Hukum Khutbah tidak Terdengar Jama’ah

 
Hukum Khutbah tidak Terdengar Jama’ah
Sumber Gambar: Foto (ist)

LADUNI.ID Jakarta - Bagaimana hukum jum’atan yang khutbahnya tidak terdengar oleh para jama’ah (termasuk rukun khutbah) karena pengeras suaranya rusak dan tidak berfungsi atau karena suara yang mantul (bergaung) sah atau tidak jum’atan tersebut ?

Jum’atan dalam keadaan seperti pertanyaan diatas tetap dihukumi sah apabila dalam berkhutbah sang khotib sudah mengeraskan suaranya yang pada umumnya bisa didengarkan oleh 40 orang .

Baca Juga: Khutbah Jumat: Tobat yang Sesungguhnya

Ibarat:

قَوْلُهُ : ( وَإِسْمَاعُ الْأَرْبَعِينَ ) أَيْ بِالْفِعْلِ بِأَنْ يَكُونَ صَوْتُ الْخَطِيبِ مُرْتَفِعًا يَسْمَعُهُ الْحَاضِرُونَ لَوْ أَصْغَوْا  هَذَا فِي الْإِسْمَاعِ ، وَأَمَّا السَّمَاعُ مِنْهُمْ فَبِالْقُوَّةِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ مَرْحُومِيٌّ وَمِثْلُهُ ق ل . وَعِبَارَةُ ق ل : وَإِسْمَاعُ الْأَرْبَعِينَ بِأَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِقَدْرِ مَا يَسْمَعُونَ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعُوا لِوُجُودِ لَغَطٍ ؛ قَالَ شَيْخُنَا : أَوْ نَوْمٍ بِخِلَافِهِ لِصَمَمٍ أَوْ بُعْدٍ ا هـ .

 (حاشية البجيرمي على الخطيب الجز: 5 ص:351)

Perkataan : bisa didengar 40 orang , yaitu dengan mengeraskan suara khotib sehingga bisa didengar yang hadir apabila mereka mendengarkanya , memberi dengar mereka dengan maksimal menurut pendapat yang mu’tamad . ibarat dari Syihabu Din , bisa didengar 40 orang adalah dengan mengeraskan suaranya sebatas mereka bisa mendengar meski mereka tidak bisa mendengar karena gaduh . shakhuna berkata , atau karena tertidur berbeda dengan karena tuli atau jauh .

Baca Juga: Khutbah Jumat: Perempuan dan Hakikat Emansipasinya

Hasyiyah Al Bujairomi Ala Khotib Juz : 5 Hal : 351

( وشرط فيهما ) أي الخطبتين أمور سبعة ( إسماع أربعين ) إلى أن قال ….والمراد إسماعهم بالفعل بأن يرفع الخطيب صوته بحيث يسمعه الحاضرون لو أصغوا وأما السماع منهم فبالقوة وإن لم يسمعوا بالفعل لوجود لغط أو نوم خفيف (نهاية الزين ص:140)

 

Disyaratkan dalam dua khutbah tujuh perkara : bisa didengar 40 orang yang di maksud bisa didengar 40 orang adalah dengan perbuatan atau dengan cara mengeraskan suara khotib sehingga orang yang hadir bisa mendengarnya apabila mereka memperhatikan adapun pendengaran dari mereka yaitu dengan sebatas kemampuan maksimal  mendengar mereka meskipun tidak dapat mendengar dengan pendengaranya karena gaduh atau ngantuk .***

Baca Juga: Khutbah Jumat: Makna Hakiki Puasa Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19