Biografi KH. Abdul Qodir Rozy

 
Biografi KH. Abdul Qodir Rozy
Sumber Gambar: Wandi Ruswannur/Dok. Laduni.ID

Daftar Isi Biografi KH. Abdul Qodir Rozy

  1. Riwayat Kelahiran
  2. Wafat
  3. Riwayat Pendidikan
  4. Perjalanan Dakwah
  5. Pengabdian di Bidang Pendidikan, Pemerintahan dan Politik
  6. Kitab-Kitab yang Pernah Ditulis
  7. Pembimbing dan Mursyid Ihya Ul Ihya

Riwayat Kelahiran

KH. Abdul Qodir Rozy lahir dikampung Cibadak Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur tanggal 15 September 1935 Masehi bertepatan dengan 29 Jumadil Akhir 1345 Hijriyyah. Bagi kebanyakan masyarakat Cianjur, siapa yang tidak mengenalnya? Dari kalangan masyarakat biasa hingga pejabat, pelajar hingga mahasiswa, aktivis hingga politisi apalagi dikalangan pesantren baik santri, ustad hingga para ulama. Beliau dikenal sebagai sosok ulama kharismatik, memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran budi pekerti yang melekat pada dirinya. Tidak heran KH. Abdul Qodir Rozy dikenal, dikagumi dan dihormati oleh berbagai kalangan mayarakat Cianjur.

Bagi sebagian masyarakat Cianjur dan sahabatnya, KH. Abdul Qodir Rozy lebih dikenal dengan nama Ustad Koko atau bagi kalangan pesantren/santri memanggil beliau dengan sebutan Mama Syaikhuna. Nama tersebut beliau sandang tidak terlepas sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan masyarakat dan santri yang menjadi muridnya karena kedalaman ilmu dan kemuliaan akhlaknya.

Kecintaan Syaikhuna terhadap ilmu, tidak terlepas dari gemblengan orangtuanya. Diceritakan dalam buku biografinya yang ditulis oleh Ust. Rusli bahwa ketika Syaikhuna masih duduk di Sekolah Dasar, orang tuanya mewajibkan beliau untuk mengikuti pengajian kitab kuning dengan jadwal lima kali mengaji dalam satu hari. Sehingga waktu bermain sangat jarang dialami oleh beliau sewaktu masih kecil. Karena jadwal dan sistem pengajian yang diterapkan oleh orang tuanya sangat disiplin, tidak jarang dalam mengikuti pelajaran dari ayahandanya tercinta, sambil meneteskan air mata karena sangksi yang diterima akibat mengantuk sewaktu mengaji ataupun belum menghapal pelajaran yang diberikan. Akan tetapi dengan tekad yang sangat kuat untuk bisa mengaji, jiwa yang ikhlas serta semangat yang tidak mengenal putus asa, beliau jadikan modal utama dalam tholabul ilmi.

Adalah suatu perkara yang cukup langka dimana orangtua mampu memberikan pendidikan kepada anak secara khusus sampai menguasai beberapa kitab dengan pemahaman yang baik. Begitulah hal yang terjadi terhadap Syakihuna dalam pendidikan bersama kedua orangtuanya. Dengan rasa tanggung jawab yang tinggi kedua orang tua beliau mendidik dan mengajar sampai beliau berusia enam tahun.

Alhamdulillah, berkat perjuangan yang kuat, kesabaran dan ketekunan dalam mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Ayah Bundanya, semenjak kecil hingga mencapai usia enam belas tahun, beliau dapat menguasai seluruh pelajaran yang disampaikan kepadanya.

Di antara kitab-kitab yang diajarkan kepada beliau dari semenjak kecil adalah Al-Qur’an bit Tajwid, Safinatunnaja, Tijanuddarori, Jurumiyyah, Riyadlul Badliah, Jauharuttauhid, Kholid Azhari, Fathul qorib, Bidayatul Hidayah, Irsyadul Ibad dan Minhajul Abidin. Dengan kitab-kitab inilah beliau mendapatkan pemahaman dasar yang cukup baik dan kemudian dilanjutkan mengkaji lebih mendalam dipondok-pondok pesantren yang lain. Jika kita lihat dari kitab kitab yang dipelajari mulai dari kecil, beliau memang lebih banyak mempelajari kitab kitab fiqih, sehingga tidak ragu lagi kalau kita mengatakan bahwa beliau seorang ulama yang faqih. Kecerdasan pemikirannya memang diakui oleh semua lapisan masyarakat, khususnya dikalangan masyarakat pesantren.

Wafat

KH Abdul Qodir Rozy atau akrab disapa Ajengan Koko ini wafat pada usia 86 tahun pada, Ahad 28 Februari 2021.

Riwayat Pendidikan

Enam belas tahun sudah beliau mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Kitab-kitab yang telah diajarkan dapat beliau kuasai dengan baik. Selanjutnya Syaikhuna muda mendapat restu untuk melanjutkan pendidikan di beberapa Pondok Pesantren yang berada di Cianjur. Haus akan ilmu dan motivasi yang tinggi dalam mempelajari suatu ilmu adalah sifat yang melekat pada dirinya. Hari demi hari dijalaninya dengan penuh ketekunanan, rajin dan selalu menghapal pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya. Seringkali Syaikhuna menghabiskan waktunya hingga larut malam untuk melakukan thola’ah kitab-kitab yang telah dipelajarinya.

Pondok Pesantren tempat beliau menimba ilmu diantaranya Pondok Pesantren Gentur (Warungkondang) pimpinan KH. Abdul Qodir, dimulai pada tanggal 24 Mei 1951. Dalam jangka waktu kurang lebih satu tahun, beliau dapat menguasai beberapa kitab besar, antara lain: Alfiyyah, Sulamul Munawwaroq, Waladiyah, Rosyidiyyah, Fathul Wahhab, dan lain lain.

Pada tahun 1952, Syaikhuna melanjutkan pendidikannnya di Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah Cilaku Cianjur yang dipimpin oleh Syaikhuna Al-Alim KH. Ahmad Munawwar. Beliau termasuk ulama yang faqih, dan menjadi salah satu guru Syaikhuna yang paling dikagumi. Selama di Pondok Pesantren Cilaku, jiwa kepeminpinan Syaikhuna sudah terlihat, dipilihnya sebagai rois atau lurah pondok menjadi salah satu bukti kepemimpinannya. Suka-duka ketika memimpin teman-teman di pondok, menjadi pengalaman yang berharga di masa yang akan datang.

Adapun kitab-kitab yang dipelajari selama lima tahun di Pondok Pesantren Cilaku yaitu  Alfiyyah, Yaqulu, Sudzurudz dzahab, Tarshif , Tafsir Jalalain, Tafsir Munir , Jam’ul Jawami, Jauhar Maknun, Samarqondi, Al Iqna, Fathul wahab, Rohbiah dan Minhajuttholibin. Setelah dirasa cukup menimba ilmu di Pesantren Cilaku, sempat Syaikhuna bertekad untuk menimba ilmu di luar Jawa Barat, tetapi mengurungkan niatnya karena ayahanda tercinta hanya mengamanatkan untuk belajar di Bumi Pasundan saja.

Lebih lanjut diuraikan oleh Ust. Rusli dalam buku biografi Syaikhuna, nama-nama guru yang banyak membimbing beliau hingga usia enam belas tahun yakni kedua orang tuanya Hj. Hindun binti Abdurrahman (Ibu) dan KH. Fakhrur Rozy bin KH. M Yunus (Ayah), KH. Mansur, KH. Cholid, KH. Masduki dan KH. Ahmad Dimyati. Adapun semasa di Pondok Pesantren Gentur yaitu KH. Abdul Qodir dan KH. Rahmatullah. Guru ketika di Pondok Pesantren Cilaku yaitu Ahmad Munawwar bin KH. M Rois As Silagi, KH. Majduddin, KH. R. Abdullah bin Nuh, KH. Ahmad Suja’i, KH. Dahlan, KH. Habib Ali Hasan Al-Zufri dan Ustadz Acep Ibrahim (pengajar Al-Quran). Dari Guru-guru inilah, beliau mengkaji tambahan banyak kitab diantaranya Ihya Ulumiddin, Ana Muslim sunni syafii, Mizan Kubro, Nubdzatul Mujmal , Al Musthasfa, Lughoh Arabiyyah dan Tajwid. Tidak heran keilmuan beliu sangat mendalam, ditambah dengan hiasan budi pekerti, juga kesahajaan dan kerendahan hatinya menjadi suri tauladan bagi masyarakat dan santri-santrinya.

Perjalanan Dakwah

Bakat berdakwah muncul dari sejak beliau remaja, seringkali beiau mengisi pengajian dan ceramah di hadapan para santri. Kemampuan berdakwahnya semakin terasah dan memulai ceramah dihadapan masyarakat umum sejak beliau berumur dua puluh satu tahun. Selanjutnya berkembang ke beberapa daerah di kabupaten Cianjur. Dalam urusan berdakwah, yang paling menarik bahwa Syaikhuna memiliki tokoh idola dalam berdakwah, yaitu :

  1. Mama KH. Ahmad Munawwar, dijadikan idola karena beliau sangat ahli dalam mengupas dan menguraikan masalah masalah agama dengan terperinci. hal ini menjadikan beliau sebagai sosok ulama yang ilmu keagamaannya sangat mendalam.
  2. Mama KH. Abdullah bin Nuh, dijadikan idola karena beliau mampu menyampaikan bahasa yang sangat baik kepad mustam' dengan tutur kata yang sopan dan halus juga dihiasi sastra sehingga mustami' merasakan terbawa cerita yang disampaikannya.
  3. Habib Ali Hasan Az Zufri, dijadikan idola karena beliau mampu berdakwah dengan sedikit humor, sehingga mustami' tidak merasa jenuh dalam mendengarkan ceramahnya

Pengalaman berdakwah Syaikhuna sampai ke mancanegara antara lain Belanda, Mesir, dan Arab Saudi, sedangkan pengalaman berdakwah ditanah air yaitu Papua, Jakarta dan beberapa wilayah di Jawa Barat. Ada beberapa prinsip metode dakwah yang selalu beliau pegang antara lain:

  1. Menguasai materi dakwah dengan sempurna dan mampu mendramatisirkannya
  2. Menggunakan bahasa yang sopan dan setingkat dengan keadaan mustami'
  3. Mampu mengungkapkan masalah-masalah yang berkenan dengan masalah mustam'i
  4. Tidak monoton
  5. Dan yang terpenting adalah niat yang tulus dan ikhlas karena Allah SWT.

Syaikhuna menjelaskan tentang teori malakah atau kemampuan akal (dalam kitab fawaidul makkiyyah ) yang apabila berada pada diri seorang Da’i maka sempurnalah kedudukannya sebagai seorang muballigh, yaitu :

  1. Malakatul Istishol artinya adalah kemampuan menangkap segala yang ditulis dan yang dibaca oleh orang lain.
  2. Malakatul istikhroj, artinya adalah kemampuan dalam segala makna yang tersirat
  3. Malakatul Istihdlor, artinya adalah kemampuan untuk mengembangkan segala yang telah dipelajari dan mampu menfatwakannya

Disamping yang telah disebutkan diatas, beliau juga banyak mengisi pengajian di instansi pemerintahan, swasta, pengajian alim ulama di Ciranjang, karangtengah, Mande, Cianjur, dan Cipanas. Sebagaimanapun sibuknya beliau dengan jadwal kegiatan tersebut tetap tidak melupakan pengajian dipondok pesantren terhadap santrinya apalagi kepada keluarganya.

Selain melakukan dakwah keberbagai tempat, Syaikhuna mendirikan Pondok Pesantren Al-Barkah pada tahun 1963. Bertujuan untuk lebih dapat melayani ummat serta membantu para pelajar dan mahasiswa yang datang ke Cianjur untuk mencari ilmu. Selanjutnya pengembangan pesantren dan kegiatan pengajian, dibantu oleh KH. Mahmud Rozy (almarhum), KH. Ir. Iman Muqoddas , KH. Ibih Qosim (almarhum), Ny Atty Fakriyah Rozy, Kiayi Deni Majduddin (almarhum), dan beberapa asatidz lainnya yang merupakan putra dan keponakan beliau.

Demikian perjalanan  singkat dakwah Syaikhuna dan masih berlanjut hingga saat ini. Semangat beliau dalam berdakwah dan membimbing ummat tidak pernah padam. Meskipun dalam keadaan sakit sekalipun, beliau menguatkan diri untuk tetap bisa mengajar santri-santrinya juga masyarakat.

Pengabdian di Bidang Pendidikan, Pemerintahan dan Politik

KH. Abdul Qodir Rozy terbilang seorang ulama sekaligus umaro. Pengabdiannya dalam bidang pemerintahan dimulai ketika beliau diangkat menjadi Lurah Selokpandan oleh Bupati pada tahun 1967. Bukanlah keinginan beliau untuk menjadi Lurah, tetapi atas permintaan pemerintah dan masyarakat. Besarnya keperacayaan masyarakat, menjadikan Syaikhuna menjabat sebagai Lurah dalam kurun waktu cukup lama yaitu 21 tahun (1967-1988).

Keterlibatan beliau dalam pemerintahan ternyata tidak berhenti disitu. Keterlibatannya dalam organisasi kemasyarakatan hingga partai politik, mengantarkan Syaikhuna di tahun-tahun berikutnya menjabat posisi penting di Kabupaten Cianjur dan diantaranya masih beliau jabat hingga sekarang, diantaranya:

  1. MUI Kabupaten Cianjur (Ketua Komisi Fatwa dan Hukum)
  2. Ketua BAZ Kabupaten Cianjur
  3. Rois Syuriah NU Kabupaten Cianjur
  4. Anggota DPRD Kab. Cianjur F-PKB dua periode (purna bakti)
  5. ICMI Kabupaten Cianjur (Ketua Dewan Pakar)
  6. Rektor STAINU Cianjur
  7. Dosen STAIS Al-Ianah dan salah satu pendiri STAIS
  8. Guru Besar di Pondok Pesantren Al-Ihya Bogor
  9. Pengasuh dan Mursyid pengajian Ihya ul Ihya
  10. Ketua DKM Al-Barkah

Kitab-Kitab yang Pernah Ditulis

Tradisi menulis atau menyusun kitab dikalangan ulama sebetulnya terbilang jarang ditemukan. Tetapi tidak demikian bagi Syaikhuna, tradisi sekaligus hobinya dalam menulis dan membaca ternyata membuahkan hasil karya yang bermanfaat bagi masyarakat ataupun santri-santrinya. Disela-sela kesibukannya, Syaikhuna banyak menulis buku dan kitab, juga menterjemahkan beberapa kitab klasik ke dalam Bahasa Sunda dan Indonesia di antaranya :

  1. Terjemah tanwirul hija
  2. Terjemah aqidatul awam
  3. Terjemah Jauharuttauhid
  4. Asmaul Husna
  5. Fiqih Zakat
  6. Fiqih Haji
  7. Bimbingan Ziarah
  8. Bimbingan Mengurus Mayit
  9. Arrisalah fi adillati masaili zakat
  10. Kumpulan Khutbah Jum’at tematik untuk satu tahun (2 Jilid)
  11. Fiqih Muamalah
  12. Adabul Abidin
  13. Terjemah fi zhilalil ka’bah
  14. Tajhizul Janazil Muslim
  15. Babun Nikah
  16. Masuknya Islam di Jawa Barat
  17. Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Pembimbing dan Mursyid Ihya Ul Ihya

Syaikhuna membimbing pengajian ihya ul ihya sejak tanggal 1 juli 1970 sampai sekarang. Dapat dibayangkan betapa cukup lamanya beliau membimbing pengajian dengan istiqomah. Pengajian yang pada mulanya hanya berada pada satu tempat dan hanya diikuti oleh beberapa orang saja, kini menjadi sebuah pengajian besar yang dapat dapat menjalin ukhuwah masyarakat Cianjur Kota dan sekitarnya. Pengajian ihya ul ihya dapat dikatakan telah menjadi darah daging bagi masyarakat Cianjur dan banyak yang menilai sebagai pengajian yang berhasil terus berkembang sampai hari ini.

Keberadaan Syaikhuna dalam pengajian Ihya ul Ihya merupakan mursyid terhadap jama’ahnya. Dengan kitab ihya ul Ihya, Qulyubi, Hikam beliau mampu membuat jama’ah menjadi tertarik dan terus menerus mengikuti pengajian. Diakui oleh para ulama bahwa pengajian ini memiliki khas kajian yakni Tasauf dan Fiqih. Banyak  yang mengatakan, bahwa jika syaikhuna menerangkan kitab Ihya dengan mudah difahami oleh masyarakat umum, hal-hal yang sulit dijelaskan dan dikemas sedemian rupa sehingga mampu difahami oleh seluruh jamaah. Syaikhuna Dalam mengasuh pengajian Ihya dibantu oleh :

  1. KH.R. Harun
  2. KH. Abdussalam
  3. KH Mahmud Rozy
  4. KH. Ibih Qosim
  5. KH. MZ Abidin
  6. KH. Kamaludin Azhari
  7. KH. Zainuddin
  8. KH. Deni Ramadhoni
  9. KH. Ma’mun Abdullah
  10. K. Adi Surya
  11. H. Jailani
  12. K. Deni Majduddin

Almarhum Mama KH. Abdullah bin Nuh suatu ketika mendengarkan Syaikhuna sedang menerangkan kitab Ihya dalam sebuah pengajian, dan merasa tertarik dengan metode yang disampaikan oleh Syaikhuna sehingga Mama KH. Abdullah bin Nuh memberikan saran agar pengajian  ini dilaksanakan dengan berpindah-pindah tempat.

KH. R. Abdul Halim (Ketua MUI Kabupaten Cianjur) sebagai sahabat Syaikhuna yang telah berjuang bersama lebih dari 30 tahun, beliau mengatakan bahwa ketika Syaikhuna disuguhi berbagai pertanyaan tentang suatu permasalahan baik hukum ataupun sejarah, tampak tidak pernah menghadapi kesulitan dalam menjawab atau menterjemahkan permasalahan tersebut. Beliau juga sangat mengagumi satu hal dari sifat Syaikhuna bahwa bila menetapkan sesuatu selalu tegas dan jelas, hal ini karena keyakinan ilmu yang dimilikinya. Pengajian ihya ul ihya dilaksanakan setiap pagi secara bergilir dengan tempat yang tetap yaitu:

  • Hari Jum’at di Pondok Pesantren Al-Barkah Warujajar
  • Hari Ahad di Pondok Pesantren Bojongherang
  • Hari Selasa di Masjid Agung Cianjur

Selain ketiga tempat yang telah ditetapkan, pengajian dilaksanakan secara bergilira dari masjid ke masjid, dari mushola ke mushola yang ada di Kota Cianjur, dimulai pukul 06.00-07.00 WIB. Kitab-kitab yang dikaji selain kitab Ihya Ulumuddiin juga kitab kitab fiqih  seperti fathmul muin, qulyubi, Hikam dan yang lainnya.  Pengajian ini diikuti oleh jamaah lebih dari tiga ratus orang bahkan terkadang lebih dari itu. Sampai saat ini, pengajian Ihya ul Ihya terus berjalan dan diikuti oleh jamaah lebih banyak lagi.

Demikian catatan biografi singkat KH. Abdul Qodir Rozy kami tulis, mudah-mudahan menjadi teladan bagi kita. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan kepada beliau, serta ilmu-ilmu yang telah disampaikannya menjadi ladang pahala yang berlimpah dan tidak pernah putus ila yaumil jazaa. Aaminn. Wallahu a’alam.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya