Biografi KH. Ahmad Yasin Gedongan

 
Biografi KH. Ahmad Yasin Gedongan

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Yasin Gedongan

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh Pesantren
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Teladan

Kelahiran

KH. Ahmad Yasin atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Yasin lahir pada tahun 1910 M, di Desa Padjajar Kecamatan Rajagaluh Kabupaten Majalengka. Beliau merupakan putra pertama dari lima bersaudara, dari pasangan Kiai Mahdor dan Ny. Suaibah

Ketiga saudara KH. Yasin wafat mendahuluinya. Sehingga putra Kiai Mahdor yang tersisa hanya dua putra yaitu KH. Yasin dan Kiai Toyib, namun tidak lama kemudian Kiai Toyib wafat terlebih dahulu.

Ayah beliau merupakan seorang kepala desa pada masa itu dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang selalu membantu Kiai Mahdor dalam kesehariannya.

Wafat

Pada tahun 1996 kesehatan KH. Yasin menurun, namun rasa sakit yang ia rasakan tidak menghalanginya untuk tetap aktif sebagai tenaga pengajar di Pesantren Gedongan.

KH. Yasin menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1996. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman umum Pesantren Gedongan bersama sesepuh lainnya yang telah lama wafat. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi isteri tercinta, putra dan puterinya, para santri, masyarakat Gedongan dan sekitarnya.

Keluarga

Karena kealiman ilmunya, KH. Ahmad Yasin dijodohkan dengan Nyai Sholihah, putri keempat KH. Siraj. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 9 putra dan putri.

Pendidikan

Sejak kecil KH. Yasin telah dididik oleh kedua orang tuanya dengan harapan agar KH. Yasin menjadi orang yang berguna bagi agama dan masyarakat. Dari riwayat pendidikannya, diketahui bahwa KH. Yasin kecil pernah bersekolah di volkshool (Sekolah Dasar Belanda) di desanya sendiri. Pendidikan formalnya terhenti dan ia lebih memilih melanjutkan pendidikannya di pesantren terutama pesantren di Jawa.

Pendidikan pesantren KH. Yasin dimulai di Pesantren Kempek selama satu tahun, dimana pondok pesantren ini adalah milik pamannya. Setelah itu, ia melanjutkan ke pesantren di Pekalongan dan belajar kepada Kiai Amir selama dua tahun, selesai mondok di Pesantren Pekalongan ia melanjutkan untuk menimba ilmu di Jombang dan belajar kepada KH. Hasyim Asy’ari.

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantrennya ia kembali ke pondok pamannya yaitu di Kempek, dengan mengabdi dan menjadi tenaga pengajar saat itu. Dalam beberapa tahun selama mondok di Pesantren Kempek ia mempunyai sahabat tedekatnya yaitu Kiai Maksum putra Kiai Siraj, kedekatannya dengan Kiai Maksum menjadikan keakraban bagi keduanya hingga pada suatu hari Kiai Maksum meminta kepada KH. Yasin untuk ikut bersamanya dan membantunya sebagai tenaga pengajar di Pesantren Gedongan.

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantrennya, ia kembali ke Pondok Pesantren Kempek tempat di mana pamannya yaitu Kiai Harun, Kiai Harun adalah salah satu Kiai di Pesantren Kempek. Pada saat itu, ia diajak oleh sahabat seperjuangan selama mondok di Kempek yaitu Kiai Maksum (putra pertama Kiai Siraj) ke Pesantren Gedongan dan dijodohkan dengan adiknya yang bernama Ny. Hj. Solihah (puteri ke empat Kiai Siraj) yang merupakan cucu Kiai Muhammad Sa’id. Kemudian setelah menikah ia dipercaya untuk menjadi sesepuh Pondok Pesantren Gedongan.

Menjadi Pengasuh Pesantren

Bersama dengan sang ayah mertua KH. Siraj, KH. Ahmad Yasin kemudian ikut membantu dalam mengembangkan Pesantren Gedongan karena kealimannya dan kecerdasannya.

Bahkan, KH. Yasin menjadi salah satu Kiai yang turut andil dalam membesarkan Pesantren Gedongan, Ender Pangenan Cirebon, beliau dikenal sebagai Kai yang membawa pembarauan di Pesantren Gedongan.

Hal tersebut, dikarenakan pada masa KH. Yasin Pesantren Gedongan mengalami perkembangan yang signifikan, terutama dalam segi pendidikan pesantren yang mulanya difokuskan kepada pengajaran kitab-kitab salaf dengan sistem klasik, dengan memakai sistem sorogan dan bandongan, ketika masa KH. Yasin didirikanlah beberapa lembaga pendidikan sebagai bentuk pembaharuan pada masa itu.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Yasin merupakan sosok kiai yang aktif di beberapa organisasi baik tingkat provinsi maupun tingkat nasional, seperti Gerakan Hizbullah, Nahdlatul Ulama.

Menurut penuturan Kiai Taufikurrahman Yasin dan Kiai Mundzir Yasin, yang merupakan putra-putra KH. Yasin, peran ayahnya di Nahdatul Ulama dan Hizbullah membuat ayahnya menjadi incaran Belanda.

Untuk menghindari penangkapan Belanda atas dirinya, KH. Yasin pun selalu berpindah tempat bersembunyi di Daerah Cidahu Kuningan, Pekalongan, dan Pegunungan daerah Kendal. Hingga wafatnya ia masih tercatat sebagai Mustasyar PWNU Jawa Barat, Rois Jam’iyah Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah Jawa Barat, dan sebagai pengurus pusat bersama Kiai Adlan Ali dan Kiai Idham Chalid.

Pada masa pemerintahan Orde Baru, beliau menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Cirebon dan Anggota Jawa Barat.

Teladan

KH. Yasin dikenal sebagai figur ulama yang sangat penting dalam mengembangkan Pesantren Gedongan. Sebagai menantu pertama Kiai Siraj. Ia yang berbekal alim dan tawadu, juga terkenal dengan semangatnya yang tinggi dalam melaksanakan kegiatan hariannya tanpa dengan rasa lelah.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya