Biografi Habib Syech Abdul Qodir Assegaf (Habib Syech)

 
Biografi Habib Syech Abdul Qodir Assegaf (Habib Syech)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Majelis Taklim

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau

4          Jasa, Organisasi dan Karier 
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karya-karya Beliau
4.3       Karier Beliau

5          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf, Habib Syekh dilahirkan di kota Solo, Jawa Tengah pada tanggal 20 September 1961 M. dia adalah anak dari 16 bersaudara, ayahnya bernama Abdul Qadir Assegaf , yang merupakan seorang imam masjid Assegaf di Solo.dan ayah memberi nama kepadanya “Syekh”.

Ayahnya adalah seorang imam masjid Assegaf di Solo. Habib Syekh bermadzhabkan Syafi’i, beraqidahkan Asy’ari, dan mengikuti sufi dari Al Imam Ghazali.

1.2       Riwayat Keluarga

Anak-anak beliau di antaranya: Habib Muhammad Bagir bin Syech Assegaf, Habib Umar bin Syech Assegaf, Sayyid Abu Bakar bin Syech Assegaf, dan Sayyid Toha bin Syech Assegaf. Istri beliau bernama Sayyidah binti Hasan Alhabsyi.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Habib Syekh mendapatkan pendidikan dari ayahnya semenjak dia kecil hingga ayahnya meninggal di saat Habib Syekh berusia 20 tahun. Setelah ayahnya meninggal, Habib Syekh berguru kepada beberapa guru yang diantara gurunya adalah pamannya sendiri yakni Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Dia juga berguru kepada seorang ulama besar di Solo yakni Habib Anis bin Alwy Al Habsyi yang merupakan pengarang kitab mawlid Simthud Duror.

Dari pendidikan yang diperoleh dari sang ayah, pamannya, serta Habib Anis Al-Habsyi, ia memberanikan diri untuk mensyiarkan shalawat yang dimulainya dari kota Solo. Hingga sampai saat ini syair shalawatnya begitu berkembang pesat. Dari syi’ar inilah Habib Syekh dikenal secara luas oleh masyarakat, hal ini dikarenakan dia begitu piawai membawakan nada-nada shalawat klasik. Suaranya yang berat, berwibawa serta khas akan menyihir dan menghipnotis ribuan jama’ah yang mendengar lantunan shalawatnya.

Habib Syekh mengamalkan berbagai ilmu yang telah didapat. Dia selalu mengajak masyarakat agar cinta Rasulullah SAW hal tersebut dilakukan mulai dari kota solo. Habib Syekh menjalankan dakwah dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Secara tidak sadar, banyak masyarakat yang mulai mengikuti majelisnya, mulai dari anak-anak, remaja, hingga kakek-nenek. Saat ini, majelisnya diikuti ribuan jama’ah mereka mengikuti majelis tersebut untuk mengetahui pentingnya cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. Habib Abdul Qadir Assegaf 
  2. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf
  3. Habib Anis bin Alwy Al Habsyi

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Majelis Taklim

Ahbabul Musthofa adalah salah satu majelis taklim yang di dalamnya taklimnya bertujuan untuk mempermudah jamaahnya meneladani Rosulullah. Ahbabul Musthofa berdiri sekitar tahun 1998 berawal dari majelis Rotibul Haddad, Burdah serta Maulid Simthudduror Habib Syech bin Abdulqadir Assegaf di Kota Solo, tepatnya di kampung Mertodranan.

Majelis taklim ini mengajak seluruh jamaahnya untuk mengenal Rosulullah Saw lebih dekat, meneladani dan menjadikan idola dalam kegiatan sehari-hari. Berikut ini jadwal rutin majelis rutin Ahbabul Musthofa:

Setiap Malam Sabtu Kliwon di Purwodadi tepatnya Masjid Agung Makmur Purwodadi Setiap Malam Rabu Pahing di Kudus tepatnya Halaman Masjid Agung Kudus Setiap Malam Sabtu Legi Jepara di Halaman Masjid Agung Jepara Setiap Malam Minggu Pahing di Sragen tepatnya Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen Setiap Malam Jumat Pahing di Jogja tepatnya Halaman PP Minhajuttamyiz, Timoho di belakang Kampus UIN Sunan Kalijaga Setiap Malam Minggu Legi di Solo tepatnya Halaman Masjid Agung Surakarta.

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

  1. Habib Muhammad Bagir bin Syech Assegaf
  2. Habib Umar bin Syech Assegaf
  3. Sayyid Abu Bakar bin Syech Assegaf
  4. Sayyid Toha bin Syech Assegaf

4          Jasa, Karya, dan Karier

4.1       Riwayat Organisasi

 Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah

4.2       Karya-karya Beliau

Karya-karya beliau

Album

  1. Qasidah Pilihan, vol. 1 (2005)
  2. Qasidah Pilihan, vol. 2 (2006)
  3. Qasidah Pilihan, vol. 3 (2007)
  4. Qasidah Pilihan, vol. 4 (2008)
  5. Qasidah Pilihan, vol. 5 (2009)
  6. Qasidah Pilihan, vol. 6 (2010)
  7. Qasidah Pilihan, vol. 7 (2011)
  8. Qasidah Pilihan, vol. 8 (2012)
  9. Qasidah Pilihan, vol. 9 (2013)
  10. The Best Sholawat vol. 1 - vol. 4 (2014)
  11. Untaian Nada Rindu Al Musthofa (2015)
  12. Qasidah Terpopuler vol. 1 & vol. 2 (2017)
  13. Tholama Asyku (2017)

Album live

  1. Qasidah Pilihan Untuk Mencapai Tujuan (2020)
  2. Sholawat Merdu Penyejuk Qolbu [LIVE] (2020)
  3. The Best Live Sholawat vol. 1 - vol. 3 (2021)

Single

  1. Allahul Kafi [LIVE] (2021)
  2. Labbaik Allahumma Labbaik (2021)

5         Metode Dakwah

Berdakwah dengan Shalawat

Diawal tahun 90-an Habib Syekh memulai berdakwah dengan mendatangi kampungkampung tapi tidak memakai sholawat, hanya memberi tausiyah saja, Habib Syekh tidak dipanggil atau diundang untuk memberikan tausiyah akan tetapi dia mendatangi karena keinginannya. Setiap Ramadhan sekali, ia beserta saudara-saudaranya, pergi ke kampungkampung, ke desa-desa kita cari masjid untuk bedakwah dengan membagi takjil.

Pada saat berdakwah, Habib Syekh tak Jarang diejek dan dicemooh oleh orang-orang yang tak suka dengannya, namun dia tidak pernah marah atau mendendam kepada mereka yang mengejeknya justru sebaliknya, dia tetap tersenyum dan memberi sesuatu kepada orang tersebut. Pada awalnya, dakwahnya dimulai dari kampung ke kampung di seputaran kota Solo dan sekitar Jawa Tengah. Dia mendatangi kampung kampung tersebut bukan karena ada yang memintanya untuk memberikan tausiyah, akan tetapi Habib Syekh sendirilah yang ingin memberikan tausiyah atau nasihat di kampung tersebut.

Setelah cukup lama Habib Syekh berdakwah dari kampung ke kampung, Habib Syekh belum merasakan adanya perubahan pada jama’ah yang dinasihatinya. Hingga pada suatu hari datang pamannya dari Yaman, waktu itu Habib Syekh sudah ikut majelis ditempat Habib Anis bin Alwy Al Habsyi, Habib Anis bin Alwy Al Habsyi orang yang luar biasa, dia adalah contoh akhlak yang luar biasa, dia adalah orang yang sangat mencintai anak-anak muda untuk diajak kebaikan, dan Habib Syekh merasa senang dan tenang waktu disamping Habib Anis bin Alwy Al Habsyi.

. Seperti yang diceritakannya saat wawancara dengan TV9 sebagai berikut: “Waktu itu paman saya dari Yaman beserta Habib Anis melihat dakwah saya, beliau berdua berkata kepada saya “ Wahai anakku, engkau mempunyai suara”. Kemudian paman saya juga memberikan buku Simthud Durar seraya berkata “wahai anakku, terima ini buku Simthud Durar ini, kamu baca, kamu punya suara, siapa tahu nanti kamu sekalian menyampaikan ilmu dan ini dakwah dengan shalawat.”

Medengar pesan pamannya tersebut, shalawat Simthud Durar terus dibaca. Hingga pada akhirnya, orang berduyun-duyun mendatangi majelis ta’lim dan shalawat Habib Syekh. Agar bisa akrab dengan jamaahnya dengan mempelajari bahasa jawa. Kecintaan Habib Syekh terhadap shalawat sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil. Tapi, kecintaanya hanyalah sebuah kecintaan yang dapat diaplikasikan dikeluarga. Pada waktu itu, hanya ayahnya yang mendengarkan shalawat merdunya. Ketika ada tamu yang dating kerumah, ayahnya akan memanggilnya untuk membaca shalawat dan kasidah. Ia pun hanya mendendangkan dua lagu bagi tamu yang datang.

Berbekal suara merdu dan mahir berbahasa arab, serta penguasaannya terhadap syairsyair dalam kitab Simtuddurar, Burdah dan beberapa kitab shalawat lainnya, Habib Syekh memperkenalkan sebuah seni musik spiritual yang disenangi oleh banyak orang. Melalui musik spiritual ini, Habib Syekh mampu menyampaikan dakwah Islam kepada sebagian besar masyarakat yang menyenangi dunia musik.

Karena memang pada waktu kecil dia sebagai muadzin masjid Assegaf di Solo, ayahnya sebagai imam disana dan ia selalu digandeng untuk adzan disana, bahkan ia menjadi khadim di masjid situ jadi setiap hari ngepel dan sebagainya. Dan alhamdulillah, waktu itu ayahnya senang dan gembira ketika ia adzan.

Habib Syekh mempunyai inisiatif dalam rangka menarik simpati masyarakat jawa. Shalawatnya dikolaborasikan dengan lagu-lagu atau syair-syair Jawa. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Wali Songo. Semua orang merasa heran karena orang Arab mahir dalam bertutur jawa, bias lagu lir-ilir, ling-iling, ling-iling siro manungso dan lain sebagainya. Habib Syekh sebenarnya kelahiran Solo, tapi wajahnya mirip orang Arab.

Beberapa untaian shalawat dan syair-syair Jawa dibawakan dengan baik oleh Habib Syekh dan mampu membuat ribuan jama’ah berkumpul hanya untuk mendengarkan dakwah dan lagu-lagu syair ketika Habib Syekh tampil berdakwah di suatu tempat. Sebenarnya syair-syair shalawat yang dibawakan ia bukanlah syair puji-pujian yang baru, namun Habib Syekh beserta pasukan pemukul terbang jama’ah Ahbaabul Musthofa berhasil membentuk dan mengemas irama pembacaan shalawat tradisional menjadi lebih indah, anggun, sejuk dan menggoda telinga yang mendengarnya. Allah SWT memberikan karunia kepada Habib Syekh dengan memiliki suara yang sangat merdu.

Dengan suara merdu ini, Habib Syekh berhasil memikat semua lapisan kalangan, baik dari para tokoh agamanya, pejabat, orang tua, kawula muda, kalagan pelajar, bahkan kalangan awam sekalipun, sehingga mereka menyukai shalawat dengan syair-syair yang kebanyakan bersumber dari syair dan pujian dalam kitab Simtuddurar karya Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, seorang tokoh ulama dan wali Allah yang menjadi rujukan umat di zamannya.

Dakwah melalui shalawat yang dilakukan Habib Syekh bisa dinikmati seluruh kalangan, mulai dari kecil, muda dan tua. Dalam setiap majelis Habib Syekh selalu memberi wejangan kepada jama’ahnya agar mengedepankan akhlak.

“Kalau sedang shalawat, niatkan membuat gembira Nabi Muhammad SAW. Silahkan bergembira dengan cara bagaimanapun, namun jangan berlebihan”.

Inilah yang selalu disampaikan oleh Habib Syekh kepada para jamaah agar menjaga akhlak. Sebab terkadang sebagian jamaah berdandan aneh sambil membawa bendera. Peranan dakwah Habib Syekh di tanah air sangatlah besar dan membawa dampak positif yang sangat luar biasa. Diantara keinginannya adalah membumikan shalawat di negeri kita tercinta ini. Berbagai trik dilakukannya agar shalawat bisa masuk ke dalam segala unsur masyarakat. Habib Syekh yakin majelis shalawatnya menjadi wadah rahmat. Ia berdoa agar para jamaah yang hadir selalu mendapatkan rahmat Allah SWT.

6         Referensi

https://pecihitam.org/
https://digilib.uinsby.ac.id/5180/6/Bab%203.pdf

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya