Biografi KH. Asy'ari Jemplaon

 
Biografi KH. Asy'ari Jemplaon

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier
4.1       Karier Beliau

5          Karomah Beliau        

6          Referensi

1         Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir
Pada tahun 1938 di bulan Sya'ban, telah lahir bayi laki-laki dari seorang ibu bernama Hj. Rohmah, istri dari Mustawi. Bayi laki-laki itu diberi nama Mad Lari, nama yang unik khas Banten. Kebetulan Mustawi ini adalah seorang Jawara pilih tanding, masyhur di seluruh wilayah Serang, khusus timur dan Utara Serang. Kala itu masih di zaman penjajahan Belanda, kehidupan umumnya masyarakat kampung masih sangat memperhatinkan, gizi buruk, miskin, susah dan sengsara. Situasi kehidupan yang sulit dihindari, bahkan makan pun agak kesulitan.

Mad Lari, anak yang terlahir dari ibu Hj. Rohmah ini adalah kebalikan sang ayah. Sisi pribadi yang kontras dengan orang tuanya. Mad Lari justeru sejak kecil sudah menunjukkan kesalehannya, kepintarannya, dan kejujurannya. Meski kehidupan yang pahit getir, anak yang masih kecil itu tidak beranjak untuk terus mengaji dan mengaji di kampung halamanya yakni Jemplaon pada salah satu kiai kampung, diantaranya kepada Mama Ipon, ayah dari KH. Idrus Cidahu Ragas. Dalam gembelengan kiai Ipon itulah Mad Lari, tumbuh menjadi anak yang berbakat dalam bidang agama, menonjol dari teman-temannya.

1.2       Riwayat Keluarga
Sepanjang hidupnya Abah KH. Asy'ari Jemplaon ini ditemani istrinya yakni Hj. Udwiyah ( orang Jemplaon memanggilnya Mbok Ud ) binti KH. Abdul Fatah bin Kiai Mardali, darinya telah dikaruniai anak yang Soleh dan solehah, dan rata-rata alim, yaitu:
1. Hj. Subehah
2. Hj. Hasyati
3. H. Ahmad
4. H. Umar
5. Hj. Rokhilah
6. H. Juweni
7. H. Ambari
8. Hj. Ipah Sarwah
9. H. Tsauban
Sementara dari istri keduanya Hj. Muti'ah, Abah  KH. Asy'ari Jemplaon ini dikaruniai Puteri yang sangat solehah yaitu Hj. Rodifah yang lahir pada 1977. dan dari istri ketiganya Nyai Kholah, tidak dikaruniai anak.

1.3       Wafat
Telah berpulang meninggalkan kita semua yakni umat yang masih awam, umat yang masih butuh ilmu dan hikmahnya.  KH. Asy'ari Jemplaon pulang ke hadirat Allah yang maha kuasa pada Selasa tanggal 16 November 2021 di rumahnya di kampung Jemplaon Desa Purwadadi Kecamatan Lebak Wangi, Serang. Beliau di makamkan di maqbaroh Tasin, sekitar 500 meter belakang kampung. Area maqbaroh Nyi Mas Panca Inten. Semoga Jannatun Naim tempatnya beliau.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
Sekitar usia 10 tahun, Mad Lari belajar formal di SR ( Sekolah Rakyat ) atau Volk School, yang terletak di kampung Karang Jetak, kampung yang masuk Desa Bolang sekitar tahun 1949, pasca kedaulatan NKRI diserahkan dari pemerintah Kerajaan Belanda ke pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1953, setelah selesai dari SR, sekolah Ongko Loro itu, Mad Lari memulai pendidikan agamanya di berbagai pesantren di wilayah Karesidenan Banten. Yang pertama beliau mesantren di Karang Tanjung, Pandeglang. Kemudian beliau melanjutkan di pesantren Cengkudu Baros pada tahun 1959, selesai dari Cengkudu melanjutkan ke pesantren Riyadul Alfiyah, dibawah asuhan Mama KH. Sanja di Kadu Kawang tahun 1962.

Dari Kadu Kawang, Mad Lari muda melanjutkan rihlah ilmiyahnya hingga ke Petir Maja, saat itu tahu 1964. Mad Lari muda ini sudah memulai puasa dahr ( puasa seumur hidup ), sosok santri yang kuat lahir batinnya, serta istiqomah hingga wafatnya. Pada tahun 1968, Mad Lari muda mondok di pesantren Plered Purwakarta, mungkin pesantren Mama Sempur ( pendiri KH. TB. Muhammad Bakri ).

Kemudian ketika suksesi nasional dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto ( Jenderal Soeharto ), satu zaman dimana terjadi peristiwa titik balik perubahan besar dari Orde Lama ke Orde Baru. Maka pada 1970, awal mulai berkuasanya rezim Orde Baru, Mad Lari muda mesantren di Cidahu, di bawah bimbingan ulama besar yang baru mukim dari rihlah ilmiah yang panjang, ulama besar itu masyhur di panggil Abuya Dimyati, atau orang Jawa memanggilnya dengan Mbah Dim Banten.

Sejak 1970 hingga wafatnya sang guru besar tahun 2003, Mad Lari yang sudah diganti namanya menjadi Asy'ari. Pergantian nama tersebut diawali saat ngaji di Cidahu, dan yang mengganti namanya menjadi Asy'ari adalah gurunya yakni Abuya Dimyati, ada pula yang mengatakan bahwa nama Mad Lari diganti jadi Asy'ari itu oleh gurunya yaitu Abuya Rasyidi Karang Tanjung, saat mondok di Karang Tanjung.

Masyhur di kalangan ulama dan santri,  KH. Asy'ari Jemplaon mulai dikenal awal 90-an, sosok ulama yang low profile, sederhana, dan sangat istiqamah dalam laku hidup dan ibadah. Perawakannya yang tinggi menambah kharisma beliau. Sosok kiai yang sufi, dan cenderung sunyi, lebih kepada lelakon khumul, istilah tasawuf dalam perspektif Syaikh Ibnu Athoillah al-Iskandari ( muallif Syarah Hikam )

2.2       Guru-Guru Beliau
Guru-Guru Beliau beliau saat menuntut ilmu di pesantren di antaranya:

  1. Mama KH. Sanja
  2. Mama Sempur ( pendiri KH. TB. Muhammad Bakri )
  3. Abuya Dimyati
  4. Abuya Rasyidi

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
Sebagai ulama, KH. Asy'ari Jemplaon membuka pesantren sejak 1975 dengan nama pesantren Roudlotut Tholibin Jemplaon, dengan Istiqomah mengajarkan kitab-kitab klasik sebagai tipologi pesantren salafiyah umumnya, adapun kitab-kitab yang diajarkan yaitu Ibnu Aqil, sullamul munauroq, Jauharul Makmun, al-Iqna', Tafsir Munir , Fathul Wahab dan yang sering didawamkan adalah kitab Syarah Hikam ( kitab babon Tasawuf ).

Sejak wafatnya Abuya Dimyati tahun 2003, Abah Jemplaon ini telah memposisikan sebagai figur ulama besar yang khos, sufi yang menjalankan laku khumul. Lebih memilih sunyi dari hiruk pikuk pemerintahan, dan kehidupan sosiologis masyarakat Jemplaon dan seputarnya. Keseharianya disibukan ngaji dan ngaji, serta wiridan harian antara lain mewirid Qur'an 3 hari khataman, mewirid dalailul khaerot, wiridan Tarekat, wiridan solawat ismil Adhom dan sholawat nuroniyah.
Haibah

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

Anak-anak beliau yang menjadi penerus beliau di antaranya:
1. Hj. Subehah
2. Hj. Hasyati
3. H. Ahmad
4. H. Umar
5. Hj. Rokhilah
6. H. Juweni
7. H. Ambari
8. Hj. Ipah Sarwah
9. H. Tsauban
10.Hj. Rodifah

3.2       Murid-murid Beliau
Murid-murid Beliau adalah para santri pesantren Roudlotut Tholibin Jampalaon

4          Karier

4.1       Karier Beliau
        Pengasuh pesantren Roudlotut Tholibin Jampalaon

5         Karomah Beliau

Banyak hal yang di luar nalar dan rasio manusia, ketika haibah itu berkali-kalinya terjadi di pribadi AbahKH. Asy'ari Jemplaon yaitu saat menolong supir Truk, karena Truknya tersebut terperosok di sungai irigasi. Abah KH. Asy'ari Jemplaon tidak membutuhkan banyak orang untuk menarik truk dari sungai cukup menggunakan tali mangsi ( tali buat layangan ), dengan tali tersebut mobil truk yang berat itu ketarik hingga ke atas.
Kehebatan Abah KH. Asy'ari Jemplaon, tidak hanya itu. Ada orang yang mencoba mencuri kelapa milik KH. Asy'ari Jemplaon ini, namun tangannya si pencuri tersebut masih menempel di buah kelapa hingga siang harinya, hinga si pencuri tersebut tobat dan menangis untuk minta dilepaskan tangannya yang nempel tersebut.

Bahkan pernah ada gerombolan penjahat yang mau mencoba merampok, oleh Abah KH Asy'ari Jemplaon para penjahat itu saling pukul, gulat sesama Kawanya sampai tak kunjung selesai dan ditonton masyarakat, ketika mereka kelelahan mereka tobat dan memohon dilepaskan.

6         Referensi

 Ketua PW Rijalul Ansor Prov. Banten
 Gus Hamdan Suhaemi

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya