Biografi KH. Zubair Muntashor

 
Biografi KH. Zubair Muntashor

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier
4.1       Karier Beliau

5          Kisah-kisah 
5.1      Delapan Jam Madura-Jakarta
5.2      Kedekatan KH. Zubair Muntashor dan Santrinya

6          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

KH. Zubair Muntashor adalah putra pasangan KH. Muntashor, pendiri Pesantren Nurul Kholil, dan Nyai Nazhifah binti KH. Imron bin KH. Muhammad Cholil yang lebih akrab dengan panggilan Kiyai Cholil Bangkalan atau Syaichona Cholil Bangkalan. Jadi, KH. Zubair Muntashor adalah cicit Syaichona Cholil Bangkalan.

Menurut cerita salah seorang santrinya, dulu Ibu Nyai Nazhifah lama tidak mempunyai keturunan. Maka, suatu ketika, kiai Muntashor bermunajat di Mekkah. Ketika itulah, kiai Muntashor mendapat sebutir gabah, yang kemudian diberikan kepada Ibu Nyai Nazhifah. Alhamdulillah, tak berapa lama, munajat kiai Muntashor diijabahi  Allah. Ibu Nyai Nazhifah mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Anak itu pun diberi nama Zubair. Zubair kecil diasuh dan dididik langsung oleh ayahnya, yang juga salah seorang kiai terpandang di kawasan Bangkalan, dalam lingkungan keagamaan yang kuat.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Ketika beliau saat berusia belasan, beliau dikirim untuk belajar di Pondok Pesantren Sidogiri, Pacitan. Di Pondok pesantren ini, beliau menghabiskan masa belajar selama tujuh tahun. “Saya mondok selama tujuh tahun. Tapi dulu saya agak mbeling, nakal,” kata KH. Zubair Muntashor suatu ketika. Semangat belajarnya saat itu memang tidak menggebu-gebu.

Namun ketika ayahanda beliau wafat, KH. Zubair Muntashor tersentak, dan menyadari bahwa beliau adalah generasi penerus satu-satu ayahnya, karena beliau anak semata wayang, yang harus melanjutkan estafet dakwah sang ayah, yang juga harus mengasuh ratusan santri di pesantren peninggalan ayahnya, Pondok Pesantren Nurul Cholil.

Beliau bingung, karena belum siap, terutama dari sisi ilmu. Maka, dengan semangat membara, yang dilandasi keikhlasan karena Allah, beliau pun berusaha keras belajar dengan cara sorogan kepada beberapa kiai di Madura. “Saya berusaha dengan ikhlas untuk belajar. Saya tidak ingin pondok peninggalan ayah mati begitu saja,” kata beliau.

Menurut salah seorang santrinya, setelah sang ayah wafat sekitar tahun 1978, beliau berusaha keras untuk belajar mendalami ilmu agama. Namun, di samping usaha yang keras itu, beliau juga mendapat anugerah berupa ilmu laduni. Karena itu, tak mengherankan bila di usia yang terhitung muda, sekitar 30 tahun, KH. Zubair Muntashor sudah bisa merangkul jama’ah majelis ta’lim peninggalan ayahnya, yang di antara mereka ada kiai sepuh dan ustad.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. KH.  Sadoellah Nawawi
  2. KH.  Kholil Nawawi

2.3       Mengasuh Pesantren

Beliau melanjutkan estafet ayahnya, mengasuh ratusan santri di pesantren Nurul Cholil.

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

  1.              KH. Hasani bin Zubair
  2.              KH. Fathur Rozi Zubair. 
  3.              KH. Ahmad Faqoth Zubair
  4.              KH. Hasyim Zubair

3.2       Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau adalah para santri di pesantren Nurul Cholil Bangkalan

4          Karier

4.1      Karier Beliau

Menjadi pengasuh Pondok Pesantren Nurul Cholil.

5        Kisah-kisah

5.1      Delapan Jam Madura-Jakarta

Banyak kisah unik mengenai dirinya dengan santri-santrinya. Pernah suatu ketika, tahun 1998, salah seorang santri beliau diperintahkan untuk ke Jakarta, tepatnya ke Kramat Sentiong, Jakarta Pusat, menggunakan mobil carry, dalam waktu 10 jam. Si santri tentu heran. Mana mungkin Madura-Jakarta ditempuh dalam waktu 10 jam ?.

Tetapi KH. Zubair Muntashor  memaksa, bahkan memarahi si santri. Maka, dengan membaca bismillah, akhirnya si santri berangkat juga. Ajaib, waktu yang ditempuh hanya delapan jam. Setelah kembali ke Madura, si santri diberi tahu oleh kakak sepupu KH. Zubair Muntashor, (almarhum) KH. Abdullah Schall. “Jangan heran, itu adalah ilmu orangtua Kiai Zubair yang diberikan kepada Kiai Zubair,” katanya.

Dalam menguji santrinya, KH. Zubair Muntashor juga terkenal unik. Beliau sering meminta sesuatu kepada santrinya padahal si santri masih tidak mampu secara materi. Secara nalar, permintaan itu tidak akan bisa dipenuhi. Tapi justru sebaliknya. Malah, kehidupan si santri menjadi berkah berlipat-lipat. Ini banyak dialami santri-santri KH. Zubair Muntashor .


5.2     Kedekatan KH. Zubair Muntashor dan Santrinya

Kedekatan dan kasih sayang KH. Zubair Muntashor terhadap santri memang luar biasa. Hal ini sangat dirasakan oleh santri-santrinya, baik yang masih belajar maupun yang sudah menjadi alumni. Hubungan batin KH. Zubair Muntashor dengan santri-santrinya ini terus terjalin, kendati si santri telah merantau ke negeri seberang. Terkadang, saking dekatnya, KH. Zubair Muntashor sering mendapat firasat tentang keadaan mereka.

“Saya senantiasa memperhatikan mereka semua, walaupun mereka telah selesai nyantri. Semua itu saya lakukan karena saya ingin santri-santri saya menjadi manusia yang baik. Tidak harus menjadi ulama atau ustadz semua. Jika menjadi pedagang, jadilah pedagang yang baik. Tidak menipu orang. Jika menjadi tukang becak pun, jadilah tukang becak yang baik. Kalau waktu shalat, ya shalat. Pokoknya saya berharap semua santri saya bertaqwa kepada Allah SWT,” kata KH. Zubair Muntashor .

6         Referensi

https://www.nurulcholil.net/

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya