Biografi Imam Rifa'i

 
Biografi Imam Rifa'i

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Nasab
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu

3          Penerus Beliau
3.1       Murid-murid Beliau

4         Karya
4.2      Karya-karya Beliau

5         Karomah
5.1      Mencium Tangan Rasulullah SAW
5.2      Dibaiat Langsung Oleh Rasulullah SAW
5.3      Anak Kecil

6         Teladan Beliau 

7         Untaian Nasehat

8         Referensi

1       Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Menurut sebagian riwayat, Sayyid Ahmad ar-Rifa’i lahir hari Kamis pada pertengahan bulan Muharam tahun 500 H di Ummi Abidah, daerah yang berada diantara Bashrah dan Baghdad, yang masyhur di Irak.  Sebelum lahir, ar-Rifa’i sudah dibanggakan oleh sejumlah ulama terkemuka kala itu, di antaranya Syaikh al-Kabir Tajul Arifin Abul Wafa, Syaikh Mansur, Syaikh Ahmad Khumais dan lainnya.

1.2     Nasab

Garis keturunan ar-Rifa’i bersambung kepada Nabi Muhammad saw. dari jalur Sayyidina Husain, cucu Rasulullah saw. Lengkapnya sebagai berikut; ar-Rifai bin Ali bin Yahya bin Sayyid Tsabit bin Hazim Ali bin Sayyid Ahmad bin Ali bin Hasan bin Rifa’ah al-Hasyimi al-Makki bin Sayyid Mahdi bin Abil-Qasim Muhammad bin Hasan bin Sayyid Husain ar-Radli bin Sayyid Ahmad al-Akbar bin Musa ast-Tsani bin Ibrahim al-Murtadla bin Sayyid Musa al-Kadzim bin Sayyidina Ja’far Shadiq bin Sayyid Muhammad Baqir bin Sayyid Zainal Abidin Ali As-Sujjad bin Sayyid Husain bin Sayyidina Ali Amirul Mu’minin dengan Sayyidah Fatimah binti Rasulullah saw. Sedangkan dari jalur ibu, nasab  ar-Rifa’i bersambung kepada salah satu sahabat Nabi yang bernama Abu Ayyub al-Anshari.

1.3     Wafat

Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i rahimahullah wafat pada waktu dhuhur, hari Kamis 12 Jumadil Ula tahun 578 H. Pada hari wafatnya Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i, ribuan orang datang melayat. Beliau dikebumikan di kuburan Yahya al-Bukhari di Bukhara.

2       Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Syeikh Imam Ahmad Ar-Rifa'i kecil lahir sebagai anak yatim. Beliau tidak pernah merasakan indahnya bercanda dengan sang ayah, tidak pernah merasakan hangatnya pelukan dan kasih sayang dari ayah tercinta. Beliau juga tidak pernah menerima petuah dan ilmu agama darinya. Sebab, sang ayah telah dipanggil Ilahi Rabbi ketika ar-Rifa’i masih berada dalam kandungan.

Hanya saja, hal itu tidak membuatnya kecil hati. Beliau tetap semangat dalam mencari ilmu. Sejak kecil ar-Rifa’i diasuh oleh pamanya, Syeikh Mansur. Ar-Rifa’i belajar kepada pamannya, tentang tarekat Sufiyah, ilmu Tasawuf, ilmu Syariah dan Hakikat. Bahkan Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i mendapat ijazah dari sang paman. Sedangkan dalam  ilmu Fiqih, Ahmad Ar-Rifa'i belajar kepada Abul-Fadhl al-Wasithi yang dikenal dengan Ibnul-Qari. Selain itu beliau juga belajar kepada beberapa ulama dengan rajin dan giat sampai berumur 27 tahun. Di antara gurunya adalah Syeikh Abu Bakar al-Wasthi.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. Syaikh Mansur
  2. Abul-Fadhl al-Wasithi
  3. Syaikh Abu Bakar al-WasthI

3       Penerus Beliau

3.2       Murid-murid Beliau

Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti:

  1.  Al-Arif Billâh al-Ghaust Sayyid Abul Hasan Asy-Syadzili (pendiri thariqoh Syadziliyah)
  2.  Al-Imam al-Hafidz Abdurrahman Jalauddin As-Suyûtiy (salah satu ulama fiqh)
  3.  Syaikh Najmuddin (salah satu guru imam ad-dasuqi)
  4.  Syaikh Aqîl al-munbiji
  5.  Syaikh Ali al-Khowwas.

4       Karya

4.1       Karya-karya Beliau

Karya-karya beliau dibukukan adalah:

  1. Tafsīr Sūrah al-Qadr
  2. Ath-Tharīq ila Allāh
  3. Syarh at-Tanbīh fī al-Fiqh
  4. Syarhu al-Kitab at-tanbih lisy-syiraziy
  5. Ma’aniy bismillahirrahmanirahim

5      Karomah

5.1       Mencium Tangan Rasulullah SAW

Pada tahun 555 H. saat itu Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i berumur 43 tahun, beliau berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan haji. Setelah di Mekkah beliau pergi ke Madinah untuk beziarah ke makam datuknya Rasulullah saw. Setelah sampai di Madinah, ar-Rifa’i dan para jamaahnya menuju masjid makam Rasulullah saw. di masjid Nabawi. Saat itu nampak pada para jamaah, karomah Imam ar-Rifa’i, para jamaah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Rasulullah saw. menjawab salam dari Imam ar-Rifa’i. Ar-Rifa’i berkata “Assalamu ‘alaikum Wahai datukku.”.

Lalu datang dari dalam Hujroh Rasulullah suara, “Wa’alaikum salam Wahai anakku”. Ar-Rifai lalu masuk ke dalamnya dalam keadaaan gemetar dan menggigil sehingga warna kulitnya menjadi kekuning-kuningan dan ar-Rifai berlutut sambil menangis seraya berkata, “Dari kejauhan aku kirimkan ruhku untuk selalu mengingatmu sebagai perwakilanku, maka dalam kesempatan ini aku bisa melihat dengan seluruh jasadku padamu secara kasat mata. Maka aku mohon ulurkanlah tanganmu agar aku bisa mencium tanganmu”. 

Syahdan, tangan Rasulullah saw. keluar dari makamnya, ar-Rifai’ pun langsung menciumnya, sebagaimana yang diminta oleh Syeikh ar-Rifa’i. Semua jamaah haji yang ikut serta melihat dan mendengar langsung karomah Imam as-Syeikh al-Mursyid al-Ghaits az-Zahid al-Arif imamul-Akbar Sayyid Abul Abbas Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir. Kejadian ini 23 tahun sebelum Imam ar-Rifa’i dipanggil di pangkuan Allah (wafat).

5.2       Dibaiat Langsung Oleh Rasulullah SAW

Pada waktu Syeikh Imam Ahmad ar-Rifa’i mencium tangan Rasulullah saw., beliau dibaiat langsung oleh Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw. berkata pada Imam ar-Rifa’I, “Wahai anakku, pakailah selendang hitam dan naiklah ke atas mimbar lalu berkhutbahlah di depan para manusia. Baiat ini aku serahkan padamu dan kepada keturunanmu hingga hari kiamat”. Lalu Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i keluar dan melaksanakan perintah dari Rasulullah saw. Semua jamaah haji yang hadir saat itu mencapai 90.000 orang, semua menyaksikan langsung karomah dan pembaiatan Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i.

Dilihat Langsung Oleh Sulthanul Auliya’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Di antara jamaah yang yang melihat langsung kejadian itu mulai dari para ulama, tokoh masyarakat, pejabat, dan masyarakat umum dari menengah atas hingga masyarakat bawah. Di antara ulama adalah Sulthanul Auliya’ as-Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Sayyid Adiy bin Musafir as-Syamy, as-Syeikh Ali bin Khamis, as-Syeikh Hayat bin Qais al-Harany.

5.3        Anak Kecil

 Pada suatu hari Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i  diminta bantuan oleh teman-temannya  untuk memeriksa kondisi tubuh seorang bocah yang terinjak-injak para pengunjung sebuah perhelatan malam. Saking semaraknya acara itu, para tamu bernyanyi, menari dengan riangnya, sehingga tidak terasa mereka telah menginjak-injak seorang anak kecil yang duduk di permadani. Hal itu baru diketahui pada pagi harinya setelah mereka lelah berjoget. Dan ketika diperiksa, ternyata anak itu sudah tidak bernyawa.

       Tentu saja tuan rumah kelimpungan. Maka dia meminta bantuan kepada salah seorang tamunya, yaitu Syeikh Umar. Syeikh Umar kemudian minta bantuan lagi kepada Syeikh Ahmad  Ar-Rifa'i RA., yang dikenal sangat zuhud dan menjadi panutan masyarakat. Syeikh Umar banyak belajar pada Syeikh Ahmad.

      Atas permintaannya itu, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i kemudian shalat dua raka'at dan berdoa kepada Allah. Setelah itu ia berkata kepada anak tersebut, "Wahai anakku, waktu subuh telah tiba, bangunlah." Ajaib, anak itu bangun, seperti tidak pernah terjadi apa-apa pada dirinya.

6    Teladan Beliau

Keteladanan Hidup Syaikh Ahmad Rifa'i
 
Salah satu dari sekian banyak  budi pekerti yang diteladankan Syeikh Ahmad Rifa'i  adalah seringnya ia mengunjungi tempat orang-orang berpenyakit kusta. Ia tidak sekedar mengunjungi, tetapi  mencuci bersih pakaian orang-orang berpenyakit kusta yang sangat menjijikkan menurut pandangan umum itu. Dipeliharanya orang-orang yang sedang sakit itu dengan mengantarkan makanan untuk mereka dan ia  juga turut makan bersama-sama mereka  tanpa merasa jijik.
 
Ketika Syeikh Ahmad Al Rifa'i datang dari perjalanan dan  telah dekat dengan kampungnya, maka dipungutnya kayu bakar. Setelah  itu dibagi-bagikannya kayu bakar itu  kepada orang-orang sakit, orang buta, orang-orang tua dan orang  yang membutuhkannya. Syeikh Ahmad Rifa'i berkata, "Mendatangi orang-orang yang semacam itu adalah  wajib bagi kita dan bukan sekedar sunnah. Nabi Saw bersabda : "Barang siapa yang memuliakan orang tua muslim, maka Allah akan meluluhkan orang untuk memuliakannya jika ia sudah tua".
 
Setiap berada dijalan, Syeikh Ahmad Rifa'i selalu menunggu  lewatnya orang buta, di mana saat  ada orang buta lewat  lalu dipegang dan dituntun serta diantar  sampai ke tujuan. Syaikh Ahmad Rifa'i memiliki kasih sayang bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada binatang. Dikisahkan satu saat  ada seekor anjing menderita penyakit kusta. Kemana saja anjing itu pergi, ia selalu  diusir orang. Anjing itu kemudian dipelihara oleh Syeikh Ahmad Al-Rifa'i. Anjing itu dimandikan dengan air panas, lalu diberi obat dan makanan, sampai anjing itu sembuh dari penyakit yang dideritanya. Kalau ada orang yang bertanya tentang apa yang telah  diperbuatnya  Syeikh Ahmad Rifa'i selalu berkata , "Aku selalu membiasakan pekerjaan yang baik."
 
Syeikh Ahmad Rifa'i kalau kebetulan dihinggapi nyamuk akan  membiarkannya. Beliau tidak mengijinkan orang lain untuk  mengusirnya. Syeikh Ahmad Rifa'i berkata, "Biarkanlah dia meminum darah yang dibagikan Allah kepadanya."

Pada suatu hari ada seekor kucing sedang nyenyak tidur di atas lengan bajunya. Waktu shalat telah masuk. Syeikhh Ahmad Rifa'i lalu menggunting lengan bajunya itu karena ia  tidak sampai hati mengejutkan kucing yang sedang lelap tidur itu. Seusai shalat,  lengan bajunya itu diambil dan dijahit lagi.
 
Jika ada orang minta dituliskan wafak/azhimah  kepadanya, maka Syeikh Ahmad Rifa'i akan mengambil kertas lalu ditulis tanpa pena. Anehnya, sewaktu ada orang memberikan kertas yang pernah ditulisnya tanpa pena setahun sebelumnya, ia menolak untuk menulis ulang di atas kertas itu sambil menjelaskan bahwa kertas itu sudah pernah ditulisinya.
 
Budi pekerti mulia  lain yang ditunjukkan Syeikh Ahmad Rifa'i ialah beliau  tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Apabila beliau dimaki  orang, ia hanya  menundukkan kepala dan bersujud mencium bumi dan menangis serta meminta maaf  kepada orang yang memakinya. Syeikh Ahmad Rifa'i pernah dikirimi surat oleh Syeikh Ibrahim al-Basity yang isi suratnya merendahkan martabatnya. Syaikh Ahmad Rifa'i berkata kepada orang yang menyampaikan surat itu, "Coba bacalah surat itu!"
 
Ternyata isi surat itu  adalah  "Hai orang yang buta sebelah, hai Dajjal, hai orang yang membikin bid'ah,  dan berbagai macam caci-maki yang menyakitkan hati."  Setelah  pembawa surat itu selesai membaca surat,  maka surat itu diterimakan kepada Syeikh Ahmad Rifa'i, dan setelah membaca Syaikh Ahmad Rifa'i berkata : "Ini semua benar, semoga Allah membalas kebaikan kepadanya." Lalu Syeikh Ahmad Rifa'i  berkata dengan bersyair, 
 
"Maka tidaklah aku peduli kepada orang yang meragukan aku 
yang penting menurut Allah, aku bukanlah orang yang meragukan." 
 
Sebentar kemudian  Syeikh Ahmad Rifa'i berkata : "Tulislah sekarang jawaban balasanku yang berbunyi :
"Dari orang rendah kepada Tuanku Syaikh Ibrahim. 
Mengenai tulisan Tuan seperti yang tertera dalam surat, 
memang Allah telah menjadikan aku menurut apa yang dikehendaki-Nya 
dan aku mengharapkanmu hendaknya sudi bersedekah kepadaku 
dengan mendo'akan dan memaafkanku."
Setelah surat balasan ini sampai pada Syaikh Ibrahim al-Basity dan dibaca isinya, kemudian Syaikh Ibrahim pergi. Menurut cerita,   tidak ada seorang pun yang tahu ke mana syaikh itu pergi.

7     Untaian nasehat

Berikut nasehat-nasehat beliau:

  1. Aku telah mencoba menempuh semua jalan menuju kepada Allah SWT. Namun tidak kutemukan jalan yang lebih mudah, lebih dekat dan lebih pantas selain dari kefakiran, kehinaan dan kesusahan.
  2. Di antara tanda-tanda tenang bersama Allah SWT, adalah merasa resah ketika berada bersama orang-orang kecuali para wali. Sebab tenang bersama para waliyullah berarti tenang bersama Allah SWT.
  3. Sesuatu yang lebih dekat dengan murka Allah SWT, adalah melihat (dengan penuh rasa bangga) pada diri sendiri, tingkah laku dan amal kebajikannya. Yang lebih parahnya lagi adalah meminta imbalan atas suatu amalan (ibadah)”.
  4. Seandainya engkau memiliki akal yang hakiki, maka tidak mungkin engkau akan condong berlebihan terhadap dunia, walaupun mungkin dunia condong kepadamu. Karena dunia adalah penghianat dan tukang bohong, ia selalu menertawakan orang-orang yang mencintainya. Barangsiapa yang menjauhinya maka dia akan selamat, sebaliknya barangsiapa yang condong mencintainya, maka dia akan terkena musibah karenanya. Dunia diibaratkan sebagai seekor ular yang gemulai jalannya, namun bisanya mematikan. Kenikmatannya mudah sirna, hari-harinya berlalu bagaikan khayalan. Maka sibukkan dirimu dengan bertakwa kepada Allah SWT, janganlah lalai untuk mengingat-Nya walau sesaat. 
  5.  Jika engkau belajar serta mendengar ucapan yang benar, maka ikutilah. Jangan engkau seperti orang-orang yang berilmu tapi tidak mau mengamalkannya. Sungguh aneh orang yang tahu bahwa dirinya akan mati namun lupa akan kematian tersebut. Sungguh aneh orang yang tahu bahwa dirinya akan berpisah dengan dunia namun dia tetap saja mencintainya.

    Kalian habiskan waktu dengan gurauan dan kelalaian, kalian isi hari-hari dengan khilaf dan maksiat. Lelucon kalian seolah seperti lelucon orang yang aman dari nelangsa, Gurauan kalian seperti gurauan orang yang tidak akan mendengar hari kiamat. Kalian seolah-olah tidak akan melihat kubur, dan terhadap orang yang menempatinya kalian seolah tidak memperdulikan.

  6.  Apa yang kau makan akan habis, apa yang kau pakai akan rusak, sedangkan kembali pada Allah adalah keharusan yang menuntut, dan berpisah dengan yang dicintai adalah janji yang pasti tiba. Dunia awalnya lemah dan asing, sedang akhirnya adalah mati dan kuburan.

8      Referensi

"Riwayat Hidup Para Wali dan Shalihin"

  Penerbit: Cahaya Ilmu Publisher
 

 

 

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya