Biografi Imam Ahmad al-Muhajir

 
Biografi Imam Ahmad al-Muhajir

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Nasab
1.4       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau

4         Kisah-kisah
4.1      Hijrahnya Imam Ahmad al-Muhajir dari Basrah ke Hadramaut

5         Referensi

1.      Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad al-Muhajir lahir pada tahun 241[1] Hijriyah (820 Masehi) walaupun telah tersedia pula yang menyebut 260[2] Hijriyah. 

Ahmad bin Isa dinamakan Al-Muhajir karena dia meninggalkan Basrah, Irak pada zaman pemerintahan Khalifah Abbassiyah yang berpusat di Baghdad, pada tahun 317H (896 M). Mula-mula ke Madinah dan Mekkah, kemudian pada tahun 318 H dari Mekkah ke Yaman kurang lebih sekitar tahun 319 H.

1.2       Riwayat Keluarga

Beliau menikah dengan seorang perempuan yang masih sepupunya sendiri bernama Zainab bin Abdullah bin Hasan al Uraidi dan dikaruniai:

  1. Muhammad (Keturunannya tersebar di negri Baghdad )
  2. Abdullah / Ubaidillah (Abu Alawy). Lahir di Basrah dan meninggal pada 383 H di Somal, Yaman.[3]
  3. Basri
  4. Jadid
  5. Alwi al-Awwal
  6. Muhammad Sohibus Saumi'ah
  7. Alwi ats-Tsani
  8. Salim
  9. Ali Khali' Qasam
  10. Muhammad Shahib Mirbath
  11. Abdullah
  12. Husain

1.3       Nasab

Ahmad bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib

1.4       Wafat

Beliau wafat pada tahun 345h (924 M) di Husayyisah, sebuah kota sela Tarim dan Seiyun, Hadramaut. Makamnya di atas sebuah bukit umumnya salah-satu yang pertama kali diziarahi oleh para pengunjung yang datang ke Hadramaut.

2.      Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Beliau menuntut ilmu di Basrah Irak dengan ayahnya Isa ar-Rumi, Imam an-Nabilisi al-Bashri lalu di Mekkah dengan Asy-Syeikh Abu Thalib Al-Makky

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. Isa Ar-Rumi
  2. Ibnu Mundah Al Asbahani, Abdul Karim Al Nisai
  3. Imam an-Nabilisi al-Bashri 
  4.  Asy-Syeikh Abu Thalib Al-Makky

3.      Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

Anak-anak beliau yang menjadi penerus beliau menjadi ulama adalah:

  1. Muhammad (Keturunannya tersebar di negri Baghdad )
  2. Abdullah / Ubaidillah (Abu Alawy). Lahir di Basrah dan meninggal pada 383 H di Somal, Yaman.[3]
  3. Basri
  4. Jadid
  5. Alwi al-Awwal
  6. Muhammad Sohibus Saumi'ah
  7. Alwi ats-Tsani
  8. Salim
  9. Ali Khali' Qasam
  10. Muhammad Shahib Mirbath
  11. Abdullah
  12. Husain

Semua para sayyid dari keluarga BaAlawi, Hadramaut bernasab untuknya. Beberapa agung para Walisongo di Indonesia juga adalah keturunan Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa.

4.       Kisah-kisah

4.1          Hijrahnya Imam Ahmad al-Muhajir dari Basrah ke Hadramaut

Pada waktu itu, Kota Bashrah kehilangan keelokan dan keeksotisannya, ketenangan pun lenyap meninggalkannya. Hal itu bermula semenjak Imam Ahmad al-Muhajir masih muda dan berlanjut hingga memasuki usia dewasa. Ketika Bashrah tak lagi bersahabat, Imam Ahmad al-Muhajir mulai mencari tempat untuk menyelamatkan para keturunannya.

Imam Ahmad al-Muhajir beserta para rombongannya yang terdiri dari sanak keluarganya menuju Hijaz melewati Syam. Karena jalur yang biasa digunakan dari Irak menuju Hijaz sedang dalam keadaan genting di sebagian tempat peristirahatan sudah rusak, tanda tanda petunjuk arah juga tak lagi terpampang.

Rombongan Imam Ahmad al-Muhajirjir berisi tujuh orang lmam al-Muhajir Ahmad bin Isa, istri beliau Zainab putri Abdullah bin Hasan al Uraidi, Abdullah (putra Imam Ahmad al-Muhajir), Ummul Banin putri Muhammad (istri Abdullah bin Ahmad), Ismail bin Adbdullah bin Ahmad (yang dijuluki al-Bashri), Muhammad bin Sulaiman bin Ubaidillah (tetua para habaib Ahadilah), Ahmad al-Kudaimi (petuah para habaib Al-Kudaim atau Bani Kudaim), dan para pengikut Imam al-Muhajir yang berjumlah 70 orang.

Pada tahun 317 H, rombongan sampai ke Madinah al-Munawarah dan berdiam selama setahun. Dan pertengahan tahun 318 H, rombongan menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah haiji. Di sanalah, Imam Ahmad al-Muhajir beserta rombongannya bertemu dengan para jamaah haji dari Tuhaim dan Hadramaut. Mereka penduduk Hadramaut memberi tahu fitnah Khawarij yang sedang mereka alami. Mereka juga meminta Imam Ahmad al-Muhajir untuk pergi ke Hadramaut bersama-sama.

Seusai melaksanakan ibadah haji, Imam Ahmad al-Muhajir bersama rombongan bergerak ke Hadramaut sebagai kota pilihan. Tempat yang pertama beliau singgahi adalah Jubail yang terletak di lembah Dau’an. Tak berselang lama, beliau pindah ke Hajrain dan menetap di sana untuk beberapa waktu. Kemudian beliau melanjutkan Perjalanannya menuju daerah Husaisah dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Hijrah ini membawa perubahan dan dampak besar. Imam Ahmad al-Muhajir yang merupakan keturunan ke-9 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah menyelamatkan generasi keturunan Nabi, serta menyelamatkan akidah Islam ahlussunnah wa al-jama’ah. Tidak hanya itu, beliau bahkan berhasil memperkokoh bangunan keyakinan yang benar itu. Hal itu awalnya memang di Hadhramaut, namun dari titik inilah keberhasilan dakwah ahlussunnah wa al-jama’ah itu berasal.

Kehijrahan beliau dari Bashrah, kemudian menetap di beberapa tempat, hingga akhirnya bermukim di desa terpencil bernama Husayyisah, tak hanya mengubah kondisi Hadhramaut, namun juga jagad dunia Islam pada umumnya.

Keturunan Imam Ahmad al-Muhajir di Hadhramaut, khususnya di kota Tarim, telah menjadi pejuang dan juru dakwah Islam yang tangguh. Kota Tarim yang sebelumnya juga telah dihuni oleh para ‘alim dari keluarga al-Khatib dan Ba Fadhal, makin bersinar dengan bermukimnya keturunan Baginda Rasul dari jalur Imam Ahmad al-Muhajir ini. Berkat perjuangan al-sadah al-‘awalwiyyin yang mulai menempati Tarim sejak 461 H, kota ini dikenal sebagai pusat ilmu dan penyebaran Islam.

Pakar sejarah mengatakan demikian, karena melalui perantau yang berasal dari Tarim pada khususnya, dan Hadhramaut pada umumnya, Islam menyebar hingga ke wilayah timur Asia, yakni India, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Pilipina, Singapura, juga ke belahan Afrika, di antaranya Kongo, Somalia, Tanzania, dan Sudan.

Wali Sanga yang sangat tersohor di Indonesia, sebagian besar leluhurnya berasal dari kota ini. Yang dimaksud adalah Sayyid Muhammad Shahib Mirbath dan Sayyid Ali Khali’ Qasam. Keduanya keturunan Imam Ahmad al-Muhajir.

5.        Referensi

"Riwayat Hidup Para Wali dan Shalihin"
Penerbit: Cahaya Ilmu Publisher
 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya