Makna Sakinah Mawaddah wa Rahmah Menurut KH Husein Muhammad

 
Makna Sakinah Mawaddah wa Rahmah Menurut KH Husein Muhammad

LADUNI.ID, Jakarta - Hal yang sangat menarik adalah penyebutan tiga kata penting dalam Surat al Rum, ayat 21. Para melinial menyebutnya dengan simbol " Samara". Yakni Sakinah, Mawaddah, Rahmah. Lalu apakah makna dari tiga kata tersebut?.

Makna Sakinah

Pertama, kata "Sakinah". Secara literal ia berarti tenang, tenteram, nyaman atau "anteng" dan "ayem" dalam bahasa jawa. Atau dalam bahasa lain "merasa damai di hati dan pikiran". Ia adalah suasana hati yang diliputi oleh kegembiraan dan kebahagiaan sesudah mengalami kegalauan, resah, gelisah dan gejolak yang meronta-ronta. Ini adalah akibat dari hasrat-hasrat yang menuntut untuk dipenuhi atau disalurkan itu terjadi.

Hasrat-hasrat itu adalah kerinduan-kerinduan tubuh dan jiwa kepada yang dinginkan dan dirindukan. Puncak kerinduan itu adalah "ittihad", penyatuan tubuh dan ruh.

Rasa damai, indah, bahagia dan penuh kenikmatan itu harus dialami oleh keduanya. Tak boleh hanya oleh laki-laki, suaminya, tetapi juga oleh perempuan, istrinya. Karena hasrat-hasrat itu ada di dalam diri keduanya, dan perlu disalurkan. Ayat al-Qur'an menyebutkan :

هُنَّ لِبَاس لَّكُم وَأَنتُم لِبَاس لَّهُنَّ

Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami), dan kalian adalah pakaian bagi mereka…(Q.S al-Baqoroh ayat 187).

Baca juga: Fikih Kebahagiaan

Ada sejumlah tafsir atas ayat ini. Sebagian mufassir mengatakan :

هن فراش لكم وأنتم لحاف لهن.

"Mereka (istri) adalah kasurmu (suami) dan kamu adalah selimut mereka".

Sebagian lagi mengatakan :

هن سكن لكم وأنتم سكن لهن، أي يسكن بعضكم إلى بعض

"Mereka (istri) adalah "sakan" , tempat kenyamananmu dan kamu tempat kenyamanan mereka. Yakni kalian, suami-istri hendaklah saling memberi kenyamanan.

وحاصله أن الرجل والمرأة كل منهما يخالط الآخر ويماسه ويضاجعه ،

"Jadi suami dan istri hendaklah saling memberikan kenikmatan dan kepuasan seksual, serta ketenangan dan kebahagiaan jiwa".

Makna Mawaddah

Lalu Mawaddah. Kata ini sering dimaknai sama dengan "mahabbah". Yakni cinta. Tetapi sesungguhnya bisa tidak identik essensinya. Ada banyak kata yang mengindikasikan makna cinta, seperti "al-Isyq", rindu, atau "al-hawa", hasrat dan lain-lain. Orang Arab mengatakan :

المحبة هي غليان القلب وثورانه عند لقاء المحبوب،

Mahabbah adalah deburan atau gejolak hati saat bertemu dengan yang dicintai. 

Baca juga: Istri Shalehah dan Suami Shaleh Menurut KH Husein Muhammad

Ada lagi yang mengatakan :

فالحبّ هوًى في القلب، غاية ما يريده لقاء المحبوب والأنس به.

Mahabbah adalah hasrat dalam hati untuk bertemu "mahbub", yang dicintai, dan bermesraan dengannya.

Dalam kata "mahabbah" cinta terkandung makna kekaguman, pesona, keindahan, rindu, rasa bahagia dan "sejuta" rasa yang lain. Cinta selalu merupakan kata yang menyimpan mistri yang hari dimengerti oleh yang mengalaminya.

Makna Rahmah

Kata ini selalu diterjemahkan dengan kasih atau kasih sayang. Kata ini begitu populer di tengah-tengah masyarakat. Al-Qur'an menyebut kata ini sebanyak 286 buah. Ayat al-Qur'an yang sering dibaca atau disampaikan adalah :

وما ارسلناك الا رحمة للعالمين

"Dan Aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta".

Lalu apa maknanya?.

Kata ini mengandung paling tidak tiga makna. Pertama, "Riqqah fi al-Qalb", hati yang sensitif, atau hati yang peka. Dalam bahasa yang lebih populer mungkin disebut "empati". Ialah sebuah emosi merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ialah sebuah perasaan terhadap yang lain tanpa jarak.  Aku merasakan apa yang kamu/dia rasakan. Atau aku mengerti apa yang kamu/dia alami. Atau dalam bahasa puitiknya : "kau/dia adalah aku".

Baca juga: Siapa yang Jadi Pasangan di Akhirat Jika Seorang Istri Menikah Lagi?

Dalam konteks perkawinan, kata "rahmah" bermakna hendaklah suami memahami dan merasakan apa yang dirasakan istrinya, baik dalam keadaan suka maupun duka. Demikian pula sebaliknya, istri merasakan apa yang dirasakan suaminya, dalam suka dan duka.

Makna kedua adlh "al-Ta'athuf", berarti lembut atau kelembutan atau sayang. Ini berlaku dalam ucapan dan dalam tindakan. Suami istri hendaklah saling berkata dan bertindak baik, santun, bergairah, menyambut yang lain dengan wajah binar, tidak cemberut, tidak kasar dan sejenisnya.

Makna ketiga dari kata "Rahmah" adalah "al-Maghfirah", memaafkan. Dalam relasi antar personal, termasuk suami-istri, akan selalu atau acap terjadi ketidaksamaan pendapat atau kekeliruan,  kelalaian, kesalahan dan sejenisnya. Maka kasih menuntut masing-masing untuk rendah hati dan memaafkan jika ada kesalahan pasangannya.

Tiga makna itu berada dlm wilayah kemampuan manusia. Artinya bisa diusahakan. Inilah makna "Ja'ala" (menjadikan) yang membedakannya dari kata "khalaqa" (menciptakan).

"Khalaqa" (Menciptakan) adalah mengada dari ketiadaan. Dan ini wilayah kekuasaan Tuhan. Sedangkan "Ja'ala" (menjadikan) adalah mengada dari yg ada. Keberadaan atau wujud manusia adlh ciptaan Tuhan. Saling mencintai  dlm arti mawaddah, berkata-kata/bersikap lembut dan saling memaafkan adalah dalam domain ikhtiar manusia, karena itu harus diusahakan. Jadi pernikahan adalah transaksi/perjanjian suci antar laki-laki dan perempuan di hadapan Allah untuk penyatuan tubuh dan ruh, jiwa dan raga untuk sebuah cita-cita luhur. Dalam dunia sufisme penyatuan ini dikenal dengan "Ittihad", atau "Hulul". Dalam keadaan ini keduanya melebur dan hilang bentuk.

Baca juga: Cara Membela Allah Menurut Kiai Husein Muhammad

Demikian lah. Betapa indahnya penyatuan dua jiwa, hati dan pikiran itu. Dan begitulah pikiranku tentang makna kesalehan suami dan istri.

Salam

 

(KH Husein Muhammad)