Biografi Masruq bin Ajda Alhamadani

 
Biografi Masruq bin Ajda Alhamadani
Sumber Gambar: Foto istimewa

LADUNI.ID, Jakarta - Masruq bin Ajda Alhamadani memiliki nama lengkap Masruq bin al-Ajda’, al-Hamadani, al-Wadi’i, Abu Aisyah, al ­Kufi. Dengan silsilah Masruq bin Al-Ajda’ bin Malik bin Umayyah bin Abdullah bin Murri bin Salman.

Contents


Baca Juga: Biografi Said bin Musayab

Riwayat Hidup

Lahir

Diperkirakan beliau dilahirkan pada tahun pertama hijrah atau tahun sebelumnya.

Keluarga

Al-Hafizh Abu Bakar al-Khathib berkata, “Ada yang mengatakan, ia dulu pernah dicuri (diculik) saat masih kecil lalu diketemukan, maka kemudian dinamai dengan Masruq (orang yang dicuri/diculik)”.

Wafat

Harun bin Hatim dari Al-Fadhl bin Amr mengatakan, “Masruq meninggal pada usia 63 tahun.” Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Masruq bin al-Ajda’ wafat tahun 63 H. Ibnu Sa’ad Juga mengatakan beliau meninggal pada tahun 63 H. Sedangkan Abu Nu’aim mengatakan beliau meninggal pada tahun 62 H.

Baca Juga:   Biografi Sulaiman bin Yasar Al-Hilali Al-Madani

Pendidikan

Masruq bin Al-Ajda’ Al-Hamadani yang telah banyak berguru pada beberapa sahabat terkenal yang di antaranya:

  1. Ali bin Abi Thalib
  2. Abdullah bin Masud
  3. Sayyidah Aisyah Ridhwanullahi Alaihim Ajma’in

 

Penerus

Sedangkan di antara murid-muridnya, sebagaimana dikatakan al-Mizzi antara lain:

  1. Ibrahim an-Nakho’i
  2. Anas bin Sirin
  3. Abu Wa`il
  4. Syaqiq bin Salamah
  5. ‘Amir asy-Sya’bi
  6. Abdullah bin Murrah al-Khariqi
  7. Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud
  8. ‘Ubaid bin Nadhlah
  9. ‘Imarah bin ‘Umair
  10. al-Qasim bin al-Muntasyir bin al-Ajda’
  11. Muhammad bin al-Muntasyir al-Hamadani
  12. Abu adh-Dhuha
  13. Muslim bin Shubaih
  14. Makmahul asy-Syami
  15. Yahya bin al-Jazzar
  16. Yahya bin Witsab
  17. Abu al-Ahwash al-Jasymi
  18. Abu Ishaq as-Sabi’i
  19. Abu asy-Sya’tsa` al-Muharibi

Baca Juga:  Biografi Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar

Teladan

Ahli Ibadah

Dari Ibrahim bin al-Muntasyir, ia berkata, “Masruq biasa menutup tirai antara dirinya dan keluarganya, lalu menyongsong shalatnya, membiarkan mereka dan dunia mereka.”

Dari Fithr bin Khalifah, dari asy-Sya’bi, ia berkata, “Suatu hari di musim panas, pernah Masruq bin al-Ajda’ pingsan karena berpuasa. Ia biasanya tidak pernah membantah sesuatu pun terhadap putri kesayangannya. Lalu putrinya itu datang kepadanya seraya berkata, ‘Duhai ayahandaku, berbukalah dan minumlah.!’ Beliau menjawab, “Apa yang engkau inginkan dariku, duhai putriku.?’ Ia menjawab, ‘Sikap lunak (terhadap diri).’ Ia berkata, ‘Duhai putriku, sesungguhnya engkau meminta diriku bersikap lunak di hari yang lamanya adalah 50 ribu tahun.!’”

Asy-Sya’bi berkata, “Ketika Ubaidillah bin Ziyad datang ke Kufah, dia bertanya, “Siapakah orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab, “Masruq.” Ibnu Al-Madini berkata, “Aku tidak pernah mempersilahkan seorang pun untuk berbaris di belakang Abu Bakar ketika sholat berjamaah, kecuali kepada Masruq (agar sewaktu-waktu bisa mengganti Abu Bakar menjadi imam karena ilmu dan kewibawaannya).” Imam Ahmad bin Hambal berkata, Ibnu Uyainah berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari Masruq setelah al-Qamah.” Dari Ibnu Abjar dari Asy-Sya’bi, beliau berkata, “Masruq lebih pantas memberikan fatwa daripada Syuraih, karena Syuraih lebih banyak meminta pendapat Masruq”.

Yahya bin Mu’in berkata, “Masruq adalah orang yang dapat dipercaya dan tidak ada orang yang menyamainya. Utsman bin Said bertanya kepada Yahya tentang Masruq dan kepada Urwah mengenai Sayyidah Aisyah, maka dia tidak ragu lagi.” Ibnu Sa’ad berkata, “Beliau adalah tsiqah (orang yang dapat dipercaya perkataan dan berita yang dibawanya) dan dia banyak mempunyai hadits yang layak diriwayatkan”. al-‘Ajali berkata, “Dia adalah seorang Tabi’in yang dapat dipercaya, dan termasuk salah seorang teman Abdullah bin Mas’ud yang diperkenankan mengajar dan memberikan fatwa kepada khalayak ramai. Dia banyak melakukan shalat hingga kedua kakinya membengkak.”

Zuhud

Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir berkata, “Khalid bin Abdullah bin As, penguasa Bashrah memberikan hadiah kepada pamanku, Masruq 30 ribu (dirham/dinar-red) padahal waktu itu ia amat membutuhkannya namun ia tidak mau menerimanya.”

Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Masruq bertemu denganku lalu berkata, ‘Hai Sa’id, tidak ada sesuatu yang tersisa untuk disukai kecuali kita memolesi wajah dengan tanah.”

Abu Nu’aim berkata, “Di antara para teman Abdullah bin Mas’ud, terdapat seseorang yang sangat takut dan sangat cinta kepada Tuhannya dan selalu ingat akan banyaknya dosa yang telah dilakukannya.”

Dari Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir, dari ayahnya, dari Masruq, bahwa ia tidak pernah mengambil gaji sebagai hakim dan selalu berpedoman kepada ayat, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS.at-Taubah:111)

Ahli Ilmu Terpercaya

Masruq bin al-Ajda’ sangat dihormati keilmuannya, dapat dipercaya dan selalu ingin bertemu kepada Tuhannya dengan memperbanyak ibadah; dialah Abu Aisyah (ayah Aisyah) bernama Masruq.” Dari Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Masruq, dia berkata, “Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Wahai Masruq, sesungguhnya kamu telah aku anggap, sebagai anak sendiri dan kamu termasuk orang yang paling aku cintai. Apakah kamu mempunyai pengetahuan tentang Al-Mikhda’ (mengenai suatu kekurangan pada dirinya)?”.

Dari Abu adh-Dhuha, “Pernah Masruq memberikan pertolongan kepada seorang laki-laki (mengupayakan pengampunan untuknya), lalu orang itu memberinya hadiah seorang budak wanita, maka marahlah ia seraya berkata, ‘Andaikata aku tahu bahwa hal ini yang ada di dalam jiwamu, niscaya aku tidak akan berbicara tentangnya, dan tidak akan berbicara tentang apa yang tersisa darinya sama sekali. Aku pernah mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Barangsiapa yang memberikan suatu pertolongan (mengupayakan pengampunan bagi seseorang) dengan tujuan untuk mengembalikan suatu hak, atau menolak suatu kezhaliman, lalu ia diberi hadiah karenanya, lantas ia menerimanya, maka itulah Suht (hal yang haram).’”

Dari Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir, dari Masruq, ia berkata, “Tidaklah ada sesuatu yang lebih baik bagi seorang Mukmin daripada lahad. Ia beristirahat dari hiruk-pikuk dunia dan merasa aman dari siksa Allah swt.”

Dari Manshur bin Ibrahim, dia berkata, “Beberapa teman Abdullah bin Mas’ud ada yang mengajarkan kepada banyak orang dan mengajari mereka tentang Sunnah Rasulullah Di antara mereka itu adalah; Alqamah, Al­ Aswad, Ubaidah, Masruq, Al-Harits bin Qais dan Amr bin Syarahbil.”

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Ibnu Uyainah berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari Masruq setelah Alqamah.

Dari Ibnu Abjar dari Asy-Sya’bi, dia berkata, “Masruq lebih pantas memberikan fatwa daripada Syuraih, karena Syuraih lebih banyak meminta pendapat Masruq.”

Yahya bin Mu’in berkata, “Masruq adalah orang yang dapat dipercaya dan tidak ada orang yang menyamainya. Utsman bin Said bertanya kepada Yahya tentang Masruq dan kepada Urwah mengenai Sayyidah Aisyah, maka dia tidak ragu lagi.”

Ibnu Sa’ad berkata, “Dia adalah tsiqah (orang yang dapat dipercaya perkataan dan berita yang dibawanya) dan dia banyak mempunyai hadits yang layak diriwayatkan.”

Al-‘Ajali berkata, “Dia adalah seorang Tabi’in yang dapat dipercaya, dan termasuk salah seorang teman Abdullah bin Mas’ud yang diperkenankan mengajar dan memberikan fatwa kepada khalayak ramai. Dia banyak melakukan shalat hingga kedua kakinya membengkak.”

Abu Nu’aim berkata, “Di antara para teman Abdullah bin Mas’ud, terdapat seseorang yang sangat takut dan sangat cinta kepada Tuhannya dan selalu ingat akan banyaknya dosa yang telah dilakukannya. Dia sangat dihormati keilmuannya, dapat dipercaya dan selalu ingin bertemu kepada Tuhannya dengan memperbanyak ibadah; dialah Abu Aisyah (ayah Aisyah) bernama Masruq.”

Dari Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Masruq, dia berkata, “Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Wahai Masruq, sesungguhnya kamu telah aku anggap, sebagai anak sendiri dan kamu termasuk orang yang paling aku cintai. Apakah kamu mempunyai pengetahuan tentang Al-Mikhda’ (mengenai suatu kekurangan pada dirinya)?”


Baca Juga:  Biografi Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab


Sumber:

  • Tahdzib Al-Kamal 27/451-452.
  • Tarikh Baghdad 13/232.
  • Siyar A’lam an Nubala’ 4/66
  • Hilyah al-Auliya’ 2/95
  • Biografi 60 Ulama Salaf
 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya