Gus Nadir: Jangan Menerima Informasi Berdasarkan Like dan Dislike

 
Gus Nadir: Jangan Menerima Informasi Berdasarkan Like dan Dislike
Sumber Gambar: Dok. Laduni.ID (ist)

Laduni.ID, Jakarta – Kalau kesukaan dan kebencian itu terlampau dalam dan menguasai diri, biasanya nalar pun terganggu. Cara menerima informasi pun bukan berdasarkan mana yang benar dan mana yang yang salah, melainkan mana yang sesuai dengan keinginan. Parameternya menjadi like dan dislike.

Informasi yang menyesatkan pun bisa mudah diterima selama itu sesuai dengan keinginan. Sementara yang benar, bisa langsung ditolak karena tidak sesuai dengan keinginan.

Maka seolah tak penting benar dan tak penting salah. Yang diutamakan adalah yang sesuai dengan keinginannya itu. Maka jangan berharap ada literasi dari orang yang demikian.

Ada pepatah yang sangat kuat menggambarkan karakter seperti itu:

‏وعين الرضا عن كل عيب كليلة، كما أن عين السخت تبدي الماسويا

Wa ‘Ainur Ridho ‘An Kulli ‘Aibin Kalilatun, Kama Anna 'Ainas Sukhti, Tubdi al-Masawiya

Bila kita melihat sesuatu dengan pandangan sangat suka (cinta buta), maka semuanya akan terlihat baik (benar), tetapi bila kita melihat sesuatu dengan pandangan benci, maka semua yang nampak adalah kejelekan atau keburukan.

Inilah situasi yang masih kita hadapi dari sebagian kita; menerima informasi berdasarkan keinginannya dan berdasarkan like and dislike.

Selama informasi tidak sesuai dengan yang diinginkan, meski benar, maka itu ditolak. Tetapi, selama informasi itu sesuai dengan yang diinginkannya alias meski hoax, maka itu otomatis diterima.

Tidak mengherankan jika selama lebih dari setahun ini masih ada yang tidak percaya covid-19. Korban begitu banyaknya, masih juga menganggap covid-19 tidak ada dan rekayasa. Maka kemudian muncul "pahlawan-pahlawan" baru yang mereka idolakanan karena menentang Covid-19.  Kemudian menentang vaksin.

Sisi lain, sikap itu juga terjadi pada agama. Karena hanya mau percaya terhadap apa yang ingin dipercayai, ustad abal-abal, yang sekolahnya gak jelas, nasab ilmunya gak jelas pun dipercaya. Sementara kiai beneran malah dimaki.

Oleh: Gus Nadirsyah Hosen


Editor: Daniel Simatupang