Biografi Mama Ajengan KH. Ahmad Syuja’i Ciharashas

 
Biografi Mama Ajengan KH. Ahmad Syuja’i Ciharashas

Daftar Isi Profil Mama Ajengan KH. Ahmad Syuja’i Ciharashas

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

Mama Ajengan KH. Ahmad Syuja’i Ciharashas atau yang kerap disapa dengan panggilan Mama Ciharashas lahir pada 15 Juni 1910 M, di Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Gojali SIngapraja dan Ny. Hj. Hafsah.

Pendidikan

Mama Ciharashas memulai pendidikan dengan belajar di sekolah desa dan Vervolg School (sekolah Belanda) pada 1926-1927. Setelah selesai, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di berbagai pondok pesantren, diantaranya Pesantren Sumursari Garut dari tahun 1927-1928, kemudian nyantri ke Pesantren Gentur yang diasuh KH. Mama Ajengan Ahmad Syatibi (Mama Kaler) dan Mama Ajengan KH. Ahmad Kurtubi (Mama Kidul) mulai tahun 1929-1938.   

Kemudian ia berguru kepada KH. Raden Husen (Mama Ciajag) bin KH Ahyad Cianjur, KH. DJunaidi Tangerang, serta kepada para habib, di antaranya Habib Ali Al-Attas, Bungur, Cikini, Jakarta, Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Mama Ciharashas kurang mendapat perhatian dalam sejarah NU. Padahal ia, melalui pesantrennya, adalah pemasok kiai-kiai yang menjadi pengurus NU di Priangan Barat.   

Jika ditelusuri, Rais Syuriah PCNU di Priangan Barat adalah didikan Mama Ciharashas. Sebut misalnya Rais Syuriyah PCNU Sukabumi KH. Mahmud Mudrikah Hanafi (Pengasuh Siqoyatur Rohmah, Selajambu), almaghfurlah KH. Zezen Zainal Abidin (Pengasuh Pesantren Az-Zainiyah, Nagrog), KH Abdullah Mukhtar (Pengasuh An-Nidzom Panjalu), Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung KH Tajuddin Syubki dan lain-lain. 

Mama Ciharashas pun masuk NU tidak sagawayah (sembarangan). Ia dianjurkan aktif di NU oleh tiga habib jempolan dan satu kiai. Tak heran, sejak masih santri KH. Ahmad Syatibi Gentur (Mama Kaler), Mama Ciharashas sudah memiliki Kartanu.    

Menurut santri mama Ciharashas, KH. Abdul Aziz Hidayatullah, pada buku Riwayat Hidup KH. Muhammad Syuja’i (Mama Ciharashas) bin Haji Ghojali Singapraja, Mama Ciharashas dianjurkan masuk dan aktif di NU oleh KH. Mansur Jembatan Lima, Jakarta (Guru Mansur). Bahkan Guru Mansur menganjurkan harus punya KARTANO (sekarang Kartanu).   

Begitu pula setelah Mama Ciharashas mendirikan Pesantren Asy-Syuja’i, banyak dukungan dari masyayikh agar menjadi pengurus Nahdlatul Ulama. Anjuran itu didukung Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi, dan Al-Habib Utsman Al-Idrus, Bandung.  

“Ketika Habib Utsman Al-Idrus, menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, dengan pendirian yang teguh, dilandasi ilmu agama yang kuat dan mendalam, serta desakan para masyayikh, maka dengan keputusan bulat, Mama Ciharashas menjadi Pengurus PCNU Kabupaten Cianjur,” ungkap buku itu yang diterbitkan dalam rangka Haul Mama Ciharashas pada 1434/2013.    

Kemudian Mama Ciharashas diangkat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, hingga akhir hayatnya pada 20 Dzulqadah 1403 H atau 28 Agustus 1983 M.  

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya