Ziarah Makam Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML, Pakar Ushul Fikih Indonesia

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp 0. Donasi Sekarang
 
Ziarah Makam Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML, Pakar Ushul Fikih Indonesia
Sumber Gambar: Tangselmedia/Abdullah Faza Alfansuri

Laduni.ID, Jakarta – Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML adalah ulama fikih Indonesia yang lahir pada 1 Januari 1917 di Tanjung Agung, Bengkulu. Beliau merupakan anak dari pasangan KH Hosen, seorang ulama dan saudagar berdarah bugis dengan Siti Zawiyah, seorang perempuan shaleha berdarah ningrat Kerajaan Salebar, Bengkulu.

Kiai Ibrahim dikenal sebagai sosok pemikir yang hebat dalam bidang fikih, hal tersebut tak lepas dari peran guru yang membentuknya. Kiai Ibrahim memulai pendidikannya di Madrasah Al-Sagaf, Singapura (Lembaga Pendidikan tingkat Ibtidaiyah). Lalu melanjutkan Pendidikan di Mu’awanatul Khaer ArabischeSchool (MAS) di Tanjung Karang yang didirikan orang tuanya.

Pada 1932, Kiai Ibrahim melanjutkan sekolahnya di Teluk Batang. Di luar kegiatan belajar di sekolah, Kiai Ibrahim selalu menyempatkan diri belajar agama dan Bahasa Arab kepada Kiai Nawawi, seorang ulama besar yang pernah mengajar di Mekkah.

Diantara guru-guru beliau adalah KH Abdul Latief Cibeber, Sayyid Ahmad Al-Segaf (Jameat Al-Khaer Tanah Abang), KH TB. Sholeh Makmun (Syekh Makmun Al-Khusairi), KH Abbas Djamil Buntet, Sayyid Ahmad Al-Segaf Solo, Sayyid Muhsin Al-Segaf (kakak Sayyid Ahmad Al-Segaf Solo), KH Sanusi Gunung Puyuh, dan pada tahun 1955 beliau menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Mesir.

Dari ilmu yang diterimanya itulah Kiai Ibrahim menjadi seorang ahli fikih, bahkan pada 1970 beliau mengusulkan adanya sebuah majelis ulama yang diperuntukkan sebagai wadah ijtihad kolektif. Maka lahirlah Majelis Ulama Indonesia (MUI)pada 17 Rajab 1395 Hijriah atau 26 Juli 1975 Masehi di Jakarta, Indonesia. Kala itu, jabatan Ketua Umum diduduki oleh Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau sering dikenal dengan nama Buya Hamka. Sedangkan Kiai Ibrahim menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI kedua menggantikan KH A. Syukri Ghazali.

Beberapa ijtihad beliau yang pada saat itu dinilai kontroversi adalah membolehkan KB, membolehkan hakim perempuan, dan menyatakan bahwa Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) bukanlah maisir (judi).

Walau dinilai kontroversial, Kiai Ibrahim tidak asal mengeluarkan fatwa tanpa pondasi metodologi yang kuat. Salah satu kalam beliau yang terkenal ialah, “Kebenaran ilmiah harus ditegakkan.” Walau sering mendapat cemoohan dari berbagai pihak, Kiai Ibrahim selalu menjawab cemoohan itu dengan akademis.

Kiai Ibrahim juga memprakarsai atas berdirinya Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang didirikan pada 1 April 1977 oleh Yayasan Affan. Dengan berdirinya IIQ Jakarta tersebut, lengkap sudah keinginan beliau agar Indonesia memiliki perguruan tinggi yang khusus mengkaji ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Lokasi Makam

Kiai Ibrahim wafat pada 7 November 2001/21 Sya’ban 1422 H di usia 84 tahun, beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan.


Editor: Daniel Simatupang