Biografi Imam Ja'far As Shadiq

 
Biografi Imam Ja'far As Shadiq

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Teladan  

5          Karomah

6          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Imam Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, gelar beliau yang terkenal adalah as Shadiq, beliau juga dijuluki Abu Abdillah dan ada juga yang mnejuluki Abu Ismail. 

Ibu beliau adalah Farwah binti Al Qasim, ibuya Farwah adaalh Asma' binti Adurrahman bin Abu Bakar As Shidiq. Beliau lahir di kota Medinah pada hari senin kira-kira 13 hari sebelum rabi'ul awal pada tahun 80 H ada juga yang mengatakan 83 H

1.2       Riwayat Keluarga

Anak-anak Imam Ja'far As Shadiq adalah: Muhammmad, Ismail, Abdullah, Musa,dan Ali Al Uraidhi (yang merupakan leluhur Bani Alawy).
 
Menurut kitab Syamsuzh Zhahirah ada 13 laki-laki dan 7 perempuan, dan di antara mereka, yang memiliki sambungan keturunan hingga saat ini, yaitu: Muhammad al-Al-Akbar diberi laqab ad-Dibajah (hidup pada masa Khalifah al-Ma’mun), Ishaq diberi laqab al-Mu’tamin, Musa al-Kazhim, dan Ali al-Uraidhi (yang terkecil umurnya dari anak-anaknya). Tarekatnya diteruskan oleh Abu Yazid dan Imam Musa al-Kazhim.    

1.3       Wafat

 Imam Ja’far ash-Shadiq wafat tahun 148 H. (765 M.), dan beliau meninggal dunia di kota Medinah pada malam senin 15 Rajab tahun 148 H beliau dimakamkan di pemakaman Baqi' di Qubah Abbas bersanding di kubur ayahnya, kakeknya, dan pamannya Hasan bin Ali.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Imam Ja'far As Shadiq menempuh perjalanan ilmiahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Beliau sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, seperti: Sahl bin Sa’id as-Sa’idi dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma. beliau juga berguru kepada tokoh-tokoh utama tabi’in seperti Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin al-Munkadir, Abdullah bin Rafi’, dan Ikrimah Maula Ibnu Abbas. Dia juga meriwayatkan dari kakeknya al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.

Mayoritas ulama yang beliau ambil hadisnya berasal dari Kota Madinah. Mereka adalah ulama-ulama tersohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. Al-Qasim bin Muhammad (Kakeknya)
  2.  Sahl bin Sa’id as-Sa’idi 
  3. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma
  4. Atha bin Abi Rabah
  5.  Muhammad bin Syihab az-Zuhri
  6.  Urwah bin Zubair
  7.  Muhammad bin al-Munkadir
  8.  Abdullah bin Rafi’
  9. Ikrimah Maula Ibnu Abbas.

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

Anak-anak Imam Ja'far As Shadiq adalah: Muhammmad, Ismail, Abdullah, Musa,dan Ali Al Uraidhi (yang merupakan leluhur Bani Alawy).

Anak-anak beliau menurut kitab Syamsuzh Zhahirah ada 13 laki-laki dan 7 perempuan, dan di antara mereka, yang memiliki sambungan keturunan hingga saat ini, yaitu: Muhammad al-Al-Akbar diberi laqab ad-Dibajah (hidup pada masa Khalifah al-Ma’mun), Ishaq diberi laqab al-Mu’tamin, Musa al-Kazhim, dan Ali al-Uraidhi (yang terkecil umurnya dari anak-anaknya). Tarekatnya diteruskan oleh Abu Yazid dan Imam Musa al-Kazhim.    

3.2       Murid-murid Beliau

Murid beliau, banyak sekali di antaranya adalah:

  1.   Yahya bin Sa’id al Anshari
  2.  Aban bin Taghlib
  3.  Ayyub as Sakhtayani
  4.  Ibnu Juraij dan Abu ‘Amr bin al ‘Ala`
  5. Imam Darul Hijrah
  6.  Malik bin Anas al Ashbahi
  7.  Sufyan ats Tsauri
  8.  Syu’bah bin al Hajjaj
  9.  Sufyan bin ‘Uyainah
  10.  Muhammad bin Tsabit al Bunani
  11.  Abu Hanifah

Selain memiliki murid-murid di bidang hadits dan fiqih, Imam Ja’far memiliki murid-murid tarekat, yang terkenal dan bertahan periwayatan sanadnya hingga sekarang ada dua:

  1. Imam Musa al-Kazhim
  2. Abu Yazid al-Busthami

4         Teladan

Imam Ja'far As Shadiq dikenal memiliki sifat kedermawanan dan kemurahan hatinya yang begitu besar. Seakan merupakan cerminan dari tradisi keluarganya, sebagai kebiasaan yang berasal dari keturunan orang-orang dermawan. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling murah hati.

Dalam hal kedermawanan ini, beliau seakan meneruskan kebiasaan kakeknya, Zainal 'Abidin, yaitu bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Pada malam hari yang gelap, beliau memanggul sekarung gandum, daging dan membawa uang dirham di atas pundaknya, dan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya dari kalangan orang-orang fakir di Madinah, tanpa diketahui jati dirinya. Ketika beliau telah wafat, mereka merasa kehilangan orang yang selama ini telah memberikan kepada mereka bantuan.

Dengan sifat kedermawanannya pula, beliau melarang terjadinya permusuhan. Beliau rela menanggung kerugian yang harus dibayarkan kepada pihak yang dirugikan, untuk mewujudkan perdamaian antara kaum Muslimin.

5         Karomah

Di antara beberapa karomah Imam Ja’far ash-Shadiq, cukup banyak dan disebutkan dalam banyak kitab thabaqat sufi, dan di antaranya  disebutkan al-Munawi dalam Al-Kawakibud Durriyah dan Abdul Wahab asy-Sya’rani dalam Ath-Thabaqatul Kubra. Abdul Wahab asy-Sya’rani menyebutkan: “Setiap kali dia membutuhkan sesuatu dia mengatakan: “Duhai Tuhan, Duhai Tuhan, aku membutuhkan sesuatu.” Sebelum doanya selesai ditengadahkan, sesuatu yang diminta Ja’far itu sudah ada di sampingnya.”  

Al-Munawi memperkuat cerita keramat Imam Ja’far ash-Shadiq, berdasarkan kesaksian dari Al-Laits bin Sa`ad yang bercerita: “Pada tahun 113 H., aku berhaji ke Makkah. Pada suatu hari setelah sholat ashar, aku naik ke puncak Jabal Abu Qubais. Tiba-tiba aku melihat seseorang (Imam Ja'far As Shadiq) yang duduk bersimpuh sambil berdoa: “Ya Rabb ya Rabb sampai (hampir) terputus napasnya.” Kemudian berkata: “Ya Hayyu Ya Hayyu, sampai (hampir) terputus napasnya.” Kemudian dia berkata “Ilahi aku ingin buah anggur segar, maka berilah aku makan yang engkau ciptakan.” Al-Laits kemudian berkata: “Tatkala perkataannya telah selesai, aku melihat wadah yang penuh anggur…” (KDTSS, I: 179)

6         Referensi

"Riwayat Hidup Para Wali dan Shalihin"

Penerbit: Cahaya Ilmu Publisher

 

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya