Biografi KH. Romzi Al Amiri Mannan

 
Biografi KH. Romzi Al Amiri Mannan

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Organisasi,dan Karier
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karier Beliau
4.3       Karya Beliau

5         Referensi

1  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir

KH. Romzi Al Amiri Mannan lahir tanggal 12 Juli 1969 dari pasangan KH Abdul Mannan dan Nyai Hj Qina’ah. Lahir dari keturunan “darah biru,” dalam strata sosial masyarakat Madura, adalah suatu keistimewaan. Masyarakat bakal segan dan tunduk hormat pada titah sang kiai. Tumbuh di Pondok Pesantren Hidayatut Thahlibin, membuatnya jarang berhubungan dengan dunia luar. Beruntung. Karena masyarakat di luar pesantren ada yang jadi pencuri, pengemis sebab minimnya pengetahuan terhadap ilmu agama.

Oleh sebab itu, Kiai Abdul Mannan Ibrahim tak membiarkan putranya bergaul dengan sembarang orang. Namanya Lora Mohammad Romzi Mannan, biasa dipanggil Ra Romzi. Beliau merupakan putra ke enam dari sepuluh bersaudara. Di antara saudara-saudaranya ialah Nyai Hj Umayyah (kakak lain ibu), KH Subairi, KH Maimon, KH Mahsun, Nyau Hj Fatimah, KH Muhdar, KH Abrori, KH Herul Wi’am dan KH Noval.

1.2  Riwayat Keluarga
Setelah itu di akhir tahun 1993, di usia 26 tahun KH. Romzi Al Amiri Mannan menikah dengan Neng Nur Lathifah Wafi, putri kelima Kiai Hasan Abdul Wafi dan Nyai Aisyah.
 

1.3   Wafat
Beliau wafat di Rumah Sakit di daerah Dringu, Wonolangan, Kab. Probolinggo pada hari, Rabu 07 Oktober 2020, sekitar jam 09.30, jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga besar pesantren Nurul Jadid

2  Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1  Masa Menuntut Ilmu
Sejak usia dini KH. Romzi Al Amiri Mannan belajar ngaji kitab kuning dan Al-Quran pada abahnya. Namun semasa KH. Romzi Al Amiri Mannan duduk di bangku kelas IV Madrasah Ibtidaiyah (MI) tahun 1977 duka itu tiba-tiba datang menghampiri keluarganya. Abahnya yang selama ini menemani hari-harinya, pulang menghadap pangkuan yang Maha Kuasa. Bagi KH. Romzi Al Amiri Mannan, kepergian sang abah, meski keras, sama dengan kepergian seorang guru yang selalu telaten membimbing dan mengajarinya.

Larut dalam duka bukanlah tipikal KH. Romzi Al Amiri Mannan. Hidup harus terus mengalir dan belajar tak boleh berhenti. Sehingga ketika ayahnya tiada, ibu dan saudara-saudaranya secara bergantian mengajarinya ngaji. Berkat kecerdasannya, pada masa KH. Romzi Al Amiri Mannan duduk dibangku Madrasah Ibtidaiyah telah menghafal beberapa kitab, diantaranya, kitab Amtsilatu Tasrif, Nadhom Imrithih, Nadhom Alfiyah dan Fathul Qorib.

Selepas menyelesaikan jenjang pendidikan MI Hidayatut Thahlibin yang diasuh oleh kedua orang tuanya, diam-diam dalam diri KH. Romzi Al Amiri Mannan terpendam keinginan untuk melanjutkan jenjang pendidikan di sekolah negeri, tempat kelahirannya. Keinginannya di dorong karena rasa ingin tahu dunia di luar pesantren.

Mulai dari Pondok Pesantren Hidayatut Talibin asuhan kedua orang tuanya di Sumenep, kemudian beliau melanjutkan ke PP Annuqayah Guluk-Guluk, Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta asuhan KH Ali Maksum dan Al-Anwar Sarang asuhan KH Maimun Zubair

2.2  Guru-guru Beliau
Guru-guru beliau saat menuntu ilmu adalah
1. KH. Abdul Mannan Ibrahim
2. KH. Ali Maksum
3. KH. Maimun Zubair

2.3  Mengasuh Pesantren
Beliau mengasuh di Ma’had Aly Nurul Jadid

3  Penerus Beliau

3.1  Anak-anak Beliau
Anak beliau yang menjadi penerus:
Gus Hilman Zidny

3.2  Murid-murid Beliau
Murid-murid Beliau adalah para santri di pesantren Nuurl Jadid Probolinggo

4  Organisasi,dan Karier Karya

4.1  Riwayat Organisasi
Organisasi yang digelutinya adalah:
1. Tahun 1987 sekretaris ranting NU Desa Pragaan selama satu periode.
2. Tahun 1992 terpilih menjadi Ketua Ranting NU.
3. Kemudian masuk dalam struktur kepengurusan MWC NU Kecamatan Pragaan bagian devisi bahtsul masail tahun 1986. 
4. Mengemban jabatan sebagai wakil RMI Jawa Timur selama dua periode sampai sekarang.
5. Tahun 1997-2002 mengemban posisi Katib PCNU Kraksaan.
6. Kordinator Forum Komunikasi Ulama (Forkum) wilayah Jawa Timur tahun 2006-2011
7. Penasehat forum bahtsul masail antar pondok pesantren se-Kabupaten Probolinggo tahun 2002-2009.
8. Komisi sumber daya masyarakat ahlit tharikah Al-Mutabaroh An-Nahdliyah wilayah Jawa Timur tahun 2007-2011.

4.2  Karier Beliau
1. Berkat kecerdasan beliau berhasil menjabat sebagai:
2. Direktur Pusat Pengajaran Ilmu Al-Quran di tahun 1996-1998.
3. Pada tahun 1998-2000 menjadi kepala diniyah.
4. Kepala Biro kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur tahun 2000-2008.
5. Anggota Dewan Pengarah Biro Pengembangan Pondok Pesantren dan Masyarakat Pondok Pesantren Nurul Jadid tahun 2001-2006.
6. Pada tahun 2010- sekaran menjabat Mundir Ma’ahad Aly.
7. Pembantu dekan I Fakultas Syariah Institut Agama Islam Nurul Jadid tahun 2009-2013.
8. Pada tahun 2014-2016 naik menjabat Dekan Fakultas Syariah.
9. Terakhir tahun 2017-2021 menjabat sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin di kampus yang sama.

4.3  Karya Beliau
Karya-karya beliau yang dibukukan adalah:
1. Merawat Jenazah Dalam Konteks Fiqh
2. Miftahu ar Rofidl fi Ilmi al Faroidl terjemah matan Rohbiyah (membahas cara menghitung waris secara Islam).
3. Najis dan Problematikanya.
4. Tuntunan Ibadah Haji dan Umrah. Ini dikarang karena banyak jamaah haji yang keliru memahami buku panduan terbitan Departemen Agama, yang terdiri dari enam jilid. Maka muncul ide untuk menulis buku panduan praktis dan mudah dipahami oleh para jamaah haji dan umrah.
5. Qiro’ati Al-Qutub Wa Al-Syu’ur (membahas cara membaca kitab secara cepat sekaligus cara mengartikannya)
6. Al-Luma’ah Al-Syafi’ah Fi Aqidati Ahli Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah (membahas tentang ilmu tauhid menurut konsep Ahlus Sunnah Wal Jama’ah)
7. Al-Munawwaru Al-Waf Ala Mandhumati Mukhtashar Al-Shafi (membahas cara membuat syier-syier Arab lengkap dengan syarahnya)
8. Tsamrotul yani’ah fi Syarhih Mandzumatil al-Sya’iah Ala Akidati Ahli Sunnati Wal Jamaati (Meraih Manisnya Imam Melalui Ahlusunnah Wal Jama’ah). Hal ini karena asetelah naskah kitab karangannya dikoreksi dua hari-dua malam tanpa istirahat oleh sang guru, Kiai Maemon Zubaer, ternyata tak terdapat kesalahan sedikitpun. Hampir tak percaya, maka sang guru meminta bantuan putranya, Gus Najib. Hasilnya sama.
9. Miftahu Al-Basr Fi Syarh Maziyyati Al-Dirar Ala Ilmi Al-Atsar (membahas masalah ilmu hadits) dilengkapi dengan syarahnya. Selesai mengarang kitab ini, Kiai Romzi merasa kurang yakin dengan hasil karyanya sehingga membutuhkan seorang musahhih untuk mengoreksi isinya. Maka atas bantuan seorang teman sepondokannya dulu naskah kitab itu dikoreksi oleh Dr. Alwi bin Hamid bin Muhammad bin Syihabuddin, dosen hadis di Universitas hadramaut Tarim, Yaman.
Setelah membaca kitab karangan Kiai Romzi, Dr. Alwi menemukan kesalahan pada peletakan titik-koma. Selebihnya muncul rasa kagum atas kecerdasan pengarangnya. Kekaguman itu diungkap melalui pujian terhadap tanah tumpah-darah dimanaKH. Romzi Al Amiri Mannan. Musaihhih itu memberi komentar bahwa di Indonesia terdapat seseorang yang tak kalah cerdas dengan warga Yaman.

5  Referensi

https://www.nuruljadid.net/10826/sambut-100-hari-wafatnya-kiai-romzi-mahad-aly-gelar-lomba-menulis
https://jatim.nu.or.id/rehat/kh-moh-romzi-al-amiri-mannan--profil-kiai-pesantren-dan-santri-produktif-2rN93
 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya