Biografi KH. Umar Sumberwringin Jember

 
Biografi KH. Umar Sumberwringin Jember

Daftar Isi Profil KH. Umar Sumberwringin Jember

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama
  7. Melawan Penjajah
  8. Aktif di Politik

Kelahiran

Abd. KH. Mushowwir atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Umar lahir pada tahun 1904 M, di Desa Suko, Kec. Jelbuk, Kabupten Jember. Beliau merupakan putra sulung dari 4 bersaudara, dari pasangan Kiai Ahmad Ikram dan Nyai Aminah.

Wafat

Setelah menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, KH. Umar sakit-sakitan. Hingga pada tahun 1982, beliau meninggal dunia.

Keluarga

KH. Mushowwir melepas masa lajangnya dengan menikahi Shofiah, putri satu-satunya KH. M. Syukri. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 5 anak. Putra-putri beliau diantaranya, Nyai Hj. Masturoh Umar, KH. Khotib Umar, KH. Muzammil Umar, KH. Misbah Umar dan KH. Lutfi Umar.

Pendidikan

Sejak kecil, KH. Mushowwir belajar mengaji kepada ayahnya sendiri. Menjelang remaja, KH. Mushowwir dikirim ke Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, Madura.

Di pesanteren asuhan KH. Abdul Hamid tersebut, KH. Mushowwir dikenal sebagai santri yang sangat setia mengabdi kepada gurunya. Misalnya, setiap hari ia menimbakan air untuk memenuhi bak mandi sang guru.

Diantara teman sepondok KH. Mushowwir  saat itu yang kemudian jadi “orang” adalah KH. As’ad Syamsul Arifin (Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo), KH. Zaini Mun’im (Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo) dan KH. Junaidi Asmuni (Pesantren Bustanul Makmur, Genteng, Banyuwangi).

Setelah cukup lama nyantri, KH. Mushowwir pulang ke Jember. Namun karena KH. Mushowwir selalu dahaga akan ilmu, maka ia pun mondok di Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Kec. Sukowono, Jember yang diasuh paman iparnya, KH. M. Syukri. Tak berapa lama kemudian, KH. Mushowwir pindah ke Pesantren Al-Wafa, Tempurejo, Jember asuhan KH. Abdul Azis, yang tak lain putra gurunya, KH. Abdul Hamid. KH. Mushowwir lalu pindah ke Pesantren Ya’kub Hamdani di Siwalan, Panji, Sidoarjo asuhan KH. Khozin.

Sebenarnya KH. Mushowwir masih ingin mondok beberapa lama lagi di situ, namun seiring berjalannya waktu, Pesantren Raudlatul Ulum membutuhkan tenaga untuk memutar roda pesantren.  Lebih-lebih, KH. M. Syukri sudah sakit-sakitan. Maka, KH. Mushowwir memutuskan pulang ke Sumberwringin setelah  beberapa bulan menginjakkan kaki di Siwalan.

Menjadi Pengasuh

Setelah KH. M. Syukri, KH. Mushowwir ditahbiskan menjadi pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum, menggantikan mertuanya. Beberapa waktu kemudian, KH. Mushowwir naik haji. Setelah 7 bulan, baru pulang dengan nama baru; KH. Muhamamd Umar. Orang kemudian biasa memanggilnya KH. Umar.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Nama KH. Umar, memang tidak terlalu populer. Namun di zamannya, kiai yang satu ini cukup terkenal sebagai pejuang NU yang tangguh. Dialah ayahanda Kiai Khotib Umar, Jember. Nama yang disebut terakhir ini, sudah tidak asing di telinga warga NU, khususnya Jawa Timur.

Selain dikenal sebagai sesepuh NU, Kiai Khotib Umar juga dikenal dekat dengan Gus Dur dan keluarganya. Setiap kali berkunjung ke Jember, hampir dipastikan Gus Dur singgah di Sumberwringin, sebutan Pesantren Raudlatul Ulum asuhan KH. Umar.

Melawan Penjajah

Ketika KH. Umar memimpin pesantren, serdadu Belanda tengah giat-giatnya menancapkan kuku kekuasaannya. Tak urung, Raudlatul Ulum pun jadi markas perjuangan di bawah komando KH. Umar. Karena perannya itu, ia pernah ditahan Belanda. Selain santri, ada sektiar 250 pejuang yang bermarkas di pesantren tersebut. Siang mengaji, malamnya bergerilya.

Saat Jepang berkuasa, KH. Umar juga menjadi bidikan serdadu Jepang. Itu karena ia berani menolak melakukan Saikere. Sebuah gerakan dengan membungkukkan badan 90 derajat selama beberapa detik untuk menghormati raja Jepang, Tenno Heika.

Aktif di Politik

Setelah Indonesia merdeka, partai Islam bermunculan. Diantaranya NU, Masyumi, Perti dan SI. Sebagai ulama berpengaruh, KH. Umar tak luput dari incaran partai Islam tersebut. Dan itu jelas membuatnya bingung. Karena itu, KH. Umar kemudian beristikharah untuk menentukan pilihan.

Dalam sebuah mimpi, seolah ia tengah mengikuti rapat akbar, dan di situ semua lambang partai Islam, terpampang jelas. Rasulullah SAW yang juga menghadiri rapat tersebut memberikan isyarat kepada KH. Umar. “Semua partai ini baik, namun yang paling baik adalah itu (sambil menunjuk lambang NU),” katanya.

Maka sejak itu (1977), mantaplah pilihan KH. Umar terhadap partai NU. Iapun dilantik sebagai Rois Awwal oleh KH. Ahmad Shiddiq. KH. Umar all out berkampanye untuk partai NU. Namun dalam setiap kampanye, KH. Umar intinya berdakwah. Karena itu, orasinya sangat santun, dan tak pernah menyinggung partai lain, apalagi mencaci. Teman seperjuagannya dalam partai NU antara lain; KH. Zaini Mun’im, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Dhofir Salam (Pesantren Al-Fattah, Talangsari), KH. Ahmad Mursyid dan KH. Abd. Hannan (Tanggul).

Kendati sibuk di politik, namun KH. Umar tak pernah melalaikan kewajibannya mengelola pesantren. Baginya, mendidik santri adalah tugas utama.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya