Biografi KH. Tubagus Muhammad Asnawi Caringin

 
Biografi KH. Tubagus Muhammad Asnawi Caringin

Daftar Isi Profil KH. Tubagus Muhammad Asnawi Caringin

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Sosok Pendekar
  6. Kisah saat di Penjara

Kelahiran

KH Tubagus Muhammad Asnawi lahir pada tahun 1850 M di kampung Caringin Banten. Beliau merupakan putra dari pasangan Abdurrahman dan Ratu Sabi’ah.

Nasab beliau dari jalur ayah bersambung sampai kepada Sultan Banten, sedangkan dari pihak ibu, nasab beliau sampai ke Sultan Agung Mataram.

Wafat

KH. Asnawi wafat pada tahun 1937. Jenazah beliau dikebumikan di Masjid Salafiah. Makamnya hingga sekarang tidak pernah sepi dari para peziarah.

Pendidikan

Sejak usia 9 tahun, Asnawi sudah dikirim ayahnya untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah.  Di sana ia berguru kepada Syekh Nawawi Al-Bantani bersama santri-santri asal Indonesia diantaranya Kiai Cholil Bangkalan, Hadratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari, dan lain-lain.  Selain belajar ilmu-ilmu agama, ia juga belajar tarekat kepada Syekh Abdul Karim Tanara, ulama Banten yang bermukim di Makkah.  

Mendirikan Pesantren

Setelah mengaji bertahun-tahun di tanah suci, Asnawi pulang ke kampung halamannya pada tahun 1870. Untuk mengamalkan dan menyebarkan ilmunya, ia mendirikan pesantren di kampung tersebut. Pesantren tersebut dikenal dengan ilmu fiqih, tasawuf, dan ilmu beladiri. 

Ketika gunung krakatau meletus, ia beserta keluarganya selamat dengan mengungsi ke kampung Muruy, Menes. Sayang seluruh pesantrennya di kampung Caringin hancur lebur. Ketika  kembali lagi ke kampung halaman dari pengungsian, ia membangun ulang pesantrennya. Serta mendirikan masjid yang diberi nama masjid Agung Assalafi, atau menurut sumber lain Salafiah.

Arsitektur Masjid Salfiah merupakan campuran dari unsur lokal dan luar. Unsur lokal terlihat dari atapnya. Sementara unsur luar terlihat dari bentuk jendela dan pintu dengan ukuran relatif besar. Juga pilar-pilar yang mengelilingi masjid. 

Konon kayu untuk masjid tersebut dibawa oleh Asnawi dari Kalimantan. Sebelumnya, kayu tersebut tidak bisa ditebang. Kalaupun bisa ditebang, pohon tersebut muncul kembali. Setelah berdoa, pohon itu bisa ditebang dan dibawanya ke Caringin. Masjid tersebut masih berdiri sampai sekarang.  

Pada tahun 1925, ia mengerahkan santri-santrinya untuk turut membangun jalan antara Labuan dan Carita.

Sosok Pendekar

KH. Asnawi dikenal sebagai ulama yang gigih menentang penjajahan Belanda. Ia mengorganisir para jawara Banten untuk menentang penjajahan.

Kisah saat di Penjara

Pada tahun 1926, KH. Asnawi dan keluarganya dipenjara pemerintah kolonial Belanda. Mula-mula dipenjara di Tanahabang Jakarta, kemudian Cianjur. 

Selama di pengasingan, ia tetap berdakwah dan mengajarkan tarekat ke masyarakat Cianjur.  Sementara anaknya, KH. Mohammad Hadi dan menantunya, KH. Akhmad Khatib yang juga ikut memberontak dibuang ke Digul hulu, Papua sekarang.

Kecintaannya akan perjuangannya terhadap ilmu agama melalui pesantren, penjara tidak membuatnnya jera. Dari dalam penjara, Asnawi meminta dua orang cucunya yang kakak beradik, yaitu KH. Tubagus Muhammad Muslih dan KH. Tubagus Ahmad Maemun untuk membangun dan meneruskan kembali pesantren Caringin.  Hingga pada tahun 1930 berdirilah madrasah Masyarkul Anwar yang terletak di di depan Masjid Salafiah.  Setahun setelah berdirinya madrasah atau tepatnya pada tahun 1931, KH Tubagus Muhammad Asnawi bebas dari penjara.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya