Biografi KH. Oding Muhammad Abdul Qodir

 
Biografi KH. Oding Muhammad Abdul Qodir

Daftar Isi Profil KH. Oding Muhammad Abdul Qodir

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Oding Muhammad Abdul Qodir atau yang biasa akrab disapa dengan Engkang atau Apa lahir pada pada tanggal 8 Agustus 1942, di Tasikmalaya. Beliau merupakan putra dari pasangan Ahmid dan Encum.

Wafat

Engkang wafat pada hari Jumat 7 Desember 2018 pukul 19:05 WIB pada usia 78 tahun di Rumah Sakit Jasa Kartini Tasikmalaya. Berita kewafatannya yang tersebar di grup Whatsapp Info Muqimin Muqimat MU yang menjadi media interaksi dan informasi bagi para alumnus Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Mulyasari Tamansari Tasikmalaya.

Berita tersebut mengundang kesedihan yang mendalam bagi para murid, keluarga dan masyarakat yang mengenalnya. Mereka berdoa, KH. Oding Muhammad Abdul Qodir wafat dalam keadaan khusnul khatimah, diampuni semua dosanya, dan diterima amal ibadahnya.

Keluarga

Pada tahun Tanggal 8 Agustus 1970, Engkang menikah dengan Epon Muhlisatul Anwariyah.  Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai tujuh anak diantaranya Ai Nuraisyah (almarhum), Ade Ida Nurfarida, Rosyad Nurdin, Iip Nafisah, Ujang Alawil Hadad Abdussalam, Ali Maemuham (Almarhum), dan Cucu Mahmudah.

Pendidikan

KH. Oding menghabiskan pendidikannya belajar di beberapa pondok pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Al Ihsan, Pesantren Al-Ihsan Ashorfiyah Ciharashas Tasikmalaya, Pondok Pesantren Bantar Gedang, Pondok Pesantren Cihaji, Pondok Pesantren Sadang Garut, Pondok Pesantren Darul Qur’an Cianjur.

Menjadi Pengasuh

Engkang mempunyai peran dan andil yang besar baik di Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum maupun di masyarakat. Di Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum, selain sebagai sesepuh, ia juga yang sekaligus sebagai Dewan Kiai Pengajar. Adapun di masyarakat, selama 48 tahun menjadi Ketua DKM. Selain itu ia juga menjadi Kepala Madrasah Diniyah selama 23 tahun.

Peranannya dalam bermasyarakat selama hidupnya selalu diabdikan untuk keumatan. Tidak hanya di lingkugan masyarakat Desa Mulyasari yang menjadi tempat tinggalnya, melainkan juga ke lingkungan masyarakat sekitar, seperti Desa Babakan Jati, Ciburuyan, Salamitan, Sumur Haur, Bojong Herang, Sumur Dago dan Sukasirna.

Amaliah yang selalu dibiasakan oleh Engkang adalah shalat awal waktu dan khatam Qur'an dalam seminggu sebanyak dua hingga tiga kali. Beberapa ungkapan hikmah dan nasihatnya adalah Rek di mana wae  gaul, ulah jauh jeng masjid (Di mana saja bergaul, jangan jauh dari masjid); Sing gede pangampura ka jalma anu bodo (Berbesar maaflah kepada orang yang bodoh).

Nasihat lainnya, Tong cape mikiran urusan dunia (Jangan lelah memikirkan urusan duniawi); Sing jaradi ahli kahadean naon bae anu mampu (Jadilah ahli kebaikan apa saja yang mampu); Saalitken carios, seerken damel (Sedikitkanlah berbicara, perbanyaklah kerja).

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Semasa hidupnya Engkang aktif berorganisasi, di antaranya di Gerakan Pemuda (GP) Anshor, di Kecamatan Tamansari, beliau sebagai Ketua Pendidikan dan di MUI Mulyasari.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya