Biografi Junaid Al Baghdadi

 
Biografi Junaid Al Baghdadi
Sumber Gambar: Foto istimewa

 

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Kisah-kisah
4.1       Kisah Imam Junaid dan Pengemis
4.2       Pegulat Tangguh yangdiangkat Derajat Kewaliannya

5          Untaian Nasehat 

6          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Nama lengkap Abu al-Qasim al-Junaid ibn Muhammad al-Junaid al-Kharaz al-Qawariri al-Baghdadi memiliki julukan (laqab) Abu al-Qasim. Julukan “al-Qawariri” disandarkan kepada profesi ayahnya, penjual kaca. Al-Junaid kemudian mendapat julukan al-Kharaz, yang artiya pedagang sutera, karena memang ia seorang pedagang sutera di kota Baghdad.

Beliau lahirdi Baghdad, tahun kelahiran Junayd masih belum bisa ditentukan secara pasti sampai sekarang Namun, diperkirakan dia lahir sekitar tahun 210 H. Bedasarkan penghitungan masa mudanya ketika belajar hadis dan fikih di bawah bimbingan Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al-Kalbi al-Baghdadī (w. 240 H), di mana pada saat itu diperkirakan Junaid berumur 20 tahun, sedangkan pendidikannya hanya memakanwaktu 3 sampai 5 tahun.

1.2       Wafat

Junaid wafat di Baghdad, kota kelahirannya, pada hari Jum’at petang tahun 298 H.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

Awal pendidikan Junaid  dimulai dengan belajar ilmu pengetahuan agama pada paman dari pihak ibunya, yakni Abu al-Ḥasan Sari ibn al-Mughallis al-Saqaṭi (w. 253). Beliau adalah murid dari Ma‘ruf al-Karkhi (w. 200 H) dan merupakan salah seorang sufi yang terbilang di kota Baghdad. Perlu diketahui bahwa kata Sari al-Saqaṭi yang ditambahkan pada nama paman Junaid disebabkan oleh tabiatnya yang selalu menetap dirumah dan sangat jarang keluar rumah kecuali untuk salat berjamaah dan Jum’at. Sari al-Saqaṭi wafat pada usia 98 tahun, tepatnya setelah azan salat Subuh pada hari Selasa tanggal 6 Ramadan 251 H. Jasad tokoh sufi yang mulia ini dimakamkan pada hari yang sama setelah salat Asar di daerah Syawniziyah, Baghdad.

Perjalanan pendidikan tasawuf yang dialami Junayd juga diwarnai oleh ajaran- ajaran Abu Abd Allāh al-Ḥarits ibn Asad al-Muḥasibi, sufi keturunan Arab yang lahir di kota Basrah pada tahun 165. Nama ‘al-Muḥasibi’ yang terdapat dibelakang namanya berasal dari doktrin-doktrinnya yang selalu berujung pada introspeksi diri, yaitu menghitung danmemeriksa hati nurani secara terus-menerus. Berbeda dari didikan Sari dan Abu Ja‘far al-Qaṣṣab yang sarat dengan spiritual dan khalwat, al- Muḥasibi selalu mengajak Junaid meninggalkan rumahnya demi menyaksikan apa yang terjadi dilingkungannya. 

2.2       Guru-Guru Beliau

Beliau menuntut ilmu dan memiliki banyak guru diantaranya:

  1. Muhammad ibn al-Qashshab al-Baghdâdi 
  2. Imam Al Hasan bin Muhammad As Shabah Azza'Farani 
  3.  Imam Bukhari 
  4. Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman At Tujibi  
  5. Abu Tsur Alkalbi Al Baghdadi
  6. Imam Abu Ali Husein bin Ali Alkarabisi 
  7. Harmalah bin Yahya bin Abdullah At Tujibi 
  8. Imam Ahmad bin Hanbal
  9. Muhammad bin Syafi'i
  10. Ishaq bin Rohaweh 
  11. Abu Ya'qub bin Yusuf bin Yahya Albuwaiti  
  12. Abdullah bin Zubair bin Isa Abu Bakar Al Humaidi
  13. Imam Sarri as-Saqthi
  14. al-Harits al-Muhasibi
  15. Ma‘ruf al-Karkhi 

3          Penerus Beliau

3.1      Murid-murid Beliau 

Ajaran tasawuf Junaid diterus oleh banyak ulama sufi lainnya, terutama kaum sufi sunni. Bahkan banyak tarekat yang silsilahnya tersambung dengannya. Di antara ulama-ulama yang meneruskan ajaran Junaid adalah:

  1. Ja’far al-Khuldi
  2. Abu Muhammad al-Jariri
  3. Abu Bakar asy-Syibli
  4. Muhammad bin Ali bin Habisy
  5. Abdul Wahid bin Alwan
  6. Imam Ad-Daruquthni
  7. Imam Nasai 
  8. Ibnu Al Qadhi Ibnu Suraij 
  9. Ibnu Mundzir
  10. bnul Qoshi
  11. Abu Ishaq Al Marwazi
  12. Al Mas'udi
  13. Abu Ali At-Thabari
  14. Al Qaffal Al Kabir Asy-Syasyi
  15. Ibnu Abi Hatim

4        Kisah-kisah

4.1     Kisah Imam Junaid dan Pengemis

Dikisahkan, suatu hari Imam Junaid Al-Baghdadi duduk-duduk di Masjid Asy-Syuniziyyah bersama penduduk Baghdad lainnya. Beliau menunggu beberapa jenazah yang hendak mereka sholatkan.

Di depan mata Imam Junaid, seseorang yang tampaknya ahli ibadah terlihat sedang meminta-minta. "Andai saja orang ini mau bekerja hingga terhindar dari perbuatan meminta-minta tentu lebih bagus,"kata Imam Junaid dalam hati.

Kondisi aneh terasa ketika Imam Junaid pulang dari masjid itu. Beliau punya rutinitas sholat dan munajat sampai menangis setiap malam.Tapi, kali ini beliau benar-benar sangat berat melaksanakan semua wiridnya.

Ulama yang juga biasa disapa Abul Qasim ini hanya bisa bergadang sambil duduk hingga rasa kantuk menaklukannya. Dalam gelisah, Imam Junaid pun terlelap.

Tiba-tiba saja orang fakir yang beliau jumpai di Masjid asy-Syuniziyyah itu hadir dalam mimpinya. Anehnya, si pengemis digotong para penduduk Baghdad lalu menaruhnya di atas meja makan yang panjang.

Orang-orang berkata kepada Imam Junaid: "Makanlah daging orang fakir ini. Sungguh kau telah mengumpatnya."

Imam Junaid terperangah. Beliau merasa tidak pernah mengumpat pengemis itu. Sampai akhirnya Beliau sadar bahwa ia pernah menggunjingnya dalam hati soal etos kerja.

Dalam mimpi itu Imam Junaid didesak untuk meminta maafatas perbuatannya tersebut. Sejak saat itu Imam Junaid berusaha keras mencari si fakir ke semua penjuru.

Berulang kali beliau gagal menjumpainya. Hingga suatu ketika Imam Junaid melihatnya sedang memunguti dedaunan di atas sungai untuk dimakan. Dedaunan itu adalah sisa sayuran yang jatuh saat dicuci.Segera Imam Junaid menyapanya dan tanpa disangka keluar ungkapan balasan.

"Apakah kau akan mengulanginya lagi wahai Abul Qasim?""Tidak."

"Semoga Allah mengampuni diriku dan dirimu."

Imam Junaid beruntung. Peringatan untuk kesalahan "kecilnya" datang lewat mimpi sehingga bisa berbenah diri.

Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang gemar mengumpat,mencela orang lain, bukan saja dalam hati, tapi juga terang-terangan lewat lisan dan tulisan? Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan tercela seperti ghibah, namimah dan lainnya.
 

4.2        Pegulat Tangguh yang diangkat Derajat Kewaliannya

Bagi kalangan umat Muslim yang akrab dengan dunia tasawuf, tentu nama Syekh Abul Qasim Junaid al-Baghdadi sudah tak lagi asing di telinga mereka. Bagaimana tidak, ia begitu terkenal akan kewaliannya. Sampai-sampai, setiap kali membaca hadrah (pembacaan Surat Al Fatihah sebelum melakukan amalan mujahadah) para salik—sebutan bagi orang yang telah menempuh jaan tarekat—selalu mengkhususkan penyebutan nama Abul Qasim Junaid Al-Baghdadi tepat setelah penyebutan nama Suthanul Auliya' Syekh Abdul Qodir Al Jilani, sang raja wali.

Lantas, bagaimanakah sejarah kewaliannya hingga ia begitu masyhur, terkenal sebagai kekasih Allah? Ternyata, ia sebenarnya merupakan seorang pegulat tangguh tak terkalahkan pada masanya. Ia juga sangat ditakuti oleh para lawannya. Hingga suatu ketika, sang raja pada masa itu mengadakan sayembara bahwa siapa saja yang dapat mengalahkan Abul Qasim akan mendapatkan hadiah yang begitu banyak.

Sayembara tersebut akhirnya terdengar juga oleh seorang lelaki paruh baya di salah satu sudut Kota Baghdad. Ia adalah seorang keturunan Rasulullah Muhammad sallallahu 'alaihi wasalam yang hidupnya begitu memprihatinkan. Sudah beberapa hari terakhir, keluarganya tak makan. Usianya juga sudah cukup tua, kira-kira 65 tahun. Namun, hal itu tak menciutkan nyalinya untuk mengikuti sayembara melawan Abul Qasim. Karena ia memiliki cara tersendiri.  Hari pertarungan telah tiba. Hingga saat itu, anehnya tidak ada seorang pun yang berani mendaftar melawan Abul Qasim.

Maklum, seluruh penduduk kota sudah mengerti kehebatan Abul Qasim dalam bergulat. Mereka lebih memilih nyawa mereka daripada harus mati konyol demi memimpikan hadiah sayembara dari raja. Berbeda dengan lelaki dzurriyah rasul itu, ia tak gentar sama sekali. Demi keluarga yang sudah beberapa hari tak makan, ia rela mengorbankan nyawanya. Saat ia mulai beradu pandang dengan Abul Qasim, saat melakukan penghormatan salam sebelum bertarung ia berbisik kepada Abul Qasim: "Wahai Abul Qasim, aku tahu bahwa engkau adalah pegulat terhebat di kota ini. dan aku pun yakin bahwa aku tak akan mampu mengalahkanmu.

Namun, tahukah engkau mengapa aku berani bertarung denganmu. Aku adalah cucu Rasulullah, namun kelurgaku sedang tertimpa kesusahan. Sudah beberapa hari terakhir aku dan kelurgaku tak mampu makan. Maka dari itu, aku memohon kepadamu agar engkau bersedia berlagak kalah hingga akhirnya hadiah sayembara itu ku dapat dan kelurgaku dapat makan.”  Mendengarnya, Abul Qasim begitu prihatin. Ternyata ada juga keturunan Rasulullah yang seperti itu.

Akhirnya, dengan niatan memuliakan anak-cucu Rasulullah, ia turuti permohonan lelaki itu. Dan benar, lelaki tersebut sukses memenangkan sayembara dan kemudian membawa pulang hadiahnya untuk keluarga.  Sedang Abul Qasim harus menanggung malu bahwa pegulat terhebat di kota itu telah dikalahkan hanya dengan pukulan lelaki tua usia 65 tahun. Tapi hal itu tak membuat hati Abul Qasim kecewa sedikit pun. Ia justru bersyukur sudah dapat membantu cucu Nabi. Meskipun orang-orang sekota menghujatnya karena memang tidak tahu dan Abul Qasim pun merasa hal ini tidak perlu diberitahukan.

Hingga suatu malam yang indah, Abul Qasim  bermimpi ditemui oleh seorang lelaki yang ketampanannya tak dapat tergambarkan oleh kata-kata. Ia begitu penuh dengan cahaya. Namun, keteduhan wajahnya dan kewibawaannya tak membuat mata silau melihat pancaran cahaya dari dalam manusia terbaik sepanjang masa. Ya, ternyata ia adalah Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaih wasallam. Dalam mimpinya itu, sang rasul berkata pada Abul Qasim bahwa mulai malam itu ia diangkat oleh Allah derajatnya menjadi waliyullah, kekasih Alah. Bukan karena kekuatannya, melainkan karena ia telah rela menolong dzurriyah rasul, anak-cucu keturunan sang utusan terkasih Allah, Muhammad sallallahu 'alaihi wasalam.

5       Untaian Nasehat

Berikut Nasehat-nasehat Junaid Al Baghdadi:

  1. Melalaikan Allah lebih dahsyat daripada masuk neraka
  2. Kebutuhan para arifin hanya terletak pada tanggung jawab dan pemeliharaan Allah
  3. Kunci pembuka segala pintu kemuliaan adalah pengorbanan
  4. Janganlah kamu meninggalkan kewajibanmu kecuali kalau harus meninggalkan hartamu, dan kebanyakan orang yang mengerti akan kerugian adalah yang paling banyak mengalaminya.
  5.  Ada sebagian orang dengan keyakinannya bisa berjalan di atas air, dan ada juga yang mati dalam keadaan haus, yang ini masih lebih baik keyakinannya daripada mereka.
  6. Barangsiapa telah mengenal Allah ia tidak akan merasa senang kecuali dengan-Nya saja.
  7. Beliau pernah ditanya:"Saat-saat apa yang disesalkan oleh para pecinta?" Beliau menjawab:"Saat-saat senang tapi tetapimenimbulkan kegundahan hati dan saat-saat menikmati tetapi menimbulkan ketakutan."
  8. Sesungguhnya Allah akan menerima dengan murni ibadah seseorang sesuai dengan ketulusan hatinya saat berdzikir kepada-Nya, oleh karena itu lihatlah apa yang merasuki hatimu.
  9. Melatih diri untuk menyendiri masih lebih mudah daripada berbasa-basi dalam berkumpul dengan orang lain.
  10. Seorang murid ysng teguh tidak membutuhkan ilmu para ulama, bila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang murid niscaya Allah menempatkan pada golongan ahli tasawuf dan mencegahnya berkumpul dengan para Qurra'.

6       Referensi

       "Riwayat Hidup Para Wali dan Shalihin"

        Penerbit: Cahaya Ilmu Publisher

 

 

 

 

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya