Biografi Khalifah Umar bin Abdul Aziz

 
Biografi Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.1       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau

4          Jasa, dan Karier
4.1       Jasa-jasa Beliau
4.1.1    Mereformasi Kekhalifahan
4.1.2    Pembaharuan Aturan-aturan Baru
4.2       Karier Beliau

5          Teladan
5.1       Pemimpin Wara' dan Sederhana
5.2       Menghentikan Budaya Caci Maki Ali bin Abi Thalib

6          Referensi

 

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Umar bin Abdul Aziz Al Quraisy Al Umawy, Ibunya bernama Hafsah dan julukannya Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab. Beliau lahir di Madinah pada Selasa, 26 Shafar 60 H ada yang mengatakan tahun 61 H dan ada juga yang mengatakan 63 H,  Ayah beliau adalah seorang dermawan dan salah satu pejabat terbaik Bani Umayah yang menjabat gubernur di Mesir, beliau pun dikenal sungguh-sungguh dan tekun dalam menuntut ilmu hadis. Silsilah keturunannya dari pihak ibunya, bersambung kepada Khalifah yang kedua, Umar bin Khattab. Oleh sebab itu beliau telah mewarisi banyak sifat-sifat yang mulia dari Umar bin Khattab.

Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok laki-laki yang berparas lembut dan tampan. Kulitnya putih kecoklatan, jambangnya tipis, tubuhnya ramping (karena sering berpuasa sunnah), dan matanya cekung (karena tiada hari tanpa shalah malam). Sewaktu kecil, Umar pernah masuk ke kandang kuda. Tanpa sengaja seekor kuda jantan menedangnya hingga keningnya robek dan pada wajahnya terlihat bekas tapal kuda.

Karenanya, beliau disebut Asyajj Bani UmayyahAsyajj Bani Umayyah (orang dari Bani Umayyah yang terluka kepalanya). Melihat kejadian itu, semua orang panik dan menangis, kecuali Abdul Aziz, ayah Umar. Sambil mengobati luka Umar, beliau berkata “Bergembiralah engkau wahai Ummu Ashim. Mimpi Umar bin Khattab insya Allah akan terwujud. Beliau adalah anak dari keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini”.

Kecerdasan dan kesalehan Umar juga tidak terlepas dari didikan ibunya yang luar biasa, yaitu Ummu Ashim, seorang wanita yang sangat cerdas dan ahli ibadah. Keutamaan Ummu Ashim ini tidak terlepas dari didikan ibunya pula yang sangat memegang teguh syariat Islam, yaitu Ummu Amara binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi.

1.2       Riwayat Keluarga

Istri pertamanya adalah wanita yang salehah dari kalangan kerajaan Bani Umayah, yang merupakan putri dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan yaitu Fatimah binti Abdul Malik. Beliau memiliki nasab yang mulia; putri khalifah, kakeknya juga khalifah, saudara perempuan dari para khalifah, dan istri dari khalifah yang mulia Umar bin Abdul Aziz, namun hidupnya sederhana. Istrinya yang lain adalah Lamis binti Ali, Ummu Utsman bin Syu’aib, dan Ummu Walad.

Umar bin Abdul Aziz mempunyai empat belas anak laki-laki, di antara mereka adalah Abdul Malik, Abdul Aziz, Abdullah, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Bakar, Al-Walid, Musa, Ashim, Yazid, Zaban, Abdullah, serta tiga anak perempuan, Aminah, Ummu Ammar dan Ummu Abdillah.

1.3       Wafat

Beliau wafat di bulan Rajab tahun 101 H dalam usia 39 tahun lebih 6 bulan atau berusia 40 tahun  dan dimakamkan di Dir Sam'an pinggian kota Hims atau pinggiran kota Qannasrin.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

 Umar bin Abdul Aziz dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Beliau telah menghafal Al-Qur’an sejak masih kecil. Mengembara ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau meminta ilmu dari beberapa orang terkemuka, seperti Imam bin Anas, Urwah bin Zubair, Abdullah bin Ja’far, Yusuf bin Abdullah, dan yang lainnya. Kemudian beliau pun melanjutkan perjalanannya dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir. Umar bin Abdul Aziz termasuk orang yang haus akal ilmu. Beliau senantiasa berada di dalam majelis ilmu bersama degan pakar-pakar di bidang fiqih dan ulama ulama. Umar termasuk anak yang cerdas. Beliau telah menghafal Al-Qur’an sejak masih kecil.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. Imam bin Anas
  2. Urwah bin Zubair
  3.  Abdullah bin Ja’far
  4.  Yusuf bin Abdullah

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

Umar bin Abdul Aziz mempunyai empat belas anak laki-laki, di antara mereka adalah:

  1. Abdul Malik
  2.  Abdul Aziz
  3.  Abdullah
  4.  Ibrahim
  5.  Ishaq
  6.  Ya’qub
  7.  Bakar
  8.  Al-Walid
  9.  Musa
  10.  Ashim
  11.  Yazid
  12.  Zaban
  13.  Abdullah
  14. Aminah
  15.  Ummu Ammar
  16. Ummu Abdillah

4          Jasa, Karya, dan Karier

4.1       Jasa-jasa Beliau

4.1.1      Mereformasi Kekhalifahan 

Segera setelah menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz merombak ulang administrasi provinsi-provinsi di kekhalifahan. Beliau melakukan pemekaran atas provinsi di kawasan timur kekhalifahan yang dibentuk pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan Al-Hajjaj bin Yusuf. Gubernur yang ditunjuk Sulaiman untuk provinsi besar ini, Yazid bin Muhallab, diberhentikan dan ditahan lantaran tidak menyetorkan harta rampasan perang dari penaklukan sebelumnya atas kawasan Thabaristan ke kas perbendaharaan negara.  Umar bin Abdul Aziz kemudian menunjuk beberapa gubernur baru untuk beberapa provinsi. Perinciannya:

Kawasan timur

  1. Kufah: Abdul Hamid bin 'Abdurrahman bin Zaid bin Khattab (masih anggota keluarga 'Umar bin Khattab)
  2. Basrah: Adi bin Arthah al-Fazari
  3. Khorasan:  Al-Jarrah bin 'Abdullah
  4. Sindh: Amr bin Muslim al-Bahili
  5. Mesopotamia Hulu: Umar bin Hubairah

Kawasan barat

  1. Al-Andalusia (semenanjung Iberia): As-Samh bin Malik al-Khaulani
  2. Ifriqiyah (Afrika Utara): Ismail bin Abdullah bin Abi al-Muhajir

Meski pejabat baru yang ditunjuk di kawasan timur ini dulunya pengikut Al-Hajjaj atau dari kelompok Qais,  Umar bin Abdul Aziz menunjuk mereka atas dasar kecakapan, bukan lantaran mereka adalah lawan politik Khalifah Sulaiman. Pilihannya untuk gubernur Al-Andalus dan Ifriqiyah berangkat dari pandangan  Umar bin Abdul Aziz tentang netralitas mereka atas persaingan antara kelompok Qais dan Yamani, juga keadilan mereka terhadap pihak-pihak yang tertindas.

Umar bin Abdul Aziz tampak memilih orang cakap yang dapat dia kendalikan, menunjukkan niat beliau untuk benar-benar melakukan pengawasan cermat atas tiap-tiap provinsi. 

4.1.2       Pembaharuan Aturan-aturan Baru

Umar bin Abdul Aziz merupakan seorang ulama dan dia sendiri dikelilingi ulama-ulama besar seperti Muhammad bin Ka'ab dan Maiumun bin Mihran. Dia menawarkan tunjangan kepada para guru dan mendorong pendidikan. Melalui teladan pribadinya, beliau menanamkan kesalehan, ketabahan, etika bisnis, dan kejujuran moral di masyarakat. Pembaharuan yang beliau lakukan termasuk memperketat larangan minum-minuman keras, melarang ketelanjangan publik, menghapus pemandian umum campur laki-laki dan perempuan, dan pemberian dispensasi zakat yang adil.

Beliau memerintahkan pengerjaan berbagai bangunan umum di Persia, Khorasan, dan Afrika Utara, seperti pembangunan kanal, jalan, karavanserai, dan klinik kesehatan.  Umar bin Abdul Aziz juga melanjutkan program kesejahteraan dari beberapa khalifah Umayyah terakhir dan memperluasnya, termasuk program-program untuk anak yatim dan orang miskin.

Umar bin Abdul Aziz juga dipuji lantaran memerintahkan pengumpulan resmi hadits yang pertama kali lantaran adanya kekhawatiran akan hilangnya sebagian hadis. Mereka yang diperintahkan  Umar bin Abdul Aziz melaksanakan perintah tersebut antara lain Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm dan Ibnu Syihab az-Zuhri.

Beberapa Aturan baru lain yang Umar bin Abdul Aziz lakukan:[

  1. Melarang pejabat negara untuk berbisnis
  2. Pekerja tanpa bayaran dianggap ilegal
  3. Tanah penggembalaan dan cagar alam yang diperuntukkan bagi keluarga para pejabat tinggi dibagikan secara merata pada orang miskin dan tujuan budidaya.
  4. Mendesak semua pejabat untuk mendengarkan keluhan orang-orang dan pada setiap kesempatan, diumumkan bahwa jika ada yang melihat petugas yang memperlakukan masyarakat tidak sebagaimana mestinya, dia harus melaporkannya dan sang pelapor akan diberikan hadiah mulai dari 100 hingga 300 dirham.

Tanah Fadak yang dikuasai Bani Umayyah sejak masa Khalifah Marwan bin al-Hakam juga dikembalikan kepada Bani Hasyim. Sebagai catatan, tanah Fadak adalah tanah milik Nabi Muhammad di kawasan Khaibar yang berdasar perintah Nabi, hasil dari pengelolaannya diberikan kepada kalangan Bani Hasyim yang membutuhkan.

4.2       Karier Beliau

Karier Umar bin Abdul Aziz :

  1. Walikota Medinah  86 H-93 H
  2. Gubernur Medinah  (87-93 H)
  3. Khalifah pada Rabu, 10 Shafar 99 H/22 September 717 M

5        Teladan

5.1          Pemimpin Wara' dan Sederhana

Umar bin Abdul Aziz memiliki berbagai karakter yang membuatnya layak menjadi pimpinan pilihan. Ia orang yang wara', sederhana, egaliter, tawadhu, telaten dan sabar, adil, dan yang terpenting pembela kaum dhuafa. Salah satu kisah keteladanan Umar bin Abdul Aziz tercantum dalam Biografi Khalifah Rasulullah (Khulafaur Rasul) karya Khalid Muhammad Khalid.

Suatu ketika ada gubernur yang melayangkan surat kepada Umar untuk meminta tambahan pena dan kertas. Dalam surat balasan, Umar bin Abdul Aziz menjawab, "begitu suratku ini tiba, runcingkan pena, satukan tulisan, dan tulislah berbagai keperluan sebanyak-banyaknya dalam satu kertas. Kaum muslimin tidak membutuhkan kata-kata lebih yang membahayakan Baitul Mal mereka".

5.2         Menghentikan Budaya Caci Maki Ali bin Abi Thalib

Salah satu warisan penting dari Umar bin Abdul Aziz adalah upayanya menyudahi konflik antara Bani Hasyim-Bani Umayyah. Umar menyebutkan, "Allah menjaga tanganku dari peristiwa itu. Tetapi apakah aku tidak boleh membersihkannya dengan lidahku?". Sejak zaman Umar bin Abdul Aziz pula, caci maki kepada Ali bin Abi Thalib dihentikan. Sebelum era kekhalifahan Umar, setiap kali khotbah Jumat, diakhiri dengan memaki-maki Ali, terkait rivalitas Bani Umayyah dan Bani Hasyim, dan sejarah panjang yang melibatkan pendiri Dinasti Umayyah, Muawiyah bin Abu Sufyan, juga sang putra Yazid bin Muawiyah. Menurut Umar bin Abdul Aziz, budaya caci maki yang demikian sudah saatnya dihentikan. Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang dijamin masuk surga, pemimpin yang dicintai Allah, salah satu orang terkasih Rasul-Nya. Jadi tradisi ini harus dihentikan.

6         Referensi

"Riwayat Hidup Para Wali dan Shalihin"

Penerbit: Cahaya Ilmu Publisher

 

 

 

 

 

 



 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya