setelah membagi roti, pengajian sunan turmudzi pada abuya tinggal “Al-Fatihah”, bubar. Selama disana beliau menjalani haji empat kali yang sebelumnya beliau sudah pernah haji sekali pada tahun 1974 saat masih di Lirboyo. Dari situlah beliau mulai masyhur dengan sebutan Haji Iskandar.

Rencana belajar di Abuya 8 tahun, hanya dapat beliau jalani 2,5 tahun, dan terjebak bekerja 2 tahun jadi disana hanya 4,5 tahun. Kepulangan beliau bukan karena kangen atau bosan, tapi semata-mata hanyalah di sebabkan perintah Abuya, hingga Abuya mengharamkan mukim di Makkah selamanya dan tempat siapa saja, kecuali pergi haji lagi.

Berhubung KTP/iqomah beliau di tanggung oleh Syeh Yasin Al-Fadany maka beliau sowan kesana. Sebelum beliau matur, Syekh Yasin sudah mengisyarahi dengan pertanyaan “ kau tahu KH. Hasyim Asy’ari, KH. Faqih Kumambang, KH. Wahab Hasbulloh, KH. Ma’shum Lasem dan KH. Baidhowi Lasem (terakhir). KH. Mahfud Termas ?
Dari pertanyaan itu mantaplah hati beliau, sebab Syekh Yasin begitu tajam dan tanggapannya terhadap urusan beliau. Yang semula mau mengadu tentang kegundahan hatinya sebab di suruh pulang, dengan isyarah itulah beliau tinggal mangut-mangut tanda setuju.

Baca juga :  Pesantren Digital dan Transformasi Pengajaran

Pernikahan

Setiba beliau di desa kelahirannya tak lama kemudian Sayid Muhammad (Abuya) rawuh ke Malang kemudian beliau sowan kesana dan di lempar kaset. Isi kaset tersebut sangat cocok dengan maksud perintah Abuya pulang ke Indonesia yaitu “ PERJUANGAN”. Dua hal tersebut, perintah dan isi kaset sebetulnya sangat langkah dan sangat menggembirakan. Namun di tengok dari sisi lain, ada tantangan yang sangat berat, sebab desa ini sudah menunjukkan kebejatan moral yang mana disana-sini nampak pemandangan yang kurang sopan jika di teropong dengan kaca mata iman.

Mulailah beliau membenahi desanya sambil mengajar di Surabaya atas perintah Abuya dan mengajar di musholanya sendiri dengan satu tiga santri dari daerah sekitar.
Pada langkah pertama, mulailah terpikir oleh beliau yang mulai di panggil ustadz ini untuk mencari pendamping sebagai teman berjuang. Sebenarnya banyak sekali calon-calon mertua yang ingin mengambil calon menantu pada ustadz, tapi setelah istikhoroh dan pertimbangan dengan KH. Idris Marzuki dan Abuya, maka terpilihlah gadis khafidhoh putri KH. Mustofa dari Waru Sidoarjo yang bernama Umi Habibah dan di nikahkan langsung oleh Abuya di Waru Sidoarjo pada hari Kamis 27 Oktober 1983/20 Muharrom. Dengan dihadiri oleh teman-teman beliau Abna’ul Abuya dari beberapa provinsi di Indonesia.

Baca juga :  Momen Kedatangan KKN Mahasiswa INAIFAS di Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah Papua

Mendirikan Pesantren

Sambil berjalan beliau berdua merintis perjuangan dari nol, bukan warisan. Mulailah dari bangunan mushollah kecil di tambah ruangan tamu bekas gudang, beliau bikin kamar buat pemukiman santri putra.

Awal tahun 1985 santri mukim putri datang yang saat itu baru saja santri putra menempati gedung baru. Di buatlah kamar triplek sebagai tempat istirahat putri dan bekas kamar putra buat mushollah putri. Saat kemajuan nampak begitu pesat mulai akhir 1984 hingga kini sudah tertampung lebih dari seribu santri putra-putri mukimin. Menamatkan siswi Tsanawiyah 2 kali, mewisudah santri tahfidz 3 kali, dan sekali putra serta menamatkan siswi Ibtida’iyah 5 kali.

Agar perjuangan pesantren ini bisa mencapai puncaknya kini sudah banyak di persiapkan kader-kader penerus baik dari kalangan keluarga sendiri maupun santri-santri. Cita-cita ustadz, hendaklah setiap santri mampu dan mau berjuang dimana saja untuk mengisi dan memenuhi kekurangan yang ada. Di antara kader-kader tersebut yaitu munculnya beberapa pondok pesantren cabang, yang mungkin sampai sekarang berjumlah 60 cabang yang berada di wilayah Jawa Timur sampai luar Jawa.

Pondok salafiyah Darul Falah  pusat yang berada di Dusun Bendomungal Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo sampai saat ini masih exis dalam dunia pendidikan, asuhan KH Iskandar Umar Bin Abdul Latief (santri al mukarrom As Syech Abuya Sayyid Muhammad Alawi al Maliki dari Mekkah al Mukarromah) yang alhamdulillah sampai saat ini berhasil memunculkan ustadz-ustadz baru untuk memperjuangkan agama islam dengan bantuan dan dukungan dari masyarakat sekitarnya, sehingga Ponpes Darul Falah  (pusat) ini mempunyai kurang lebih 100 Ponpes Cabang yang ditempat kan di berbagai daerah di pulau jawa bahkan Luar pulau Sumatra dan yang lainnya.

 



 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya