Ziarah Makam KH. Muhammad Jauhar Arifin, Pengasuh Generasi ke-5 Pondok Pesantren Al-Jauhariyah

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp 0. Donasi Sekarang
 
Ziarah Makam KH. Muhammad Jauhar Arifin, Pengasuh Generasi ke-5 Pondok Pesantren Al-Jauhariyah
Sumber Gambar: Worldogs.com

Laduni.ID, Jakarta – KH. Muhammad Jauhar Arifin atau akrab dikenal dengan Kiai Johar/Mbah Johar merupakan seorang ulama kelahiran Desa Balerante, Palimanan, Cirebon pada tahun 28 Maret 1868. Beliau merupakan generasi ke-5 pengasuh Pondok Pesantren Balerante (nama pesantren sebelum dirubah menjadi pondok pesantren Al-Jauhariyah).

Kiai Jauhar merupakan putra ke-6 dari tujuh bersaudara pasangan Kyai Abdul Majid dan Nyai Hj. Arniyah (biasa disapa Mbok Ompong). Beliau memiliki nasab yang tersambung kepada Syaikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Beliau merupakan keturunan Syaikh Syarif Hidayatullah yang ke- 13. Sehingga beliau memiliki gelar “Raden” di depan Namanya.

Sejak kecil beliau sangat gemar belajar, hingga pada usia remaja Kiai Jauhar dipondokkan di pesantren Sukun Sari yang berada di Plered di bawah asuhan KH. Hasan Jones.

Begitu besar rasa cintanya terhadap ilmu, setelah menikah Kiai Jauhar pergi ke Makkah dan Madinah untuk berguru kepada beberapa ulama besar (1891-1896). Beberapa teman seperjuangan beliau saat menuntut ilmu di Makkah ialah KH Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari (Jombang), KH Bagir (Yogyakarta), dan masih banyak lagi.

Adapaun beberapa guru-guru beliau sebagaimana diutarakan oleh Kiai Said Yaman adalah Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridwan Al-Madani (disebut Syekh Dalail Al-Khairat), Syekh Said Ali Al-Yamani, Syekh Husain Al-Habsi, Syekh Mahfudz Al-Tirmasi, dan Syaikhona Kholil Bangkalan.

Selain gemar menuntut ilmu, Kiai Jauhar juga sangat rajin dalam menulis. Salah satu karya beliau yang fenomenal adalah Risalah Sabilil Huda Fi al-Jumuah Wa Fi al-Raddi ‘Ala Man Mana’a al-Mu’adah, kitab itu berisi hujjah akan mu’adah setelah shalat Jum’at jika terjadi terbilangnya (dua atau lebih) masjid shalat Jum’at dalam satu balad/desa, serta keutamaan hari dan malam Jum’at. Karya-karya beliau yang lainnya telah hilang karena tidak terawat oleh generasi setelahnya, adapun kitab-kitab hilang itu ialah Menolak Paham Tarikat Tijani, Tanya Jawab Soal Fiqih, Al-Buhus Fii ‘Ilmi Mantiq.

Lokasi Makam

Beliau wafat pada 1941 dan dimakamkan di Blok Pesantren, Desa Balerante, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Untuk mengenang semua jasa-jasa beliau maka digantilah nama Pondok Pesantren Balerante menjadi Pondok Pesantren Al-Jauhiriyah Balerante, Cirebon. Dengan tidak bermaksud menghilangkan nama Balerante yang telah melegenda, nama ini tetap dipertahankan sebagai tanda cikal bakal pesantren.

Selain itu, Pondok Pesantren Al-Jauhiriyah setiap tahunnya juga mengadakan haul. Haul dialaksanakan pada hari sebelum acara khotmil Qur’an dan mengundang seluruh alumni serta masyarakat sekitar.

Pesantren Al-Jauhiriyah dapat ditempuh dengan perjalanan 45 menit atau sejauh 17 kilometer kearah Barat dari pusat kota.

Disadur dari berbagai sumber.

Sumber foto: FB Mukhyi Banser Ngebolang


Editor: Daniel Simatupang