Biografi Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi

 
Biografi Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi

Daftar Isi Profil Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keturunan
  4. Kemuliaan
  5. Wara’ dan Kezuhudan
  6. Karomah

 

Kelahiran

Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi lahir di atas kapal laut pada tahun 1788 (1202 Hijriah). Orang tuanya adalah orang Hadramaut, daerah Arabia Selatan yang sekarang dikenal sebagai Yaman. Menurut Syaikh Hasan Al-Khatib, pengurus Maqam Habib Nuh, yang mendengar dari Habib Al Khair, bahwa istri Habib Muhammad (ibu Habib Nuh) melahirkan ketika badai besar dan menghantam kapal.

Pada waktu itu ayahanda Habib Nuh, Habib Muhammad, membuat Nazar kepada Allah SWT, bahwa jika bayi itu lahir dengan selamat, maka ia akan beri nama bayi itu "Nuh" untuk mengingat Nabi Nuh as yang membawa cahaya rahmat dalam kapalnya. Tak lama kemudian, Habib Nuh lahir dengan selamat ke dunia ini.

Menurut beberapa beberapa sumber yang di dapat, ayah Habib Nuh pejabat istana di bawah Sultan Ahmad Tajuddin Halim Shah II. Ketika istrinya meninggal Habib Muhammad Al Habsyi menikah dengan Sayidah Fathimah, janda dari Sayyid Yassin Al Anggawi yang terbunuh di Limbong Kapal saat diserang Siam Kedah pada tahun 1821. Setelah menikah, keluarganya pindah ke Penang-Malaysia. Habib Nuh juga memiliki saudara dengan nama Sharifah Alwiyah keturunan yang saat ini masih berada di Penang.

Wafat

Habib Nuh al-Habsyi wafat pada hari Jum'at, 14 Rabi`ul Awwal 1283 H bertepatan pada hari Jumat, 27 Juli 1866, setelah 78 tahun mengabdi untuk agama Islam. Sebelum meninggal, beliau telah mewasiatkan agar dikebumikan di atas sebuah bukit kecil di Jalan Palmer tersebut. Wasiat ini dipandang sedikit aneh karena tempat yang ditunjukkannya itu adalah terpencil dari kuburan orang Islam dan berada di tepian laut. Maka keluarga beliau memutuskan agar jenazahnya dimakamkan saja di tanah perkuburan biasa.

Setelah selesai urusan jenazah dan ketika hendak dibawa ke tanah pemakaman biasa, jenazah beliau tidak dapat diangkat oleh orang yang hendak membawanya. Diceritakan puluhan orang mencoba untuk mengangkat jenazah tersebut, semuanya gagal. Akhirnya mereka diperingatkan agar mematuhi wasiat Habib Nuh tentang tempat pengkebumiannya.

Maka ketika jenazahnya hendak dibawa ke tempat menurut wasiatnya tersebut, maka orang-orang yang membawanya merasa jenazahnya amat ringan dan mudahlah mereka mengusungnya. Makam beliau tetap terpelihara sehingga sekarang dan menjadi tempat ziarah bagi mereka yang mencintai para Aulia Allah.

Keturunan

Tidak banyak yang mengetahui kehidupan beliau di usia muda. Beliau merupakan anak pertama dari empat bersaudara, yaitu Habib Noh, Habib Ariffin dan Habib Zain (kedua-duanya meninggal di Pulau Pinang), dan Habib Salikin, yang meninggal di Daik, Indonesia.

Beliau menikah dengan Sayyidah Hamidah yakni wanita Melayu yang berasal dari Telok Ayer Tawar, Provinsi Wellesley, Pulau Pinang. Mereka dikaruniakan seorang putri bernama Syarifah Badaniah. Setelah dewasa Sharifah Badaniah menikah dengan Syed Mohamad bin Hassan Al-Shatri di Jelutong, Pulau Pinang. Buah pernikahan mereka hanya dikaruniai seorang putri bernama Syarifah Ruqayyah. Syarifah Ruqayyah binti Muhammad bin Hasan As Syatiri ini adalah cucu tunggal dari Habib Nuh Al Habsyi. Syarifah Ruqayah ini menikah dengan Sayid Alwi bin Ali bin Muhammad bin Harun Al Junaid dari Singapora. Mereka dikaruniakan 5 orang anak, 2 laki laki dan 3 perempuan, yaitu Syed Abdul Rahman, Syed Abdullah, Syarifah Muznah, Sharifah Zainah dan Sharifah Zubaidah.

Dari beberapa sumber menceritakan bahwa Habib Nuh sampai ke Singapura tidak lama setelah Sir Stamford Raffles mendarat di pulau itu. Usianya pada waktu itu sekitar tiga puluh tahun. Walaupun beliau telah menghabiskan banyak usianya di Singapura dan meninggal dunia di sana, akan tetapi beliau banyak berdakwah ke Johor Bahru dan negeri-negeri lain di Malaysia.

Kemuliaan

Dikisahkan bahwa Kiai Agung Muhammad bin ‘Abdullah as-Suhaimi Ba Syaiban memang selalu mengamalkan bacaan maulid Junjungan Nabi SAW, tetapi kadangkala beliau meninggalkannya. Pada satu malam, beliau bermimpi dan dalam mimpi tersebut beliau bertemu dengan Junjungan Nabi SAW dan Habib Nuh yang ketika itu sudah pun berpulang ke rahmatullah.

Dalam mimpi tersebut, Habib Nuh sedang mengiringi Baginda Nabi SAW yang sedang berjalan di hadapan rumah Kiai Agung, lalu Habib Nuh pun berkata kepada Baginda Nabi SAW, “Ya Rasulallah, marilah kita berziarah ke rumah kawan saya, Muhammad Suhaimi.” Tetapi Junjungan Nabi SAW enggan berbuat demikian sambil bersabda, “Saya tak hendak menziarahinya kerana Muhammad Suhaimi ini selalu lupakan saya, kerana dia selalu meninggalkan bacaan maulid saya.”

Habib Nuh merayu kepada Baginda Nabi SAW, “Saya memohon kepada baginda supaya dia diampuni.” Setelah itu barulah Junjungan Nabi SAW mau masuk dan duduk di dalam rumah Kiai Agung.

Inilah kisah mimpi Kiai Agung, selepas isyarat mimpi itu, maka Kiai Agung tidak lagi meninggalkan bacaan mawlid, ‘hatta’ (walaupun) dalam kondisi berpergian maupun hanya 2 atau 3 orang saja dalam majlis pembacaan tersebut.

Ini cerita mimpi, percaya atau tidak kembali ke diri masing-masing, diceritakannya kisah ini sebagai pertanda terhadap tingginya maqam seorang waliyullah yang dimakamkan di Singapura. Beliau yang dimaksudkan dan diharapkan keberkahannya adalah Habib Nuh bin Muhammad al-Habsyi yang hidup sekitar tahun 1788M – 1866M.

Wara’ dan Kezuhudan

Beliau adalah seorang yang sangat wara. Waktu malam beliau gunakan untuk shalat hingga terbitnya fajar, dan beliau juga sering berkunjung ke makam-makam untuk mendoakan mereka yang telah mendahuluinya.

Habib Nuh sangat dikagumi oleh seluruh lapisan masyarakat, baik yang tua, muda dan bahkan anak-anak. Tidak sedikit orang baik dengan sengaja maupun tidak sengaja melihat karomah-karomah beliau.

Beliau juga sering bersedekah kepada anak-anak, fakir miskin, dan kepada mereka yang sedang dalam kesulitan. Habib Nuh juga sangat menyayangi anak-anak, karena mereka merupakan ahlul Jannah [ahli Syurga]. Masyarakat juga sangat senang apabila Habib Nuh datang mengunjungi mereka, karena dengan begitu akan banyak anak-anak yang datang dan mengambil makanan di warung/kedai mereka, dan itu akan sebuah keberkahan bagi mereka.

Karomah

Habib Nuh mempunyai banyak sekali karamah, waktu itu beliau pernah dipenjara oleh penjajah, namun anehnya Habib Nuh tetap berada di luar penjara, dan disaat yang bersamaan penjaga penjara melihat Habib Nuh di dalam penjara dengan kaki dan tangan terantai, sejak saat itulah penjajah tidak bisa lagi memenjarakan beliau.

Habib Nuh juga terkenal sebagai tabib yang hebat, banyak sekali cerita yang menunjukkan karomah Habib Nuh saat mengobati anak-anak. Beliau juga tidak segan-segan untuk berjalan jauh mengobati masyarakat yang sedang sakit. Diceritakan bahwa beliau pernah mengubah air kelapa menjadi air susu dan diberikan kepada anak dari seorang keluarga miskin yang sedang sakit, dan atas izin Allah anak tersebut sembuh selang beberapa hari kemudian.

Diceritakan lagi, bahwa pada satu ketika ada seorang saudagar yang sedang dalam pelayaran ke Singapura. Dalam pelayarannya itu, kapal yang ia tumpangi terkena badai yang kencang. Dalam suasana cemas tersebut, saudagar itu berdoa kepada Allah agar diselamatkan kapalnya dari angin ribut tersebut, dan dia bernazar jika sekiranya dia selamat sampai ke Singapura dia akan menghadiahkan sebuah kain kepada Habib Nuh. Lalu, Allah mengabulkan doa saudagar itu, dan setibanya di Singapura ia heran sekaligus kaget karena Habib Nuh telah menunggu kedatangannya di pelabuhan dan memintanya untuk melaksanakan nazar yang telah ia buat di tengah laut.

Dalam satu peristiwa lain, ketika sebuah kapal hendak berlayar muncul Habib Nuh di pelabuhan. Habib Nuh menahan barang-barang berharga yang dibawa dalam pelayaran tersebut. Orang-orang tersebut merasa tidak senang dengan sikap beliau itu, tetapi beliau tetap bertegas, “Tidak boleh membawa barang-barang yang berharga.”

Beberapa hari kemudian, penduduk Singapura mendapat berita bahwa kapal tersebut telah terbakar dan tenggelam di tengah lautan. Barulah orang-orang pemilik barang-barang tersebut sadar atas hikmah dibalik larangan Habib Nuh itu.

Pada satu saat ada seorang Muslim India yang hendak pulang ke India dengan melewati jalan laut. Dia telah berniat bahwa jika dia kembali lagi ke Singapura dengan selamat, dia akan menghadiahkan kepada Habib Nuh satu hadiah. Ketika dia pulang, dia terkejut karena melihat Habib Nuh sudah menunggunya di tepi laut. Habib Nuh berkata kepadanya, “Saya percaya bahwa kamu sudah berjanji untuk memberikan sesuatu kepada saya.” Terkejut, Muslim India itu berkata, “Katakan kepada saya wahai Habib yang bijaksana, apakah yang menjadi keinginan Habib dan saya akan dengan senang hati menghadiahkannya kepada Habib.” Habib Nuh menjawab, “Saya ingin beberapa gulung kain kuning untuk bersedekah kepada orang miskin, dan yang memerlukannya adalah anak-anak.” Sambil memeluk Habib Nuh, Muslim India itu berkata, “Demi Allah, saya amat gembira untuk menghadiahkan kepada seorang lelaki yang dirahmati Allah, karena baik budinya terhadap umat manusia. Berilah saya tiga hari untuk menghadiahkannya kepada Habib.”

Banyak sekali cerita dari karamah-karamah beliau yang patut kita teladani dan kita dapat mencontohi jejak langkah beliau dalam mengikuti perjalanan para leluhurnya sambung-menyambung sehingga ke hadhrat JunjunganRasulullah s.a.w. Sumber: Tujuh Wali Melayu Sheikh Hassan Abdullah Al-Khatib, penjaga makam Habib Nuh.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya