Biografi KH. Abu Syuja' Wonosobo

 
Biografi KH. Abu Syuja' Wonosobo

Daftar Isi Profil KH. Abu Syuja' Wonosobo

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Sosok Ulama Besar
  4. Penyebar Agama Islam

Kelahiran

KH. Abu Syuja' dilahirkan di Wonosobo, Jawa Tengah.

Wafat

KH. Abu Syuja' wafat pada tahun 1975, di Wonosobo, Jawa Tengah.

Sosok Ulama Besar

Mbah Mun menyebutkan bahwa KH. Abu Syuja’ adalah ulama besar pada zamannya. Di antara karomahnya adalah pada suatu saat Mbah Mun tengah menghadiri takhtiman Al-Qur'an dalam rangka peringatan haul Abu Syuja'. Tiba-tiba beliau masuk ke ruang shalat dan melaksanakan shalat di situ. Selesai shalat beliau ngendika ke hadirin baru saja melihat KH. Abu Syuja’ sedang shalat dhuha...

Kebesaran KH. Abu Syuja’ tidak banyak terekspos memang, tapi murid Kiai Syuja' bertebaran dimana-mana. Rata-rata yang ngaji dengan KH. Abu Syuja’ menjadi kiai di daerah asalnya. 

Penyebar Agama Islam

Sepulang dari pesantren, KH. Abu Syuja’ mendapati desa tempat tinggalnya masih memiliki tradisi yang kurang baik antara lain yaitu memberi sesajen di tempat-tempat yang dianggap keramat contohnya di perempatan jalan dan pojok desa. 

Dari cerita yang berkembang turun-temurun konon desa tersebut diawasi oleh sejenis kerbau raksasa yang akan muncul dan merusak desa kalau tidak diberi sesajen berupa kepala kerbau yang ditanam di perempatan jalan dan di sudut kampung. 

Inilah mengapa kampung tempat KH. Abu Syuja’ tinggal dikenal juga dengan nama Munggang Siwarak (Warak=kerbau raksasa). Prosesi dilakukan dengan iringan rebana klasik jawa (dikenal dengan sebutan "terbang") dan tari-tarian. Masyarakat setempat pada saat itu juga masih jauh dari menjalankan syariat agama Islam. 

Menanggapi perilaku masyarakatnya yang belum mencerminkan budaya Islam KH. Abu Syuja’ pun memiliki strategi tersendiri. Ia sengaja mengikuti kegiatan-kegiatan di kampungnya. Perlahan-lahan model doa versi Jawa diganti dengan doa versi arab warisan ulama. 

Setiap hari ia berdakwah kepada masyarakat sekitar lewat pertemuan-pertemuan dan pengajian kecil yang dilaksanakan di rumahnya. 

“Ayo do kumpul-kumpul kene podo ngaji karo wedangan tinimbang do jangongan nang prapatan,” ujarnya kepada para pemuda dan masyarakat setiap kali masuk waktu senja hari.

Bukannya tanpa tantangan, banyak tokoh tradisional yang menentang tindakan KH. Abu Syuja’. Mereka khawatir ketokohan dan kewibawaan mereka akan pudar seandainya tradisi yang sudah lama berlangsung dihilangkan.

Namun dengan kecakapan KH. Abu Syuja’ merangkul mereka baik dengan pemahaman maupun musyawarah perlahan-lahan mereka mulai mengerti dan bahkan akhirnya ada yang malah menjadi pendukung setianya. 

Pada perkembangan selanjutnya, ia menganjurkan kegiatan sesajen diganti dengan seni pencak silat dan tetap diiringi rebana dengan lagu khas shalawatan. Mirip-mirip ketika Rasulullah menerima Islamnya sahabat Umar Bin Khathab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka yang tadinya menghalangi kemudian menjadi pendukung setia dan berperan sangat signifikan dalam syiar Islam. Termasuk berperan aktif juga dalam hal penggalangan dana pada saat pembangunan masjid dan pesantren. 

Akhirnya setelah berganti satu generasi agama Islam telah menampakkan sinarnya di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, khususnya di wilayah utara. Masjid-masjid berdiri cukup megah dan selalu dilakukan renovasi. Pesantren bertebaran di mana-mana.