Masturbasi Bagi Perempuan yang Sulit Jodoh Menurut Prof. Habib Quraish Shihab

 
Masturbasi Bagi Perempuan yang Sulit Jodoh Menurut Prof. Habib Quraish Shihab

LADUNI.ID, Jakarta – Tulisan ini merupakan tanya jawab dari 101 persoalan perempuan yang tulis oleh Prof. Habib Quraish Shihab. Di dalam tulisan ini akan menjelaskan tentang mastrubasi bagi perempuan yang sulit mendapatkan jodoh dalam pandangan Prof. Habib Quraish Shihab.

***

Saya memuliki tetangga, seorang perempuan berusai smaa dengan saya. Kami memang sudah bertetannga sejak kecil. Saya sudah menikah sejah usia 25 tahun, dan sampai saat ini ia belum menikah. Beberapa kali ia membahas soal kebutuhan biologisnya sebagai manusia normal. Apakah ada ayat atau hukum ynga mengatur mengenai perempuan yang sulit untuk menemukan jodohnya dan bagaimana dengan kebutuhan biologisnya ? Apakah ia boleh bermastrubasi demi memenuhi kebutuhan biologisnya sebagai manusia normal ?

Risnawati, Ibu Rumah Tangga, Ciledug, Jakarta

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) Mastrubasi diartikan sebagai “proses memperoleh kepuasaan seks tanpa berhubungan kelamin”. Tentu saja definisi ini dapat mencakup banyak cara sehingga tidak mudah menjawab pertanyaan anda secara hitam putih-boleh atau tidak. Pada prinsipnya al-Qur’an mencela siapapun yang menyalurkan kebutuhan seksualnya kepada bukan pasangannya yang sah dan budak-budak perempuan (baca: QS. al-Mu’minun 23: 5-6).

Tentu saja yang dimaksud dengan budak perempuan adalah pada masa lalu ketika budak perempuan masih ada. Banyak ulama yang memahami ayat ini menyatakan: Jika hanya dua cara itu yang dibenarkan, maka semua cara lainnya tidak dibenarkan, termasuk menyalurkan kebutuhan seksual melalui diri senditi.

Mereka juga meriwayatkan hadis yang menyatakan: “Terkutuk siapa yang menikahi tangannya”. Tapi ulama lain, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, salah seorang tokoh madzhab Sunni kenamaan, berpendapat bahwa mencari kepuasaan seksual melalui upaya sendiri sampai terjadi orgasme dapat dibenarkan jika dibutuhkan. Itu, menurut logikanya,  serupa dengan mengeluarkan sesuatu yang ada dalam diri seorang katakanlah seperti berbekam.

Pendapat tersebut sangat longgar, karena itu sebagian ulama kendati membolehkannya, menetapkan beberapa syarat: 1) Yang  bersangkutan tidak memiliki pasangan hidup, karena tidak mampu menikah. 2) Takut terjerumus dalam haram. 3) tidak untuk tujuan memperoleh kelezatan, tetapi untuk menyalurkan dorongan birahi yang sangat kuat. Dan 4) Hanya dilakukan sekali-sekali. Demikian, wa Allah A’lam.

Sumber: M. Quraish Shihab. M. Quraish Shihab​ Menjawab 101 Soal Perempuan Yang Patut Anda Ketahui. Ciputat Tanggerang: Lentera Hati, 2011.