Biografi KH. Hasan Besari

 
Biografi KH. Hasan Besari

Daftar Isi Profil KH. Hasan Besari

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Pengasuh Pesantren
  4. Pemikiran KH. Hasan Besari

Kelahiran

KH. Hasan Besari Lahir pada tahun 1729 M. beliau merupakan putra kedua dari Kiai Muhammad Ilyas bin Kiai Ageng Muhammad Besari dari istri pertamanya. Hasan Besari memiliki nama lengkap Kanjeng Kiai Bagus Hasan Besari. Hasan Besari hidup dan dibesarkan di lingkungan pondok pesantren, sehingga membuatnya menjadi pribadi yang alim, sosok penyabar, pandai, juga seorang ahli tirakat.

Hasan Besari Juga seorang yang gagah punya wajah yang menarik dan postur tubuh yang tegap, sehingga putri dari Pakubuwono III yaitu Bra. Murtosyah tertarik dan meminta ayahandanya untuk melamarkan untuknya. Pernikahan itu ketika Hasan Besari berumur 36 tahun. Karena permintaan putri yang disayanginya, akhirnya pada tahun 1765 M Hasan Besari dan Bra. Murtosyah menikah dan dikaruniai 6 orang putra. R.M. Martopoero, R.A. Saribanon, R.A. Martorejo, R.M. Cokronegoro, R.M. Bawadi, R.A. Andawiyah.

Dalam tradisi masyarakat Jawa ulama atau Kiai mempunyai posisi yang sangat tinggi dalam strata sosial masyarakat. Karena dalam masa pemerintahan kolonial para pemimpin kekuasaan seperti sultan dan raja lebih menaruh perhatiannya dalam politik, dan urusan agama diserahkan kepada para Kiai. Sedangkan, urusan agama ini bukan hanya soal hukum saja tapi juga termasuk yang mengatur masalah-masalah sosial, sehingga kebanyakan Kiai memiliki pengaruh yang sangat luas dipemerintahan dan masyarakat.

Begitu Juga KH. Hasan Besari sangat besar pengaruhnya pada masyarakat khususnya Tegalsari umumnya masyarakat Ponorogo dan Kasunanan Surakarta. Sampai saat ini pun namanya juga masih sangat dikenal akrab khususnya di masyarakat Ponorogo. Makamnya sampai kini masih sering dikunjungi peziarah baik dari daerah Ponorogo sendiri maupun dari luar Ponorogo.

Sejak usia muda, Hasan Besari adalah trah langsung Kiai maksudnya, Hasan Besari adalah putra Kiai Ilyas dan Kiai Ilyas adalah Putra dari Kiai Ageng Muhammad Besari, berarti Hasan Besari merupakan cucu dari pendiri pondok pesantren Gebang Tinatar yaitu Kiai Ageng Muhammad Besari. Tegalsari merupakan daerah yang sangat subur dan makmur, aman, sentosa, sehingga menjadi kiblat oleh desa-desa sekitarnya, rakyatnya rukun dan ta‟dzim kepada Hasan Besari.

Sebagai pemuka agama secara tradisional berasal dari keluarga yang berpengaruh, Ulama dan Kiai merupakan faktor pemersatu dalam tatanan sosial pedesaan. Hirokosi Hiroko mengatakan:

“Bahkan dewasa inipun, para penduduk desa mengatakan bahwa desa-desa tanpa ulama mungkin runtuh sendiri. Karena kesulitan untuk mempersatukan komunitas-komunitas yang berbeda. Beberapa ulama menerima tawaran keluarga-keluarga kaya untuk pindah ke desa-desa mereka gunamengembangkan dan mempraktikkan ilmu agamanya disana”

Nampaknya alasan inilah yang menyebabkan Sunan Pakubuwono IV dari Surakarta saat itu menetapkan Hasan Besari menjadi lurah yang mengaturtampu kepemimpinan di desa Tegalsari.

Pendidikan

Salah satu komponen terpenting dalam dunia pesantren adalah Kiai, kiai mempunyai peranan penting dalam dunia pesantren maupun masyarakat karena seorang kiai adalah public figurebagi golongan tersebut, hampir semua perkataannya dianggap sebagai sabda yang harus ditaati dan dipercaya sepenuh hati. Kiai adalah seorang pemimpin pondok dan seorang muslim yang “alim”, berpendidikan maju, yang mampu membaca, menafsirkan, serta mengajarkan al-Qur’an dan juga memberikan ulasan-ulasan terpenting dari bahasa arab.

Untuk menjadi seorang Kiai, seorang pemula harus maju melangkah melalui berbagai tingkatan. Pertama-tama biasanya merupakan kerabat dekat dari seorang kiai. Setelah merampungkan studinya di berbagai pesantren, kiai yang lebih tua melatihnya untuk membangun pesantrennya sendiri. Hal ini sama dengan KH. Hasan Besari pada awalnya Hasan Besari sebagai pengganti ayahnya yaitu Kiai Hasan Ilyas, karena dianggap oleh Pakubuwono IV Kiai Hasan Ilyas hanya menyuruh santri-santrinya memperkaya Sang Kiai, dan para santri tidak mendapatkan pendidikan tentang Agama Islam. Akhirnya Kiai Hasan Ilyas dipecat oleh Pakubuwono IV dan digantikan oleh KH. Hasan Besari.

Dalam serat Ronggowarsito diceritakan ketika Ronggowarsito bersama Ki Tanujoyo datang ke Tegalsari dan menyampaikan surat dari Kakeknya yaitu Mas Bagus Banjar atau sering disebut Raden Yosodipuro I. memang ketika Kanjeng Sinuwun Pakubuwono II lari ke Ponorogo, tak lama setelah itu ada beberapa orang ingin mengabdikan dirinya kepada Raja, dan menyusul ke Pondok Pesantren Gebang Tinatar.namun yang diterima hanya Raden Yosodipuro I, yaitu kakek dari R. Ng. Ronggowarsito. Dari situ penulis mengambil kesimpulan bahwa Kiai Hasan Besar dulu juga belajar Ilmu dari Kakeknya yaitu tentang agama, maupun tentang sastra dan juga kejawen.

Sebagai seorang Putra Kiai, Hasan Besari rupanya menyadari bahwa secara tidak langsung mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan tradisi keluarga Kiai, yang berarti harus mempersiapkan diri melanjutkan estafet kepemimpinan. Sebagai seorang yang terlahir dari Keluarga Santri, Hasan Besari telah terbiasa dengan kehidupan Pesantren yang serba sederhana bahkan bisa dibilang kurang. 

Tradisi yang lain dari sebuah pesantren yaitu tentang pendidikan sufisme. Dengan melakukan praktik-praktik ibadah seperti sholat-sholat sunah, dzikir, wirid dan rotib. Juga dengan cara tirakat, puasa-puasa sunah dan lain-lain. Pendidikan yang seperti itu nampaknya sangat memberikan kesan mendalam bagi Hasan Besari. Dikemudian hari pendidikan tersebut akan ditularkan kepada santri-santrinya salah satunya R. Ng. Ronggowarsito.

Selain belajar di pondok, proses selanjutnya seorang santri adalah menjadi pengurus pondok dalam Buku Pesantren Dalam Perubahan Sosial Dr. Manfred Ziemek.

“Dalam suatu Proses pendidikan Simultan yang hampir organis, siswa pesantren tingkat Lanjutan setelah beberapa tahun pendidikan dasar terus mengambil alih tugas mengajar santri yang lebih muda. Tahap karir yang khas dari Pesantren yaitu mengambil alih tugas administras sebagai Lurah Pondok. Menjadi ustadz Kiai Muda (dalam masyarakat lebih dikenal sebagai Gus), Badal Kiai, dan Seterusnya.”

Dalam tradisi orang-orang pesantren, naik haji merupakan hal penting dari sebuah pendidikan, selain sebagai syariat islam naik haji juga sebagai egalitas seorang santri untuk menyempurnakan ilmunya. Selain menunaikan badah, pergi ke mekkah juga dimanfaatkan oleh para ulama-ulama jawa untuk belajar tentang berbagai ilmu agama, karena mekkah dianggap sebagai pusat peradaban intelektualisme islam. 

Pendidikan KH. Hasan Besari lebih banyak dipelajari dari kakeknya dan para guru di pesantrennya. Dari guru-gurunya Hasan Besari banyak  belajar tentang ilmu Fiqih, alat, tafsir, hadist, dan juga sastra. Sebagai seorang guru dari R. Ng. Ronggowarsito, tentunya Hasan Besari dalam bidang sastra mempunyai pengetahuan yang sangat mumpuni. Khususnya dalam sastra Jawa. Mengingat R. Ng. Ronggowarsito adalah Pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat yang sangat terkenal.

Pengasuh Pesantren

KH. Hasan Besari adalah seorang tokoh ulama terkemuka di abad ke 19 M. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Gebang Tinatar Kabupaten Ponorogo.

Pemikiran KH. Hasan Besari

Dari serat Ronggowarsito karangan tim ronggowarsito tahun 1935 diceritakan bahwa:

“sareng sampun dumugi ing Ponorogo, Mas Ngabehi Ronggowarsito lajeng sowan kanjeng Kyahi Imam Besari, ngaturaken seratipun ingkang Romo Raden Tumenggung Sastronagoro, sasampunipun serat dipun tampi, lajeng sami dipun paringi pasugoto sawontenipun”

yang artinya setelah sampai di Ponorogo, mas Ngabehi Ronggowarsito menghadap dan memberikan surat dari ayahandanya Raden Tumenggung Sastronegoro, setelah surat diterima, lalu diberikan sambutan seadanya.  Berdasarkan kalimat diatas penulis mengambil sebuah pendapat bahwa titik Berdasarkan kalimat diatas penulis mengambil sebuah pendapat bahwa titik pertama yang ditekankan Hasan Besari yaitu tentang bagaimana menjamu tamu. Ketika seorang tamu berkunjung ke Pondok Pesantren Gebang Tinatar, tamu tersebut disambut dengan jamuan seadanya.

Hal tersebut masih terjaga sampai saat ini, umumnya di tengah masyarakat Ponorogo khususnya yang tinggal di Desa Tegalsari Ponorogo. Pemikiran tentang menjamu tamu ini, sesuai dengan hadist Rasulullah Saw yang artinya:

“Dan Barang Siapa beriman kepada Allah dan memuliakan Tamunya. (H.R. Bukhori dan Muslim)”

Tidak dapat dipungkiri bahwa Hasan Besari selain juga sebagai seorang yang ahli dalam mengajarkan al-Qur’an juga seorang ahli dalam Hadist di masanya. Sehingga tingkah laku yang diajarkan oleh Hasan Besari terhadap santri-santrinya selalu disandarkan dengan al-Qur’an dan As-sunah.  

Pemikiran selanjutnya yaitu setiap santri baru maka dikenalkanlah kepada semua santri-santrinya yang lama. Berikut adalah cuplikan dari Serat Ronggowarsito yang menceritakan tentang serat tersebut.

“adat ingkang sampun kalampahan saben kanjeng kyahi Imam Busyari anampeni murid enggal sedoyo muridipun lami sami dipun kelempaaken, perlu ditepangaken dhateng murid enggal ingkang nembe dateng wau sarto dipun semerepaken akrapaning babasan, dados tanduking babasanipun poro murid dhateng kancanipun, naming kantun anglampahi dhateng dawuhipun kanjeng kyahi Imam Busyari kemawon sarto lajeng sami keparingan nedha sasarengan wonten ngarsanipun kanjeng kyahi, sabibaring nedha lajeng sami kedawuhan maos kitab utawi qur‟an miturut punopo kesagedanipun piyambak-piyambak.”

Dari data di atas dapat diketahui bahwa, Kiai Hasan Besari menanamkan suatu kebersamaan yang luar biasa dengan cara mengenalkan Santri baru kepada santri lama, dengan dilanjutkan makan bersama yang disaksikan langsung oleh Kiai Hasan Besari. Selain sebagai pengenalan, makan bersama ini juga akan membuat santri mudah akrab satu dengan yang lain baik yang lama, maupun santri baru. 

Bahkan tradisi ini masih sering digunakan di pondok-pondok pesantren di masa dewasa ini, maupun di Tegalsari sendiri. Acara makan bersama ini biasanya dilakukan saat bulan Robi‟ul Awwal yaitu dalam rangka memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Ketika ada acara-acara untuk memperingati hari besar Islam yang lain. Namun sedikit berbeda, jika dahulu dilakukan oleh para santri, namun saat ini dilakukan oleh para penduduk, karena pondok yang dulu pernah berjaya di tahun 1800 an itu kini tinggal namanya saja. Yang tertinggal hanya bangunan Masjid yang masih kokoh berdiri batu bancik, dalem agung, dan beberapa situs lain. Serta sekarang ada yayasan MTs dan MA Ronggowarsito yang didirikan sekitar awal tahun 1990 an.

Pemikiran yang lain yaitu Kiai Hasan Besari menerapkan Hukum Islam di Desa Tegalsari, sehingga pada akhirnya hal ini membuat iri Desa-desa di sekitar Tegalsari dan banyak yang menirunya. Hal inilah yang membuat Sunan dari Surakarta menganggap bahwa ini adalah sebuah penyelewengan dan akhirnya Hasan Besari ditangkap dan dibawa ke Surakarta. 

Selanjutnya, setelah sampai di Surakarta Kiai Hasan Besari ditempatkan di Masjid Agung Surakarta. Setelah beberapa saat, para santri Hasan Besari banyak berdatangan untuk menengok Kiainya, sesampainya di Surakarta para santri diajak untuk mengadakan Sholawatan, dengan suara Indahnya Hasan Besari mampu memikat Putri Mustosiyah yang merupakan Putri dari Pakubuwono IV, dan terjadi pernikahan antara Hasan Besari dan Putri Murtosiyah yang menurunkan beberapa putra salah satunya Raden Cokronegoro yang menjadi Bupati Ponorogo, dan nanti menurunkan R. H.O.S. Cokroaminoto.