Biografi KH. Dr. Abun Bunyamin, MA

 
Biografi KH. Dr. Abun Bunyamin, MA

Daftar Isi

1         Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Organisasi dan Karier
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karier Beliau

5         Penghargaan

6         Referensi

1         Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

KH. Dr. Abun Bunyamin, MA., beliau dikenal sebagai pengasuh Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta. Salah satu pesantren terbesar dengan 6.000 santri dan 6.00 orang guru. Dengan kemajuan seperti ini, ternyata KH. Dr. Abun Bunyamin, MA tak pernah melupakan gemblengan para gurunya di Pesantren Cipasung.

KH. Dr. Abun Bunyamin, MA lahir 4 April 1954, dari pasangan KH. Muhammad Mukhtar,dan Hj. Siti Juariyah terlahir anak laki-laki yang ketiga dari lima bersaudara. Saat lahir beliau bernama Muhammad Tamrin. Tapi saat masuk SD berubah menjadi Ade Bunyamin dengan panggilan Amin. Kelak keisengannya menyingkat nama Ade Bunyamin dengan Abun saat ia remaja, melahirkan nama baru yang melekat mengiringi warna-warni hijrahnya dalam mewujudkan lembaga pendidikan Islam terbesar di Purwakarta, Abun Bunyamin.

1.2       Riwayat Keluarga

Perjalanan KH. Dr. Abun Bunyamin, MA menuju titik lompatan besar dalam hidupnya dimulai ketika dia berkunjung ke Purwakarta dua bulan sebelum pernikahannya. Amin datang ke Purwakarta untuk bersilaturrahim dengan KH. Ubaidillah Alawi, ayah dari Euis Marfu’ah yang kemudian menjadi istrinya. Kedatangannya diterima langsung KH. Alawi yang akrab ia panggil Abah Alawi. Kunjungan istimewa itu oleh Abah Alawi dianggap sebagai khitbah karena rupanya tak ada keraguan mengenai kualitas dan kesungguhan sang calon mantu. Padahal, Amin bahkan belum merampungkan kuliah S1 nya karena masih menunggu ujian akhir dan skripsi.

Dua bulan setelah kunjungan istimewa itu, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA menyempurnakan niatnya dengan memboyong Abah, Emah, dan Ceu Oneng dari Sumedang. Mengira hanya akan ada pertemuan dua keluarga, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA dan keluarganya kaget bukan main ketika tahu keluarga Abah Alawi sudah menyiapkan sebuah syukuran pernikahan. KH. Dr. Abun Bunyamin, MA pun kemudian ditanyai oleh Abah mengenai kesiapan dan kesanggupannya untuk menikah. Karena anak laki-lakinya itu menyatakan kesanggupannya, akad nikah antara KH. Dr. Abun Bunyamin, MA yang kemudian dipanggil Abun Bunyamin dengan Euis Marfu’ah pun disahkan. Tepatnya tanggal 9 Desember 1978, Amin melamar gadis pilihannya itu dengan mas kawin kalung emas sepuluh gram yang ia beli dari hasil arisan.

Setahun setelah pernikahannya, Amin diterima sebagai dan ditugaskan di Sekolah Tehnik Menengah (STM) Negeri Purwarkata. Gayung bersambut. Penugasan tersebut sangat cocok dengan agenda hidup Amin setelahnya. Beliau pun sempurna berhijrah ke Purwakarta. Bekerja untuk negara sekaligus mempersiapkan cita-cita besarnya, sebuah pesantren. Dari pernikahannya beliau dikaruniai tiga putri.

  1. Ifa
  2. Zahra Haiza Azmina ( Dede )
  3. Kiki Zaqiah (Kiki)

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

Pada tahun 1968, cerita seru tentang hari-hari KH. Dr. Abun Bunyamin, MA dengan segala usahanya yang gigih terjeda. Tahun itu, usia KH. Dr. Abun Bunyamin, MA genap 14 tahun.  KH. Dr. Abun Bunyamin, MA dikirim Abah untuk meneruskan sekolah di Majalengka.

KH. Dr. Abun Bunyamin, MA mengisi waktunya selama dua tahun di Sekolah Guru Islam (SGI) PUI Majalengka dengan berbagai kegiatan keilmuan. Setelah itu, dia pindah ke pesantren Hidayatul Muta’allimin, pimpinan KH. Abdurrahman atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Edun. Amin berguru juga kepada K. Syakur, KH. Yasin Basyuni dengan deretan kitab yang dipelajari antara lain Al-Amtsilah At-Tashrifiyah, Ta’limul Muta’alim, Fathul Qarib, Kifayatul Awam, Fathul mu’in, dan lain sebagainya.

Dua tahun belajar agama di Majalengka hingga kelas III SLTP, AminKH. Dr. Abun Bunyamin, MA melanjutkan tahapan hidupnya di Bandung. Tujuan hijrahnya ke Bandung saat itu ingin langsung mengikuti ujian Pendidikan Guru Agama (PGA) di Cicaheum. Sambil menunggu waktu ujian tiba, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA ikut belajar di PGA Kifayatul Akhyar, Cipadung, Bandung. Masa belajar yang normalnya ditempuh dalam 6 tahun, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA justru merampungkannya hanya dalam tempo 4 bulan. Usai masa itu, AminKH. Dr. Abun Bunyamin, MA lalu hijrah ke Cicalengka.   

 Keinginan belajar dalam diri Amin tak ada habisnya. Setiap Ramadhan, Amin berangkat ke Cicalengka, Bandung Selatan. Di sana beliau mengikuti pesantren kilat di Pesantren Al Falah asuhan KH Amad Syahid. Masih di Cicalengka, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA memenuhi kehausannya akan ilmu dengan belajar Al Qur’an ke Pesantren Kebon Kapas pimpinan KH. Amin.

Pendidikan KH. Dr. Abun Bunyamin, MA kemudian berlanjut ke kelas IV PGA. Selama belajar di PGA Cicaheum, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA mulai mempelajari ilmu-ilmu mantiq yang membuat wawasan keilmuannya kian luas dan berimbang. Setiap lepas tengah malam, dia belajar ilmu logika itu dengan rujukan kitab Idhahul Mubham langsung dengan Mama Ajengan Adi, pengasuh Pondok Pesantren Sukamiskin. Selain ilmu mantiq, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA juga mempelajari ilmu Fiqih dari kitab Fathul Qarib kepada Ajengan Yahya. Mulai saat itu, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA juga mulai mengajar anak-anak yang belajar di madrasah pesantren sebagai pengganti Kang Enting yang biasa mengasuh anak-anak tersebut.

KH. Dr. Abun Bunyamin, MA pergi dari Sukamiskin ke Santiong untuk belajar di pesantren Al-Hidayah yang dipimpin Mama Ajengan Emed. Di sana, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA belajar kitab Riyadl Ash- Shalihin dan Fathul Mu’in.

Pada waktu itu, keadaan AminKH. Dr. Abun Bunyamin, MA, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan makannya terpenuhi dengan baik. Karena letak pesantren ini tak jauh dari rumah Ceu Oneng, makan sehari-hari Amin ditanggung kakak perempuannya itu.

Pada Oktober 1973, sewaktu usianya telah lewat 19 tahun,KH. Dr. Abun Bunyamin, MA memutuskan melanjutkan belajar agamanya ke Garut. Tepatnya di Pesantren Riyadhlul Alfiyah, Sadang, Wanaraja, Garut. Beliau mempelajari rujukan tertinggi dalam ilmu nahwu yakni Alfiyah Ibnu Malik dengan baik. KH. Dr. Abun Bunyamin, MA mempelajarinya hanya dalam waktu tiga bulan melalui metode pasaran. Semacam semester pendek di bangku kuliah.

Terus menerus menggali ilmu agama, Amin seperti selalu kehausan mencari sumber-sumber baru. Pada tahun yang sama dengan kedatangannya ke Garut, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA  lalu pindah lagi ke Tasikmalaya. Seorang teman bernama Asep Jamaludin yang dikenal KH. Dr. Abun Bunyamin, MA di pesantren Garut membantu KH. Dr. Abun Bunyamin, MA saat mendaftar di pesantren baru yang terletak di Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya itu. KH. Dr. Abun Bunyamin, MA kemudian tinggal sekamar dan sekelas dengan Asep.

Selama empat tahun di Cipasung, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA belajar langsung kepada Kiai Ilyas Ruhiyat, pemimpin pesantren tersebut. KH. Dr. Abun Bunyamin, MA mendalami Jam’ul Jawami’ dalam bidang ushul fiqih sampai dua kali khatam. Di tempat yang sama, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA menamatkan pembelajaran Mughni Labib dalam bidang Nahwu dan SharafJauhar Maknun dan Uqudul Juman dalam bidang ilmu balaghah, juga Syu’abul Iman dalam bidang tauhid.  Minhatul Mughits dalam bidang ilmu Hadits, Fathul Wahhab dalam bidang fiqih, Rohbiyah dalam bidang ilmu waris, dan kitab kajian lain seperti Al-Luma’Bulugul Marom, hingga Kifayatul Akhyar pun ia pelajari.

Setelah melewati masa empat tahun belajar di Pesantren Cipasung, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA kemudian mengikuti Ujian Negara tingkat sarjana muda dan langsung lulus.  KH. Dr. Abun Bunyamin, MA mengambil kesempatan emas itu dengan melanjutkan studinya ke IAIN Sunan Gunung Jati di Bandung tanpa tes. Keputusan ini harus digadai dengan cita-cita KH. Dr. Abun Bunyamin, MA sebelumnya yang sangat ingin melanjutkan pendidikannya di Al Azhar, Mesir.

Abah Cipasung membekali KH. Dr. Abun Bunyamin, MA dengan pesan yang tak pernah dia lupakan: shalat di awal waktu, membaca Al Fatihah untuk Abah, dan membaca Al Qur’an 50 ayat setiap hari, agar ilmu yang dipelajari manfaat dan penuh berkah.

Sementara dari KH. Ilyas Ruhiyat penerus Abah, menitipkan pesan ini, “Di mana urang mukim, kade Min titip NU (Bila nanti mukim, membuka pesantren, ingat Min titip NU)” . Pesan ini kelak terus terngiang dalam telingan KH. Dr. Abun Bunyamin, MA sampai puluhan tahun setelahnya menjadi Rais ‘Am PCNU Kabupaten Purwakarta.

KH. Dr. Abun Bunyamin, MA mengawali kuliah di IAIN Bandung sebagai mahasiswa semester IV jurusan Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah. Selama kuliah di Bandung, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Purwakarta aktif dalam organisasi Ikatan Pemuda Nahdatul Ulama (IPNU) Kabupaten Sumedang. Melalui aktivitas keorganisasin ini pula Rais ‘Am PCNU Kabupaten Purwakarta bersahabat karib dengan Akun Masykur, putra bungsu ulama besar yang kharimatik dari Sumedang, KH. Muhammad Syatibi. Beliau juga menjadi aktivis Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat sebagai sekretaris bidang Kebudayaan.  Keilmuwan Amin mulai dipercayai masyarakat secara luas. Setiap shalat Jumat, beliau menjadi khatib di masjid Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Seskoad.

KH. Dr. Abun Bunyamin, MA mengikuti  pasaran di Pesantren Muftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya. Selama empat puluh hari, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA belajar kepada Ua Ajengan, panggilan akrab KH. Khoer Afandi pucuk pimpinan pesantren terbesar di Jawa Barat itu. Pasaran ini sekaligus bukti kecintaan yang tinggi terhadap ilmu. Bukan hanya sudah beristeri, tetapi KH. Dr. Abun Bunyamin, MA sudah dikarunia tiga putri yang masih belia. Dalam seperti itu, semangat belajarnya tak padam oleh kesibukan.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. KH. Muhammad Mukhtar
  2. KH. Abdurrahman
  3. K. Syakur
  4. KH. Yasin Basyuni
  5. KH. Amad Syahid
  6. Mama Ajengan Adi
  7. Mama Ajengan Emed
  8. KH. Ilyas Ruhiyat
  9. KH. Abun Bunyamin Ruhiyat
  10. KH. Khoer Afandi
  11. KH. Yusuf Taji

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

Beliau mendirikan pesantren Al-Muhajirin pada tahun 1993, pesantren ini berada awal berdiri di jalan Veteran no 155, Kenanga II Kebon kolot Kelurahan Nagri Kaler Purwakarta. saat ini pesantren Al-Muhajirin telah berkembang menjadi 5 cabang. Pembelajaran yang dilakukan dengan mengintegrasikan kurikulum pesantren berbasis kitab kuning dan bahasa dengan kurikulum sekolah berbasis standar nasional.

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

  1. Ifa
  2. Zahra Haiza Azmina ( Dede )
  3. Kiki Zaqiah (Kiki)

3.2       Murid-murid Beliau

Murid-murid Beliau adalah para santri di pesantren Al-Muhajirin

4          Organisasi dan Karier

4.1       Riwayat Organisasi

  1. Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat
  2. Rais  Syuriah PCNU Kabupaten Purwakarta
  3. Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat
  4. IPNU

4.2       Karier Beliau

  1. Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Agama
  2. Pengasuh pesantren
  3. Pebimbing KBIH

5         Referensi

https://www.almuhajirin.ac.id/sejarah/
https://jabar.nu.or.id/profil/kiai-abun-bunyamin-sosok-ulet-yang-sarat-prestasi-ovlvE

                                                                                                              

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya