Biografi Nyai Hj. Zubaidah Nasrullah

 
Biografi Nyai Hj. Zubaidah Nasrullah

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karier Beliau
5          Referensi

 

1  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1   Lahir

Nyai Hj. Zubaidah berasal dari Keboan, sebuah desa di pinggiran sungai Berantas, Jombang lahir tahun 1939. Ayahnya, Haji Sulaiman, adalah seorang saudagar di zamannya. Semua putra-putrinya dipondokkan di pesantren. Termasuk Nyai Zubaidah.

1.2   Riwayat Keluarga

Pernikahan keduanya membuahkan enam keturunan. Lima putri dan seorang putra. Penguasaan yang baik akan tata bahasa arab, membuat Kiai Nashullah memberikan nama bersusunan idlofah yang unik bagi seluruh putra putrinya, bukan sekedar unik, namun juga memiliki visi yang mendalam terkait perjuangan, sesuatu yang menjadi harapan pasangan Kiai Nasrullah dan Nyai Zubaidah. Putra-putrinya diberi nama :

1. Munhidlotul Ummah.
2. Umdatul Khoirot.
3. Roidatus Salamah
4. Zumrotus Sholihah.
5. Muhammad Habiburrohman.
6. Sa'adatul Athiyyah.
 

1.3   Wafat

Nyai Zubaidah yang wafat pada Jumat, 30 Juli 2021, pukul 21.30 WIB di Jombang merupakan istri almarhum KH Nasrullah Abdurrohim. Keduanya merintis Ribath (asrama) As-Sa'idiyah Bahrul Ulum.

2  Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1  Masa Menuntut Ilmu
Awalnya Nyai Zubaidah nyantri di Tambakberas tahun 1952. Sekolah di Madrasah Ibtida'iyah Tambakberas. Lalu beliau melanjutkan nyantri di Porong. Bu Nyainya yang seorang penghafal Qur'an, kerap memintanya menyimak setiap kali Bu Nyai membaca hafalannya.

Didikan Qur'an langsung dari ayahnya, maupun yang didapat selama nyantri, membuat Nyai Zubaidah memiliki penguasaan yang mendalam terkait makhroj dan tajwid, ditambah bakat suara merdu yang beliau miliki, Nyai Zubaidah kerap diminta memimpin pembacaan tahlil ataupun doa. kesemuanya dilantunkan dengan bacaan yang mampu menyentuh relung sanubari pendengarnya.

Pendidikan menengah Nyai Zubaidah ditempuh di Madrasah Muallimat NU Kawatan Surabaya. Pimpinan Kiai Wahab Turcham. Nyai Zubaidah menyebutnya Ustad Wahab. Madrasah ini merupakan cikal bakal sekolah Khodijah. Sebelum pindah ke kawasan Wonokromo pada awal tahun 1960-an. Di Madrasah Kawatan, Nyai Zubaidah pernah pula diajar oleh Kiai Bashori Alwi, pakar Qur'an asal Singosari Malang.

Nyai Zubaidah setiap hari berangkat dari Porong ke Kawatan Surabaya. Pada zaman itu, moda transportasi yang digunakan adalah trem/kereta api. Agak mengagumkan memang, di masa 5 tahun setelah Indonesia merdeka, sosok gadis santri telah bersekolah di luar kota tiap harinya dengan tetap tinggal di Pesantren. Hal ini tentunya berkat orang tua maupun pengasuh pesantren yang visioner terkait kemajuan putri dan santrinya.

Pada tahun 1952, Haji Sulaiman mengambil keputusan agar Nyai Zubaidah kembali mondok di Tambakberas. Kala itu adalah era kepengasuhan Mbah Yai Wahab Hasbullah. Nyai Zubaidah menempuh pendidikan di Madrasah Mu'allimat, yang kala itu masih ditempuh 4 tahun. Pengajian kitab di pesantren Al-Lathifiyah kala itu, diampu oleh dzurriyah Kiai Hasbullah, Kiai Sholeh Hamid, Kiai Malik Hamid, Kiai Nashrullah yang kala itu belum menikah, termasuk pengampu pengajian di pesantren Lathifiyah.

2.2  Guru-guru Beliau

Guru-guru beliau saat mnuntut ilmu adalah:

1. H. Sulaiman
2. KH. Wahab Turcham
3. KH. Bashori Alwi
4. KH. Wahab Chasbullah

2.3   Mengasuh Pesantren

Setelah 16 tahun berumah tangga di Keboan, akhirnya Kiai Nashrullah dan Nyai Zubaidah memantapkan hati menetap di Tambakberas. Membeli rumah yang sekarang menjadi komplek Pesantren As-Sa’idiyah. Sebelum itu sebenarnya Nyai Zubaidah telah membeli rumah di Keboan. Namun dorongan untuk ikut mengibarkan Syi’ar pesantren Tambakberas, yang membutuhkan tenaga mumpuni seiring berduyun-duyunnya santri, membuat Kiai Nashrullah terdorong mukim di Tambakberas.

Pesantren As-Sa’idiyah, yang namanya dinisbatkan kepada Kiai Sa’id,  mulai dirintis sejak tahun 1979. Nyai Zubaidah ajeg menyimak bacaan Al-Qur’an para santri. Para santri yang memerlukan bimbingan secara khusus, karena sulit membaca Al Qur’an, selalu dipanggil sendiri ke ndalem, disimak hingga lancar, dibenarkan makhroj dan tajwidnya. Kegiatan ini tetap dilaksanakan oleh Nyai Zubaidah, di usianya yang di atas 80 tahun.

3  Penerus Beliau

3.1   Anak-anak Beliau

Anak-anak beliau penerus perjuangan ulama adalah:
1. Munhidlotul Ummah.
2. Umdatul Khoirot.
3. Roidatus Salamah
4. Zumrotus Sholihah.
5. Muhammad Habiburrohman.
6. Sa'adatul Athiyyah.

3.2  Murid-murid Beliau

 Murid-murid Beliau adalah para santri di Pesantren As-Sa’idiyah jombang

4  Organisasi dan Karier

4.1  Riwayat Organisasi

1. Muslimat NU dan Persaudaraan Haji Muslimat.
2. Katib Syuriyah PWNU Jawa Timur
     
4.2       Karier Beliau

1. Nyai Zubaidah pengasuh pesantren As-Sa’idiyah Jombang
2. Nyai Zubaidah mengajar di Madrasah Ibtida’iyah Tambakberas, MTsN dan MAN. Mata pelajaran yang sering diampu adalah Hadits, mulai kitab Riyadlus Sholihin hingga Bulughul Marom. Di samping itu, Nyai Zubaidah juga mengajar Al Qur’an bagi anak warga sekitaran.

5  Teladan Beliau

5.1  Berwatak Penyabar

Nyai Zubaidah berwatak penyabar, rela berkorban, suka mengalah, memprioritaskan orang lain (itsar). Senyumnya memancarkan sinar keteduhan dan aura menyejukkan bagi para santrinya. Sosoknya yang demikian tentu menjadi teladan bersama. Tiap kali keadaan menuntut untuk mengorbankan harta demi perjuangan, Nyai Zubaidah selalu merelakan. Kiai Nashrullah selalu menguatkan dan memantapkan hati Nyai Zubaidah dengan perkataan ‘Orang yang berniat baik, pastilah Allah akan memudahkan urusannya’. Perkataan ini sesuai dengan Firman Allah: walladziina jaahaduu fiinaa lanahditannahum subulanaa. Orang yang berjuang di jalan Allah, pasti Allah tunjukkan jalannya. Keistimewaan Nyai Zubaidah yaitu selalu mengimami jamaah di asrama putri As-Sa'idiyah, menjadi inspirasi bagi para santriwati untuk meneladaninya. Ia juga Istiqamah melaksanakan shalat dhuha, membaca Al-Qur'an dan berjama'ah setiap hari.

5.2  Memuliakan Tamu

Pemuliaan terhadap tamu (ikramud dhuyuf) adalah sifat yang kental dimiliki Nyai Zubaidah. Tiap menjelang idul Fitri, bersama beberapa santri yang tidak pulang, Nyai Zubaidah memasak sendiri kue hidangan hari raya. Nyai Zubaidah sangat memperhatikan suguhan untuk tamunya. Mengisi sendiri toples di meja tamu. Membungkus plastik satu per satu kue yang dihidangkan agar tetap layak dan tidak melempem. Tamu yang menginap, selalu dipastikan terjamin makanannya. Kamar tamu yang layak dibangunnya di lantai atas ndalem As-Sa'idiyah. “Beliau sering mengutip sabda Rasulullah, khoirul a'mmali adwamuhaa, wa in qalla. Sebaik-baik amal adalah yang ajeg dilaksanakan, walaupun sedikit,” tutup Gus Taqiyuddin.

6  Referensi

https://www.tambakberas.com/artikel/jejak-perjuangan-ibu-nyai-zubaidah-dan-kiai-nashrullah

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya